KONSEP
DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING

(Pengertian, Prinsip, Azas dan Fungsi Bimbingan
Konseling)

2.1 Hakikat dan Urgensi
Bimbingan dan Konseling

Pengertian Bimbingan dan
Konseling

Bimbingan dan konseling merupakan tejemahan dari “guidance” dan “counseling” dalam bahasa Inggris. Secara harfiyah istilah “guidance” dari akar kata “guide”
berarti: mengarahkan  (to direct), memandu (to pilot), mengelola (to manage) dan menyetir (to steer). 
Secara termilogis “guidance” biasanya disamaartikan dengan
guiding” , kemudian memiliki konotasi
makna “showing a way” (menunjukkan
jalan), “leading” (memimpin), “conducting” (menuntun), “giving instructions” (memberikan
petunjuk), “regulating” (mengatur), “governing”(mengarahkan) dan “giving advice” (memberikan nasehat).

Banyak pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli, di
antaranya sebagai berikut:

Menurut  Donal  G.  Mortensen  dan  Alan
M.  Schmuller (1976)  bahwa  bimbingan adalah  suatu
upaya  pembimbing  untuk  membantu  mengoptimalkan
individu.

Djumhur  dan  Moh.  Surya (1975)
mengatakan  bahwa  bimbingan  adalah  suatu
proses  pemberian  bantuan  yang  terus  menerus
dan  sistematis  kepada  individu  dalam
memecahkan  masalah  yang  dihadapinya,  agar
tercapai  kemampuan  untuk  dapat  memahami
dirinya,  kemampuan  untuk  menerima  dirinya,
kemampuan  untuk  mengarahkan  dirinya,  dan
kemampuan  untuk  merealisasikan  dirinya  sesuai
dengan  potensi  atau  kemampuannya  dalam  mencapai
penyesuaian  diri  dengan  lingkungan,  baik
keluarga,  sekolah  dan  masyarakat.

Shertzer  dan  Stone (1971)  mengartikan
bimbingan  sebagai  proses  pemberian  bantuan
kepada  individu  agar  mampu  memahami  diri
dan  lingkungan.

Sunaryo  Kartadinata (1998)  mengatakan  bahwa
bimbingan  adalah  proses  membantu  individu  untuk
mencapai  perkembangan  optimal.

Rochman  Natawidjaja (1978)
berpendapat  bahwa  bimbingan  adalah  Suatu
proses  pemberian  bantuan  kepada  individu
yang  dilakukan  secara  berkesinambungan,  supaya
individu  tersebut  dapat  memahami  dirinya,
sehingga  ia  sanggup  mengarahkan  dirinya  dan
dapat  bertindak  secara  wajar,  sesuai  dengan
tuntutan  dan  keadaan  lingkungan  sekolah,
keluarga,  masyarakat,  dan  kehidupan  pada  umumnya.

Dari banyak pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah
suatu proses memberikan bantuan kepada individu secara terus menerus dan
sistematis untuk mengarahkan individu agar dapat mencapai perkembangan yang
optimal.

Dan dari berbagai definisi bimbingan dapat diangkat makna sebagai berikut:

1.      Bimbingan merupakan suatu proses,
yaitu berkesinambungan, bukan kegiatan yang instan, seketika atau kebetulan.
Bimbingan merupakan serangkaian tahapan kegiatan yang sistematis dan berencana
yang terarah kepada pencapaian tujuan.

2.      Bimbingan merupakan “helping”, yang identik dengan “aiding”, “assisting”, atau “availing”,
yang berarti bantuan atau pertolongan. Makna bantuan dalam bimbingan
menunjukkan bahwa yang aktif dalam mengembangkan diri, mengatasi masalah, atau
mengambil keputusan adalah individu atau peserta didik sendiri peran guru
disini hanya sebagai fasilitator. Istilah bantuan dalam bimbingan dapat juga
dimaknai sebagai upaya untuk

a.       Menciptakan lingkungan (fisik, psikis, sosial dan spiritual) yang kondusif
bagi perkembangan siswa

b.      Memberikan dorongan dan semangat

c.       Mengembangkan keberanian bertindak dan bertanggung jawab

d.      Mengembangkan kemampuan untuk memperbaiki dan mengubah perilakunya sendiri.

Dalam bimbingan, tidak ada teknik pemberian bantuan yang berlaku umum bagi
setiap individu. Teknik bantuan seyogianya disesuaikan dengan pengalaman,
kebutuhan, dan masalah individu. Untuk membimbinng individu diperlukan
pemahaman yang komperhensif tentang karakteristik, kebutuhan atau masalah
individu.

3.      Tujuan bimbingan adalah perkembangan
optimal
, yaitu perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai
tentang kehidupan yang baik dan benar. Perkembangan optimal merupakan suatu
kondisi dinamik, dimana individu:

a.       Mampu mengenal dan memahami diri

b.      Berani menerima kenyataan diri secara objektif

c.       Mengarahkan diri sesuai kemampuan, kesempatan dan sistem nilai

d.      Melakukan pilihan dan mengambil keputusan atau tanggung jawab sendiri.

 

Di atas telah dikemukakan makna bimbingan. Istilah bimbingan sering
dirangkai dengan konseling. Berikut ini definisi konseling menurut para ahli:

Menurut  Cavanagh (1974)  bahwa  koseling  adalah
hubungan  antara  seorang  penolong  yang
terlatih  dan  seseorang  yang  mencari
pertolongan,  dimana  keterampilan  sipenolong  dan
situasi  yang  diciptakan  olehnya  menolong
orang  untuk belajar berhubungan  dengan  dirinya
sendiri  dan  orang  lain  dengan
terobosan-terobosan  yang  semakin  bertumbuh.

Mc.  Daniel (1956)  mengartikan  konseling
merupakan  suatu  pertemuan  langsung  dengan
individu  yang  ditujukan  pada  pemberian  bantuan
kepadanya  untuk  dapat  menyesuaikan  dirinya
secara  lebih  efektif  dengan  dirinya  sendiri
dan  lingkungan.

Berdnard  dan  Fullmer (1969)  berpendapat  bahwa
konseling  yaitu  meliputi  pemahaman  dan
hubungan  individu  untuk  mengungkapkan
kebutuhan-kebutuhan,  motivasi,  dan  potensi-potensi
yang  unik  dari  individu  dan  membantu
individu  yang  bersangkutan  untuk  mengapresiasikan
ketiga  hal  tersebut.

Robinson (M. Surya dan Rochman N.,1986:25)
mengartikan konseling adalah “semua bentuk hubungan dua orang, dimana yang
seorang, yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara efektif
terhadap dirinya sendiri  dan
lingkungannya.”

ASCA (American School Counselor
Association
) mengemukakan bahwa “Konseling adalah hubungan tatap muka yang
bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari
konselor kepada klien, konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya
untuk membantu kliennya mengatasi masalah-masalahnya.”

Lebih jauh, Pietrofesa dan kawan-kawan (1980:75) menunjukan sejumlah
ciri-ciri konseling profesional sebagai berikut:

a.       Konseling merupakan suatu hubungan profesional yang diadakan oleh seorang
konselor yang sudah dilatih untuk pekerjaannya itu.

b.      Dalam hubungan yang bersifat profesional itu, klien mempelajari
keterampilan pengambilan keputusan, pemecahan masalah serta tingkah lau atau
sikap-sikap baru.

c.       Hubungan profesional itu dibentuk berdasarkan kesukarelaan antara klien dan
konselor.

Adanya perbedaan definisi konseling tersebut, disamping timbul karena
perkembangan ilmu konseling itu sendiri, juga disebabkan oleh perbedaan
pandangan para ahli yang merumuskan konseling dan teori yang dianutnya. Dalam
bidang konseling terdapat berbagai aliran dan teori, yang dapat dikelompokan ke
dalam beberapa kategori. Moh. Djawad Dahlan (1986) mengklasifikasikan konseling
berdasarkan fungsinya menjadi tiga kelompok, yaitu suportif, reedukatif, dan
rekonstruktif. Konseling juga dibedakan berdasarkan metodenya, yaitu metode
direktif dan nondirektif.

Osipow, Walsh dan Tosi (1980) mengelompokkan konseling berdasarkan
penekanan masalah yang dipecahkanny, yaitu: penyesuaian
pribadi, pendidikan, dan karir
. Shertzer dan Stone (1980) mengelompokkan
konseling didasarkan pada ranah perilaku yang merupakan kepeduliannya, yaitu
yang berorientasi pada ranah kognitif dan ranah afektif. Patterson (1966)
secara lebih rinci mengelompokkan pendekatan konseling menjadi lima kelompok,
yaitu: pendekatan rasional, teori
belajar, psikoanalitik, perseptual-fenomenologis dan eksistensial.

Dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan hubungan tatap muka atau
pertemuan secara langsung antara konselor dan klien yang bersifat rahasia
dengan tujuan membimbing klien agar berkembang secara optimal dan solusinya
ditentukan sendiri oleh klien.

Ciri-ciri pokok konseling yaitu sebagai berikut :

1.      Konseling dilakukan oleh seorang konselor yang mempunyai kemampuan
secara profesional dalam menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan
keputusan-keputusan pribadi, sosial, karier, dan pendidikan serta memahami
proses-proses psikis maupun dinamika perilaku pada diri klien.

2.       Konseling melibatkan
interaksi dan komunikasi antara dua orang yaitu konselor dan klien baik secara
langsung (bahasa verbal) maupun secara tidak langsung (non verbal).

3.      Tujuan dari hubungan konseling ialah terjadinya perubahan tingkah
laku pada diri klien sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh
klien. Konselor berupaya memfasilitasi dan memberikan dukungan, bersama klien
membuat alternatif-alternatif pemecahan masalah demi perubahan kearah lebih
baik dan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam konseling.

4.      Konseling merupakan proses yang dinamis, dimana individu (klien)
dibantu untuk mengembangkan kemampuan-kemampuannya dalam mengatasi
masalah-masalah yang sedang dihadapi.

5.      Konseling merupakan suatu proses belajar terutama bagi klien untuk
mengembangkan perilaku baru dan membuat pilihan, keputusan sendiri (autonomous)
kearah perubahan yang dikehendakinya.

6.      Adanya suatu hubungan yang saling menghargai dan menghormati
sehingga timbul saling kepercayaan, dengan kata lain konselor menjamin
kerahasiaan klien.

Konseling merupakan salah satu bentuk hubungan yang bersifat membantu.
Makna bantuan disini yaitu sebagai upaya untuk mebantu orang lain agar ia mampu
tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang
dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya.
Tugas konselor adalah menciptakan kondisi-kondisi yang diperlukan bagi
pertumbuhan dan perkembangan klien.

Hubungan dalam konseling bersifat interpersonal. Terjadi dalam bentuk
wawancara secara tatap muka antara konselor dan klien. Hubungan itu, melainkan
melibatkan semua unsur kepribadian yang meliputi: pikiran, perasaan,
pengalaman, nilai-nilai, kebutuhan, harapan, dan lain-lain. Dalam proses kedua
belah pihak hendaknya menunjukkan kepribadian yang asli. Hal ini dimungkinkan
karena konseling itu dilakukan secara pribadi dan hendaknya dalam suasana
rahasia.

Keefektifan konseling sebagian besar ditentukan oleh kualitas hubungan
antara konselor dengan kliennya. Dilihat
dari segi konselor, kualitas hubungan itu bergantung pada kemampuannya
dalam menerapkan teknik-teknik konseling dan kualitas pribadinya.

Dari seluruh pengertian konseling yang ada, Shertzer dan Stone (1980:82-88)
menyimpulkan bahwa yang menjadi tujuan konseling adalah “mengadakan perubahan perilaku pada diri klien sehingga memungkinkan
hidupnya lebih produktif dan memuaskan.

Khusus di sekolah, Boy dan Pine (Depdikbud, 1983:14) menyatakan bahwa
tujuan konseling adalah membantu siswa yang lebih matang dan lebih
mengaktualisasikan dirinya, membantu siswa maju dengan cara yang positif,
membantu dalam sosialisasi siswa dengan memanfaatkan sumber-sumber dan
potensinya sendiri. Persepsi dan wawasan siswa berubah, dan akibat dari wawasan
baru yang diperoleh, maka timbullah pada diri siswa reorientasi positif
terhadap kepribadian dan kehidupannya. Memelihara dan mencapai kesehatan mental
yang positif. Jika hal ini tercapai, maka individu mencapai integrasi,
penyesuaian, dan identifikasi positif dengan yang lainnya. Ia belajar menerima
tanggung jawab, berdiri sendiri, dan memperoleh integrasi perilaku.

Mencapai keefektifan pribadi. Sehubungan dengan ini Blocher mengatakan
bahwa yang dimaksud dengan pribadi yang efektif adalah pribadi yang sanggup
memperhitungkan diri, waktu dan tenaganya serta bersedia memikul resiko-resiko
ekonomis, psikologis dan fisik. Ia tampak memiliki kemampuan untuk mengenal,
mendefinisikan dan memecahkan masalah-masalah. Ia tampak konsisten terhadap dan
dalam situasi peranannya yang khas. Ia tampak sanggup berpikir secara berbeda
dan orisinil, yaitu dengan cara-cara yang kreatif. Ia juga sanggup mengontrol
dorongan-dorongan dan memberikan respons-respons yang wajar terhadap frustrasi,
permusuhan, dan ambiguitas.

Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya.
Jelas disini bahwa pekerjaan konselor bukan menentukan keputusan yang harus
diambil oleh klien atau memilih alternatif dari tindakannya.
Keputusan-keputusannya ada pada diri klien sendiri, dan ia harus tahu mengapa
dan bagaimana ia melakukannya. Oleh sebab itu klien harus belajar mengestimasi
konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi dalam pengorbanan pribadi, waktu,
tenaga, uang, resiko dan sebagainya. Individu belajar memperhatikan nilai-nilai
dan ikut mempertimbangkan yang dianutnya secara sadar dalam pengambilan
keputusan.

 

2.2 Posisi Pengembangan Diri
dalam Bimbingan dan Konseling

Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah
komplementer antara guru dan konselor. Penjelasan tentang pengembangan diri
yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa:

Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh
oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli
untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat,
dan minat setiap konseli sesuai kondisi sekolah. Keguatan pengembangan diri
difasilitasi oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan
dalam bentuk ekstrakulikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui
kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan
kehidupan social, belajar, dan pengembangan karier konseli.

Ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi
terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal,
sehingga dapat dihindari kerancuan konteks tugas dan ekspeksi kinerja konselor.

1.
Pengembangan
diri bukan sebagai mata pelajaran, mengandung arti bahwa bentuk, rancangan, dan
metode pengembangan diri tidakdilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar
seperti pembelajaran mata pelajaran.

2.
Pelayanan
pengembangan diri dalam bentuk ekstra kulikuler mengandung arti bahwa di
dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang
memerlukan pelayanan Pembina khusus sesuai dengan keahliannya.

 

Sebagian dari
pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling.
Pengembanagn diri hanya merupakan sebagian dari aktivitas pelayanan bimbingan
dan konseling secara keseluruhan.

Posisi BK pada
jalur pendidikan formal

 

 

 

 

Manajemen

Muatan local

Mata Pelajaran

Pengembangan

Diri

Bimbingan
dan Konseling

 

Oval: Manajemen<br />
Muatan local<br />
Mata Pelajaran<br />
Pengembangan<br />
Diri<br />
Bimbingan dan Konseling</p>
<p>” width=”308″ height=”304″ /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span style= 

 

          Pimpinan

 

 

Perkembangan optimum

 

 

 

Guru

Wilayah Komplamenter

 

Konselor Penyelenggara

bimbingan

 

2.3  Fungsi
Bimbingan dan Konseling

       Pelayanan
bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi dan asas yang hendak dipenuhi
melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah:

1.       Fungsi
Pemahaman
, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu
konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya
(pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli
diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan
dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.

2.       Fungsi
Preventif
, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya
konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi
dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui
fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan
diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.

3.       Adapun teknik
yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan
kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam
rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya :
bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out,
dan pergaulan bebas (free sex)

4.       Fungsi
Pengembangan
, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang
sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa
berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi
perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara
sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan
melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam
upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan
yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi
kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan
karyawisata.

5.       Fungsi
Penyembuhan,
yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang
bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan
kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi,
sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling,
dan remedial teaching.

6.       Fungsi
Penyaluran
, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam
membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan
memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat,
keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini,
konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar
lembaga pendidikan.

7.       Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi
membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor,
dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang
pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan
informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu
para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan
menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran,
maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.

8.       Fungsi
Penyesuaian
, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam
membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya
secara dinamis dan konstruktif.

9.       Fungsi
Perbaikan,
yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk
membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir,
berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi
(memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang
sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan
mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.

10.    Fungsi
Fasilitasi,
memberikan kemudahan kepada konseli dalam
mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan
seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.

11.    Fungsi
Pemeliharaan,
yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk
membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif
yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar
terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas
diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik,
rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseling
.

 

2.4 Prinsip-Prinsip Bimbingan
dan Konseling

Terdapat beberapa prinsip dasar  yang
dipandang sebagai fundasi atay landasan bagi pelayanan bimbingan.
prinsip-prinsip itu adalah :

1.      Bimbingan dan konseling diperuntukan bagi semua konseli. prinsip ini
berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli, baik yang tidak
bermasalah maupun yang bermasalah, baik pria maupun wanita, baik
anak-anak,remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam
bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan
(kuratif), dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan.

2.      Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat
unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk
memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa
yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan
bimbingannya menggunakan teknik kelompok.

3.
Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam
kenyataan masih ada konseli yang memiliki presepsi yang negatif terhadap
bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara
yang menekankan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan
sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan,
karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangfan yang positif
terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.

4.
Bimbingan dan konseling merupakan usaha
bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga
tugas guru-guru dan kepala sekolah atau madrasah sesuai dengan tugas dan peran
masing-masing. Mereka bekerja sebagai team work.

5.      Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan dan
konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan
pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan
informasi dan nasehat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya
dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya dan
bimbingan memfasilitasi konseli untuk mempertimbangkannya, menyesuaikan diri,
dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat.

6.      Bimbingan dan konseling berlangsung dalam berbagai setting kehidupan.
Pemberikan pelayanan tidak hanya berlangsung di sekolah atau madrasah, tetapi
juga dilingkungan keluarga,perusahaan, atau industri, lembaga pemerintahan atau
swasta, dan masyarakat pada umumnya.

2.5 Asas Bimbingan dan Konseling

Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling
sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut :

1.
Asas Kerahasiaan,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakannya segenap data
dan keterangan tentang konseli yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau
keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam
hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data
dan keterangan itu sehingga kerahasiaannya benar-benar terjamin.

2.
Asas Kesukarelaan,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan
kerelaan konseli mengikuti/ menjalani pelayanan/ kegiatan yang diperlukan
baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan
kesukarelaan tersebut.

3.
Asas Keterbukaan,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli yang menjadi
sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di
dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima
berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya.
Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli.
Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya
kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar
konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka
dan tidak berpura-pura.

4.
Asas Kegiatan,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli yang menjadi
sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan
pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong
konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/ kegiatan bimbingan dan konseling
yang diperuntukkan baginya.

5.
Asas Kemandirian,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan
konseling, yakni: konseli sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling
diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan
menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan
serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendakanya mampu mengarahkan
segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi
berkembangnya kemandirian konseli.

6.
Asas Kekinian,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran
pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli dalam kondisinya
sekarang. Pelayanan yang berkenaaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau
pun” dilihat dampak dan/atau kaitannnya dengan kondisi yang ada dan apa yang
diperbuat sekarang.

7.
Asas
Kedinamisan
, yaitu asas
bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran
pelayanan yang sama hendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan teus berkembang
serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan dari waktu
ke waktu.

8.
Asas
Keterpaduan
, yaitu asas
bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan
kegiatan  bimbingan dan konseling, baik
yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang,
harmonis, dan terpadu. Untuk itu kerja sama antara guru pembimbing dan
pihak-pihak yang berperan dalam penyelanggaraan pelayanan bimbingan dan
konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/ kegiatan
bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

9.
Asas
Keharmonisan
, yaitu asas
bimbingandan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan
bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan
nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum, dan peraturan,
adat dan istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah
pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat
dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai
dan norma yang dimaksud itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan
konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli memahami,
menghayati, dan mengamalkan niai dan norma tersebut.

10.
Asas
Keahlian
, yaitu asas
bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan
dan konseling diselanggarakan atas dasar kaidah-kaidah professional. Dalam hal
ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaknya
tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling.
Keprofesionalan guru pembimbing harus tewujud baik dalam penyelanggaraan
jenis-jenis pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling maupun dalam
penegakan kode etik bimbingan dan konseling.

11.
Asas
alih tangan kasus
,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak
mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan
tuntas atas suatu permasalahan konseli mengalihtangankan permasalahan itu
kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbig dapat menerima alih tangan kasus
dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain; dan demikian pula guru
pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan
lain-lain.

12.
Asas
Tut Wuri Handayani
, Asas
ini menunjukan pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan
keseluruhan antara pembimbing dan yang dibimbing. Lebih-lebih di lingkungan
sekolah, asas ini makin dirasakan manfaatnya, dan bahkan perlu dilengkapi
dengan “ing ngarsa sung tulada, ing madya
mangun karsa”.
Asas ini menuntut agar layanan bimbingan dan konseling tidak
hanya dirasakan adanya pada waktu siswa mengalami masalah dan menghadap
pembimbing saja, namun di luar hubungan kerja kepembimbigan dan konseling pun
hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya.



 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bimbingan adalah sebuah proses yang panjang dan bersifat
kontinuitas untuk dapat mengarahkan peserta didik agar berkembang secara
optimal. Sedangkan Konseling adalah hubungan tatap muka atau interaksi langsung
yang bersifat rahasia dengan tujuan membimbing peserta didik agar berkembang
secara optimal. Bantuan yang diberikan guru pembimbing ditujukan agar peserta
didik mandiri
dan berkembang secara optimal, sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya,
dan
nilai-nilai/norma-norma yang berlaku. Kemandirian siswa diantaranya ditunjukkan
melalui kemampuannya memahami dirinya sendiri, seperti memahami kelebihan
dan
kekurangan yang dimiliki, memahami bakat
dan
minatnya serta memahami ciri-ciri kepribadiannya.

Dalam konteks pendidikan, seluruh peserta didik, mulai dari jenjang
yang paling rendah hingga pendidikan tertinggi, perlu mendapat bimbingan dan
konseling. Bagi yang cerdas diarahkan sebagai upaya akselerasi. Untuk yang
berkemampuan rata-rata dimaksudkan sebagai upaya pengembangan. Sedangkan bagi
peserta didik yang kemampuan akademiknya tergolong di bawah rata-rata,
bimbingan diberikan sebagai perbaikan (kuratif). Dalam pelaksanaannya,
bimbingan dan konseling menerapkan beberapa jenis layanan, yaitu: bimbingan
pribadi, bimbingan belajar, bimbingan sosial, dan bimbingan karier yang dapat
berlangsung baik dalam setting keluarga, sekolah, industri maupun dalam
masyarakat. Dari bimbingan tersebut diharapkan peserta didik dapat lebih
mengeksplorasi
dan mengaktualisasikan
potensi dirinya dengan maksimal.

Pada pelaksanaannya, untuk mewujudkan penyelenggaraan bimbingan dan
konseling yang efektif
dan optimal,
sehingga mewujudkan  tercapainya standar
kemampuan akademis
dan tugas-tugas
perkembangan peserta didik, perlu adanya kerja sama yang harmonis antara para
pengelola/manajemen pendidikan, pengajaran,
dan
bimbingan, sebab ketiganya merupakan bidang-bidang utama dalam pencapaian
tujuan pendidikan
.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.