BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah mahluk filosofis, artinya manusia mempunyai pengetahuan dan berpikir, manusia juga memiliki sifat yang unik, berbeda dengan mahluk lain dalam perkembanganya. Implikasi dari keragaman ini ialah bahwa individu memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih dan mengembangkan diri sesuai dengan keunikan dari tiap–tiap potensi tanpa menimbulkan konflik dengan lingkungannya. Dari sisi keunikan dan keragaman idividu, maka diperlukanlah bimbingan untuk membantu setiap individu mencapai perkembangan yang sehat didalam lingkungannya ( Nur Ihsan, 2006 : 1)

Pada dasarnya bimbingan dan konseling juga merupakan upaya bantuan untuk menunjukan perkembangan manusia secara optimal baik secara kelompok maupun idividu sesuia dengan hakekat kemanusiannya dengan berbagai potensi, kelebihan dan kekurangan, kelemhan serta permaslahanya.

Adapun dalam dunia pendidikan, bimbingan dan konseling juga sangat dipelukan karena dengan adanya bimbingan dan konseling dapat mengantarkan peserta didik pada pencapai Standar dan kemampuan profesional dan akademis, serta perkembangan dini yang sehat dan produktif didalam bimbinganya dan konseling.

Dalam melaksanakan bimbingan, masalah dalam memahami peserta didik merupakan sikap yang harus dimiliki dan dilakukan oleh guru, sehingga guru dapat mengetahui aspirasi/tuntutan peserta didik yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan program yang tepat bagi peserta didik, sehingga kegiatan pembelajaran pun akan dapat memenuhi kebutuhan, minat peserta didik dan tepat berdasarkan dengan perkembangan peserta didik. Beberapa dasar pertimbangan perlunya ”Memahami dasar–dasar pemahaman  Peserta Didik” yaitu sebagai berikut :

1.      Dasar pertimbangan psikologis bahwa suatu kegiatan akan menarik dan berhasil apabila sesuai dengan minat, bakat, kemampuan, keinginan, dan tuntutan peserta didik.

2.      Dasar pertimbangan sosiologi bahwa secara naluri manusia akan merasa ikut serta memiliki dan aktif mengikuti kegiatan yang ada.

1.2 Rumusan Masalah

Yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini diantaranya, yaitu :

1         Apa konsep Pengertian Bimbingan dan Konseling ?

2         Bagaimana Posisi Bimbingan dan Konseling ?

3         Apa yang dimaksud Peserta didik ?

4         Apa Manfaat dari mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik ?

5         Faktor – faktor apakah yang harus diketahui dalam dasar – dasar pemahaman peserta didik ?

1.3 Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan dan manfaat pembuatan dari makalah ini yaitu :

  1. Pengertian dari Peserta didik.
  2. Memahami konsep pengertian bimbingan dan konseling.
  3. Memahami posisi bimbingan dan konseling.
  4. Mengerti manfaat dari mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik.
  5. Mengetahui faktor – faktor yang harus diketahui dalam dasar – dasar pemahaman peserta didik.
  6. Memenuhi salah satu sarat tugas dari Bimbingan dan Konseling.
  7. Menambah Pengetahuan dan wawasan mengenai bimbingan dan konseling.

 


BAB 2

TEKNIK-TEKNIK DASAR DALAM PEMAHAMAN PESERTA DIDIK

 

2.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada peserta didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif, dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan tugas-tugas perkembangan. Upaya bantuan ini dilakukan secara terencana dan sistematis untuk semua peserta didik berdasarkan identifikasi kebutuhan mereka, pendidik, institusi dan harapan orang tua dan dilakukan oleh seorang tenaga profesional bimbingan dan konseling yaitu konselor.

Adapun tugas-tugas perkembangan peserta didik tingkat remaja (siswa SMP/MTs. dan SMA/MA/SMK) adalah:

1.    Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2.    Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat.

3.    Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita.

4.    Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas.

5.    Mengenal kemampuan, bakat, minat, serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni.

6.    Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan/atau mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan masyarakat.

7.    Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi.

8.    Mengenal sistem etika dan nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sebagai  pribadi, anggota masyarakat, maupun makhluk Tuhan.

9.    Mencapai kematangan dalam pilihan karir.

10.   Mencapai kematangan dalam kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga.

 

 

2.2 Posisi Bimbingan Konseling

The Guidance Service is the Heart of Educational Process. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan. Layanan bimbingan dan konseling merupakan layanan terhadap peserta didik yang tidak terpisahkan dari layanan manajemen dan supervisi maupun kurikulum dan pembelajaran serta bukan merupakan bagian dari bidang yang lain. Bimbingan dan konseling juga tidak direduksi sebagai pengembangan diri atau bagian dari pengembangan diri karena pengembangan diri merupakan tanggung jawab semua sub sistem pendidikan, sehingga tidak bisa dipisahkan dari mata pelajaran, kurikulum muatan lokal, dukungan managerial dan layanan bimbingan dan konseling.

Pengembangan diri sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri No.23 Tahun 2006 Tentang Standar Isi, Bab II, tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum pada semua jenjang pendidikan, SD, SMP dan SM menyatakan bahwa kurikulum berisi: mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri. Dinyatakan pula: “Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru.

Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.”

Posisi pengembangkan diri dan bimbingan berdasarkan perspektif Bimbingan dan Konseling Perkembangan adalah pengembangan diri secara utuh merupakan layanan dasar bimbingan (guidance curriculum), Selain itu dalam bimbingan dan konseling masih terdapat tiga layanan lainnya, yaitu: layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan layanan dukungan sistem. Jadi pengembangan diri hanya bagian dari layanan bimbingan dan konseling.

Implementasi layanan bimbingan dan konseling tidak hanya untuk peserta didik yang bermasalah saja tetapi untuk seluruh peserta didik karena bertumpu pada kebutuhan dan tuntutan lingkungan individu. Layanan bimbingan dan konseling adalah layanan psikologis dalam suasana pedagogis. Layanan psiko-pedagogis dalam seting persekolahan maupun luar sekolah dalam koteks kultur, nilai dan religi yang diyakini konseli dan konselor. Orientasi bimbingan dan konseling adalah perkembangan perilaku yang seharusnya dikuasai oleh individu untuk jangka panjang tertentu menyangkut ragam proses pendidikan, karir, pribadi, sosial, keluarga dan pengambilan keputusan.

2.3 Peserta Didik

Dalam perspektif pedagogis, peserta didik diartikan sebagai sejenis makhluk ‘Homo Educantum’, makhluk yang menghajatkan pendidikan. Dalam pengertian ini, peserta didik dipandang sebagai manusia yang memiliki potensi yang bersifat laten, sehingga dibutuhkan binaan dan bimbingan untuk mengatualisasikannya agar ia dapat menjadi manusia susila yang cakap.

Dalam perspektif psikologis, peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikis menurut fitrahnya masing-masing. Sebagai individu yang tengah tumbuh dan berkembang, peserta didik memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju ke arah titk optimal kemampuan fitrahnya.

Dalam perspektif Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 4, “peserta didik diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.”

Berdasarkan beberapa definisi tentang peserta didik yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik individu yang memiliki sejumlah karakteristik, diantaranya:

  1. Peserta didik adalah individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga ia merupakan insan yang unik.
  2. Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang. Artinya peserta didik tengah mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya secara wajar, baik yang ditujukan kepada diri sendiri maupun yang diarahkan pada penyesuaian dengan lingkungannya.
  3. Peserta didik adalah individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
  4. Peserta didik adalah individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.

2.3.1          Mengenal Murid (Apa dan Siapa Murid ?)

Murid adalah salah satu komponen dalam pengajaran. Sebagai salah satu komponen maka dapat dikatakan murid adalah komponen yang terpenting diantara komponen lain. Murid adalah unsure penentu dalam proses belajar mengajar . Tanpa adanya murid, sesungguhnya tidak akan terjadi proses pengajara. Tanpa adanya murid, guru tak akan mungkin mengajar. Sehingga murid adalah komponen yang terpenting. Dalam hubungan proses belajar mengajar.

 

 

2.3.2      Pandangan Tentang Murid sebagai Anak

Setidak-tidaknya terdapat tiga jenis pandangan tentang anak, yaitu:

a)                  Pandangan lama, menyebutkan anak adalah orang dewasa yang kecil. KArena itu segala sesuatunya perlu disamakan seperti halnya orang dewasa. Anak perlu diberi pakaian orang dewasa dalam bentuk yang kecil. Sebagai anak ia dipandang masih bersih dan orang dewasa lah yang menetukan akan dijadikan apakah anak itu.

Anak adalah sebagai anak. Anak tidak bisa dan tidak mungkin disamakan dengan orang dewasa. Ya memiliki ciri-cirinya sendiri. Perlakuan terhadapa anak tidak boleh dipersamakan dengan perlakuan seperti orang dewasa. Setiap anak berada dalam tahap sedang dalam berkembang, ia memiliki banyak potensi-potensi yang dimiliki, oleh anak itulah perbuatan pendidikan dilakukan.

Anak adalah hidup dimasyarakat dan dipersiapkan unuk hidup didalam masyarakatnya. Sebagai calon anggota masyarakat maka ia harus dipersiapkan sesuai dengan masyarakat setempat. Pandangan ini dikenal dengan istilah child in society.

b)                 Murid sebagai Pribadi yang Kompleks. Dalam hal ini, J. Looke berpandangan bahwa jiwa anak bagaikan tabula rasa, sebuah meja lilin yang dapat ditulis dengan apa saja bagaimana keinginan si pendidik. Tidak ada bedanya dengan sehelai kertas putih yang dapat ditulis dengan tinta warna apa saja. J.J. Rousseau memandang anak  memiliki jiwa yang bersih dan karena lingkungan ia menjadi kotor.

c)                  Berbeda dengan pandangan diatas maka menurut psikologi modern, anak adalah organism yang hidup, yang mereaksi, berbuat, dan sebagainya. Organisme yang hidup memiliki suatu kebutuhan, minat, kemampuan, intelek, dan masalah-masalah tertentu. Dia tidak tinggal diam, melainkan bersifat aktif, bersifat unik, memiliki bakat dan kematangan berkat adanya pengaruh dari luar seperti : Seperti keluarga, masyarakat, status sosial ekonomi keluarga, tingkat dan jenis pekerjaan orang tua, pengaruh-pengaruh dari kebudayaan dan sebagainya, sehingga membentuk pribadi anak menjadi kompleks.

2.3.1.1         Tujuan Mengenal Murid

Guru mengenal murid-muridnya dengan maksud agar guru dapat membantu pertumbuhan dan perkembangnnya secara efektif. Mengenal murid sangat penting agar guru dapat menentukan bahan-bahan yang akan diberikan, menggunakan prosedur mengajar yang serasi, mengadakan diagnosis atas kesulitan.

2.3.1.2         Hal-hal yang Perlu dikenal dari Pribadi Murid

Banyak aspek dari pribadi murid yang perlu dikenal, aspek-aspek tersebut diklasifikasikan sebagai berikut :

 

a)         Latar Belakang Masyarakat

Kultur masyarakat dimana siswa tinggal, besar pengaruhnya terhadap sikap siswa. Latar belakang cultural ini menyebabkan para siswa memiliki sikap yang berbeda-beda tentang agama, politik, masyarakat lain, dan cara bertingkah laku. Pengalaman anak-anak diluar sekolah yang hidup di dalam masyarakat kota sangat berbeda dengan pengalaman para siswa yang tinggal di pedesaan.

b)         Latar Belakang Keluarga

Situasi di dalam keluarga besar pengaruhnya terhadap emosi, penyesuaian social, minat, sikap, tujuan, displin, dan perbuatan siswa disekolah. Apabila di rumah siswa msering mengalami tekanan, merasa tak aman, frustasi maka dia juga akan mengalami perasaan asing di Sekolah. Apa yang menarik minatnya di Rumah akan keliatan pula apa yang menjadi minatnya disekolah. Guru perlu mengenal situasi dan kondisi dalam keluarga siswa, agar dapat merencanakan kegiatan-kegiatan yang serasi, kendatipun pengaruh keluarga ini tidak mutlak menetukan berhasilnya seorang siswa, karena pada kenyataannya sering juga terjadi dimana anak mengalami maladjustment ( gejala-gejala merasa tidak diterima ) sebagai akibat lingkungan sekolah.

c)          Tingkat Intelegensi

Hasil test intelegensi juga menjadi sumber yang menggambarkan abilisitas belajar siswa. Bahkan menurut Wechsler, bahwa intelegensi seseorang dipengaruhi oleh perasaan cemas, dorongan, rasa aman, dan sebagainya. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kemantapan daripada IQ. Tingkat intelegensi dapat digunakan untuk memperkirakan keberhasilan seorang siswa.

d)         Hasil Belajar

Guru perlu mengenal hasil belajar dan kemajuan belajar siswa yang telah diperoleh sebelumnya. Hal-hal yang perlu diketahui itu, ialah penguasaan pelajaran, keterampilan-keterampilan belajar dan bekerja. Hal tersebut penting bagi guru karena dapat membantu guru mendiagnosis kesulitan belajar siswa, dapat memperkirakan hasil dan kemajuan belajar selanjutnya, hasil-hasil tersebut dapat saja berbeda dan bervariasi sehubungan dengan kedaan motivasi, kematangan, dan penyesuaian social.

e)         Kesehatan Badan

Guru perlu secara berkala mengetahui tentang keadaan kesehatan dan pertumbuhan siswa. Keadaan kesehatan dan pertumbuhan ini besar pengaruhnya terhadap hasil pendidikan dan penyesuaian social mereka. Siswa yang kurang sehat badannya mungkin mengalami kurang vitamin sehingga kurang energy untuk belajar.

 

 

f)          Hubungan antar Pribadi

Perkembangan social menunjukan keseluruhan pola pertumbuhan. Hubungan pribadi saling aksi dan mereaksi, peneriamaan oleh anggota kelompok, kerjasama dengan teman sekelompok akan menentukan perasaan puas dan rasa aman di sekolah, sehingga berpengaruh pada kelakuan dan motivasi belajarnya.

g)         Kebutuhan-kebutuhan Emosional

Diantara kebutuhan emosional yang penting dikalangan para siswa pada umumnya ialah ingin diterima, berteman, dan rasa aman. Kebutuhan ini perlu mendapat kepuasan dan jika tidak berhasil memberikan kepuasan atas kebutuhan tersebut maka akan menimbulkan frustasi dan gangguan mental lainnya. Gangguan mental tersebut dapat dilihat dari tingkah lakunya sebagai berikut:

Tingkah Laku Pemalu, Kelakuannya sangat agresif, Tingkah laku submissive ( terlalu bergantung pada orang lain ), Gejala sakit somatis ( sakit badan yang sebenarnya disebabkan oleh gangguan mental ).

h)         Sifat-sifat Kepribadian

Guru perlu mengenal sifat-sifat kepribadian murid agar guru mudah mengadakan pendekatan pribadi dengan mereka, sehingga hubungan pribadi menjadi lebih dekat dan pengajaran lebih efektif.

i)           Bermacam-macam Minat Bakat

Guru perlu sekali minat muridnya karena penting bagi guru untuk memilih bahan pelajaran, merencanakan pengalaman belajar, menuntun kearah pengetahuan, dan mendorong motivasi belajar.

 

2.3.1         Cara dan Alat untuk Mengenal Murid

Dalam mengenal murid guru dapat menggunakan bermacam-macam alat, pengenalan terhadap suatu aspek  dapat digunakan lebih dari satu macam alat, dalam  uraian berikut dapat kita tinjau alat itu satu demi satu dalam garis besarnya saja.

a)         Cumulative Record

Sistem cumulative record berisikan banyak macam keterangan tentang murid. Catatan itu ada bermacam-macam. Ada yang menggunakan kartu berukuran 3 X 5 dengan sebanyak 8 pertanyaan, ada juga yang menggunakan folder 10 X 6 didalamnya terdapat sejumlah kartu dan sejumlah pertanyaan. Setiap kartu memuat 117 jenis keterangan. Cumulative record umumnya berisikan keterangan tentang berikut ini:

Keadaan masyarakat, Latar belakang keluarga, Skor tes hasil pendidikan, Skor tes inteligensi, Catatan pemeriksaan kesehatan badan, Catatan kehadiran disekolah, Percakapan dan wawancara informal dengan murid, Catatan tentang pertemuan dengan orangtua dan kunjungan ke rumah, Contoh pekerjaan murid, Hasil-hasil sosiometri, Catatan-catatan tentang permainan dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, Minat-minat khusus.

b)                 Anecdotal records

Anecdotal Records adalah catatan tertulis tentang satu atau lebih observasi-observasi guru terhadap kelakuan dan reaksi-reaksi murid dalam berbagai situasi. Catatan ini dibuat sekali atau dua kali dalam seminggu selama setahun, baru dapat menggambarkan perkembangannya selama waktu itu. Catatan tersebut meliputi keterangan yang diperoleh melalui:

-          Percakapan informal antara guru dan murid

-          Laporan tentang siswa menggunakan waktu bebas

-          komentar tentang orangtuannya

-          contoh-contoh hasil kerja kreatif murid

-          kegiatan-kegiatan murid, dsb.

c)                  Percakapan-percakapan dan Wawancara Informal

Dalam percakap-percakapan informal dengan murid, sebelum masuk sekolah, dalam waktu istirahat dan waktu-waktu lainnya, guru dapat mengarahkan pokok pembicaraan untuk mengungkapkan minat, reaksinya terhadap sekolah, pengalam-pengalam yang didapat di luar sekolah, motivasi, dan aspirasi mereka. Guru juga dapat mengetahui segala sesuatu tentang pribadi murid dari wawancara informal. Dalam situasi-situasi ini anak-anak memungkinkan berbicara secara bebas dan bersikap akrab serta adnya kepercayaan murid terhadap guru.

d)                 Observasi

Melaui observasi yang terus menerus guru dapat memperoleh tentang abilitas. Sikapnya terhadap kegiatan-kegiatan sekolah, partisipasi terhadap berbagai kegiatan, hubungan antar siswa dalamberbagai kelompok. Observasi dapat juga berfungsi sebagai alat penilai.

e)                 Angket

Angket terdiri dari sejumlah pertanyaan tertulis yang disampaikan kepada murid-murid untuk mendapatkan jawaban yang tertulis. Melalui angket, guru dapat mengenal tentang minat, masalah kebutuhan, kecemasan, ambisi anak, dsb.

f)                   Diskusi Informal

Dalam diskusi ini, setiap murid bebas mengemukakan pengalaman pengalaman dan hal-hal yang diamatinya. Diskusi dilaksanakan secara informal penuh persahabatan, saling member dan menerima.

 

 

g)                  Tes

Tes tertulis dapat mengetahui tentang hasil pendidikan para siswa, tingkat intelegensi, sifat-sifat kepribadian, sikap, dan abilitas setiap murid. Macam-macam tes yakni:

h)                 Standarited test, untuk mengetahui hasil belajar murid

i)                    Thurthone primary mental test, untuk mengetahui untuk mengetahui tingkat intelegensi siswa

j)                   California test of personality, suatu tes kepribadian yang digunakan baik untuk siswa maupun untuk orang dewasa

k)                  tes sikap

l)                    tes bakat

m)               the ‘guess who test’, disebut juga tes reputasi, identifikasi, atau pendapat.

n)                 Projective techniques

Teknik ini menyebabkan murid-murid mengekspresikan atau memproyeksikan minat, keinginan, sikap atau pendapat. Teknik ini menggunakan beberapa alat antara lain: autobiography siswa komposisi bebas, menggambar, mengecat, membacakan cerita atu sajak, menggunakan gambar-gambar, bermain boneka, fantasi, bermain drama, rolle playing, Rorschach Technique, tematik dan tes apresiasi.

  • o)                 Sosiometri

Tes sosiometri digunakan untuk memperoleh gambaran tentang hubungan antara pribadi siswa atau hubungan social diantara murid-murid di dalam kelas. Hasil dari sosiometri disebut sosiogram. Sosiogram dibuat dengan menugaskan kepada setiap murid dalam satu kelas untuk memilih dan menuliskannya pada selembar kertas tiga orang nama temannya ( sekelas ), dengan kategori : Yang paling disegani, yang paling disenangi, yang paling tidak disenangi. Kemudian, kertas itu dikumpulkan dan dibuatkankan suatu sosiogram.Contoh sosiogram dari suatu kelas :

 

O

J

N

M

A

L

R

I

H

G

F

E

D

C

B

Q

P

 

 

 

 

 

 

 

= Memilih

= Saling memilih

Dari gambar tersebut dapat dilihat, bahwa ada seorang murid yang paling popular, yang terisolasi, sejumlah siswa memilih teman-temannya dalam satu kelompok kecil, adapula diluar kelompok kecil yang memilih anggota didalam kelompok kecil sedangkan dia sendiri tidak terpilih oleh anggota kelompok kecil tersebut.

p)                 Konferensi antar orang tua dan guru

Dalam kesempatan mengunjungi orang tua murid dan mengadakan pertemuan dengan orang tua murid tersebut untuk melaporkan kemajuan belajar murid maka guru sebaiknya menggunakan kesempatan itu untuk mempelajari situasi keluarga. Dalam melaksanakan konferensi ini hendaknya guru bekerja sama dengan teliti. Buchler dan kawan-kawan memberikan saran-saran sebagai berikut:

1                    Mulailah dengan suatu pernyataan yang positif tentang kemampuan dan minat siswa, sehingga orang tua tersebut terangsang untuk berbicara lebih lanjut.

2                    Terimalah tujuan-tujuan dan keinginan-keinginan orang tua kendatipun mungkin berbeda dengan sekolah. Kemudian perluas tujuan-tujuan belajar yang sempit itu menjadi tujuan-tujuan yang lebih luas, perkembangan pribadi dan penyesuaian sosial.

3                    Doronglah orang tua agar menyatakan keinginannya tentang kebutuhan anaknya dan carilah alasan-alasan yang tepat untuk itu.

4                    Lakukan observasi terhadap para siswa itu dan bandingkan respon-responnya antara sekolah dengan rumah, buatlah interpretasinya.

5                    Ingat bahwa kritik atau evaluasi dari para siswa ditanggapi secara emosional, demikian pula halnya oleh orang tua.

6                    Dengarkan tuntutan atau kritik orang tua terhadap sekolah dan terimalah sebagai tanda bukti adanya minat atau saran-saran yang perlu dipertimbangkan.

7                    Apabila terjadi diskusi tentang suatu masalah, bersiap-siaplah menerima bermacam-macam saran sesuai dengan kemampuan orang tua.

q)                 Studi Kasus (Case Study)

Dengan studi kasus, guru dapat menghimpun banyak informasi tentang seorang murid dari berbagai sumber di dalam satu-kesatuan pola. Manfaatnya ialah guru dapat memahami murid secara menyeluruh dari individu siswa sehingga pola perkembangan siswa dapat diamati secara kontinu. Selain itu guru mempelajari setiap individu siswa dan mempelajari sekelompok anak yang maladjusted dan well-adjusted. Semua teknik yang telah diuraikan dapat digunakan dalam studi kasus. Langkah-langkah membuat studi kasus adalah sebagai berikut:

1            Melakukan studi yang teliti terhadap cumulative record murid di sekolah

2            Mangamati kegiatan-kegiatannya di dalam kelas dan di luar lapangan

3            Mengamati reaksi teman-temannya terhadapnya dan reaksi terhadap mereka

4            Memperbincangkannya dengan guru lain yang mengenal murid tersebut

5            Mengadakan serangkaian pertemuan dengan individu murid tersebut

6            Mengadakan analisis terhadap pekerjaan tertulis dan skor-skor tes intelegensi hasil belajar, apabila khusus dan minat

7            Melakukan kunjungan ke rumah dan melakukan pertemuan dengan orang tuanya

8            Merangkum keterangan teentang murid itu

9            Menafsirkan data

10        Merencanakan suatu program untuk membantu murid itu

Pencatatan informasi

Informasi yang diperoleh diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Informasi umum (Nama dan alamat, nama orang tua, umur kronologis, masuk sekolah, kelas, situasi masyarakat khususnya faktor-faktor yang mempengaruhi anak secara langsung)
  2. Latar belakang keluarga (Pendidikan formal orang tua, jabatan orang tua, kakak dan adik (pendidikan dan jabatan), status dalam keluarga (diterima, ditolak, favorit), status sosial dan ekonomi keluarga, mobilitas keluarga)
  3. Catatan sekolah (Hasil belajar dan kehadiran di sekolah, catatan sebagai warga Negara, hasil belajar dalam setiap mata pelajaran, perubahan-perubahan yang signifikan dalam kemajuan di sekolah, kegiatan-kegiatan di sekolah, hubungan-hubungan sosial dengan murid lain
  4. Mental abilitas (abilitas umum (MA, IQ) dan abilitas khusus dan bakat)
  5. Kondisi jasmani (vitalitas jasmani, bentuk badan (struktur), berat badan (lebih atau kurang), penglihatan dan pendengaran, kebiasaan-kebiasaan sehat (makan, tidur, dan mandi), keterampilan-keterampilan jasmani)
  6. Pengalaman-pengalaman di luar sekolah (Kegiatan-kegiatan waktu senggang, jenis dan banyaknya waktu yang digunakan untuk itu, teman bermain (umur), pekerjaan atau tugas sehari-hari di luar rumah)

Menafsirkan informasi (Informasi yang telah dihimpun tentang seorang murid perlu ditafsirkan, dianalisis, dan ditarik kesimpulan guna mengetahui tingkat perkembangan, kematangan, masalah, dan pemahaman lebih baik.)

 

2.4 Pentingnya Memahami Peserta Didik

Pentingnya Pemahaman Guru/Konselor Mengenai Peserta Didik diantaranya adalah :

1.    Dengan mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konselor  akan dapat memberikan harapan yang realistis terhadap anak dan remaja. Ini adalah penting, karena jika terlalu banyak yang diharapkan pada anak usia tertentu, anak mungkin akan mengembangkan perasaan tidak mampu jika ia tidak mencapai standar yang ditetapkan orangtua dan guru. Sebaliknya, jika terlalu sedikit yang diharapkan dari mereka, mereka akan kehilangan rangsangan untuk lebih mengembangkan kemampuannya.

2.    Dengan mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konselor akan lebih mudah dalam memberikan respons yang tepat terhadap perilaku tertentu seorang peserta didik (konseli).

3.    Dengan mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konselor akan lebih mudah dalam mengenali kapan perkembangan normal yang sesungguhnya dimulai, sehingga guru dapat mempersiapkan anak menghadapi perubahan yang akan terjadi pada tubuh, perhatian dan perilakunya.

4.      Dengan mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konseli akan lebih mudah dalam memberikan bimbingan yang tepat pada peserta didik.

 

2.5  Faktor – faktor yang harus diketahui dalam mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik

Dalam memahami dasar – dasar pemahaman peserta didik hal – hal yang perlu diperhatikan antara lain :

1.    Kompetensi guru pembimbing/konselor

2.    Mengetahui Klasifikasi Layanan

3.    Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling

4.    Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik

5.    Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia Remaja SMA)

 

 

 

2.5.1 Kompetensi Guru Pembimbing (Konselor) di Sekolah

Konselor adalah pelaksana utama yang mengkoordinasi semua kegiatan yang terkait dalam pelaksana bimbingan dan koseling di sekolah. Konselor dituntut untuk bertindak secara bijaksana, ramah, bisa menghargai, dan memeriksa keadaan orang lain, serta berkepribadian baik, karena konselor itu nantinya akan berhubungan dengan siswa khususnya dan juga pihak lain yang sekiranya bermasalah. Konselor juga mengadakan kerja sama dengan guru-guru lain, sehingga guru-guru dapat meningkatkan mutu pelayanan dan pengetahuannya demi suksesnya program bimbingan dan konseling. (Umar, 2001: 118)

Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. Demikian pula, masalah-masalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya.

Sebagai pelaksana utama, tenaga inti, dan ahli, konselor (guru pembimbing) bertugas:

  1. Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling
  2. Merencanakan program bimbingan dan konseling
  3. Melaksanakan segenap pelayanan bimbingan dan konseling
  4. Melakaksanakan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling
  5. Menilai proses dan hasil layanan bimbingan dan konseling
  6. Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian
  7. Mengadministrasikan layanan program bimbingan dan konseling
  8. Mempertanggung jawabkan tugas dan kegiatan bimbingan dan konseling tersebut. (Sukardi, 2002: 56)

Konselor disamping bertugas memberikan layanan kepada siswa, juga sebagai sumber data yang meliputi: kartu akademis, catatan konseling, data psikotes dan catatan konperensi kasus.

Pengawas melakukan pembinaan dan pengawasan apakah konselor yang ada disekolah memiliki kompetensi sebagai konselor. Perlu dukungan sehingga layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh seorang konselor (berlatar pendidikan bimbingan dan konseling yang idealnya memiliki sertifikasi konselor). Paling tidak layanan diberikan oleh guru pembimbing yang telah memperoleh pelatihan bimbingan dan konseling yang diselenggarakan oleh ABKIN maupun Depdiknas yang ditugaskan oleh kepala sekolah untuk melakukan layanan bimbingan dan konseling dengan dukungan penuh wali kelas, guru dan pimpinan sekolah yang melaksanakan fungsi dan peran bimbingan dalam kapasitas dan kewenangannya masing-masing. Pada kondisi paling darurat para tenaga pendidik di sekolah yaitu guru, wali kelas dan pimpinan sekolah dalam peran dan tugasnya maing-masing melaksanakan layanan bimbingan sesuai dengan kapasitas.

Para konselor perlu dukungan agar termotivasi mengembangkan diri sebagai tenaga yang profesional dengan melanjutkan pendidikan untuk memperoleh sertifikasi konselor dan melengkapi dengan berbagai aktivitas profesi. Para guru pembimbing yang tidak berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling, pimpinan sekolah, wali kelas dan guru perlu dukungan agar termotivasi untuk belajar melakukan layanan bimbingan dan konseling secara benar. Upaya pengembangan diri dapat dilakukan melalui kegiatan pengembangan staf secara internal di sekolah, pertemuan pada MGBK di sanggar BK, mengikuti seminar, workshop maupun pelatihan BK, terlibat dalam organisasi profesi dan melanjutkan pendidikan.

2.5.2 Mengetahui Klasifikasi Layanan

Seorang konselor dalam memahami peserta didik harus mengetahui Klasifikasi layanan, dimana struktur program bimbingan diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan, yaitu:

 

1.     Layanan Dasar Bimbingan

Layanan dasar bimbingan diartikan sebagai “proses pemberian bantuan kepada semua siswa (for all) melalui kegiatan-kegiatan secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka membantu perkembangan dirinya secara optimal”. Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu siswa agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan layanan dirumuskan sebagai upaya untuk membantu siswa agar:

1)      Memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama).

2)      Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya.

3)      Mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan

4)      Mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

 

 

2.    Layanan Responsif

Layanan responsif merupakan “pemberian bantuan kepada siswa yang memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera”. Tujuan layanan responsif adalah membantu siswa agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu siswa yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.

Tujuan layanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi siswa yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan atau masalah pengembangan pendidikan.

3.    Layanan Perencanaan Individual

Layanan ini diartikan “proses bantuan kepada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depannya berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya”.

Tujuan layanan perencanaan individual bertujuan untuk membantu siswa agar:

1)      Memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya.

2)      Mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik  menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir, dan

3)      Dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya.

Tujuan layanan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya memfasilitasi siswa untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri.

4.    Layanan Dukungan Sistem

Ketiga komponen program, merupakan pemberian layanan BK kepada siswa secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada siswa atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa. Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan profesinal; hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasehat, masyarakat yang lebih luas; manajemen program; penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990).

Program ini memberikan dukungan kepada guru pembimbing dalam memperlancar penyelenggaraan layanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah. Dukungan sistem ini meliputi dua aspek, yaitu:

1) Pemberian Layanan Konsultasi/Kolaborasi

Pemberian layanan menyangkut kegiatan guru pembimbing (konselor) yang meliputi (1) konsultasi dengan guru-guru, (2) menyelenggarakan program kerjasama dengan orang tua atau masyarakat, (3) berpartisipasi dalam merencanakan kegiatan-kegiatan sekolah, (4) bekerjasama dengan personel sekolah lainnya dalam rangka mencisekolahakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa, (5) melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling.

2) Kegiatan Manajemen

Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan (1) pengembangan program, (2) pengembangan staf, (3) pemanfaatan sumber daya, dan (4) pengembangan penataan kebijakan.

Secara operasional program disusun secara sistematis sebagai berikut :

(1)          Rasional berisi latar belakang penyusunan pogram bimbingan didasarkan atas landasan konseptual, hukum maupun empirik

(2)          Visi dan misi, berisi harapan yang diinginkan dari layanan Bk yang mendukung visi , misi dan tujuan sekolah

(3)          Kebutuhan layanan bimbingan, berisi data kebutuhan siswa, pendidik dan isntitusi terhadap layanan bimbingan. Data diperoleh dengan mempergunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan

(4)          Tujuan, berdasarkan kebutuhan ditetapkan kompetensi yang dicapai siswa berdasarkan perkembangan

(5)          Komponen program : (1) Layanan dasar, program yang secara umum dibutuhkan oleh seluruh siswa pertingkatan kelas. (2) Layanan responsif, program yang secara khusus dibutuhakn untuk membatu para siswa yang memerlukan layanan bantuan khusus. (3) Layanan perencanaan individual, program yang mefasilitasi seluruh siswa memiliki kemampuan mengelola diri dan merancang masa depan. (4) Dukungan sistem, kebijakan yang mendukung keterlaksanaan program, program jejaring baik internal sekolah maupun eksternal

(6)     Rencana operasional kegiatan

(7)     Pengembagan tema atau topik (silabus layanan)

(8)     Pengembangan satuan layanan bimbingan

(9)     Evaluasi

(10) Anggaran

Program disusun bersama oleh personil bimbingan dan konseling dengan memperhatikan kebutuhan siswa, mendukung kebutuhan pendidik untuk memfasilitasi pelayanan perkembangan siswa secara optimal dalam pembelajaran dan mendukung pencapaian tujuan, misi dan visi sekolah. Program yang telah disusun disampaikan pada semua pendidik di sekolah pada rapat dinas agar terkembang jejaring layanan yang optimal.

 

2.5.3 Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling

Strategi pelaksanaan layanan bimbingan dan kosneling terkait dengan keempat komponen program yang telah dijelaskan di atas. Strategi pelasanaan bagi masing-masing komponen tersebut adalah sebagai berikut.

2.5.3.1 Strategi untuk Layanan Dasar Bimbingan

1. Bimbingan Klasikal

Sebagaimana telah dikemukakan pada paparan di atas, bahwa layanan dasar diperuntukkan bagi semua siswa. Hal ini berarti bahwa dalam peluncuran program yang telah dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan layanan bimbingan kepada para siswa. Kegiatan layanan dilaksanakan melalui pemberian layanan orientasi dan informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi siswa. Layanan orientasi pada umumnya dilaksanakan pada awal pelajaran, yang diperuntukan bagi para siswa baru, sehingga memiliki pengetahuan yang utuh tentang sekolah yang dimasukinya.

Kepada siswa diperkenalkan tentang berbagai hal yang terkait dengan sekolah, seperti: kurikulum, personel (pimpinan, para guru, dan staf administrasi), jadwal pelajaran, perpustakaan, laboratorium, tata-tertib sekolah, jurusan (untuk SLTA), kegiatan ekstrakurikuler, dan fasilitas sekolah lainnya. Sementara layanan informasi merupakan proses bantuan yang diberikan kepada para siswa tentang berbagai aspek kehidupan yang dipandang penting bagi mereka, baik melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet). Layanan informasi untuk bimbingan klasikal dapat mempergunakan jam pengembangan diri. Agar semua siswa terlayani kegiatan bimbingan klasikal perlu terjadwalkan secara pasti untuk semua kelas.

2. Bimbingan Kelompok

Konselor memberikan layanan bimbingan kepada siswa melalui kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat para siswa. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress. Layanan bimbingan kelompok ditujukan untuk mengembangkan keterampilan atau perilaku baru yang lebih efektif dan produktif.

3. Berkolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas

Guru adalah pelaksana pengajaran serta bertanggung jawab memberikan informasi tentang siswa untuk kepentingan bimbingan dan konseling. Di sekolah salah satu tugas utama guru adalah mengajar. Dalam kesempatan mengjar siswa, guru mengenal tingkah laku, sifat-sifat, kelebihan dan kelemahan tiap-tiap siswa. Dengan demikian, disamping bertugas sebagai pengajar, guru juga dapat bertugas dan berperan dalam bimbingan antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, maupun guru dengan orang tua. Sebagai pembimbing, guru merupakan tangan pertama dalam usaha membantu memecahkan kesulitan-kesulitan siswa. (Umar, 2001: 117)

Sebagai tenaga ahli pengajaran dalam mata pelajaran atau program pelatihan tertentu, dan sebagai personel yang sehari-hari langsung berhubungan dengan siswa, peranan guru dalam layanan bimbingan adalah:

  1. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa
  2. Membantu koselor mengidentifikasikan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling
  3. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada konselor
  4. Membantu mengembangkan suasana kelas
  5. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling
  6. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa
  7. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian bimbingan dan konseling dalam upaya tindak lanjut

Guru juga membantu memberikan informasi tentang data siswa yang meliputi:

  1. Daftar nilai siswa
  2. Observasi
  3. Catatan anekdot (Sukardi, 2002: 52-58)

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan dan konseling di sekolah akan lebih efektif bila guru dapat bekerja sama dengan konselor dalam proses pembelajaran. Adanya keterbatasan-keterbatasan dari kedua belah pihak (guru dan konselor) menuntut adanya kerja sama tersebut.

4. Berkolaborasi (Kerjasama) dengan Orang Tua

Dalam upaya meningkatkan kualitas peluncuran program bimbingan, konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi siswa atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa. Untuk melakukan kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti: (1) kepala sekolah atau komite sekolah mengundang para orang tua untuk datang ke sekolah (minimal satu semester satu kali), yang pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian rapor, (2) sekolah memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang kemajuan belajar atau masalah siswa, dan (3) orang tua diminta untuk melaporkan keadaan anaknya di rumah ke sekolah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan perilaku sehari – harinya.

2.5.3.2 Strategi untuk Layanan Responsif

1. Konsultasi

Konselor memberikan layanan konsultasi kepada guru, orang tua, atau pihak pimpinan sekolah dalam rangka membangun kesamaan persepsi dalam memberikan bimbingan kepada para siswa.

2. Konseling Individual atau Kelompok

Pemberian layanan konseling ini ditujukan untuk membantu para siswa yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Melalui konseling, siswa (klien) dibantu untuk mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Konseling kelompok dilaksanakan untuk membantu siswa memecahkan masalahnya melalui kelompok. Dalam konseling kelompok ini, masing-masing siswa mengemukakan masalah yang dialaminya, kemudian satu sama lain saling memberikan masukan atau pendapat untuk memecahkan masalah tersebut.

3. Referal (Rujukan atau Alih Tangan)

Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah klien, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan klien kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Klien yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis.

4. Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)

Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa yang lainnya. Siswa yang menjadi pembimbing sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik. Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau masalah siswa yang perlu mendapat layanan bantuan bimbingan atau konseling.

 

2.5.3.3. Strategi untuk Layanan Perencanaan Individual

1. Penilaian Individual atau Kelompok (Individual or small-group Appraisal)

Yang dimaksud dengan penilaian ini adalah konselor bersama siswa menganalisis dan menilai kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi belajar siswa. Dapat juga dikatakan bahwa konselor membantu siswa menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas perkembangannya, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Melalui kegiatan penilaian diri ini, siswa akan memiliki pemahaman, penerimaan, dan pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif.

2. Individual or Small-Group Advicement

Konselor memberikan nasihat kepada siswa untuk menggunakan atau memanfaatkan hasil penilaian tentang dirinya, atau informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan dan karir yang diperolehnya untuk (1) merumuskan tujuan, dan merencanakan kegiatan (alternatif kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya; (2) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3) mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya.

2.5.3.4. Strategi untuk Dukungan Sistem

1. Pengembangan Professional

Konselor secara terus menerus berusaha untuk “meng-update” pengetahuan dan keterampilannya melalui (1) in-service training, (2) aktif dalam organisasi profesi, (3) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar dan workshop (lokakarya), atau (4) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi (Pascasarjana).

 

2.  Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi

Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf sekolah lainnya, dan pihak institusi di luar sekolah (pemerintah, dan swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang layanan bantuan yang telah diberikannya kepada para siswa, menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa, melakukan referal, serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling.

Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan upaya sekolah untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu layanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan orang tua siswa, (5) MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).

3. Manajemen Program

Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan tercisekolaha, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Mengenai arti manajemen itu sendiri Stoner (1981) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: “Management is the process of planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing members and of using all other organizational resources to achieve stated organizational goals”.

Berikut diuraikan aspek-aspek sistem manajemen program layanan bimbingan dan konseling.

1)      Kesepakatan Manajemen

2)      Keterlibatan Stakeholder

3)      Manajemen dan Penggunaan Data

4)      Rencana Kegiatan

5)      Pengaturan Waktu

6)      Kalender Kegiatan

7)      Jadwal Kegiatan

8)      Anggaran

9)      Penyiapan Fasilitas

Agar layanan dasar bimbingan dan konseling, renponsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem berfungsi efektif diperlukan cara baru dalam mengatur fasilitas-fasilitas program bimbingan dan konseling. (Nurihsan, 2006: 63)

Sarana dan prasarana yang diperlukan antara lain sebagai berikut:

2.2.1. Sarana

  1. Alat pengumpul data, Alat pengumpul data berupa tes yaitu: tes inteligensi, tes bakat khusus, tes bakat sekolah, tes/inventori kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi belajar. Alat pengumpul data yang berupa non-tes yaitu: pedoman observasi, catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, alat-alat mekanis, pedoman wawancara, angket, biografi dan autobiografi, dan sosiometri.
  2. Alat penyimpanan data, seperti kartu pribadi, buku pribadi, map, dan sebagainya. Bentuk kartu ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuran-ukuran serta warna tertentu, sehingga mudah untuk disimpan dalam filling cabinet. Untuk menyimpan berbagai keterangan, informasi atau pun data untuk masing-masing siswa, maka perlu disediakan map pribadi. Mengingat banyak sekali aspek-aspek data siswa yang perlu dan harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat menghimpun data secara keseluruhan yaitu buku pribadi.
  3. Perlengkapan teknis, seperti buku pedoman, buku informasi, paket bimbingan, blongko surat, alat-alat tulis, dan sebagainya. Perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, format rencana satuan layanan dan kegiatan pendukung serta blanko laporan kegiatan, blanko surat, kartu konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat.

 

2.2.2. Prasarana

  1. Ruangan bimbingan dan konseling, seperti ruang tamu, ruang konsultasi, ruang diskusi, ruang dokumentasi dan sebainya.
  2. Anggaran biaya untuk menunjang kegiatan layanan, seperti anggaran untuk surat manyurat, transportasi, penataran, pembelian alat-alat, dan sebagainnya. (Sukardi, 2002: 63)

Fasilitas dan pembiayaan merupakan aspek yang sangat penting yang harus diperhatikan dalam suatu program bimbingan dan konseling. Adapun aspek pembiayaan memerlukan perhatian yang lebih serius karena dalam kenyataannya aspek tersebut merupakan salah satu factor penghambat proses pelaksanaan bimbingan dan konseling. (Nurihsan, 2006: 59).

10) Pengendalian

Pengendalian adalah salah satu aspek penting dalam manajemen program layanan bimbingan dan konseling. Dalam pengendalian program, koordinator sebagai pemimpin lembaga atau unit bimbingan dan konseling hendaknya memiliki sifat sifat kepemimpinan yang baik yang dapat memungkinkan terciptanya sekolah suatu komunikasi yang baik dengan seluruh staf yang ada. Personel-personel yang terlibat di dalam program, hendaknya benar-benar memiliki tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya maupun tanggung jawab terhadap yang lain, serta memiliki moral yang stabil.

Pengendalian program bimbingan ialah : (a) untuk menciptakan suatu koordinasi dan komunikasi dengan seluruh staf bimbingan yang ada, (b) untuk mendorong staf bimbingan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dan (c) memungkinkan kelancaran dan efektivitas pelaksanaan program yang telah direncanakan.

Dalam hal ini dibutuhkan pula seorang supervisi. Supervisi adalah pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik. (Burhanuddin, 2005: 99).

Supervisi adalah bantuan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang baik. (Sukardi, 2002: 240).

Untuk menjamin terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat diperlukan kegiatan pengawasan bimbingan dan konseling baik secara teknik maupun secara administrasi. Fungsi kepengawasan layangan bimbingan dan konseling antara lain memantau, menilai, memperbaiki, meningkatkan dan mengembangkan kegiatan layanan bimbingan dan konseling. Pengawasan tersebut ada pada setiap Kanwil. (Sukardi, 2002:65).

Selain mengawasi perkembangan dan pelaksanaan pendidikan di sekolah, pengawas juga melihat perkembangan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah tersebut. Pengawas sekolah juga berfungsi sebagai konsultan bagi kepala sekolah, guru, maupun konselor untuk membicarakan upaya-upaya lain dalam rangka memajukan bimbingan dan konseling.

Pengawas juga harus dapat mengupayakan langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk memajukan dan menambah pengetahuan kepala sekolah, guru, dan konselor, misalnya melalui penataran, seminar, latihan-latihan demi memajukan program bimbingan dan konseling. (Umar, 2001: 119).

Adapun manfaat supervisi dalam program bimbingan dan konseling adalah:

  1. Mengontrol kegiatan-kegiatan dari para personel bimbingan dan konseling, yaitu bagaimana pelaksanaan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing
  2. Mengontrol adanya kemungkinan hambatan-hambatan yang ditemui oleh para personel bimbingan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing
  3. Memungkinkan dicarinya jalan keluar terhadap hambatan-hambatan yang ditemui
  4. Memungkinkan terlaksananya program bimbingan secara lancar kearah pencapaian tujuan sebagai mana yang telah ditetapkan. (Nurihsan, 2006: 68)

2.5.4 Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik

Perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. Setiap individu, demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya, akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. Dalam hal ini, Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-kebutuhan individu secara hierarkis:

  1. kebutuhan fisiologikal, seperti : sandang, pangan dan papan
  2. kebutuhan keamanan, tidak dalam arti fisik, akan tetapi juga mental psikologikal dan intelektual
    kebutuhan kasih sayang atau penerimaan
  3. kebutuhan prestise atau harga diri, yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status
  4. kebutuhan aktualisasi diri

Namun, jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya, maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment).
Bentuk perilaku salah suai (maldjustment), diantaranya : (1) agresi marah; (2) kecemasan tak berdaya; (3) regresi (kemunduran perilaku); (4) fiksasi; (5) represi (menekan perasaan); (6) rasionalisasi (mencari alasan); (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan); (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis); (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain); (10) berfantasi (dalam angan-angannya, seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya).

Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi.

 

2.5.5 Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia Remaja—SMA)

Masa remaja (12-21 tahun) merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang yang dewasa. Masa remaja sering dikenal denga masa pencarian jati diri (ego identity). Masa remaja ditandai dengan sejumlah karakteristik penting, yaitu:

1            Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya

2            Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagi pria atau wanita dewasa yang menjunjung tinggi oleh masyarakat

3            Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efaektif

4            Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya

5            Memilih dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan kemampuannya

6            Mengembangkan sikap positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga dan memiliki anak

7            Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagi warga Negara

8            Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara social

9            Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam bertingkah laku

10        Mengembangkan wawasan keagamaan dan meningkatkan religiusitas

Berbagai karakteristik perkembangan masa remaja tersebut menuntut adanya pelayanan pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat dilakukan guru, di antaranya:

1         Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, bahaya penyimpangan seksual dan penyalahgunaan narkotika

2         Membantu siswa mengembangkan sikap apresiatif terhadap postur tubuh atau kondidi dirinya

3         Menyediakan fasilitas yang memungkinkan siwa mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, seperti sarana olahraga, kesenian, dan sebagainya

4         Memberikan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah dan mengambil keputusan

5         Melatih siswa mengembangkan resiliensi, kemampuan bertahan dalam kondisi sulit dan penuh godaan

6         Menerapkan model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berpikir kritis, reflektif, dan positif

7         Membantu siswa mengembangkan etos kerja yang tinggi dan sikap wiraswasta

8         Memupuk semangat keberagaman siswa melalui pembelajaran agama terbuka dan lebih toleran

9         Menjalin hubungan yang harmonis dengan siswa, dan bersedia mendengarkan segala keluhan dan problem yang dihadapinya.

 


BAB 3

PENUTUP

3.1      Kesimpulan

3.1.1               The Guidance Service is the Heart of Educational Process. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan.

3.1.2               Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada peserta didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif, dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan tugas-tugas perkembangan.

3.1.3               Layanan bimbingan dan konseling adalah layanan psikologis dalam suasana pedagogis.

3.1.4               Orientasi bimbingan dan konseling adalah perkembangan perilaku yang seharusnya dikuasai oleh individu untuk jangka panjang tertentu menyangkut ragam proses pendidikan, karir, pribadi, sosial, keluarga dan pengambilan keputusan.

3.1.5               Dalam memahami dasar – dasar pemahaman peserta didik, hal – hal yang perlu diperhatikan antara lain :

1            Kompetensi guru pembimbing/konselor

2            Mengetahui Klasifikasi Layanan

3            Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling

4            Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik

5            Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia Remaja SMA)

3.1.6               Mengetahui tugas – tugas perkambangan peserta didik.