Note – Winner Harmonica – Suzuki – 16 Hole

Setelah bertahun tahun memiliki harmonika ini akhirnya saya menemukan nada setelah googleing sana sini dan ini hasilnya..
Harmonika ini berjenis Tremolo ganda 16 lubang, setiap baris (lubang atas bawah) mempunyai satu nada, nada yang dihasilkan adalah selang seling (coba tiup satu baris atau hisap, pasti setiap barisnya hanya dapat mengeluarkan satu nada, entah itu di hisap atau di tiup). Nada untuk harmonika ini adalah :
|1|2|3|4|5|6|7|8|9|10|11|12|13|14|15|16|
|E| |G| |C| |E| |G| |C | |E | |G | | -> di tiup
| |A| |B| |D| |F| | A| | B| | D| | F| -> di hisap

Atau:

|1|2|3|4|5|6|7|8|9|10|11|12|13|14|15|16|
|E|a|G|b|C|d|E|f|G|a |C |b |E |d |G |f |
|E|a|G|b|C|d|E|f|G|a |C |b |E |d |G |f |

Huruf kapital di tiup
Huruf kecil di hisap

Link untuk lebih jelasnya

http://www.suzukimusic.com/harmonicas/notation/

Dalam halaman itu terdapat Tremolo Harmonica (C Key) 24 lubang. Untuk 16 lubang dimulai dari lubang ke 5 hingga lubang 20.

Sekarang sudah tau kan nada2nya.. ayo mulai berlatih untuk memainkan lagu.. semoga sukses 

Pengantar Sisitem Informasi Akuntansi

Tag

SISTEM
Pengertian sistem menurut Wikipedia indonesia, sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat.

Pengertian system menurut Wikipedia, A system is a set of interacting or interdependent components forming an integrated whole or a set of elements (often called ‘components’ ) and relationships which are different from relationships of the set or its elements to other elements or sets

Sedang menurut beberapa ahli pengertian sistem adalah sebagai berikut :

1. L. James Havery – Menurutnya sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.

2. John Mc Manama – Menurutnya sistem adalah sebuah struktur konseptual yang tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara efektif dan efesien.

3. C.W. Churchman – Menurutnya sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang dikoordinasikan untuk melaksanakan seperangkat tujuan.

4. J.C. Hinggins – Menurutnya sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang saling berhubungan.

5. Edgar F Huse dan James L. Bowdict – Menurutnya sistem adalah suatu seri atau rangkaian bagian-bagian yang saling berhubungan dan bergantung sedemikian rupa sehingga interaksi dan saling pengaruh dari satu bagian akan mempengaruhi keseluruhan.

6. Ludwig Von Bartalanfy – Menurutnya sistem merupakan seperangkat unsur yang saling terikat dalam suatuantar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan.

7. Anatol Raporot – Menurutnya sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan satu sama lain.

8. L. Ackof – Menurutnya sistem adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yangterdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama lainnya.

9. Jogiyanto – Menurutnya sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan , berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu

Dari beberapa pengertian menurut para ahli, saya mendefinisikan sistem adalah serangkaikan komponen-konponen yang saling berintegrasi dalam proses mencapai visi induk.

Setiap sistem selalu terdiri atas elemen:
1. Inputs and Outputs
2. Processor
3. Control
4. Environment
5. Feedback
6. Boundaries and Interface

Syarat-syarat sistem :
1. Sistem harus dibentuk untuk menyelesaikan masalah.
2. Elemen sistem harus mempunyai rencana yang ditetapkan.
3. Adanya hubungan diantara elemen sistem.
4. Unsur dasar dari proses (arus informasi, energi dan material) lebih penting dari pada elemen sistem.
5. Tujuan organisasi lebih penting dari pada tujuan elemen.

Jenis Sistem :
1. Physical or Abstract systems.
2. Open or Closed systems.
3. ‘Man-made’ Information systems.
4. Formal Information systems.
5. Informal Information systems.
6. Computer Based Information systems.
7. Real Time System.

Sifat Sistem :
1. Sistem terbuka : Sistem yang dihubungkan dengan lingkungannya melalui arus sumberdaya.
2. Sistem Tertutup : Sistem yang sama sekali tidak berhubungan dengan lingkungannya.
3. Sistem Fisik : sistem yang terdiri dari sejumlah sumber daya fisik
4. Sistem Konseptual : sistem yang menggunakan sumberdaya konseptual (data dan informasi) untuk mewakili suatu sistem fisik.

INFORMASI
Informasi merupakan data yang telah diproses sehingga mempunyai arti tertentu bagi penerimanya.Sumber dari informasi adalah Data, sedangkan Data itu sendiri adalah Kenyataan yang menggambarkanm suatu kejadian, sedangkan kejadian itu merupakan suatu peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu .dalam hal ini informasi dan data saling berkaitan.

Informsi menurut Para Ahli
1. Jogiyanto, Informasi diartikan sebagai data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.
2. Joner Hasugian, Informasi adalah sebuah konsep yang universal dalam jumlah muatan yang besar, meliputi banyak hal dalam ruang lingkupnya masing-masing dan terekam pada sejumlah media
3. Kenneth C. Laudon, Informasi adalah data yang sudah dibentuk ke dalam sebuah formulir bentuk yang bermanfaat dan dapat digunakan untuk manusia
4. Anton M. Moeliono, Informasi adalah penerangan, keterangan, pemberitahuan, kabar atau berita. Informasi juga merupakan keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian analisis atau kesimpulan
5. Gordon B. Davis, Informasi adalah data yang telah dirposes/diolah ke dalam bentuk yang sangat berarti untuk penerimanya dan merupakan nilai yang sesungguhnya atau dipahami dalam tindakan atau keputusan yang sekarang atau nantinya
6. ROBERT G. MURDICK, Informasi terdiri atas data yang telah didapatkan, diolah/diproses, atau sebaliknya yang digunakan untuk tujuan penjelasan/penerangan, uraian, atau sebagai sebuah dasar untuk pembuatan ramalan atau pembuatan keputusan
7. Kusrini, Informasi adalah data yang sudah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi pengguna, yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ni atau mendukung sumber informasi.
8. Davis, Informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendatang.

Kualitas informasi (quality of information) sangat dipengaruhi atau ditentukan oleh beberapa hal, yaitu :
 Akurat (Accuracy)
 Tepat Waktu (Timelines)
 Relevan (Relevancy)
 Ekonomis (Economy)
 Efisien (Efficiency)
 Dapat dipercaya (Reliability)

SIFAT-SIFAT INFORMASI
Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya, menggambarkan suatu kejadian-kejadian (event) dan kesatuan nyata (fact dan eventity) serta digunakan untuk mengambil keputusan yang tepat.
Suatu informasi dikatakan baik harus memiliki sifat-sifat yang nantinya dapat dipertanggungjawabkan dan dapat pula digunakan sebagai pedoman untuk pengambilan sebuah keputusan.

Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh informasi agar dapat dipandang komponen adalah sebagai berikut:
1. Relevansi – Berkaitan dengan tujuan-tujuan perusahaan serta tergantung pada pengguna yang memerlukan informasi tersebut.
2. Kuantifitabilitas – Merupakan sifat yang memberikan nilai-nilai numerik pada obyek atau peristiwa
3. Kecermatan – Informasi yang seksama dan bebas dari kesalahan disebut akurat (cermat)
4. Kepadatan – Kuantitas informasi yang dapat diproses oleh manusia secara efektif sangat terbatas, sehingga informasi harus lebih dipadatkan sebelum disajikan kepada para pemakai.
5. Ketepatam waktu – Terdapat dua segi yang berkaitan, yaitu frekwensi dan kelambatan. Keduanya ditentukan oleh rancangan sistem informasi
6. Lingkup – Rentang kegiatan atau tanggungjawab yang diliput oleh suatu sistem informasi menunjukkan lingkupnya.

AKUNTANSI
Akuntansi berasal dari kata asing accounting yang artinya bila diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia adalah menghitung atau mempertanggungjawabkan. Akuntansi digunakan di hampir seluruh kegiatan bisnis di seluruh dunia untuk mengambil keputusan sehingga disebut sebagai bahasa bisnis.

Akuntansi adalah suatu proses mencatat, mengklasifikasi, meringkas, mengolah dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya dengan mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya.

Akuntansi menurut Elliot, Barry & Elliot dalam wikipedia ‘Accountancy is the process of communicating financial information about a business entity to users such as shareholders and managers’

Akuntansi menurut beberapa sumber:
KOHLER’S DICTIONARY – Accountng is the recording and reporting of transaction (Akuntansi adalah suatu seni pencatatan dari transaksi – transaksi keuangan)

ACCOUNTING PRINCIPLES BOARD (1970) – Akuntansi adala suatu kegiatan jasa, yang fungsinya menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan tentang entitas ekonomi yang dimaksudkan agar berguna dalam mengambil keputusan ekonomi – membuat pilihan – pilihan nalar di antara berbagai alternatif tindakan

AMERICAN ACCOUNTING ASSOCIATION (1966) – Akuntansi adalah suatu proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari suatu organisasi / entitas yang dijadikan sebagai informasi dalam rangka mengambil keputusan ekonomi oleh pihak – pihak yang memerlukan. Pengertian ini juga dapat melingkupi penganalisisan laporan yang dihasilkan oleh akuntansi tersebut

Dr. M. GADE – Akuntansi adalah ilmu pengetahuan terapan dan seni pencatatan yang dilakukan secara terus menerus menurut sistem tertentu, mengolah dan menganalisis catatan tersebut sehingga dapat disusun suatu laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban pimpinan perusahaan atau lembaga terhadap kinerjanya

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN RI (NO. 476 KMK. 01 1991) – Akuntansi adalah suatu proses pengumpulan, pencatatan, penganalisaan, peringkasan, pengklasifikasian dan pelaporan transaksi keuangan dari suatu kesatuan ekonomi untuk menyediakan informasi keuangan bagi para pemakai laporan yang berguna untuk pengambilan keputusan

SOPHAR LUMBANTORUAN (1989) – Akuntansi adalah suatu alat yang dipakai sebagai bahasa bisnis. Informasi yang disampaikannya hanya dapat dipahami apabila mekanisme akuntansi telah dimengerti. Akuntansi dirancang sedemikian rupa agar transaksi yang tercatat diolah menjadi informasi yang berguna

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI
Sistem informasi akuntansi (SIA) merupakan suatu rerangka pengkordinasian sumber daya (data, meterials, equipment, suppliers, personal, and funds) untuk mengkonversi input berupa data ekonomik menjadi keluaran berupa informasi keuangan yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan suatu entitas dan menyediakan informasi akuntansi bagi pihak-pihak yang berkepentingan (Wilkinson, 1991).
Transaksi memungkinkan perusahaan melakukan operasi, menyelenggarakan arsip dan catatan yang up to date, dan mencerminkan aktivitas organisasi. Transaksi akuntansi merupakan transaksi pertukaran yang mempunyai nilai ekonomis.

Tipe transaksi dasar adalah:
(1) Penjualan produk atau jasa,
(2) Pembelian bahan baku, barang dagangan, jasa, dan aset tetap dari suplier,
(3) Penerimaan kas,
(4) Pengeluaran kas kepada suplier,
(5) Pengeluaran kas gaji karyawan.

Sebagai pengolah transaksi, sistem informasi akuntansi berperan mengatur dan mengoperasionalkan semua aktivitas transaksi perusahaan. Tujuan sistem informasi akuntansi adalah untuk menyediakan informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan yang dilaksanakan oleh aktivitas yang disebut pemrosesan informasi. Sebagian dari keluaran yang diperlukan oleh pemroses informasi disediakan oleh sistem pemrosesan transaksi, seperti laporan keuangan dari sistem pemrosesan transaksi. Namun sebagian besar diperoleh dari sumber lain, baik dari dalam maupun dari luar perusahaan.
Pengguna utama pemrosesan transaksi adalah manajer perusahaan. Mereka mempunyai tanggung jawab pokok untuk mengambil keputusan yang berkenaan dengan perencanaan dan pengendalian operasi perusahaan. Pengguna output lainnya adalah para karyawan penting seperti akuntan,
insinyur serta pihak luar seperti investor dan kreditor. Konsep perancangan sistem seharusnya mencerminkan prinsip-prinsip perusahaan.

Berikut ini dasar-dasar yang perlu diperhatikan dalam prioritas perancangan sistem menurut Wilkinson (1993):
1. Tujuan dalam perencanaan sistem dan usulan proyek seharusnya dicapai untuk menghasilkan kemajuan dan kemampuan sistem yang lebih besar.
2. Mempertimbangkan trade-off yang memadai antara manfaat dari tujuan perancangan sistem dengan biaya yang dikeluarkan.
3. Berfokus pada permintaan fungsional dari sistem.
4. Melayani berbagai macam tujuan.
5. Perancangan sistem memperhatikan keberadaan dari pengguna sistem (user).

Sedangkan Barry E. Cushing (1983) mengemukakan bahwa:
1. Kesesuaian desain sistem dengan tujuan sistem informasi dan organisasi.
2. Berdasarkan kelayakan ekonomis, berarti sistem memiliki net present value positif.
3. Kelayakan operasional, input dikumpulkan ke sistem dan output-nya dapat digunakan.
4. Kelayakan perilaku, berarti sistem berdampak pada kehidupan kualitas kerja users.
5. Kelayakan teknis, ketersediaan teknologi untuk mendukung sistem serta teknologi mudah diperoleh atau dikembangkan.
6. Disesuaikan dengan kebutuhan informasi users.

Komponen Sistem Informasi
Sistem informasi merupakan sebuah susunan dari orang, aktivitas, data, jaringan dan teknologi yang terintegrasi yang berfungsi untuk mendukung dan meningkatkan operasi seharihari sebuah bisnis, juga menyediakan kebutuhan informasi untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan oleh manajer. Ada dua tipe sistem informasi, personal dan multiuser. Sistem informasi personal adalah sistem informasi yang didesain untuk memenuhi kebutuhan informasi personal dari seorang pengguna tunggal (single user). Sedangkan sistem informasi multiuser didesain untuk memenuhi kebutuhan informasi dari kelompok kerja (departemen, kantor, divisi, bagian) atau keseluruhan organisasi. Untuk membangun sistem informasi, baik personal maupun multiuser, haruslah mengkombinasikan secara efektif komponen-komponen sistem informasi, yaitu: prosedur kerja, informasi (data), orang dan teknologi informasi (hardware dan software).

Data dan Informasi Akuntansi
Setiap sistem informasi akuntansi melaksanakan lima fungsi utama, yaitu pengumpulan data, pemrosesan data, manajemen data, pengendalian data (termasuk security), dan penghasil informasi.

1. Pengumpulan Data
Fungsi pengumpulan data terdiri atas memasukkan data transaski melalui formulir, mensyahkan serta memeriksa data untuk memastikan ketepatan dan kelengkapannya. Jika data bersifat kuantitatif, data dihitung dahulu sebelum dicatat. Jika data jauh dari lokasi pemrosesan, maka data harus ditransmisikan lebih dahulu.

2. Pemrosesan Data
Pemrosesan data terdiri atas proses pengubahan input menjadi output. Fungsi pemrosesan data terdiri atas langkah-langkah sebagai berikut:
• Pengklasifikasian atau menetapkan data berdasar kategori yang telah ditetapkan.
• Menyalin data ke dokumen atau media lain.
• Mengurutkan, atau menysusn data menurut karaktersitiknya.
• Mengelompokkan atau mengumpulkan transaski sejenis.
• Menggabungkan atau mengkombinasikan dua atau lebih data atau arsip.
• Melakukan penghitungan.
• Peringkasan, atau penjumlahan data kuantitatif.
• Membandingkan data untuk mendapatkan persamaan atau perbedaan yang ada.

3. Manajemen Data
Fungsi manajemen data terdiri atas tiga tahap, yaitu: penyimpanan, pemutakhiran dan pemunculan kembali (retrieving). Tahap penyimpanan merupakan penempatan data dalam penyimpanan atau basis data yang disebut arsip. Pada tahap pemutakhiran, data yang tersimpan diperbaharui dan disesuaikan dengan peristiwa terbaru. Kemudian pada tahap retrieving, data yang tersimpan diakses dan diringkas kembali untuk diproses lebih lanjut atau untuk keperluan pembuatan laporan. Manajemen data dan pemrosesan data mempunyai hubungan yang sangat erat. Tahap pengelompokkan data dan pengurutan data dari fungsi pemrosesan data, misalnya sering dilakukan sebagai pendahuluan sebelum dilakukan tahap pemutakhiran dalam fungsi manajemen data. Manajemen data dapat dipandang sebagai bagian dari pemrosesan data. Manajemen data akan menunjang pencapaian efisiensi aktivitas dalam proses menghasilkan informasi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen terutama mengenai informasi aktivitas dan informasi
kebijakan manajemen.

4. Pengendalian Data
Fungsi pengendalian data mempunyai dua tujuan dasar: (1) untuk menjaga dan menjamin keamanan aset perusahaan, termasuk data, dan (2) untuk menjamin bahwa data yang diperoleh akurat dan lengkap serta diproses dengan benar. Berbagai teknik dan prosedur dapat dipakai untuk menyelenggarakan pengendalian dan keamanan yang memadai.

5. Penghasil Informasi
Fungsi penghasil informasi ini terdiri atas tahapan pemrosesan informasi seperti penginterprestasian, pelaporan dan pengkomunikasian informasi.

SIA memproses berbagai transaksi keuangan dan transaksi non-keuangan yang secara langsung mempengaruhi pemrosesan transaksi keuangan.
SIA terdiri dari 3 subsistem:
• Sistem pemrosesan transaksi – mendukung proses operasi bisnis harian.
• Sistem buku besar/ pelaporan keuangan – menghasilkan laporan keuangan, seperti laporan laba/rugi, neraca, arus kas, pengembalian pajak.
• Sistem pelaporan manajemen – yang menyediakan pihak manajemen internal berbagai laporan keuangan bertujuan khusus serta informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan, seperti anggaran, laporan kinerja, serta laporan pertanggungjawaban.

MANFAAT SISTEM INFORMASI AKUNTANSI
Sebuah SIA menambah nilai dengan cara:
• Menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu sehingga dapat melakukan aktivitas utama pada value chain secara efektif dan efisien.
• Meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya produk dan jasa yang dihasilkan
• Meningkatkan efisiensi
• Meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan
• Meningkatkan sharing knowledge
• menambah efisiensi kerja pada bagian keuangan

Sumber:

http://liavietri.blogspot.com/2010/02/pengertian-sistem.html

http://en.wikipedia.org/wiki/System

http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem

http://fizzulhaq.blogspot.com/2009/11/pengertian-sistem-informasi-manajemen.html

http://nobiebieta.wordpress.com/2011/09/10/pengertian-informasi/

http://carapedia.com/pengertian_definisi_akuntansi_info2032.html

http://organisasi.org/pengertian_dan_penjelasan_dasar_akuntansi_definisi_arti_fungsi_dan_kegunaan_belajar_ilmu_akutansi_accounting

http://en.wikipedia.org/wiki/Accountancy

Elliot, Barry & Elliot, Jamie: Financial accounting and reporting, Prentice Hall, London 2004, ISBN 0-273-70364-1, p. 3, Books.Google.co.uk

http://klikpintar.files.wordpress.com/2008/07/handout-sia1.pdf

http://sisteminformasiakuntansi.net/

http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_informasi_akuntansi

KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING (Pengertian, Prinsip, Azas dan Fungsi Bimbingan Konseling)

 

KONSEP
DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING

(Pengertian, Prinsip, Azas dan Fungsi Bimbingan
Konseling)

2.1 Hakikat dan Urgensi
Bimbingan dan Konseling

Pengertian Bimbingan dan
Konseling

Bimbingan dan konseling merupakan tejemahan dari “guidance” dan “counseling” dalam bahasa Inggris. Secara harfiyah istilah “guidance” dari akar kata “guide”
berarti: mengarahkan  (to direct), memandu (to pilot), mengelola (to manage) dan menyetir (to steer). 
Secara termilogis “guidance” biasanya disamaartikan dengan
guiding” , kemudian memiliki konotasi
makna “showing a way” (menunjukkan
jalan), “leading” (memimpin), “conducting” (menuntun), “giving instructions” (memberikan
petunjuk), “regulating” (mengatur), “governing”(mengarahkan) dan “giving advice” (memberikan nasehat).

Banyak pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli, di
antaranya sebagai berikut:

Menurut  Donal  G.  Mortensen  dan  Alan
M.  Schmuller (1976)  bahwa  bimbingan adalah  suatu
upaya  pembimbing  untuk  membantu  mengoptimalkan
individu.

Djumhur  dan  Moh.  Surya (1975)
mengatakan  bahwa  bimbingan  adalah  suatu
proses  pemberian  bantuan  yang  terus  menerus
dan  sistematis  kepada  individu  dalam
memecahkan  masalah  yang  dihadapinya,  agar
tercapai  kemampuan  untuk  dapat  memahami
dirinya,  kemampuan  untuk  menerima  dirinya,
kemampuan  untuk  mengarahkan  dirinya,  dan
kemampuan  untuk  merealisasikan  dirinya  sesuai
dengan  potensi  atau  kemampuannya  dalam  mencapai
penyesuaian  diri  dengan  lingkungan,  baik
keluarga,  sekolah  dan  masyarakat.

Shertzer  dan  Stone (1971)  mengartikan
bimbingan  sebagai  proses  pemberian  bantuan
kepada  individu  agar  mampu  memahami  diri
dan  lingkungan.

Sunaryo  Kartadinata (1998)  mengatakan  bahwa
bimbingan  adalah  proses  membantu  individu  untuk
mencapai  perkembangan  optimal.

Rochman  Natawidjaja (1978)
berpendapat  bahwa  bimbingan  adalah  Suatu
proses  pemberian  bantuan  kepada  individu
yang  dilakukan  secara  berkesinambungan,  supaya
individu  tersebut  dapat  memahami  dirinya,
sehingga  ia  sanggup  mengarahkan  dirinya  dan
dapat  bertindak  secara  wajar,  sesuai  dengan
tuntutan  dan  keadaan  lingkungan  sekolah,
keluarga,  masyarakat,  dan  kehidupan  pada  umumnya.

Dari banyak pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah
suatu proses memberikan bantuan kepada individu secara terus menerus dan
sistematis untuk mengarahkan individu agar dapat mencapai perkembangan yang
optimal.

Dan dari berbagai definisi bimbingan dapat diangkat makna sebagai berikut:

1.      Bimbingan merupakan suatu proses,
yaitu berkesinambungan, bukan kegiatan yang instan, seketika atau kebetulan.
Bimbingan merupakan serangkaian tahapan kegiatan yang sistematis dan berencana
yang terarah kepada pencapaian tujuan.

2.      Bimbingan merupakan “helping”, yang identik dengan “aiding”, “assisting”, atau “availing”,
yang berarti bantuan atau pertolongan. Makna bantuan dalam bimbingan
menunjukkan bahwa yang aktif dalam mengembangkan diri, mengatasi masalah, atau
mengambil keputusan adalah individu atau peserta didik sendiri peran guru
disini hanya sebagai fasilitator. Istilah bantuan dalam bimbingan dapat juga
dimaknai sebagai upaya untuk

a.       Menciptakan lingkungan (fisik, psikis, sosial dan spiritual) yang kondusif
bagi perkembangan siswa

b.      Memberikan dorongan dan semangat

c.       Mengembangkan keberanian bertindak dan bertanggung jawab

d.      Mengembangkan kemampuan untuk memperbaiki dan mengubah perilakunya sendiri.

Dalam bimbingan, tidak ada teknik pemberian bantuan yang berlaku umum bagi
setiap individu. Teknik bantuan seyogianya disesuaikan dengan pengalaman,
kebutuhan, dan masalah individu. Untuk membimbinng individu diperlukan
pemahaman yang komperhensif tentang karakteristik, kebutuhan atau masalah
individu.

3.      Tujuan bimbingan adalah perkembangan
optimal
, yaitu perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai
tentang kehidupan yang baik dan benar. Perkembangan optimal merupakan suatu
kondisi dinamik, dimana individu:

a.       Mampu mengenal dan memahami diri

b.      Berani menerima kenyataan diri secara objektif

c.       Mengarahkan diri sesuai kemampuan, kesempatan dan sistem nilai

d.      Melakukan pilihan dan mengambil keputusan atau tanggung jawab sendiri.

 

Di atas telah dikemukakan makna bimbingan. Istilah bimbingan sering
dirangkai dengan konseling. Berikut ini definisi konseling menurut para ahli:

Menurut  Cavanagh (1974)  bahwa  koseling  adalah
hubungan  antara  seorang  penolong  yang
terlatih  dan  seseorang  yang  mencari
pertolongan,  dimana  keterampilan  sipenolong  dan
situasi  yang  diciptakan  olehnya  menolong
orang  untuk belajar berhubungan  dengan  dirinya
sendiri  dan  orang  lain  dengan
terobosan-terobosan  yang  semakin  bertumbuh.

Mc.  Daniel (1956)  mengartikan  konseling
merupakan  suatu  pertemuan  langsung  dengan
individu  yang  ditujukan  pada  pemberian  bantuan
kepadanya  untuk  dapat  menyesuaikan  dirinya
secara  lebih  efektif  dengan  dirinya  sendiri
dan  lingkungan.

Berdnard  dan  Fullmer (1969)  berpendapat  bahwa
konseling  yaitu  meliputi  pemahaman  dan
hubungan  individu  untuk  mengungkapkan
kebutuhan-kebutuhan,  motivasi,  dan  potensi-potensi
yang  unik  dari  individu  dan  membantu
individu  yang  bersangkutan  untuk  mengapresiasikan
ketiga  hal  tersebut.

Robinson (M. Surya dan Rochman N.,1986:25)
mengartikan konseling adalah “semua bentuk hubungan dua orang, dimana yang
seorang, yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara efektif
terhadap dirinya sendiri  dan
lingkungannya.”

ASCA (American School Counselor
Association
) mengemukakan bahwa “Konseling adalah hubungan tatap muka yang
bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari
konselor kepada klien, konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya
untuk membantu kliennya mengatasi masalah-masalahnya.”

Lebih jauh, Pietrofesa dan kawan-kawan (1980:75) menunjukan sejumlah
ciri-ciri konseling profesional sebagai berikut:

a.       Konseling merupakan suatu hubungan profesional yang diadakan oleh seorang
konselor yang sudah dilatih untuk pekerjaannya itu.

b.      Dalam hubungan yang bersifat profesional itu, klien mempelajari
keterampilan pengambilan keputusan, pemecahan masalah serta tingkah lau atau
sikap-sikap baru.

c.       Hubungan profesional itu dibentuk berdasarkan kesukarelaan antara klien dan
konselor.

Adanya perbedaan definisi konseling tersebut, disamping timbul karena
perkembangan ilmu konseling itu sendiri, juga disebabkan oleh perbedaan
pandangan para ahli yang merumuskan konseling dan teori yang dianutnya. Dalam
bidang konseling terdapat berbagai aliran dan teori, yang dapat dikelompokan ke
dalam beberapa kategori. Moh. Djawad Dahlan (1986) mengklasifikasikan konseling
berdasarkan fungsinya menjadi tiga kelompok, yaitu suportif, reedukatif, dan
rekonstruktif. Konseling juga dibedakan berdasarkan metodenya, yaitu metode
direktif dan nondirektif.

Osipow, Walsh dan Tosi (1980) mengelompokkan konseling berdasarkan
penekanan masalah yang dipecahkanny, yaitu: penyesuaian
pribadi, pendidikan, dan karir
. Shertzer dan Stone (1980) mengelompokkan
konseling didasarkan pada ranah perilaku yang merupakan kepeduliannya, yaitu
yang berorientasi pada ranah kognitif dan ranah afektif. Patterson (1966)
secara lebih rinci mengelompokkan pendekatan konseling menjadi lima kelompok,
yaitu: pendekatan rasional, teori
belajar, psikoanalitik, perseptual-fenomenologis dan eksistensial.

Dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan hubungan tatap muka atau
pertemuan secara langsung antara konselor dan klien yang bersifat rahasia
dengan tujuan membimbing klien agar berkembang secara optimal dan solusinya
ditentukan sendiri oleh klien.

Ciri-ciri pokok konseling yaitu sebagai berikut :

1.      Konseling dilakukan oleh seorang konselor yang mempunyai kemampuan
secara profesional dalam menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan
keputusan-keputusan pribadi, sosial, karier, dan pendidikan serta memahami
proses-proses psikis maupun dinamika perilaku pada diri klien.

2.       Konseling melibatkan
interaksi dan komunikasi antara dua orang yaitu konselor dan klien baik secara
langsung (bahasa verbal) maupun secara tidak langsung (non verbal).

3.      Tujuan dari hubungan konseling ialah terjadinya perubahan tingkah
laku pada diri klien sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh
klien. Konselor berupaya memfasilitasi dan memberikan dukungan, bersama klien
membuat alternatif-alternatif pemecahan masalah demi perubahan kearah lebih
baik dan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam konseling.

4.      Konseling merupakan proses yang dinamis, dimana individu (klien)
dibantu untuk mengembangkan kemampuan-kemampuannya dalam mengatasi
masalah-masalah yang sedang dihadapi.

5.      Konseling merupakan suatu proses belajar terutama bagi klien untuk
mengembangkan perilaku baru dan membuat pilihan, keputusan sendiri (autonomous)
kearah perubahan yang dikehendakinya.

6.      Adanya suatu hubungan yang saling menghargai dan menghormati
sehingga timbul saling kepercayaan, dengan kata lain konselor menjamin
kerahasiaan klien.

Konseling merupakan salah satu bentuk hubungan yang bersifat membantu.
Makna bantuan disini yaitu sebagai upaya untuk mebantu orang lain agar ia mampu
tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang
dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya.
Tugas konselor adalah menciptakan kondisi-kondisi yang diperlukan bagi
pertumbuhan dan perkembangan klien.

Hubungan dalam konseling bersifat interpersonal. Terjadi dalam bentuk
wawancara secara tatap muka antara konselor dan klien. Hubungan itu, melainkan
melibatkan semua unsur kepribadian yang meliputi: pikiran, perasaan,
pengalaman, nilai-nilai, kebutuhan, harapan, dan lain-lain. Dalam proses kedua
belah pihak hendaknya menunjukkan kepribadian yang asli. Hal ini dimungkinkan
karena konseling itu dilakukan secara pribadi dan hendaknya dalam suasana
rahasia.

Keefektifan konseling sebagian besar ditentukan oleh kualitas hubungan
antara konselor dengan kliennya. Dilihat
dari segi konselor, kualitas hubungan itu bergantung pada kemampuannya
dalam menerapkan teknik-teknik konseling dan kualitas pribadinya.

Dari seluruh pengertian konseling yang ada, Shertzer dan Stone (1980:82-88)
menyimpulkan bahwa yang menjadi tujuan konseling adalah “mengadakan perubahan perilaku pada diri klien sehingga memungkinkan
hidupnya lebih produktif dan memuaskan.

Khusus di sekolah, Boy dan Pine (Depdikbud, 1983:14) menyatakan bahwa
tujuan konseling adalah membantu siswa yang lebih matang dan lebih
mengaktualisasikan dirinya, membantu siswa maju dengan cara yang positif,
membantu dalam sosialisasi siswa dengan memanfaatkan sumber-sumber dan
potensinya sendiri. Persepsi dan wawasan siswa berubah, dan akibat dari wawasan
baru yang diperoleh, maka timbullah pada diri siswa reorientasi positif
terhadap kepribadian dan kehidupannya. Memelihara dan mencapai kesehatan mental
yang positif. Jika hal ini tercapai, maka individu mencapai integrasi,
penyesuaian, dan identifikasi positif dengan yang lainnya. Ia belajar menerima
tanggung jawab, berdiri sendiri, dan memperoleh integrasi perilaku.

Mencapai keefektifan pribadi. Sehubungan dengan ini Blocher mengatakan
bahwa yang dimaksud dengan pribadi yang efektif adalah pribadi yang sanggup
memperhitungkan diri, waktu dan tenaganya serta bersedia memikul resiko-resiko
ekonomis, psikologis dan fisik. Ia tampak memiliki kemampuan untuk mengenal,
mendefinisikan dan memecahkan masalah-masalah. Ia tampak konsisten terhadap dan
dalam situasi peranannya yang khas. Ia tampak sanggup berpikir secara berbeda
dan orisinil, yaitu dengan cara-cara yang kreatif. Ia juga sanggup mengontrol
dorongan-dorongan dan memberikan respons-respons yang wajar terhadap frustrasi,
permusuhan, dan ambiguitas.

Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya.
Jelas disini bahwa pekerjaan konselor bukan menentukan keputusan yang harus
diambil oleh klien atau memilih alternatif dari tindakannya.
Keputusan-keputusannya ada pada diri klien sendiri, dan ia harus tahu mengapa
dan bagaimana ia melakukannya. Oleh sebab itu klien harus belajar mengestimasi
konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi dalam pengorbanan pribadi, waktu,
tenaga, uang, resiko dan sebagainya. Individu belajar memperhatikan nilai-nilai
dan ikut mempertimbangkan yang dianutnya secara sadar dalam pengambilan
keputusan.

 

2.2 Posisi Pengembangan Diri
dalam Bimbingan dan Konseling

Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah
komplementer antara guru dan konselor. Penjelasan tentang pengembangan diri
yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa:

Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh
oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli
untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat,
dan minat setiap konseli sesuai kondisi sekolah. Keguatan pengembangan diri
difasilitasi oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan
dalam bentuk ekstrakulikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui
kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan
kehidupan social, belajar, dan pengembangan karier konseli.

Ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi
terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal,
sehingga dapat dihindari kerancuan konteks tugas dan ekspeksi kinerja konselor.

1.
Pengembangan
diri bukan sebagai mata pelajaran, mengandung arti bahwa bentuk, rancangan, dan
metode pengembangan diri tidakdilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar
seperti pembelajaran mata pelajaran.

2.
Pelayanan
pengembangan diri dalam bentuk ekstra kulikuler mengandung arti bahwa di
dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang
memerlukan pelayanan Pembina khusus sesuai dengan keahliannya.

 

Sebagian dari
pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling.
Pengembanagn diri hanya merupakan sebagian dari aktivitas pelayanan bimbingan
dan konseling secara keseluruhan.

Posisi BK pada
jalur pendidikan formal

 

 

 

 

Manajemen

Muatan local

Mata Pelajaran

Pengembangan

Diri

Bimbingan
dan Konseling

 

Oval: Manajemen<br />
Muatan local<br />
Mata Pelajaran<br />
Pengembangan<br />
Diri<br />
Bimbingan dan Konseling</p>
<p>” width=”308″ height=”304″ /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span style= 

 

          Pimpinan

 

 

Perkembangan optimum

 

 

 

Guru

Wilayah Komplamenter

 

Konselor Penyelenggara

bimbingan

 

2.3  Fungsi
Bimbingan dan Konseling

       Pelayanan
bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi dan asas yang hendak dipenuhi
melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah:

1.       Fungsi
Pemahaman
, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu
konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya
(pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli
diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan
dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.

2.       Fungsi
Preventif
, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya
konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi
dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui
fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan
diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.

3.       Adapun teknik
yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan
kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam
rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya :
bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out,
dan pergaulan bebas (free sex)

4.       Fungsi
Pengembangan
, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang
sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa
berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi
perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara
sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan
melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam
upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan
yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi
kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan
karyawisata.

5.       Fungsi
Penyembuhan,
yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang
bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan
kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi,
sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling,
dan remedial teaching.

6.       Fungsi
Penyaluran
, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam
membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan
memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat,
keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini,
konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar
lembaga pendidikan.

7.       Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi
membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor,
dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang
pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan
informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu
para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan
menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran,
maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.

8.       Fungsi
Penyesuaian
, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam
membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya
secara dinamis dan konstruktif.

9.       Fungsi
Perbaikan,
yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk
membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir,
berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi
(memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang
sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan
mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.

10.    Fungsi
Fasilitasi,
memberikan kemudahan kepada konseli dalam
mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan
seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.

11.    Fungsi
Pemeliharaan,
yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk
membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif
yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar
terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas
diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik,
rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseling
.

 

2.4 Prinsip-Prinsip Bimbingan
dan Konseling

Terdapat beberapa prinsip dasar  yang
dipandang sebagai fundasi atay landasan bagi pelayanan bimbingan.
prinsip-prinsip itu adalah :

1.      Bimbingan dan konseling diperuntukan bagi semua konseli. prinsip ini
berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli, baik yang tidak
bermasalah maupun yang bermasalah, baik pria maupun wanita, baik
anak-anak,remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam
bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan
(kuratif), dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan.

2.      Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat
unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk
memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa
yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan
bimbingannya menggunakan teknik kelompok.

3.
Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam
kenyataan masih ada konseli yang memiliki presepsi yang negatif terhadap
bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara
yang menekankan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan
sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan,
karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangfan yang positif
terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.

4.
Bimbingan dan konseling merupakan usaha
bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga
tugas guru-guru dan kepala sekolah atau madrasah sesuai dengan tugas dan peran
masing-masing. Mereka bekerja sebagai team work.

5.      Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan dan
konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan
pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan
informasi dan nasehat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya
dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya dan
bimbingan memfasilitasi konseli untuk mempertimbangkannya, menyesuaikan diri,
dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat.

6.      Bimbingan dan konseling berlangsung dalam berbagai setting kehidupan.
Pemberikan pelayanan tidak hanya berlangsung di sekolah atau madrasah, tetapi
juga dilingkungan keluarga,perusahaan, atau industri, lembaga pemerintahan atau
swasta, dan masyarakat pada umumnya.

2.5 Asas Bimbingan dan Konseling

Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling
sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut :

1.
Asas Kerahasiaan,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakannya segenap data
dan keterangan tentang konseli yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau
keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam
hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data
dan keterangan itu sehingga kerahasiaannya benar-benar terjamin.

2.
Asas Kesukarelaan,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan
kerelaan konseli mengikuti/ menjalani pelayanan/ kegiatan yang diperlukan
baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan
kesukarelaan tersebut.

3.
Asas Keterbukaan,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli yang menjadi
sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di
dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima
berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya.
Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli.
Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya
kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar
konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka
dan tidak berpura-pura.

4.
Asas Kegiatan,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli yang menjadi
sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan
pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong
konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/ kegiatan bimbingan dan konseling
yang diperuntukkan baginya.

5.
Asas Kemandirian,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan
konseling, yakni: konseli sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling
diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan
menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan
serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendakanya mampu mengarahkan
segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi
berkembangnya kemandirian konseli.

6.
Asas Kekinian,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran
pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli dalam kondisinya
sekarang. Pelayanan yang berkenaaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau
pun” dilihat dampak dan/atau kaitannnya dengan kondisi yang ada dan apa yang
diperbuat sekarang.

7.
Asas
Kedinamisan
, yaitu asas
bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran
pelayanan yang sama hendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan teus berkembang
serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan dari waktu
ke waktu.

8.
Asas
Keterpaduan
, yaitu asas
bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan
kegiatan  bimbingan dan konseling, baik
yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang,
harmonis, dan terpadu. Untuk itu kerja sama antara guru pembimbing dan
pihak-pihak yang berperan dalam penyelanggaraan pelayanan bimbingan dan
konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/ kegiatan
bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

9.
Asas
Keharmonisan
, yaitu asas
bimbingandan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan
bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan
nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum, dan peraturan,
adat dan istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah
pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat
dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai
dan norma yang dimaksud itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan
konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli memahami,
menghayati, dan mengamalkan niai dan norma tersebut.

10.
Asas
Keahlian
, yaitu asas
bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan
dan konseling diselanggarakan atas dasar kaidah-kaidah professional. Dalam hal
ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaknya
tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling.
Keprofesionalan guru pembimbing harus tewujud baik dalam penyelanggaraan
jenis-jenis pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling maupun dalam
penegakan kode etik bimbingan dan konseling.

11.
Asas
alih tangan kasus
,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak
mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan
tuntas atas suatu permasalahan konseli mengalihtangankan permasalahan itu
kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbig dapat menerima alih tangan kasus
dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain; dan demikian pula guru
pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan
lain-lain.

12.
Asas
Tut Wuri Handayani
, Asas
ini menunjukan pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan
keseluruhan antara pembimbing dan yang dibimbing. Lebih-lebih di lingkungan
sekolah, asas ini makin dirasakan manfaatnya, dan bahkan perlu dilengkapi
dengan “ing ngarsa sung tulada, ing madya
mangun karsa”.
Asas ini menuntut agar layanan bimbingan dan konseling tidak
hanya dirasakan adanya pada waktu siswa mengalami masalah dan menghadap
pembimbing saja, namun di luar hubungan kerja kepembimbigan dan konseling pun
hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya.



 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bimbingan adalah sebuah proses yang panjang dan bersifat
kontinuitas untuk dapat mengarahkan peserta didik agar berkembang secara
optimal. Sedangkan Konseling adalah hubungan tatap muka atau interaksi langsung
yang bersifat rahasia dengan tujuan membimbing peserta didik agar berkembang
secara optimal. Bantuan yang diberikan guru pembimbing ditujukan agar peserta
didik mandiri
dan berkembang secara optimal, sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya,
dan
nilai-nilai/norma-norma yang berlaku. Kemandirian siswa diantaranya ditunjukkan
melalui kemampuannya memahami dirinya sendiri, seperti memahami kelebihan
dan
kekurangan yang dimiliki, memahami bakat
dan
minatnya serta memahami ciri-ciri kepribadiannya.

Dalam konteks pendidikan, seluruh peserta didik, mulai dari jenjang
yang paling rendah hingga pendidikan tertinggi, perlu mendapat bimbingan dan
konseling. Bagi yang cerdas diarahkan sebagai upaya akselerasi. Untuk yang
berkemampuan rata-rata dimaksudkan sebagai upaya pengembangan. Sedangkan bagi
peserta didik yang kemampuan akademiknya tergolong di bawah rata-rata,
bimbingan diberikan sebagai perbaikan (kuratif). Dalam pelaksanaannya,
bimbingan dan konseling menerapkan beberapa jenis layanan, yaitu: bimbingan
pribadi, bimbingan belajar, bimbingan sosial, dan bimbingan karier yang dapat
berlangsung baik dalam setting keluarga, sekolah, industri maupun dalam
masyarakat. Dari bimbingan tersebut diharapkan peserta didik dapat lebih
mengeksplorasi
dan mengaktualisasikan
potensi dirinya dengan maksimal.

Pada pelaksanaannya, untuk mewujudkan penyelenggaraan bimbingan dan
konseling yang efektif
dan optimal,
sehingga mewujudkan  tercapainya standar
kemampuan akademis
dan tugas-tugas
perkembangan peserta didik, perlu adanya kerja sama yang harmonis antara para
pengelola/manajemen pendidikan, pengajaran,
dan
bimbingan, sebab ketiganya merupakan bidang-bidang utama dalam pencapaian
tujuan pendidikan
.

Modul Perbankan Syariah

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

JULIAN
FAUZAN
2
2
2012-06-05T08:22:00Z
2012-06-05T08:22:00Z
75
22295
127082
000
1059
298
149079
14.00

false

21

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Calibri;
mso-bidi-theme-font:minor-latin;
mso-ansi-language:EN-US;
mso-fareast-language:EN-US;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-priority:59;
mso-style-unhide:no;
border:solid black 1.0pt;
mso-border-themecolor:text1;
mso-border-alt:solid black .5pt;
mso-border-themecolor:text1;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid black;
mso-border-insideh-themecolor:text1;
mso-border-insidev:.5pt solid black;
mso-border-insidev-themecolor:text1;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:EN-US;
mso-fareast-language:EN-US;}

BAB I

Islam Sebagai Sistem dan Cara Hidup

Masyarakat sekarang merupakan masyarakat yang tidak Islami. Cara
mereka berinteraksi antar sesama tidak dilandasi aturan-aturan Islam. Di bidang
ekonomi, semua aturan hukum yang mengatur sistem ekonomi merujuk kepada sistem
ekonomi Kapitalis sehingga sebagian besar masyarakat mengalami kemiskinan,
ketidakadilan, terlebih lagi dengan terjadinya krisis moneter dan ekonomi.
Begitu pula kehidupan mereka di bidang lainnya, sangat jauh dari Islam. Pemaham
yang keliru terhadap Islam menyebabkan mereka jauh dari Islam. Mereka menjadi
terbiasa dengan pemikiran sekuler (pemisahan agama dari kehidupan), seperti
paham politik demokrasi yang menjadikan manusia sebagai sumber dan pembuat
hukum, pemikiran ekonomi kapitalis seperti mejadikan bunga (riba) sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan ekonomi. Yang sangat parah mereka
terbiasa dengan kehidupan seperti itu seolah-olah merupakan ibadah. Mereka
bahkan menganggab agama mereka sendiri (Islam-pen) tidak mengatur masalah
politik dan kenegaraan, ekonomi, sosial, budaya, dll. Akibatnya mereka
“linglung” dalam kehidupan, tidak tau tujuan apa yang harus dicapai selain
mengekor dan membebek kepada Barat yang Kapitalis. Sebagian dari mereka menjadi
budak-budak Barat yang sangat setia sebagai agen Barat yang menyebarkan
pemikiran-pemikiran sekuler yang sesat yang dibungkus dengan sangat apik
(kapitalisme, HAM, pluralisme, feminisme, demokrasi) sehingga terlihat manis
kalau masyarakat tidak jernih memandangnya. Mereka juga menjadi “hantu” dengan
menekan umat yang tetap bertahan dalam ciri Islam yang sebenarnya ataupun siapa
saja yang menghambat gerak dakwah pemikiran sekuler mereka. Bagaimanakah kita
harus menyikapi keadaan yang seperti itu? Lantas, apa yang harus dipahami dan
dilakukan seseorang yang mengaku Muslim terhadap agamanya sendiri? Dan apakah
dalam Islam juga mengatur sistem ekonomi? Tulisan ini berusaha untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Konsekuensi Memeluk Islam

Konsekuensi seseorang memeluk Islam adalah menjadikan aqidah Islam
sebagai standar berpikir dan standar berperilaku, terikat pula seluruh
perbuatannya dengan hukum syara’ atau syari’at Islam (hukum Islam). Dia juga
memahami Islam sebagai agama yang dapat memecahkan seluruh problem kehidupan sehingga
mempunyai keyakinan Islam merupakan sistem kehidupan, sebagai sebuah mabda
(ideologi) yang menjadi way of life. Dia memahami Allah SWT sebagai pencipta
alam semesta dan segala isinya, mengetahui segala sesuatu yang menimpa manusia
di dunia sehingga hanya Allah-lah yang dapat memberikan solusinya yakni Islam.
Hanya dengan mengikuti kehendak Allah SWT, maka manusia dapat selamat hidup di
dunia dan akhirat.

 

 

Tujuan Hidup di Dunia

Tujuan kehidupan seorang muslim di dunia ini adalah beribadah kepada
Allah dengan semata-mata mengharap keridhoa’an-Nya. “Dan Aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Pengertian ibadah di sini adalah menyangkut seluruh aspek perbuatan
manusia dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menjauhi seluruh
larangan-Nya. Jadi ibadah tidak terbatas hanya pada ibadah yang sifatnya
individu seperti shalat, puasa, zakat, haji, tetapi juga meliputi
perbuatan-perbuatan mengajak orang kembali kepada Islam, upaya menegakkan
syari’at Islam, jihad, menjalin hubungan sesama manusia dengan berdasarkan
aturan-aturan Islam.

Masuk ke dalam Islam
Secara Kaffah

Orang yang mengaku Islam, harus meyakini Islam sebagai satu-satunya
jalan yang memecahkan seluruh masalah kehidupan. Namun hal ini hanya bisa
terjadi jika orang tersebut masuk ke dalam Islam secara menyeluruh. Allah SWT
memperingatkan kepada kita semua: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah
kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian mengikuti
langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi
kalian.” (QS. Al Baqarah: 208). Jadi masuk ke dalam Islam secara kaffah
(keseluruhan) merupakan hal mutlak yang harus dilakukan sebagai bukti keimanan
kita kepada Allah SWT. Ibnu Katsir menyatakan bahwa semua orang beriman
diperintahkan untuk melaksanakan seluruh cabang iman dan hukum-hukum Islam.
Kita semua harus masuk ke dalam syari’at Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW
dan tidak boleh mengabaikan syari’at walau sedikitpun. Menurut Buya Hamka,
syari’at Islam harus diterapkan dalam setiap individu, masyarakat dan negara
dan jangan sampai kita meyakini bahwa ada satu peraturan yang lebih baik dari
syari’at Islam (lihat Tafsir Al Azhar Djuzu’ II).

Firman Allah: “Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak
beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim (pemutus) terhadap
perkara yang mereka perselisihkan” (QS. An Nisa: 65). Menurut ayat ini
seseorang belum dianggap beriman jika belum menjadikan syari’at Islam yang
dibawa Nabi sebagai sistem hukum atau peraturan dalam kehidupan yang diterapkan
bagi manusia. Allah juga menegaskan bahwa hanya Allah-lah yang berhak membuat
dan menetapkan hukum bukannya manusia seperti yang berlaku dalam demokrasi
ataupun sistem ekonomi kapitalis. “(Hak untuk) menetapkan hukum itu (hanyalah)
hak Allah” (QS. Al An’am: 57).

Islam Satu-satunya Jalan
Kebenaran

Dengan demikian Allah telah menetapkan Islamlah satu-satunya jalan
yang harus ditempuh dalam kehidupan ini, jalan selain Islam merupakan jalannya
syaithan, sehingga sistem ekonomi kapitalis karena bukan berasal dari Islam dan
sudah jelas bertentangan dengan Islam maka sistem ekonomi kapitalis merupakan
jalannya syaithan. Termasuk pula sistem ekonomi lainnya seperti
komunis/sosialis, dan semua yang bukan berasal dari Islam merupakan jalannya
syaithan. Tidak salah kalau saya mengatakan sistem ekonomi dan syari’at selain
Islam sebagai “sistem ekonomi syaithan dan syari’at syaithan.” Saya setuju
dengan pendapat Eri Sudewo (salah satu pembicara Syari’ah Economic Days 2002)
bahwa sistem ekonomi kapitalis bila kita yakini kebenarannya dan turut pula
menyebarkannya berarti membawa diri kita sendiri dan mengajak orang lain ke
neraka, karena sistem ekonomi kapitalis merupakan sistem ekonomi syaithan,
sedangkan syaithan itulah yang menjerumuskan manusia ke neraka.

Tinggalkan Pembangkangan
terhadap Allah

Melaksanakan perintah Allah di bidang ibadah ritual yang sifatnya
individu saja dan meninggalkan syari’at Islam lainnya, sama saja menentang
perintah Allah, menentang ayat-ayat Allah sebagaimana pernyataan beberapa ayat
yang saya kutip di atas. Padahal jika ini yang dilakukan maka membawa
konsekuensi yang berat dari sisi aqidah. Karena perkara aqidah merupakan
perkara yang 100 persen harus kita yakini yang jika kurang yakin walau sedikitpun
maka itu berdampak pada kekufuran, berarti jika satu ayat saja dari Al Quran
kita tidak membenarkan/tidak meyakini maka kita kufur kepada Allah. (Ingat iman
kepada Al Quran termasuk rukun iman !).

Begitupula meyakini bahwa Islam tidak mempunyai sistem yang mengatur
kehidupan bernegara, politik, ekonomi, sosial, budaya, uqubat (sanksi),
merupakan keyakinan yang sangat keliru. Keyakinan seperti ini sama saja
menganggap Islam ini agama yang tidak sempurna yang berarti secara sadar atau
tidak orang yang berpendapat demikian sama saja menghina Allah SWT. Pemikiran
seperti ini merupakan pemikiran yang sekuler yang bertentangan dengan Islam.
Padahal Allah telah jelas menyebutkan dalam QS. Al Ma’idah ayat 3: “Hari ini
telah aku sempurnakan bagi kalian dien (agama, sistem hidup) kalian, dan telah
Aku sempurnakan atas kalian nikmat-Ku, dan Aku meridhoi Islam sebagai dien
kalian.” Allah menyebut orang yang tidak menjadikan Islam sebagai solusi atas
seluruh aspek kehidupan dengan menjadikan sistem yang lain sebagai solusi, maka
Allah menyebut orang tersebut sebagai orang yang kafir, zhalim, fasik.
“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Al Maidah: 44). Lihat juga QS. Al
Maidah ayat 45 dan 47. Karena itu janganlah kita membangkang terhadap perintah
Allah SWT.

Aqidah Islam Memancarkan
Sistem Ekonomi

Setelah kita memahami Islam sebagai sistem kehidupan yang memecahkan
seluruh problematika manusia di dunia dengan pelaksanaan syari’atnya, maka kita
yakin aqidah Islam sebagai bangunan dasar agama ini di atasnya terpancar juga
syari’at yang mengatur kegiatan ekonomi yang lazim disebut sistem ekonomi
Islam.

Menurut An-Nabhani sistem ekonomi Islam dibangun di atas landasan
tiga kaidah, yaitu kepemilikan (property), pengelolaan kepemilikan, dan
distribusi kekayaan di tengah-tengah masyarakat. Pada dasarnya segala sesuatu
adalah milik Allah SWT. Allah mengizinkan kepada manusia untuk memiliki
kekayaan dengan sebab-sebab tertentu (lihat QS. An Nur: 33).

Pengelolaan kepemilikan menyangkut tiga macam kepemilikan yaitu;
kepemilikan individu dan kepemilikan negara yang diatur berdasarkan hukum-hukum
baitul mal dan muamalah, sedangkan kepemilikan umum (collective property) harus
dikelola negara sebagai wakil umat yang hasilnya harus dikembalikan kepada umat
dan negara tidak boleh menjual aset milik umat tersebut.

Mekanisme distribusi kekayaan kepada individu di tengah-tengah
masyarakat mengikuti ketentuan sebab-sebab kepemilikan serta
transaksi-transaksi yang dibenarkan syariat. Agar tidak terjadi ketimpangan
distribusi, syari’at melarang perputaran kekayaan hanya di antara orang-orang
kaya saja. Juga negara melalui politik ekonominya, menjamin kebutuhan primer
(:sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan) setiap individu,
mengupayakan kemakmuran setiap individu untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan
tersiernya. Islam juga mengatur :

1.Bagaimana
seseorang memperoleh kekayaan

Maka syari’at mengatur supaya manusia dapat memperoleh harta antara lain
dengan menghidupkan tanah mati, menggali kandungan bumi, berburu, syamsarah
(makelar), mudlarabah (perseroan antara dua orang dalam perdagangan), musaqat,
ijarah (jasa yang diberikan tenaga kerja kepada majikan).

Syari’at juga mengatur larangan memperoleh harta dengan jalan bathil
seperti perjudian, riba, penipuan (al ghabn), penipuan (tadlis) dalam jual
beli, penimbunan, pematokan harga. Allah menghalalkan jual beli dan
mengaharamkan riba, karena itu bunga bukanlah cara yang dibenarkan untuk
memperoleh dan mengembangkan harta. Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir,
Rasulullah SAW mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, dan
orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda,
“Mereka itu semuanya sama.”

Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi SAW bersabda:
“Riba itu mempunyai 73 pintu (tingkatan), yang paling rendah (dosanya) sama
dengan seseorang yang melakukan zina terhadap ibunya.”

2. Memanfaatkan kekayaan
(konsumsi).

Syari’at mengatur manusia hanya boleh mengkonsumsi makanan, barang
atau jasa yang dihalalkan oleh Allah.

3. Mengembangkan kekayaan
(investasi).

 

 

 

 

 

Khatimah

Berdasarkan uraian di atas maka Islam merupakan suatu sistem
kehidupan (mabda) yang sempurna sehingga dalam permasalahan ekonomipun Islam
mengaturnya. Jadi sudah pasti Islam memiliki sistem ekonomi dan ia merupakan
bagian dari aqidah Islam. Pelaksanaan sistem ekonomi Islam adalah konsekuensi
meyakini aqidah Islam.

Untuk itu hai orang-orang yang beriman janganlah kalian sampai
melupakan syari’at Allah. Kembalilah kepada Islam ! Tinggalkan hukum-hukum
kufur ! Hancurkan syari’at dan sistem ekonomi syaithan yang saat ini tegak di
atas dunia. Jangan sampai kita mati dalam keyakinan hukum-hukum kufur. Firman
Allah “Hai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu dengan sebenar-benar
taqwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam” (QS. Ali
Imaran: 102).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

Kaidah
Ushul Muamalah

 

Definisi Perbuatan (Afâ’al)

Perbuatan
adalah apa yang dilakukan manusia baik berupa aktivitas, perkataan untuk
memenuhi kebutuhannya. Setiap perbuatan manusia senantiasa bermuara (bertujuan
memenuhi) pada dua hal, yakni Hajatul Udhawiyah (kebutuhan jasmani) dan Gharizah
(naluri).

Definisi
Muamalah

Secara etimologis atau bahasa berasal dari kata amala-yuamilu-muamalatan
sama dengan wazan faala-yufailu-mufaalatan yang bermakna saling
bertindak, saling berbuat, dan saling mengamalkan. Sedangkan secara
terminologis atau istilah terbagi lagi menjadi dua macam, yakni muamalah dalam
arti luas dan sempit. Muamalah dalam arti luas adalah aturan-aturan (hukum)
Allah untuk mengatur manusia dalam kaitannya dengan urusan duniawi atau dalam
pergaulan sosial. Sedangkan dalam arti sempit bermakna aturan-aturan Allah yang
wajib ditaati yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam kaitannya
dengan cara memperoleh dan mengembangkan harta benda
.

Dengan demikian, berdasarkan definisi di atas dengan jelas
dapat kita ketahui bahwa muamalah adalah termasuk atau menyangkut af’al
(perbuatan) seseorang hamba.

Hukum
Asal Perbuatan Manusia

Setelah kita mengetahui bahwa sesungguhnya muamalah adalah
perbuatan, maka yang menjadi pertanyaan adalah benarkah hukum asal perbuatan
manusia itu Mubah?

M. Muhammad Ismail dalam bukunya Al-Fikru
Al-Islamy

mengatakan, bahwa hukum asal perbuatan manusia adalah
terikat dengan hukum syara. Hal ini berdasarkan kepada, bahwa setiap perbuatan
seorang muslim yang akan ia lakukan wajib untuk diketahui hukum Allah terhadap
perbuatan tersebut sebelum ia melakukannya, karena Allah swt akan menanyainya
. Sebagaimana
Firman Allah swt:

(92. Maka demi Tuhanmu, kami pasti akan menanyai mereka
semua, 93. Tentang apa yang Telah mereka kerjakan dahulu. [QS. Al-Hijr: 92-93]
)

(61. Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak
membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan,
melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput
dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di
langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu,
melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). [QS. Yunus:
61] )

Hal ini dapat kita lihat dari yang dicontohkan oleh para
Sahabat ra yang senantiasa menanyakan kepada Rasulullah saw tentang
perbuatannya sehingga mereka mengetahui hukum Allah sebelum mereka melakukan
perbuatan tersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam sebuah hadits yang
dikeluarkan Ibnu Mubarak, bahwa Utsman bin Mazhun mendatangi Rasulullah saw
sambil berkata:

Apakah
engkau mengizinkan aku melakukan pengebirian? Rasul saw. menjawab: bukan
termasuk golongan kami orang yang mengebiri dan melakukan pengebirian, karena
sesungguhnya pengebirian umatku adalah dengan berpuasa. Kemudian Utsman
bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Engkau mengijinkan aku untuk melancong?
Rasul saw. menjawab: Melancong bagi umatku adalah jihad fi sabillah. Utsman
bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Engkau mengijinkan aku menjadi pertapa?
Rasul saw. menjawab: sesungguhnya bertapa bagi umatku adalah duduk di masjid
untuk menunggu shalatâ€
.

Hadits di atas dengan gamblang menjelaskan bahwa, para
Sahabat ra. tiadalah mereka melakukan suatu perbuatan kecuali mereka menanyakan
hukumnya sebelum melakukannya untuk mengetehui hukum Allah pada perbuatan
tersebut
.

Andaikan asal hukum perbuatan manusia adalah ibahah
(boleh) tentu mereka (para sahabat) akan langsung melakukan perbuatan tersebut
tanpa bertanya dulu tentang hukum perbuatan tersebut
.

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

Hukum asal muamalah adalah terikat dengan hukum syara,
karena sesungguhnya muamalah merupakan suatu perbuatan yang dilakukan oleh
seorang muslim. Dengan kata lain, asal perbuatan-perbuatan hamba adalah
memiliki hukum syara yang wajib dicari dari dalil-dalil syara sebelum
melakukannya, dan hukum suatu perbuatan apakah mubah, wajib, mandub, haram,
atau makruh bergantung pada pengetahuan terhadap dalil-dalil sami dari
Al-Quran, Sunnah, Ijma Sahabat, Qiyas Syari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab
III

Sejarah
dan Perkembangan Bank Islam

Pendahuluan

Berdirinya bank
Islam/perbankan syari’ah diawali dengan kehadiran dua gerakan renaissance
Islam modern: neorevivalis dan modernis. Tujuan utama dari pendirian lembaga
keuangan ini adalah sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek
kehidupan ekonominya berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Hingga awal ke-20, bank Islam
hanya merupakan obsesi dan diskusi teoritis para akademisi baik dari bidang
hukum (fikih) maupun bidang ekonomi. Kesadaran bahwa bank Islam adalah solusi
masalah ekonomi untuk mencapai kesejahteraan sosial telah muncul, namun upaya
nyata yang memungkinkan implementasi praktis gagasan tersebut nyaris tenggelam
dalam sistem ekonomi dunia yang menggunakan bunga riba.

Dalam tulisan ini akan dibahas
secara garis besar mengenai perbankan Islam terutama di Indonesia, meliputi
sejarah, serta konsep-konsep dasar operasional bank syari’ah.

 

Sejarah dan
Perkembangan Bank Islam

Beroperasinya Mit Ghamr Local
Saving Bank di Mesir pada tahun 1963 merupakan tonggak sejarah perkembangkan
sistem perbankan Islam.
Mit Ghamr menyediakan pelayanan dasar perbankan seperti
simpanan, pinjaman, penyertaan modal, investasi langsung dan pelayanan
sosial.  Pada tahun 1967 pengoperasian Mit Ghamr diambil alih oleh
National Bank of Egypt dan Bank Sentral Mesir disebabkan adanya kekacauan
politik. Walaupun Mit Ghamr sudah berhenti beroperasi sebelum mencapai
kematangan dan menyentuh semua profesi bisnis, keberadaannya telah memberikan
pertanda bagi masyarakat muslim bahwa prinsip-prinsip Islam sangat applicable
dalam dunia bisnis modern.

Perkembangan selanjutnya adalah
berdirinya Islamic Develoment Bank (IDB), yang berdiri atas prakarsa dari
sidang menteri luar negeri Negara-negara OKI di Pakistan (1970), Libiya (1973),
dan Jeddah (1975). Dalam sidang tersebut diusulkan penghapusan sistem keuangan
berdasarkan bunga dan menggantinya dengan sistem bagi hasil. Berdirinya IDB
telah memotivasi banyak negeri Islam untuk mendirikan untuk mendirikan lembaga
keuangan syari’ah. Pada akhir priode 1970-an dan awal periode 1980-an bank-bank
syari’ah bermunculan di Mesir, Sudan, negara-negara Teluk, Pakistan, Iran,
Malaysia, Bangladesh, dan Turki.

Dari berbagai laporan tentang
bank Islam, ternyata bahwa operasi perbankan Islam dikendalikan oleh tiga
prinsip dasar, yaitu (a) dihapuskannya bunga dalam segala bentuk transaksi, (b)
dilakukannya segala bisnis yang sah, berdasarkan hukum serta perdagangan
komersial dan perusahaan industri, dan (c) memberikan pelayanan sosial yang
tercermin dalam penggunaan dana-dana zakat untuk kesejahteraan fakir miskin.

Berkembangnya bank-bank
syari’ah di Negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Pada awal periode
1980-an telah banyak diskusi mengenai bank syari’ah sebagai pilar ekonomi
Islam, akan tetapi prakarsa untuk mendirikan bank Islam baru dimulai pada tahun
1990. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan lokakarya tentang bunga bank dan
perbankan menghasilkan terbentuknya sebuah tim perbankan yang bertugas
melakukan pendekatan dan konsultasi. Pada tahun 1991 berdiri PT. BMI (Bank
Muamalat Indonesia).

Pada awal pendirian BMI
keberadaan bank syari’ah belum mendapat perhatian yang optimal dalam tatanan
industri perbankan nasional, disebabkan landasan hukum operasional bank yang
menggunakan sistem syari’ah ini hanya dikategorikan sebagai bank dengan sistem
bagi hasil, dan tidak terdapat rincian landasan hukum syari’ah serta jenis-jenis
usaha yang diperbolehkan.

Pada era reformasi
perkembangan perbankan syari’ah ditandai dengan disetujuinya Undang-undang
No.10 tahun 1998, yang mengatur dengan rinci landasan hukum serta jenis-jenis
usaha yang dapat dioperasikan dan diimplemen-tasikan oleh bank syari’ah.
Undang-undang tersebut juga memberikan arahan bagi bank konvensional untuk
membuka cabang syari’ah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi bank
syari’ah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab IV

 Riba Dalam Perspektif  Agama dan Sejarah

Kata ar-ribâ
secara etimologis (bahasa) mempunyai konotasi az-ziyâdah (pertambahan); rabâ
as-syay’ artinya z
ada ‘ammâ kâna ‘alayhi,
bertambah dari kuantitas sebelumnya. Perlu dicatat, bahwa konotasi kata Arab
tidak akan terlepas dari tiga bentuk: Pertama, konotasi etimologis (al-ma’nâ
al-lughawi); makna yang digunakan oleh orang Arab agar kata bisa menunjukkan
makna tersebut. Dari sini, kata ribâ antara lain bisa berkonotasi “pertambahan”
atau “peningkatan”. Jika ada orang dikatakan, “Ribâ ar-rajulu fî qawmihi,”
konotasinya adalah, “Irtafa’a qadruhu,” (Kemampuannya meningkat). Kedua,
konotasi tradisional/konvensional (al-ma’nâ al-urfi); makna kata tertentu yang
biasa digunakan oleh orang Arab untuk memperkenalkan sesuatu, bukan makna yang
digunakan secara etimologis. Artinya, ketika kata tersebut digunakan, maknanya
telah berubah dari konteks bahasa (lughawi) ke konteks tradisi/konvensi
(‘urfi). Misalnya, dalam tradisi/konvensi para ulama ushul fiqh, kata ‘illat
yang secara bahasa bermakna penyakit dimaknai sebagai sabab at-tasyrî’ (latar
belakang turunya hukum); atau kata al-hâim yang secara bahasa berarti hakim,
komandan, pimpinan dimaknai sebagai Pembuat Hukum, yakni Allah.

Di dalam konteks pula,
ribâ, secara tradisional/konvensional adalah kata yang digunakan untuk
menunjukkan pertambahan yang ditetapkan sebagai kompensasi penangguhan utang,
seperti ungkapan: A taqdhi am turbil? (Apakah Anda mau dibayar cash atau
ditagguhkan dengan kompensasi tambahan). Ketiga, konotasi syar’î (al-ma’nâ
as-syar’î); makna yang dikehendaki oleh syariat melalui penggunaan kata
tertentu, bukan makna asal yang digunakan secara etimologis. Misalnya, kata
as-shawm (puasa) secara syar’î digunakan untuk menyebut ibadah tertentu yang
terikat dengan waktu, tempo dan aturan tertentu. Hal yang sama juga terjadi
pada kata ar-ribâ yang digunakan oleh syariat untuk menunjukkan pertambahan
dalam muamalah tertentu, bukan yang lain; ar-ribâ berbeda pula dengan al-bay’
(jual-beli).

Dengan demikian, setelah ribâ
dideskripsikan oleh syariat tidak lagi berkonotasi pertambahan secara mutlak,
tetapi konotasinya menjadi: pertambahan akibat pertukaran jenis tertentu, baik
yang disebabkan oleh kelebihan dalam pertukaran dua harta yang sejenis di
tempat pertukaran (majlis at-tabâdul), seperti yang terjadi dalam ribâ
al-fadhl, ataupun disebabkan oleh kelebihan tenggang waktu (al-ajal),
sebagaimana yang terjadi dalam ribâ an-nasî’ah aw at-ta’khîr.Inilah definisi
ribâ secara syar’î.
Ada beberapa pendapat
dalam menjelaskan ribâ, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan
bahwa ribâ adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun
pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam
Islam.

Mengenai hal
ini Allah SWT mengingatkan dalam firmanNya:

Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan bathil. (Qs.
An- Nisâ’ [4]: 29).

 Dalam
kaitannya dengan pengertian al-bathil dalam ayat tersebut, Ibnu Al-Arabi
Al-Maliki, dalam kitabnya Ahkam Al-Qur’an, menjelaskan:

 “Pengertian
ribâ secara bahasa adalah tambahan, namun yang dimaksud ribâ dalam ayat Qur’ani
yaitu setiap penambahan yang diambil tanpa adanya satu transaksi pengganti atau
penyeimbang yang dibenarkan syariah.”

Yang dimaksud
dengan transaksi pengganti atau penyeimbang yaitu transaksi bisnis atau
komersial yang melegitimasi adanya penambahan tersebut secara adil. Seperti
transaksi jual-beli, gadai, sewa, atau bagi hasil proyek. Dalam transaksi sewa,
si penyewa membayar upah sewa karena adanya manfaat sewa yang dinikmati, termasuk
menurunnya nilai ekonomis suatu barang karena penggunaan si penyewa. Mobil
misalnya, sesudah dipakai nilai ekonomisnya pasti menurun, jika dibandingkan
sebelumnya. Dalam hal jual-beli si pembeli membayar harga atas imbalan barang
yang diterimanya. Demikian juga dalam proyek bagi hasil, para peserta
pengkongsian berhak mendapat keuntungan karena di samping menyertakan modal
juga turut serta menanggung kemungkinan risiko kerugian yang bisa saja muncul
setiap saat.

Dalam
transaksi simpan-pinjam dana, secara konvensional si pemberi pinjaman mengambil
tambahan dalam bentuk bunga tanpa adanya suatu penyeimbang yang diterima si
peminjam kecuali ke-sempatan dan faktor waktu yang berjalan selama proses
peminjaman tersebut. Yang tidak adil di sini adalah si peminjam diwajibkan
untuk selalu, tidak boleh tidak, harus, mutlak, dan pasti untung dalam setiap
penggunaan kesempatan tersebut.

Demikian juga
dana itu tidak akan berkembang dengan sendirinya, hanya dengan faktor waktu
semata tanpa ada faktor orang yang menjalankan dan mengusahakannya. Bahkan
ketika orang tersebut mengusahakan bisa saja untung bisa juga rugi. Pengertian
senada disampaikan oleh jumhur ulama sepanjang sejarah Islam dari berbagai
mazhahib fiqhiyyah. Di antaranya:

Ø  Badr Ad-Din Al-Ayni pengarang Umdatul Qari
Syarah Shahih Al Bukhari: “Prinsip utama dalam ribâ adalah penambahan. Menurut
syariah ribâ berarti penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis
riel.”

Ø  Imam Sarakhsi dari mazhab Hanafi: “Ribâ adalah
tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya iwadh (atau
padanan yang dibenarkan syariah atas penambahan tersebut.”

Ø  Raghib Al Asfahani: “Ribâ adalah penambahan
atas harta pokok.”

Ø  Imam An-Nawawi dari mazhab Syafi’i: Dari
penjelasan Imam Nawawi di atas sangat jelas bahwa salah satu bentuk ribâ yang
dilarang al-Qur’an dan As Sunnah adalah penambahan atas harta pokok karena
unsur waktu. Dalam dunia perbankan hal tersebut dikenal dengan bunga kredit
sesuai lama waktu pinjaman.

Ø  Qatadah: “Ribâ jahiliyah adalah seseorang yang
menjual barangnya secara tempo hingga waktu tertentu. Apabila telah datang saat
pembayaran dan si pembeli tidak mampu membayar, maka ia memberikan bayaran
tambahan atas penangguhan.”

Ø  Zaid bin Aslam: “Yang dimaksud dengan ribâ
jahiliyyah yang berimplikasi pelipat-gandaan sejalan dengan waktu adalah
seseorang yang memiliki piutang atas mitranya. Pada saat jatuh tempo ia
berkata: ‘bayar sekarang atau tambah.’”

Ø  Mujahid: “Mereka menjual dagangannya dengan
tempo. Apabila telah jatuh tempo dan (tidak mampu bayar) si pembeli memberikan
‘tambahan’ atas tambahan waktu.” 

Ø  Ja’far Ash-Shadiq dari kalangan Syiah: Ja’far
Ash-Shadiq berkata ketika ditanya mengapa Allah SWT mengharamkan ribâ – “Supaya
orang tidak berhenti berbuat kebajikan. Karena ketika diperkenankan untuk
mengambil bunga atas pinjaman, maka seseorang tidak berbuat ma’ruf lagi atas
transaksi pinjam-meminjam dan sejenisnya. Padahal qard bertujuan untuk menjalin
hubungan yang erat dan kebajikan antarmanusia.”

Ø  Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab
Hanbali: “Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang ribâ beliau menjawab:
Sesungguhnya ribâ itu adalah seseorang memiliki hutang maka dikatakan kepadanya
apakah akan melunasi atau membayar lebih. Jikalau tidak mampu melunasi, ia harus
menambah dana (dalam bentuk bunga pinjam) atas penambahan waktu yang
diberikan.” 

Ø  Asy-Syaikh Abdurrahman Taj mengatakan bahwa,
ribâ adalah setiap tambahan yang berlangsung pada salah satu pihak (dalam) aqad
Mu’wwadhah tanpa mendapat imbalan; atau tambahan itu diperoleh karena
penangguhan.

Secara garis besar ribâ dikelompokkan menjadi dua. Masing-masing adalah
ribâ hutang-piutang dan ribâ jual-beli. Kelompok pertama terbagi lagi menjadi
ribâ qardh dan ribâ yâdd. Sedangkan kelompok kedua, ribâ jual-beli, terbagi
menjadi ribâ fadhl dan ribâ nasi’ah.

Ø 
Ribâ
Qardh adalah praktek ribâ dengan cara meminjamkan uang kepada seseorang dengan
syarat ada kelebihan/keuntungan bagi pihak pemberi utang.

Ø 
Ribâ Yâdd
adalah praktek ribâ yang dilakukan oleh pihak yang peminjam yang meminjamkan
uang/barang telah berpisah dari tempat aqad sebelum diadakan serah terima
barang (aqad timbang terima). Munculnya ribâ dalam keadaan ini adalah karena
dikhawatirkan akan terjadi penyimpangan.

Ø 
Ribâ
Fadhl adalah praktek ribâ dalam bentuk menukarkan barang yang sejenis tetapi
tidak sama keadaanya atau menukar barang yang sejenis tetapi saling berbeda
nilainya.

Ø 
Ribâ
Nasi’ah adalah praktek ribâ memberikan hutangan kepada orang lain dengan tempo
yang jika terlambat mengembalikan akan dinaikkan jumlah/nilainya sebagai
tambahan atau sanksi.

Mengenai pembagian dan jenis-jenis ribâ, berkata Imam Ibnu Hajar
al-Haitsami: “Bahwa ribâ itu terdiri dari tiga jenis, yaitu ribâ fadhl, ribâ
al-yâdd, dan ribâ an-nasiah. Al mutawally menambahkan jenis keempat yaitu ribâ
al qard. Beliau juga menyatakan bahwa semua jenis ini diharamkan secara ijma’
berdasarkan nash al-Qur’an dan hadits Nabi.” 

Para ahli fiqh Islam telah membahas masalah ribâ dan jenis barang
ribâwi dengan panjang lebar dalam kitab-kitab mereka. Dalam kesempatan ini akan
disampaikan kesimpulan umum dari pendapat mereka yang intinya bahwa barang
ribâwi meliputi:

Ø  Emas dan perak, baik itu dalam bentuk uang
maupun dalam bentuk lainnya.

Ø  Bahan makanan pokok seperti beras, gandum, dan
jagung serta bahan makanan tambahan seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.

Dalam kaitan dengan perbankan syariah implikasi ketentuan tukar-menukar
antarbarang-barang ribâwi dapat diuraikan sebagai berikut:

Ø  Jual-beli antara barang-barang ribâwi sejenis
hendaklah dalam jumlah dan kadar yang sama. Barang tersebut pun harus
diserahkan saat transaksi jual-beli. Misalnya rupiah dengan rupiah hendaklah Rp
5.000,00 dengan Rp 5.000,00 dan diserahkan ketika tukar-menukar.

Ø  Jual beli antara barang-barang ribâwi yang
berlainan jenis diperbolehkan dengan jumlah dan kadar yang berbeda dengan
syarat barang diserahkan pada saat akad jual-beli. Misalnya Rp 5.000,00 dengan
1 dollar Amerika.

Ø  Jual-beli barang ribâwi dengan yang bukan
ribâwi tidak disyaratkan untuk sama dalam jumlah maupun untuk diserahkan pada
saat akad. Misalnya mata uang (emas, perak, atau kertas) dengan pakaian. 

Jual beli antara barang-barang yang bukan ribâwi diperbolehkan tanpa
persamaan dan diserahkan pada waktu akad, misalnya pakaian dengan barang
elektronik.

Larangan Ribâ Dalam al-Qur’an Dan as-Sunnah

Ummat Islam dilarang mengambil ribâ apa pun jenisnya. Larangan supaya
ummat Islam tidak melibatkan diri dengan ribâ bersumber dari berbagai surat
dalam al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW. Dan tidak ada perbedaan pendapat di
kalangan ulama mengenai keharamannya, sebab hal ini telah ditetapkan
berdasarkan nash al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, Ijma’ (konsensus) kaum
muslimin, termasuk madzhab yang empat.

1.        
Larangan
Ribâ Dalam al-Qur’an

Larangan ribâ yang terdapat dalam al-Qur’an tidak ditu-runkan
sekaligus, melainkan diturunkan dalam empat tahap.

 

 

Tahap pertama, menolak anggapan bahwa pinjaman ribâ yang pada zhahirnya
seolah-olah menolong mereka yang memerlukan sebagai suatu perbuatan mendekati
atau taqarrub kepada Allah SWT. Ayat ini diturunkan di Mekkah, tetapi ia tidak
menunjukkan isyarat apapun mengenai pengharaman ribâ. Yang ada hanyalah
kebencian Allah terhadap ribâ, sekaligus peringatan supaya berhenti dari
aktivitas ribâ.

Dan sesuatu ribâ (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada
harta manusia. Maka ribâ itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu
berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka
(yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).
(Qs. Ar-Rûm [30]: 39).

Tahap kedua, ribâ digambarkan sebagai suatu yang buruk. Allah SWT
mengancam memberi balasan yang keras kepada orang Yahudi yang memakan ribâ.

Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas
mereka yang (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi
mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan
disebabkan mereka memakan ribâ, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang
daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil.
Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa
yang pedih. (Qs. An-Nisâ’ [4]: 160-161).

Tahap ketiga, ribâ diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan
yang berlipat ganda. Para ahli tafsir berpendapat, bahwa pengambilan bunga
dengan tingkat yang cukup tinggi merupakan fenomena yang banyak dipraktekkan
pada masa tersebut. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan ribâ dengan
berlipat-ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan. (Qs. Ali-Imran [3]: 130).

Ayat ini turun pada tahun ke 3 hijriyah. Secara umum ayat ini harus
dipahami bahwa kriteria berlipat-ganda bukanlah merupakan syarat dari
terjadinya ribâ (jikalau bunga berlipat ganda maka ribâ tetapi jikalau kecil
bukan ribâ), tetapi ini merupakan sifat umum dari praktek pembungaan uang pada
saat itu.

Demikian juga ayat ini harus dipahami secara komprehensif dengan ayat
278-279 dari Surat al-Baqarah [2] yang turun pada tahun ke 9 Hijriyah.
(Keterangan lebih lanjut, lihat pembahasan “Alasan Pembenaran Pengambilan
Ribâ”, point “Berlipat-Ganda”).

Tahap terakhir, Allah SWT dengan jelas dan tegas mengharamkan apa pun
jenis tambahan yang diambil dari pinjaman. Ini adalah ayat terakhir yang
diturunkan menyangkut ribâ.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan
sisa-sisa (dari berbagai jenis) ribâ jika kamu orang-orang yang beriman. Maka
jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa ribâ) maka ketahuilah, bahwa
Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan
ribâ), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula
dianiaya. (Qs. Al-Baqarah [2]: 278-279).

Ayat ini baru akan sempurna kita pahami jikalau kita cermati bersama
asbabun nuzulnya. Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabariy meriwayatkan bahwa
“Kaum Tsaqif, penduduk kota Thaif, telah membuat suatu kesepakatan dengan
Rasulullah SAW bahwa semua hutang mereka, demikian juga piutang (tagihan)
mereka yang berdasarkan ribâ agar dibekukan dan dikembalikan hanya pokoknya
saja. Setelah Fathul Makkah, Rasulullah menunjuk Itab bin Usaid sebagai
Gubernur Makkah yang juga meliputi kawasan Thaif sebagai daerah
administrasinya. Adalah Bani Amr bin Umair bin Auf yang senantiasa meminjamkan
uang secara ribâ kepada Bani Mughirah dan sejak zaman jahiliyah Bani Mughirah
senantiasa membayarnya dengan tambahan ribâ. Setelah kedatangan Islam, mereka
tetap memiliki kekayaan dan asset yang banyak. Maka datanglah Bani Amr untuk
menagih hutang dengan tambahan (ribâ) dari Bani Mughirah -seperti sediakala-
tetapi Bani Mughirah setelah memeluk Islam menolak untuk memberikan tambahan
(ribâ) tersebut. Maka dilaporkanlah masalah tersebut kepada Gubernur Itab bin
Usaid. Menanggapi masalah ini Gubernur Itab langsung menulis surat kepada
Rasulullah SAW dan turunlah ayat di atas. Rasulullah SAW lantas menulis surat
balasan kepada Gubernur Itab ‘jikalau mereka ridha dengan ketentuan Allah di
atas maka itu baik, tetapi jikalau mereka menolaknya maka kumandangkanlah
ultimatum perang kepada mereka.’”

Dengan turunnya ayat ini, maka ribâ telah diharamkan secara menyeluruh.
Tidak lagi membedakan banyak maupun sedikit. Ayat ini dan tiga ayat ribâ
berikutnya sekaligus merupakan ayat tentang hukum yang terakhir. Bagi kaum
muslimin saat ini, maka hukum yang berlaku adalah hukum pada ayat yang
terakhir, yang telah menasakhkan hukum ribâ pada ayat-ayat sebelumnya. Juga,
ayat diatas tadi menjelaskan bahwasannya ribâ telah diharamkan dalam segala
bentuknya. Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama mengenai
keharamannya. Sebab, hal ini telah ditetapkan berdasarkan Kitab Allah, Sunnah
Rasul dan Ijma’ sahabat, termasuk madzhab yang empat.

2.        
Larangan
Ribâ Dalam Hadits

Pelarangan ribâ dalam Islam tak hanya merujuk pada al-Qur’an melainkan
juga al-Hadits. Sebagaimana posisi umum hadits yang berfungsi untuk menjelaskan
lebih lanjut aturan yang telah digariskan melalui al-Qu’ran, pelarangan ribâ
dalam hadits lebih terinci.

Dalam amanat terakhirnya pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah,
Rasulullah SAW masih menekankan sikap Islam yang melarang ribâ.

 

 

“Ingatlah bahwa kamu akan menghadap Tuhanmu, dan Dia pasti akan
menghitung amalanmu. Allah telah melarang kamu mengambil ribâ, oleh karena itu
hutang akibat ribâ harus di-hapuskan. Modal (uang pokok) kamu adalah hak kamu.
Kamu tidak akan menderita ataupun mengalami ketidakadilan.”

Selain itu, masih banyak lagi hadits yang menguraikan masalah ribâ. Di
antaranya adalah:

Diriwayatkan oleh Aun bin Abi Juhaifa, “Ayahku membeli seorang budak
yang pekerjaannya membekam (mengeluarkan darah kotor dari kepala), ayahku
kemudian memusnahkan peralatan bekam si budak tersebut. Aku bertanya kepada
ayah mengapa beliau melakukannya. Ayahku menjawab, bahwa Rasulullah SAW
melarang untuk menerima uang dari transaksi darah, anjing, dan kasab budak
perempuan, beliau juga melaknat pekerjaan pentato dan yang minta ditato,
me-nerima dan memberi ribâ serta beliau melaknat para pembuat gambar.” [HR.
Bukhari, no. 2084 kitab Al-Buyu].

Diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri bahwa pada suatu ketika Bilal
membawa barni (sejenis kurma berkualitas baik) ke hadapan Rasulullah SAW dan
beliau bertanya kepadanya, “Dari mana engkau mendapatkannya?” Bilal menjawab,
“Saya mempunyai sejumlah kurma dari jenis yang rendah mutunya dan
menukar-kannya dua sha’ untuk satu sha’ kurma jenis barni untuk dimakan oleh
Rasulullah SAW”, selepas itu Rasulullah SAW terus berkata, “Hati-hati!
Hati-hati! Ini sesungguhnya ribâ, ini sesungguhnya ribâ. Jangan berbuat begini,
tetapi jika kamu membeli (kurma yang mutunya lebih tinggi), juallah kurma yang
mutunya rendah untuk mendapatkan uang dan kemudian gunakanlah uang tersebut
untuk membeli kurma yang bermutu tinggi itu.” [HR. Bukhari, no. 2145, kitab
Al-Wakalah].

Diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abu Bakr bahwa ayahnya berkata,
“Rasulullah SAW melarang penjualan emas dengan emas dan perak dengan perak
kecuali sama beratnya, dan membolehkan kita menjual emas dengan perak dan
begitu juga sebaliknya sesuai dengan keinginan kita.” [HR. Bukhari, no. 2034,
kitab Al Buyu].

Diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Emas
hendaklah dibayar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tepung
dengan tepung, kurma dengan kurma, garam dengan garam, bayaran harus dari
tangan ke tangan (cash). Barangsiapa memberi tambahan atau meminta tambahan,
sesungguhnya ia telah berurusan denga ribâ. Penerima dan pemberi sama-sama
bersalah.” [HR. Muslim no. 2971, dalam kitab Al Masaqqah].

Diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Malam tadi aku bermimpi, telah datang dua orang dan membawaku ke Tanah Suci.
Dalam perjalanan, sampailah kami ke suatu sungai darah, di mana di dalamnya
berdiri seorang laki-laki. Di pinggir sungai tersebut berdiri seorang laki-laki
lain dengan batu di tangannya. Laki-laki yang di tengah sungai itu berusaha
untuk keluar, tetapi laki-laki yang di pinggir sungai tadi melempari mulutnya
dengan batu dan memaksanya kembali ke tempat asal. Aku bertanya, ‘Siapakah
itu?’ Aku diberitahu, bahwa laki-laki yang di tengah sungai itu ialah orang
yang memakan ribâ.’” [HR. Bukhari, no. 6525, kitab At-Ta`bir].

Jabir berkata bahwa Rasulullah SAW mengutuk orang yang menerima ribâ,
orang yang membayarnya, dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya,
kemudian beliau bersabda, “Mereka itu semuanya sama.” [HR. Muslim no. 2995,
kitab Al Masaqqah].

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW berkata, “Pada
malam perjalanan mi’raj, aku melihat orang-orang yang perut mereka seperti
rumah, di dalamnya dipenuhi oleh ular-ular yang kelihatan dari luar. Aku
bertanya kepada Jibril siapakah mereka itu. Jibril menjawab bahwa mereka adalah
orang-orang yang memakan ribâ.”

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas`ud, bahwa Nabi SAW bersabda: “Ribâ
itu mempunyai 73 pintu (tingkatan), yang paling rendah (dosanya) sama dengan
seseorang yang melakukan zina dengan ibunya.”

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tuhan
sesungguhnya berlaku adil karena tidak membenarkan empat golongan memasuki
surga atau tidak mendapat petunjuk dariNya. (Mereka itu adalah) Peminum arak,
pemakan ribâ, pemakan harta anak yatim, dan mereka yang tidak bertanggung
jawab/menelantarkan ibu bapaknya.

Dalam Hadits lain Rosulullah mengisyaratkan akan muncul sekelompok
manusia yang menghalalkan ribâ dengan dalih “Bisnis”. Rosulullah bersabda:
“Akan datang suatu saat nanti kepada umat ini tatkala orang-orang menghalalkan
ribâ dengan dalih bisnis”  [HR. Ibnu Bathah dari Al-Auza’i]

Alasan Pembenaran Pengambilan Ribâ

Sekalipun ayat-ayat dan hadits ribâ sudah sangat jelas dan sharih,
masih saja ada beberapa cendekiawan yang mencoba untuk memberikan pembenaran
atas pengambilan bunga uang. Di antara-nya karena alasan:

1.      Dalam keadaan darurat, bunga halal
hukumnya.

2.      Hanya bunga yang berlipat ganda saja
dilarang. Sedangkan suku bunga yang “wajar” dan tidak mendzalimi,
diperkenankan.

3.      Bank, sebagai lembaga, tidak masuk
dalam kategori mukallaf. Dengan demikian tidak terkena khitab ayat-ayat dan
hadits ribâ.

4.      Hanya ribâ yang konsumtif yang
dilarang, tapi yang produktif tidak apa-apa

1.  Darurat

Untuk lebih memahami pengertian, kita seharusnya melakukan pembahasan
yang komprehensif tentang pengertian darurat ini seperti yang dinyatakan oleh
syara’ (Allah dan rasulNya) bukan pengertian sehari-hari terhadap istilah ini.

Imam As-Suyuthi dalam bukunya Al-Asybah wa an-Nadhâir menegaskan bahwa
“darurat adalah suatu keadaan emergency di mana jika seseorang tidak segera
melakukan sesuatu tindakan dengan cepat, maka akan membawanya ke jurang
kehancuran atau kematian.”

Dalam literatur klasik keadaan emergency ini sering dicontohkan dengan
seorang yang tersesat di hutan dan tidak ada makanan lain kecuali daging babi
yang diharamkan, maka dalam keadaan darurat demikian Allah menghalalkan daging
babi dengan 2 batasan:

“Barangsiapa dalam keadaan terpaksa, seraya dia (1) tidak menginginkan
dan (2) tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun
Maha Penyayang.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 173).

Pembatasan yang pasti terhadap pengambilan dispensasi darurat ini harus
sesuai dengan metodologi ushul fiqh, terutama penerapan al-qawaid al-fiqhiyah
seputar kadar darurat. Sesesuai dengan ayat di atas para ulama merumuskan
kaidah: “Darurat itu harus dibatasi sesuai kadarnya.” Artinya darurat itu ada
masa berlakunya serta ada batasan ukuran dan kadarnya. Contohnya, seandainya di
hutan ada sapi atau ayam maka dispensasi untuk memakan daging babi menjadi
hilang. Demikian juga seandainya untuk mempertahankan hidup cukup dengan tiga
suap maka tidak boleh melampaui batas hingga tujuh atau sepuluh suap. Apalagi
jika dibawa pulang dan dibagi-bagikan kepada tetangga.

2. Berlipat Ganda

Pendapat bahwa bunga hanya dikategorikan ribâ bila sudah berlipat-ganda
dan memberatkan. Sementara bila kecil dan wajar-wajar saja dibenarkan. Pendapat
ini berasal dari pemahaman yang keliru atas Surat Ali-Imran [3] ayat 130.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan ribâ dengan
berlipat-ganda dan bertaqwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapat
keberuntungan.”

Sepintas, surat Ali-Imran [3]: 130 ini memang hanya melarang ribâ yang
berlipat-ganda. Namun pemahaman kembali ayat tersebut secara cermat, termasuk
mengaitkannya dengan ayat-ayat ribâ lainnya. Secara komprehensif, serta
pemahaman terhadap fase-fase pelarangan ribâ secara menyeluruh, akan sampai
pada kesimpulan bahwa ribâ dalam segala bentuk dan jenisnya mutlak diharamkan.

Kriteria berlipat-ganda dalam ayat ini harus dipahami sebagai hal atau
sifat dari ribâ, dan sama sekali
bukan
merupakan syarat. Syarat artinya kalau terjadi pelipat-gandaan, maka ribâ,
jikalau kecil tidak ribâ.

Menanggapi hal ini, Dr. Abdullah Draz, dalam salah satu konfrensi fiqh
Islami di Paris, tahun 1978, me-negaskan kerapuhan asumsi syarat tersebut.
Beliau menjelaskan secara linguistik arti “kelipatan”. Sesuatu berlipat minimal
2 kali lebih besar dari semula. Sementara adalah bentuk jamak dari kelipatan
tadi. Minimal jamak adalah 3. Dengan demikian bararti 3×2=6 kali. Sementara
dalam ayat adalah ta’kid untuk penguatan.

Dengan demikian menurut beliau, kalau berlipat-ganda itu dijadikan
syarat, maka sesuai dengan konsekuensi bahasa, minimum harus 6 kali atau bunga
600%. Secara operasional dan nalar sehat angka itu mustahil terjadi dalam
proses perbankan maupun simpan-pinjam.

Menanggapi pembahasan Qs. Ali-Imran [3] ayat 130 ini Syaikh Umar bin
Abdul Aziz Al-Matruk, menegaskan:

“Adapun yang dimaksud dengan ayat 130 Surat Ali Imran, termasuk redaksi
berlipat-ganda dan pengguna-annya sebagai dalil, sama sekali tidak bermakna
bahwa ribâ harus sedemikian banyak. Ayat ini menegaskan tentang karakteristik
ribâ secara umum bahwa ia mempunyai kecenderungan untuk berkembang dan berlipat
sesuai dengan berjalannya waktu. Dengan demikian redaksi ini (berlipat-ganda)
menjadi sifat umum dari ribâ dalam terminologi syara (Allah dan rasulNya).”

Dr. Sami Hasan Hamoud menjelaskan bahwa, bangsa Arab di samping
melakukan pinjam-meminjam dalam bentuk uang dan barang bergerak juga
melakukannya dalam ternak. Mereka biasa meminjamkan ternak berumur 2 tahun
(bint makhad) dan meminta kembalian berumur 3 tahun (bint labun). Kalau
meminjamkan bint labun meminta kembalian haqqah (berumur 4 tahun). Kalau
meminjamkan haqqah meminta kembalian jadzaah (berumur 5 tahun).

Kriteria tahun dan umur ternak terkadang loncat dan tidak harus
berurutan tergantung kekuatan supply and demand (permintaan dan penawaran) di
pasar. Dengan demikian, kriteria tahun bisa berlipat dari ternak berumur 1 ke
2, bahkan ke 3 tahun.

Perlu direnungi pula bahwa penggunaan kaidah mafhum mukhalafah dalam
konteks Ali-Imran [3]: 130 sangatlah menyimpang baik dari siyaqul kalam,
konteks antar-ayat, kronologis penurunan wahyu, dan sabda-sabda Rasulullah
seputar pembungaan uang serta praktek ribâ pada masa itu.

Secara sederhana, jika kita menggunakan logika mafhum mukhalafah yang
berarti konsekuensi secara terbalik – jikalau berlipat ganda dilarang, maka
kecil boleh; jikalau tidak sendirian, maka bergerombol; jikalau tidak di dalam
maka di luar… dan seterusnya, kita akan salah kaprah dalam memahami pesan-pesan
Allah SWT. Sebagai contoh jika ayat larangan berzina kita tafsirkan secara
mafhum mukhalafah:

“Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah
suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

“Diharamkan bagi kalian (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging
hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.”

Janganlah mendekati zina! Yang dilarang adalah mendekati, berarti
perbuatan zina sendiri tidak dilarang. Demikian juga larangan memakan daging
babi.

Janganlah memakan daging babi! Yang dilarang me-makan dagingnya,
sementara tulang, lemak, dan kulitnya tidak disebutkan secara eksplisit. Apakah
berarti tulang, lemak, dan kulit babi halal?

Pemahaman pesan-pesan Allah seperti ini jelas sangat membahayakan
karena seperti dikemukakan di atas, tidak mengindahkan siyaqul kalam,
kronologis penurunan wahyu, konteks antarayat, sabda-sabda Rasulullah seputar
subjek pembahasan, demikian juga disiplin ilmu bayan, badie, dan maa’nie.

Di atas itu semua harus pula dipahami sekali lagi bahwa ayat 130 Surat
Ali-Imran [3] diturunkan pada tahun ke 3 H. Ayat ini harus dipahami bersama
ayat 278-279 dari surat Al-Baqarah [2] yang turun pada tahun ke 9 H. Para ulama
menegaskan bahwa pada ayat terakhir tersebut merupakan “ayat sapu jagat” untuk
segala bentuk, ukuran, kadar, dan jenis ribâ.

3.        
Badan
Hukum dan Hukum Taklif

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa ketika ayat ribâ turun dan
disampaikan di Jazirah Arabia, belum ada bank atau lembaga keuangan, yang ada
hanyalah individu-individu. Dengan demikian BCA, Bank Danamon, atau Bank Lippo,
tidak terkena hukum taklif karena pada saat Nabi hidup belum ada.

Pendapat ini jelas memiliki banyak kelemahan, baik dari sisi historis
maupun teknis.

Ø  Adalah tidak benar pada zaman pra-Rasulullah
tidak ada “badan hukum” sama sekali. Sejarah Romawi, Persia dan Yunani
menunjukkan ribuan lembaga keuangan yang mendapat pengesahan dari pihak
penguasa. Atau dengan kata lain, perseroan mereka telah masuk ke lembaran negara.

Ø  Dalam tradisi hukum, perseroan atau badan
hukum sering disebut sebagai juridical personality atau syakhsiyah hukmiyah.
Juridical personality ini secara hukum adalah sah dan dapat mewakili
individu-individu secara keseluruhan.

Dilihat dari sisi mudharat dan manfaat, perusahaan da-pat melakukan
mudharat jauh lebih besar dari per seorangan. Kemampuan seorang pengedar
narkotika dibandingkan dengan sebuah lembaga mafia dalam memproduksi,
mengekspor, dan mendistribusikan obat-obat terlarang tidaklah sama lembaga
mafia jauh lebih besar dan berbahaya. Alangkah naifnya bila kita menyatakan apa
pun yang dilakukan lembaga mafia tidak dapat terkena hukum taklif karena bukan
insan mukallaf. Memang ia bukan insan mukallaf tetapi melakukan fi’il mukallaf
yang jauh lebih besar dan berbahaya. Demikian juga dengan lembaga keuangan, apa
bedanya antara seorang rentenir dengan lembaga rente. Kedua-duanya lintah darat
yang mencekik rakyat kecil. Bedanya, rentenir dalam skala kecamatan atau
kabupaten sementara lembaga rente meliputi propinsi, negara, bahkan global.

4.        
Ribâ
yang Produktif

Orang-orang ini beranggapan bahwa ribâ produktif yang diperbolehkan,
boleh menurut mereka ini dasarnya adalah bahwa ribâ yang dilarang sebagaimana
yang terjadi pada masa jahiliyah adalah praktek ribâ untuk keperluan konsumtif.

Alasan seperti ini terlalu dibuat-buat, dan sama saja dengan cermin
sifat-sifat orang munafik dan tingkah laku orang-orang yahudi yang senantiasa
mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan mereka. Lafadz ar-ribâ adalah
bermakna umum. Huruf alif dan lam didepan kata “Arribâ” menunjukkan sifat lil
jins atau lil istighraq yang melukiskan keumumannya. Berdasarkan pengertian
ini, maka lafadz “ar-ribâ” berarti mencakup semua keadaan, baik itu yang
konsumtif maupun yang produktif, keduanya termasuk ribâ yang diharamkan.

Untuk mengecualikan hukum-hukum dari lafadz yang umum diperlukan
dalil-dalil yang lain yang mentakhsiskan (mengkhususkan) keumumannya. Dalam
masalah ribâ, tidak ada satupun nash yang mentakhsiskan hukumnya dari ayat-ayat
yang turun tentang ribâ. Dengan demikian hukum ribâ berlaku sesuai dengan
keumuman lafadznya.

Sekali lagi, Islam mendorong praktek bagi hasil serta meng-haramkan
ribâ. Keduanya sama-sama memberi keuntungan bagi pemilik dana, namun keduanya mempunyai
perbedaan yang sangat nyata. Perbedaan itu dapat dijelaskan dalam tabel
berikut.

 

 

 

 

 

 

Dampak Negatif Ribâ

1.        
Dampak
Ekonomi

Di antara dampak ekonomi ribâ adalah dampak inflatoir yang diakibatkan
oleh bunga sebagai biaya uang. Hal tersebut disebabkan karena salah satu elemen
dari penentuan harga adalah suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, semakin
tinggi juga harga yang akan ditetapkan pada suatu barang.

Dampak lainnya adalah bahwa hutang, dengan rendahnya tingkat penerimaan
peminjam dan tingginya biaya bunga, akan menjadikan peminjam tidak pernah
keluar dari ketergantungan, terlebih lagi bila bunga atas hutang tersebut
dibungakan. Contoh paling nyata adalah hutang negara-negara berkembang kepada
negara-negara maju. Meskipun disebut pinjaman lunak, artinya dengan suku bunga
rendah, pada akhirnya negara-negara penghutang harus berhutang lagi untuk
membayar bunga dan pokoknya. Sehingga, terjadilah hutang yang terus-menerus.
Ini yang menjelaskan proses terjadinya kemiskinan struktural yang menimpa lebih
dari separuh masyarakat dunia.

2.        
Sosial
Kemasyarakatan

Ribâ merupakan pendapatan yang didapat secara tidak adil. Para
pengambil ribâ menggunakan uangnya untuk memerintahkan orang lain agar berusaha
dan mengembalikan misalnya, dua puluh lima persen lebih tinggi dari jumlah yang
dipinjamkannya. Persoalannya, siapa yang bisa menjamin bahwa usaha yang
dijalankan oleh orang itu nantinya mendapatkan keuntungan lebih dari dua puluh
lima persen? Semua orang, apalagi yang beragama, tahu bahwa siapapun tidak bisa
memastikan apa yang terjadi besok atau lusa. Dan siapapun tahu bahwa berusaha
memiliki dua kemungkinan, berhasil atau gagal. Dengan menetapkan ribâ, berarti
orang sudah memastikan bahwa usaha yang yang dikelola past
i untung.

3.     
Azab Allah

Sungguh siapapun yang mengambil Riba pastilah dia akan di azab oleh
Allah. hal ini sesuai dengan sabda Rosulullah :

عَنْ
اِبْنِ
عَبَّاسٍ
قَالَ: نَهَى
رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ وَ
سَلَّمَ أَنْ
تَشْتَرِيَ
الثَّمْرَةَ
حَتَّى تَطْعَمَ
وَ قَالَ:
إِذَا ظَهَرَ
الزِّنَا وَ
الرِّبَا فِي
قَرْيَةٍ
فَقَدْ أَحَلُّوْا
بِأَنْفُسِهِمْ
عَذَابَ
اللهِ

Dari Ibnu
Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk membeli
buah-buahan hingga layak untuk dikomsumsi, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Jika zina dan riba telah dilakukan secara terang-terangan di
suatu daerah, maka pada hakikatnya, penduduk daerah tersebut telah meminta agar
Allah menyiksa mereka.” (Hr. Hakim, no. 2261, diiringi komentar, “Ini adalah
hadits yang shahih.” Pernyataan beliau ini disetujui oleh adz-Dzahabi dan
dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 679).

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas`ud, bahwa Nabi SAW bersabda: “Ribâ
itu mempunyai 73 pintu (tingkatan), yang paling rendah (dosanya) sama dengan
seseorang yang melakukan zina dengan ibunya.”

Ancaman Terhadap Pelaku Ribâ

1. Ancaman Dari al-Qur’an

i. Orang-orang yang memakan harta ribâ itu tidak
dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syethan,
lantaran (tekanan) penmyakit gila… (Qs. al-Baqarah [2]: 275).

Dalam ayat di atas Allah mencela orang yang memakan ribâ (al-ladzîna
ya’kulûna ar-ribâ) seraya menyamakan mereka dengan orang yang berdiri gontal
laksana berdirinya orang yang kerasukan setan; lupa diri dan ingatan, alias
tidak waras (lâ yaqûmûna illâ kamâ yaqûmu al-ladzî yatakhabbatuhu as-syaythân
min al-massi). Celaan ini sangat keras, bahkan sangat menyakitkan. Sebab, Allah
SWT bukan hanya mencela, tetapi telah menyamakan orang yang dicela dengan orang
yang kerasukan setan. Di sini Allah sengaja menggunakan uslûb tasybîh (gaya
perumpamaan) untuk menguatkan negatifnya image orang yang memakan (ya’kulûna)
ribâ atau, menurut Imam As-Suyuthi, juga orang yang menghalalkan
(yastahillûna)-nya.

Abdullah bin Abbas menerangkan mengenai ayat ini bahwasannya pelaku
ribâ dan pemakan kelak di Hari Kiamat akan dikatakan: “Angkatlah senjatamu untuk
berperang”.

Asy-Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni lebih lanjut menerangkan dalam
tafsirnya:

“Dipersamakannya pemakan ribâ dengan orang-orang yang kesurupan adalah
suatu ungkapan yang halus sekali, yaitu Allah memasukkan ribâ ke dalam perut
mereka lalu barang itu memberatkan mereka, yang menyebabkan ia sempoyoingan dan
jatuh bangun. Hal ini menjadi ciri-ciri mereka di Hari Kiamat sehingga semua
orang mengenalnya.”

Sekalipun Allah tidak menyebutkan wajh as-syabah (wujud persamaan)-nya,
setiap orang yang mau membandingkan keduanya akan bisa menemukan jawabannya,
bahwa keduanya sama-sama lupa diri (tidak waras). Sebagian ahli tafsir, seperti
Imam Asy-Syaukani, menafsirkan lâ yaqûmûna (tidak bangkit) adalah tidak bangkit
pada Hari Kiamat. Artinya, pada Hari Kiamat kelak, orang yang memakan ribâ akan
dibangkitkan menjadi gila sebagai siksaan bagi mereka.

Selanjutnya, Allah memberi alasan, mengapa mereka dikatakan “tidak
waras” atau “berdiri gontai”? Jawabannya, karena mereka menganggap, bahwa
jual-beli itu sama dengan ribâ (dzâlika bi annahum qâlû innamâ al-bay’u mitslu
ar-ribâ). Bagaimana tidak, jual-beli yang jelas-jelas berbeda dengan ribâ
dikatakan sama; hukum jual-beli adalah halal, sedangkan ribâ jelas haram (wa
ahalla Allâhu al-bay’a wa harrama ar-ribâ). Di sini Allah menyebut ar-ribâ
setelah al-bay’u, karena ribâ merupakan derivat jual-beli yang ditambah dengan
kompensasi tertentu, baik akibat pertambahan waktu (nasî’ah) maupun kelebihan
pertukaran barang (fadhl); sekalipun kemudian masing-masing mempunyai hukum
berbeda, karena manâth al-hukm (fakta hukum)-nya jelas berbeda. Karena itu,
kecaman di atas bukan hanya ditujukan untuk orang yang memakan ribâ nasî’ah,
tetapi juga untuk ribâ fadhl.

Orang yang telah memakannya sebelum diturunkannya hukum ribâ, kemudian
setelah hukum tersebut turun, dia menghentikan praktek ribâ (faman jâ’ahu
maw’idhatu min rabbihi fantahâ), masih mempunyai hak atas harta yang
diperolehnya di masa lalu (falahu mâ salafa), dan urusannya diserahkan kepada
Allah (wa amruhu ila Allâhi). Akan tetapi, jika setelah diturunkannya hukum
tersebut mereka masih mengulangi praktek yang sama, maka mereka adalah para
penghuni neraka yang akan kekal didalamnya (wa man ‘âda fa’ulâ’ika ashhâbu
an-nâr, hum fîhâ khâlidûn). Pernyataan Allah ini merupakan qarînah (indikator)
yang tegas, yang membuktikan keharaman hukum ribâ.

ii. Kemudian jika kamu
tidak mau mengerjakan (meninggalkan ribâ), maka ketahuilah bahwa Allâh dan
RasulNya akan memerangimu. (Qs. al-Baqarah [2]: 279).

iii. Allâh
memusnahkan ribâ dan meyuburkan sedekah. Dan Allâh tidak menyukai orang yang
tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. (Qs. al-Baqarah [2]: 276).

Dalam ayat di atas, Allah menegaskan, bahwa Dia memusnahkan ribâ dan
menyuburkan sedekah (yamhaqu Allâh ar-ribâ wa yurbî as-shadaqât). Allah
menyatakan demikian untuk membalik persepsi, bahwa sekalipun secara matematis
ribâ menguntungkan, di sisi Allah dinihilkan. Sebaliknya, sedekah yang secara
matematis merugikan, karena harta yang disedekahkan berkurang, di sisi Allah
dilipatgandakan. Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan: Wallâhu la yuhibbu
kulla kaffârin atsîm (Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam
kekafiran dan selalu berbuat dosa).

2. Ancaman Dalam Hadits Dan Pendapat Para
Shahabat

Tidak ada
seorang Muslimpun yang tidak mengetahui bahwa melakukan ribâ adalah sesuatu
yang terlarang dan harus dihindari. Bahkan ribâ termasuk salah satu dosa besar.
Dari  Abu Hurairah ra., ia berkata bahwasanya Rasulullah SAW telah
bersabda:

“Tinggalkanlah
tujuh hal yang dapat membinasakan…(salah satunya adalah) memakan ribâ…” [HR.
Bukhari dan Muslim].

Oleh karena
itu, orang yang melakukan ribâ akan mendapatkan laknat dari Allah SWT,
sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bahwasanya Rasulullah SAW telah melaknat
orang yang memakan ribâ, yang memberi makan, penulisnya dan dua orang saksinya.
Beliau bersabda:

“Mereka itu
(yang memakan ribâ, yang memberi makan dari hasil ribâ, yang menulis dan
saksinya) sama saja (hukumannya).” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hudzaifah].

Didalam
hadits-hadits yang lain dinyatakan bahwa perbuatan ribâ lebih menjijikkan dari
pada perbuatan zina. Dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi SAW bersabda:

“Ribâ itu
mempunyai 73 pintu; sedangkan yang paling ringan adalah seperti seseorang yang
bersetubuh dengan ibunya…” [HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim, no. 2275, dari Ibnu
Mas’ud dengan sanad shaih].

“Satu dirham
yang diperoleh seseorang dari hasil ribâ lebih besar dosanya 36 kali daripada
perbuatan zina dalam Islam.” [HR. Baihaqi dari Anas bin Malik].

“Apabila
muncul perzinaan dan (berbagai jenis dan bentuk) riba dalam suatu negeri
(kampung), maka benar-benar orang sudah mengabaikan (tidak peduli) sama sekali
terhadap azab Allah (yang akan menimpa mereka).” [HR. Thabrani dan al Hakim].

Dalam
menanggapi Qs. al-Baqarah [2]: 275, Abdullah bin Abbas ra. Berkata: “Siapa saja
yang masih tetap mengambil ribâ dan tidak mau meninggalkannya, maka telah
menjadi kewajiban bagi seorang Imam (Khalifah) untuk menasehati orang-orang
tersebut. Jika mereka masih tetap keras kepala, maka seorang Imam dibolehkan
untuk memenggal lehernya.”

Menurut
Muhammad Ali As-Sais, jika seseorang melakukan perbuatan ribâ tetapi tidak
taubat, maka seorang Imam harus menjatuhkan hukuman ta’zir terhadap orang
tersebut.

Berdasarkan
keterangan di atas apabila Daulah Khilafah Islamiyyah (Negara Khilafah) telah
berdiri, maka praktek-praktek ribâ apapun bentuk dan namanya harus dihapuskan.
Bagi orang yang masih melakukan ribâ akan menghadapi sanksi yang sangat keras
di dunia, dan akhirat kelak akan mendapatkan dirinya dilempar dan kekal di
neraka.

Abu Hurairah ra. Berkata bahwasanya Rasulullah
SAW telah bersabda:

“Tatkala
malam aku dimi’rajkan, aku melihat suatu kaum yang perut mereka bagaikan rumah,
tampak di dalamanya ular-ular berjalan keluar, lalu aku bertanya: ‘Siapakah
mereka itu wahai Jibril?’ Jawab Jibril, ‘Mereka adalah para pemakan ribâ’”.

Barangkali
ada baiknya jika kita meneladani bagaimana sikap para Shahabat dalam menghadapi
persoalan ioni. Diriwayatkan bahwa Umar ra. Berkata: “Di antara ayat-ayat yang
terakhir turunya adalah ayat tentang ribâ, dan Rasulullah meninggal dunia sebelum
menerangkan perinciannya kepada kami, oleh karena itu tinggalkanlah ribâ dan
setiap hal yang meragukan.”

“Sungguh akan
datang pada manusia suatu masa (tatkala) tiada seorang pun di antara mereka
yang tidak akan memakan (harta) ribâ.  Siapa saja yang (berusaha) tidak
memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (ribâ)-nya.” [HR. Ibnu Majah, no.
2278].

 

Oleh Karena
itu bagi kaum Muslimin yang telah mengetahui persoalan ini hendaknya bertindak
sami’na wa ‘atha’na (kami dengar     dan kami mentaatinya).
Sebab, hukum haramnya ribâ telah sampai kepada kita. Tidak ada hak bagi
seorangpun untuk mencari-cari alasan guna menghindari haramnya hukum ribâ dan
tidak ada dalil sedikitpun yang membolehkan persoalan ini dari keharamannya.
Tidak ada seruan yang paling baik dalam masalah ini selain apa yang diserukan
Allah dan RasulNya. Tidak ada ketaatan terhadap makhluq dalam hal
persoalan-persoalan yang ia melanggar ketentuan Allah dan RasulNya.

Tidaklah
terbayangkan betapa dahsyatnya balasan bagi para pelaku ribâ, pedihnya siksaan
yang akan dialami dan sepanjang hidupnya mendapatkan laknat Allah dan RasulNya?
Atau, tidakkah kalian perhatikan bagaimana ancaman hukuman yang terdapat pada
ayat ribâ yang merupakan peringatan Allah SWT kepada kita:

Dan
peliharalah dirimu (dari adzab) pada suata hari, dimana kamu sekalian akan
dikembalikan kepada Allah di hari itu, kemudian masing-masing jiwa akan dibalas
dengan sempurna apa yang telah dikerjakannya itu dan mereka tidak akan
dianiaya. (Qs. al-Baqarah [2]: 281).

Konsep Bunga di
Kalangan Yunani dan Romawi

Plato (427 – 347
SM) mengecam sistem  bunga berdasarkan
dua alasan yaitu,

a.        
pertama: bunga menyebabkan perpecahan dan perasaan
tidak puas dalam masyarakat,

b.        
kedua: bunga merupakan alat golongan kaya untuk
mengeksploitasi golongan miskin.

Aristoteles (384 -
322 SM)

berpendapat
bahwa fungsi uang adalah sebagai alat tukar (medium of exchange) bukan alat
untuk menghasilkan tambahan melalui bunga. Bunga menurutnya adalah uang yang
berasal dari uang yang keberadaannya dari sesuatu yang asalnya tidak akan
terjadi, oleh karena itu bunga adalah suatu yang tidak adil.

Ø  Para ahli filsafat
Romawi, juga mengecam praktek pengambilan bunga dengan alasan yang kurang lebih
sama dengan yang dikemukakan ahli filsafat Yunani

Ø  Cicero memberi
nasehat kepada anaknya agar menjauhi dua pekerjaan yaitu memungut cukai dan
memberi pinjaman

Ø  Cato memberikan dua
ilustrasi untuk melukiskan perbedaan antara perniagaan dan memberi pinjaman

 

§  Perniagaan adalah
pekerjaan beresiko tinggi sedangkan memberi pinjaman (dengan bunga) adalah
sesuatu yang tidak sopan

§  Dalam tradisi
mereka seorang pencuri akan didenda dua kali lipat sedangkan pemakan bunga akan
didenda empat kali lipat

Ø 
Kitab Ulangan 23 : 19 – 20

     “Janganlah
engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan atau apapun
yang dapat dibungakan. Dari orang asing boleh engkau memungut bunga, tetapi
dari saudaramu janganlah engkau memungut bunga…”

Ø 
Kitab Keluaran 22 : 25

     “ Jika
engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umatku, orang yang miskin
diantaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang
terhdap dia; janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.”

Ø 
Kitab Imamat 25 : 35 – 37

  “Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga
tidak sanggup bertahan diantaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai
orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup diantaramu. Janganlah engkau
mengambil bunga uang atau riba daripadanya, melainkan engkau harus takut akan
Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup diantaramu. Janganlah engkau memberi
uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kau berikan
dengan meminta riba.”

Pandangan Sarjana
Kristen Abad XII-XV

Ø   
Robert A Courcon (1152-1218)

Ø   
William A

Ø   
St Raymond of Pennafore (1180-1278)

Ø   
St Bonaventura (1211-1274)

Ø   
St Thomas Aquimas (1225-1274)

ü Bunga dibedakan
menjadi interest dan usury

ü Niat atau perbuatan
untuk mendapatkan keuntungan dengan memberikan pinjaman adalah suatu dosa yang
bertentangan dengan konsep keadilan.

ü Mengambil bunga
dari pinjaman diperbolehkan, namun haram tidaknya tergantung niat pemberi uang.

 

 

 

 

 

Pandangan Reformis
Kristen Abad XVI – IX

Ø  John Calvin (1509 –
1564)

Ø  Gau

Ø  Martin Luther (1463
– 1546)

Ø  Melancthon (1497 -
1560)

Ø  Zwingli (1484 -
1531)

ü  Dosa apabila bunga
memberatkan

ü  Uang dapat membiak
(kontra dengan Aristoteles)

ü  Tidak menjadikan
pengambil bunga sebagai profesi

ü  Jangan mengambil
bunga dari orang miskin

Referensi

 [1] Lihat Imam Ath-Thabariy,
Tafsir Ath-Thabariy, juz I, hal. 388; Imam Al-Qurthubiy, Tafsir Al-Qurthubiy,
juz I, hal. 348; Imam Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, juz I, hal. 294; Asy-Syaikh
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Tafsir Ayat Al-Ahkhâm, juz I, hal. 421; Asy-Syaikh
Muhammad Ali As-Sais, Tafsir Ayat Al-Akhâm, hal. 162.

[2] Lihat Imam Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, juz I, hal. 294.

[3] Lihat Asy-Syaikh Muhammad Ahmad ad-Da’ur, Radd ‘alâ Muftarayât
Hawla Hukm ar-Ribâ wa Fawâ’id al-Bunûk, hal. 35 – 36.

[4] Lihat Asy-Syaikh Abdurrahman Taj, dalam majalah Alliwâ Al-Islam
Edisi II/1952.

[5] Lihat Drs Shadiq SE dan H. Shallahuddin Chaeri, Kamus Istillah
Agama, hal. 591.

[6] Lihat Asy-Syaikh Abdurrahman al- Jazairi, al-Fiqh ‘ala Madzhaabil
Arba’ah, jilid III, hlm. 202 dan 204

[7] Lihat Imam Al-Qurthubiy, Tafsir Al-Qurthubiy, juz I, hal. 358.

[8] Lihat Imam As-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsûr, juz II, hal. 105.

[9] Lihat Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, juz I, hal. 326.

[10] Lihat Asy-Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Tafsir Ayat Al-Ahkhâm,
juz I, hal. 425.

[11] Lihat Imam Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, juz I, hal. 295.

[12] Lihat Imam Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, juz I, hal. 294.

[13] Lihat Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, juz I, hal. 330 – 331.

 

 

 

Bab
V

 Perkembangan Sistem Perbankan Syariah

A. PENDAHULUAN

Dalam Bab 1 kita telah mendapatkan
gambaran mengenai cakupan ajaran Islam yang meliputi seluruh aspek hidup
manusia. Kita juga telah membahas bahwa walaupun di zaman Nabi SAW belum ada
institusi bank, tetapi ajaran Islam sudah memberikan prinsip-prinsip dan
filosofi dasar yang harus dijadikan pedoman dalam aktifitas perdagangan dan
perekonomian. Karena itu, dalam menghadapi masalah muamalah kontemporer yang
harus dilakukan hanyalah mengidentifikasi prinsip-prinsip dan filosofi dasar
ajaran Islam dalam bidang ekonomi, dan kemudian mengidentifkasi semua hal yang
dilarang. Setelah kedua hal ini dilakukan, maka kita dapat melakukan inovasi
dan kreativitas (ijtihad) seluas-luasnya untuk memecahkan segala persoalan
muamalah kontemporer, termasuk persoalan perbankan.

 

Namun, sebelum “proses ijtihad”
dalam persoalan perbankan ini kita lakukan, kita sebaiknya meneliti terlebih
dahulu apakah persoalan perbankan ini benar-benar merupakan suatu persoalan
yang baru bagi

umat Islam atau bukan.

 

Apakah konsep “bank” merupakan
konsep yang asing dalam sejarah perekonomian umat Islam? Pertanyaan ini
Apakah Perbankan Syariah merupakan konsep
yang baru?
Amat penting untuk dijawab karena
akan menentukan langkah kita selanjutnya. Bila konsep bank adalah konsep yang
baru bagi umat Islam, maka kita harus memulai langkah ijtihad kita dari nol.
Namun, bila konsep bank bukan konsep yang baru, artinya umat Islam sudah
mengenal bahkan mempraktekkan fungsi-fungsi perbankan dalam kehidupan perekonomiannya,
maka proses ijtihad yang harus kita lakukan tentunya akan menjadi lebih mudah.
Bab ini akan memberikan jawaban atas pertanyaan di atas, dengan menelusuri
secara singkat praktek-praktek perbankan yang dilakukan oleh umat muslim
sepanjang sejarah.

 

B. PRAKTEK PERBANKAN DI ZAMAN NABI
SAW DAN SAHABAT

Perbankan adalah satu lembaga yang
melaksanakan tiga fungsi utama, yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang,
dan memberikan jasa pengiriman uang. Di dalam sejarah perekonomian kaum
muslimin, pembiayaan yang dilakukan dengan akad yang sesuai syariah telah
menjadi bagian dari tradisi umat Islam sejak jaman Rasulullah saw.
Praktek-praktek seperti menerima titipan harta, meninjamkan uang untuk
keperluan konsumsi dan untuk keperluan bisnis, serta melakukan pengiriman uang,
telah lazim dilakukan sejak zaman Rasulullah. Dengan demikian, fungsi-fungsi
utama perbankan modern yaitu menerima deposit, menyalurkan dana, dan melakukan
transfer dana telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat
Islam, bahkan sejak zaman Rasulullah.

 

Rasulullah SAW yang dikenal dengan
julukan al-Amin, dipercaya oleh masyarakat Mekah menerima simpanan harta,
sehingga pada saat terakhir sebelum Rasul hijrah ke Madinah, beliau meminta
Sayidina Ali ra untuk mengembalikan semua titipan itu kepada yang memilikinya.
Dalam konsep ini, yang dititipi tidak dapat memanfaatkan harta titipan
tersebut.

 

Bank:

Lembaga yang melaksanakan

3 fungsi utama:

1. menerima simpanan uang

2. meminjamkan uang

3. memberikan jasa pengiriman
uang

 

Seorang sahabat Rasulullah, Zubair
bin al Awwam, memilih tidak menerima titipan harta. Beliau lebih suka
menerimanya dalam bentuk pinjaman. Tindakan Zubair ini menimbulkan implikasi
yang berbeda: pertama, dengan mengambil uang itu sebagai pinjaman, beliau mempunyai
hak untuk memanfaatkannya; kedua, karena bentuknya pinjaman, maka ia
berkewajiban mengambalikannya utuh.

 

Sahabat lain, Ibnu Abbas tercatat
melakukan pengiriman uang ke Kufah. Juga tercatat Abdullah bin Zubair di Mekah
juga melakukan pengiriman uang ke adiknya Misab bin Zubair yang tinggal di
Irak. Penggunaan cek juga telah dikenal luas sejalan dengan meningkatnya
perdagangan antara negeri Syam dengan Yaman, yang paling tidak berlangsung dua
kali setahun. Bahkan di jaman Umar bin Khattab ra, beliau menggunakan cek untuk
membayar tunjangan kepada mereka yang berhak. Dengan cek ini kemudian mereka
mengambil gandum di Baitul Mal yang ketika itu diimpor dari Mesir.

 

Pemberian modal untuk modal kerja
berbasis bagi hasil, seperti mudharabah, musyarakah, muzara’ah, musaqah, telah
dikenal sejak awal diantara kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Jelaslah bahwa ada
individu-individu yang telah melaksanakan fungsi perbankan di zaman Rasulullah
SAW, meskipun individu tersebut tidak melaksanakan seluruh fungsi perbankan.
Ada sahabat yang melaksanakan fungsi menerima titipan harta, ada sahabat yang
melaksanakan fungsi pinjam-meminjam uang, ada yang melaksanakan fungsi
pengiriman uang, dan ada pula yang memberikan modal kerja.

 

Fungsi-fungsi
Bank sudah dipraktekkan oleh para sahabat di

zaman Nabi SAW:

1. Menerima
Simpanan Uang

2. Memberikan
Pembiayaan

3. Jasa Transfer
Uang

Biasanya satu orang hanya melakukan satu fungsi
saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

Beberapa istilah perbankan modern
bahkan berasal dari khazanah ilmu fiqih, seperti istilah kredit (Inggris:
credit; Romawi: credo) yang diambil dari istilah qard. Credit dalam bahasa
Inggris berarti meminjamkan uang; credo berarti kepercayaan; sedangkan qard
dalam fiqih berarti meminjamkan uang atas dasar kepercayaan. Begitu pula istilah
cek (Inggris: check; Perancis: cheque) yang diambil dari istilah saq (suquq).
Suquq dalam bahasa Arab berarti pasar, sedangkan cek adalah alat bayar yang
biasa digunakan di pasar.

 

C. PRAKTEK PERBANKAN DI ZAMAN BANI
UMAYYAH DAN BANI ABASIAH

Jelas saja institusi bank tidak
dikenal dalam kosa kata fikih Islam, karena memang institusi ini tidak dikenal
oleh masyarakat Islam di masa Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah,
maupun Bani Abbasiyah. Namun fungsi-fungsi perbankan yaitu menerima deposit,
menyalurkan dana, dan transfer dana telah lazim dilakukan, tentunya dengan akad
yang sesuai syariah. Di jaman Rasulullah saw fungsi-fungsi tersebut dilakukan
oleh perorangan, dan biasanya satu orang hanya melakukan satu fungsi saja.

 

Baru kemudian, di jaman Bani
Abbasiyah, ketiga fungsi perbankan dilakukan oleh satu individu. Fungsi-fungsi
perbankan yang dilakukan oleh satu individu, dalam sejarah Islam telah dikenal
sejak zaman Abbasiyah.
Perbankan mulai berkembang pesat ketika beredar banyak
jenis mata uang pada zaman itu sehingga perlu keahlian khusus untuk membedakan
antara satu mata uang dengan mata uang lainnya. Ini diperlukan karena setiap
mata uang mempunyai kandungan logam mulia yang berlainan sehingga mempunyai
nilai yang berbeda pula. Orang yang mempunyai keahlian khusus ini disebut
naqid, sarraf, dan jihbiz. Hal ini merupakan cikal-bakal praktek penukaran mata
uang (money changer).

 

 

Istilah jihbiz mulai dikenal sejak
zaman Muawiyah (661-680M) yang sebenarnya dipinjam dari bahasa Persia, kahbad
atau kihbud. Pada masa pemerintahan Sasanid, istilah ini dipergunakan untuk
orang yang ditugaskan mengumpulkan pajak tanah.

 

Peranan banker pada zaman Abbasiyah
mulai populer pada pemerintahan Muqtadir (908-932M). Saat itu, hampir setiap
wazir mempunyai bankir sendiri. Misalnya, Ibnu Furat menunjuk Harun ibnu Imran
dan Joseph ibnu wahab sebagai bankirnya. Lalu Ibnu Abi Isa menunjuk Ali ibn
Isa, Hamid ibnu Wahab menunjuk Ibrahim ibn Yuhana, bahkan Abdullah al-Baridi
mempunyai tiga orang banker sekaligus: dua Yahudi dan satu Kristen.

 

Kemajuan praktek perbankan pada
zaman itu ditandai dengan beredarnya saq (cek) dengan luas sebagai media
pembayaran. Bahkan, peranan bankir telah meliputi tiga aspek, yakni menerima
deposit, menyalurkannya, dan mentransfer uang. Dalam hal yang terakhir ini,
uang dapat ditransfer dari satu negeri ke negeri lainnya tanpa perlu
memindahkan fisik uang tersebut. Para money changer yang telah mendirikan
kantor-kantor di banyak negeri telah memulai penggunaan cek sebagai media
transfer uang dan kegiatan pembayaran lainnya. Dalam sejarah perbankan Islam,
adalah Sayf al- Dawlah al-Hamdani yang tercatat sebagai orang pertama yang
menerbitkan cek untuk keperluan kliring antara Baghdad (Irak) dan Aleppo
(Spanyol sekarang).

 

D. PRAKTEK PERBANKAN DI EROPA

Dalam perkembangan selanjutnya,
kegiatan yang dilakukan oleh perorangan jihbiz kemudian dilakukan oleh
institusi yang saat ini dikenal sebagai institusi bank. Ketika bangsa Eropa
mulai menjalankan praktek perbankan, persoalan mulai timbul karena transaksi
yang dilakukan menggunakan instrumen bunga yang dalam pandangan fikih adalah
riba, dan oleh karenanya haram. Transaksi berbasis bunga ini semakin merebak
ketika Raja Henry VIII pada tahun 1545 membolehkan bunga (interest) meskipun
tetap mengharamkan riba (usury) dengan syarat bunganya tidak boleh berlipat
ganda (excessive). Ketika Raja Henry VIII wafat, ia digantikan oleh Raja Edward
VI yang membatalkan kebolehan bunga uang. Ini tidak berlangsung lama. Ketika
wafat, ia digantikan oleh Ratu Elizabeth I yang kembali membolehkan bunga uang.

 

Selanjutnya, bangsa Eropa mulai
bangkit dari keterbelakangannya dan mengalami renaissance. Penjelajahan dan
penjajahan mulai dilakukan ke seluruh penjuru dunia, sehingga kegiatan
perekonomian dunia mulai didominasi oleh bangsa-bangsa Eropa. Pada saat yang
sama, peradaban muslim mengalami kemerosotan dan negara-negara muslim satu per
satu jatuh ke dalam cengkeraman penjajahan bangsabangsa Eropa. Akibatnya,
institusi-institusi perekonomian umat muslim runtuh dan digantikan oleh
institusi ekonomi bangsa Eropa. Keadaan ini berlangsung terus sampai zaman
modern kini. Karena itu, institusi perbankan yang ada sekarang di mayoritas
negara-negara muslim merupakan warisan dari bangsa Eropa, yang notabene
berbasis bunga.

 

E. PERBANKAN SYARIAH MODERN

Selanjutnya, karena bunga ini
secara fikih dikategorikan sebagai riba (dan karenanya haram), maka mulai
timbul usaha-usaha di sejumlah negara muslim untuk mendirikan lembaga
alternatif terhadap bank yang ribawi ini. Hal ini terjadi terutama setelah
bangsa-bangsa muslim mendapatkan kemerdekaannya dari penjajahan bangsa-bangsa
Eropa. Usaha modern pertama untuk mendirikan bank tanpa bunga pertama kali
dilakukan di Malaysia pada pertengahan tahun 40-an, namun usaha ini tidak
sukses.9 Selanjutnya, eksperimen lainnya dilakukan di Pakistan pada akhir tahun
50-an, di mana suatu lembaga perkreditan tanpa bunga didirikan di pedesaan
negara itu.

 

Namun demikian, eksperimen
pendirian bank syariah yang paling sukses dan inovatif di masa modern ini
dilakukan di Mesir pada tahun 1963, dengan berdirinya Mit Ghamr Local Saving
Bank. Bank ini mendapat sambutan yang cukup hangat di Mesir, terutama dari kalangan
petani dan masyarakat pedesaan. Jumlah deposan bank ini meningkat luar biasa
dari 17,560 di tahun pertama (1963/1964) menjadi 251,152 pada 1966/1967. Jumlah
tabungan pun meningkat drastis dari LE40,944 di akhir tahun pertama (1963/1964)
menjadi LE1,828,375 di akhir periode 1966/1967. Namun sayang, karena terjadi
kekacauan politik di Mesir maka Mit Ghamr mulai mengalami kemunduran, sehingga
operasionalnya diambil alih oleh National Bank of Egypt dan bank sentral Mesir
pada 1967. Pengambilalihan ini menyebabkan prinsip nirbunga pada Mit Ghamr
mulai ditinggalkan, sehingga bank ini kembali beroperasi berdasarkan bunga.
Pada 1971 akhirnya konsep nir-bunga kembali dibangkitkan pada masa rezim Sadat
melalui pendirian Nasser Social Bank. Tujuan bank ini adalah untuk menjalankan
kembali bisnis yang berdasarkan konsep yang telah dipraktekkan oleh Mit Ghamr.

 

Kesuksesan Mit Ghamr ini memberi
inspirasi bagi umat muslim di seluruh dunia, sehingga timbullah kesadaran bahwa
prinsip-prinsip Islam ternyata masih dapat diaplikasikan dalam bisnis modern.
Ketika OKI akhirnya terbentuk, serangkaian konferensi internasional mulai
dilangsungkan, di mana salah satu agenda ekonominya adalah pendirian bank
Islam. Akhirnya terbentuklah Islamic Development Bank (IDB) pada bulan Oktober
1975 yang beranggotakan 22 negara Islam pendiri. Bank ini menyediakan bantuan
finansial untuk pembangunan negara-negara anggotanya, membantu mereka untuk
mendirikan bank Islam di negaranya masing-masing, dan memainkan peranan penting
dalam penelitian ilmu ekonomi, perbankan dan keuangan Islam. Kini, bank yang
berpusat di Jeddah-Arab Saudi itu telah memiliki lebih dari 43 negara anggota.

 

Pada perkembangan selanjutnya di
era 70-an, usaha-usaha untuk mendirikan bank Islam mulai menyebar ke banyak
negara. Beberapa negara seperti Pakistan, Iran dan Sudan, bahkan mengubah
seluruh sistem keuangan di negara itu menjadi sistem nir-bunga, sehingga semua
lembaga keuangan di negara tersebut beroperasi tanpa menggunakan bunga. Di
negara Islam lainnya seperti Malaysia dan Indonesia, bank nir-bunga beroperasi
berdampingan dengan bank bank konvensional.

 

Kini, perbankan syariah telah
mengalami perkembangan yang cukup pesat dan menyebar ke banyak negara, bahkan
ke negaranegara Barat. The Islamic Bank International of Denmark tercatat
sebagai bank syariah pertama yang beroperasi di Eropa, yakni pada tahun 1983 di
Denmark.12 Kini, bank-bank besar dari negara-negara Barat seperti Citibank, ANZ
Bank, Chase Manhattan Bank dan Jardine Fleming telah pula membuka Islamic window
agar dapat memberikan jasa-jasa perbankan yang sesuai dengan syariat Islam.

 

Gambar 2.2 di bawah ini memberikan
peta singkat evolusi kegiatan perbankan yang dipraktekkan oleh masyarakat
muslim sepanjang sejarah. Jadi dari segi proses evolusi, embrio kegiatan
perbankan dalam masyarakat Islam dilakukan oleh seorang individu untuk satu
fungsi perbankan. Kemudian berkembang profesi jihbiz, yaitu seorang individu
melakukan ketiga fungsi perbankan. Lalu kegiatan tersebut diadopsi oleh
masyarakat Eropa abad pertengahan, dan pengelolaannya dilakukan oleh institusi,
namun kegiatannya mulai dilakukan dengan basis bunga. Karena mundurnya
peradaban umat muslim dan penjajahan bangsa-bangsa Barat terhadap negara-negara
muslim, maka evolusi praktek perbankan yang sesuai syariah sempat terhenti
beberapa abad. Baru pada abad 20 ketika bangsa muslim mulai merdeka,
terbentuklah bank syariah modern di sejumlah negara dan insya Allah akan terus
mengalami perkembangan.

 

Evolusi kegiatan perbankan dalam

masyarakat
Islam:

1. individu,

(Nabi/sahabat) melakukan satu fungsi perbankan

3. bank,

sebuah institusi
melakukan ketiga fungsi

perbankan
(diadopsi oleh masyarakat Eropa

abad pertengahan,
namun kegiatannya mulai

dilakukan dengan basis bunga).

2. jihbiz,

seorang individu melakukan ketiga fungsi perbankan

4. bank
syariah modern,

institusi yang
melakukan ketiga fungsi perbankan,

dengan berlandaskan syariah Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.2

 

F. PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI
INDONESIA

Di Indonesia, bank syariah yang
pertama didirikan pada tahun 1992 adalah Bank Muamalat. Walaupun
perkembangannya agak terlambat bila dibandingkan dengan negara-negara Muslim
lainnya, perbankan syariah di Indonesia akan terus berkembang. Bila pada tahun
1992-1998 hanya ada satu unit bank syariah di Indonesia, maka pada 1999
jumlahnya bertambah menjadi tiga unit. Pada tahun 2000, bank syariah maupun
bank konvensional yang membuka unit usaha syariah telah meningkat menjadi 6
unit. Sedangkan jumlah BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah) sudah mencapai 86
unit dan masih akan bertambah. Di tahun-tahun mendatang, jumlah bank syariah
ini akan terus meningkat seiring dengan masuknya pemain-pemain baru,
bertambahnya jumlah kantor cabang bank syariah yang sudah ada, maupun dengan
dibukanya Islamic window di bank-bank konvensional.

 

Dari sebuah riset yang dilakukan
oleh Karim Business Consulting, diproyeksikan bahwa total aset bank syariah di
Indonesia akan tumbuh sebesar 2850% selama 8 tahun, atau rata-rata tumbuh
356.25 % tiap tahunnya. Sebuah pertumbuhan aset yang sangat mengesankan. Tumbuh
kembangnya aset bank syariah ini dikarenakan adanya kepastian di sisi regulasi
serta berkembangnya pemikiran masyarakat tentang keberadaan bank syariah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perkembangan perbankan syariah ini tentunya
juga harus didukung oleh sumber daya insani yang memadai, baik dari segi
kualitas maupun kuantitasnya. Namun realitas yang ada menunjukkan bahwa masih
banyak sumber daya insani yang selama ini terlibat di institusi syariah tidak
memiliki pengalaman akademis maupun praktis dalam Islamic Banking. Tentunya
kondisi ini cukup signifikan mempengaruhi produktifitas dan profesionalisme
perbankan syariah itu sendiri. Dan inilah memang yang harus mendapatkan
perhatian dari kita semua, yakni mencetak sumber daya insani yang mampu
mengamalkan ekonomi syariah di semua lini. Karena sistem yang baik tidak
mungkin dapat berjalan bila tidak didukung oleh sumber daya insani yang baik
pula.

 

Kesimpulan

Setelah kita menelusuri secara
singkat sejarah praktek perbankan yang dilakukan oleh umat muslim, maka kita
dapat mengambil kesimpulan bahwa meskipun kosa kata fikih Islam tidak mengenal
kata “Bank”, namun sesungguhnya bukti-bukti sejarah menyatakan bahwa
fungsi-fungsi perbankan modern telah dipraktekkan oleh umat muslim, bahkan
sejak zaman nabi Muhammad saw. Praktek-praktek fungsi perbankan ini tentunya
berkembang secara berangsur-angsur dan mengalami kemajuan dan kemunduran di
masa-masa tertentu, seiring dengan naik-turunnya peradaban umat muslim. Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa konsep bank bukanlah suatu konsep yang asing
bagi umat muslim, sehingga proses ijtihad untuk merumuskan konsep bank modern
yang sesuai dengan syariah tidak perlu dimulai dari nol. Jadi, upaya ijtihad
yang dilakukan insya Allah akan menjadi lebih mudah.

 

 

Bab VI

Perbedaan Antara Bank Syariah dan
Bank Konvensional

Dalam beberapa hal, bank
syari’ah dan bank konvensional memiliki persamaan terutama dalam sisi teknis
penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat
umum memperoleh pem-biayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan, dan
lain-lain. Akan tetapi terdapat banyak perbedaan mendasar di antara keduanya
yaitu menyangkut aspek legal, stuktur organisasi, usaha yang dibiayai, dan
lingkungan kerja.

1. Akad dan aspek
legalitas

Dalam bank syari’ah, akad yang dilakukan memiliki konsekwensi duniawi
dan ukhrawi, karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum Islam. Sehingga
pelanggaran kesepakatan dapat diminimalisir. Selain itu akad dalam perbankan syari’ah
baik dalam hal barang, pelaku transaksi, maupun keten-tuan lainnya harus
memenuhi ketentuan akad, baik rukun maupun syaratnya.

2. Lembaga
penyelesaian sengketa

Dalam perbankan syari’ah, apabila terdapat perbedaan atau perselisihan
antara bank dan nasabah, kedua belah pihak tidak menyelesaikannya di pengadilan
negeri, tetapi menyelesaikannya sesuai dengan tatacara dan hukum materi
syari’ah. Hukum yang mengatur ini disebut BAMUI yang didirikan bersama antara
MUI dan Kejaksaan Agung.

3. Stuktur organisasi

Dalam stuktur organisasi bank syari’ah memiliki kesamaan dengan bank
konvensional, seperti komisaris maupun direksi. Tetapi unsur yang dapat
membedakan antara bank syari’ah dan konvensional adalah adanya pengawas
syari’ah (DPS) yang bertugas mengawasi operasional bank dan produk-produk agar
sesuai dengan garis-garis syari’ah dan DPS biasanya diletakkan pada posisi
setingkat dewan komisaris pada setiap bank.

Banyaknya DPS pada bank perlu disyukuri, akan tetapi perlu diwaspadai
kemungkinan terjadinya fatwa yang berbeda di masing-masing DPS, maka MUI
sebagai payung dari lembaga organisasi keislaman di Indonesia perlu membentuk
dewan syari’ah secara nasional yang membawahi lembaga-lembaga keuangan termasuk
di dalamnya bank-bank syari’ah. Lembaga ini biasa disebut Dewan Syari’ah
Nasional (DSN), yang berfungsi mengawasi produk-produk keuangan syari’ah agar
sesuai dengan syariat Islam (meneliti dan memberi fatwa bagi produk yang
dikembangkan). DSN juga bertugas memberikan rekomendasi para ulama yang akan
ditugaskan sebagai DSN pada satu lembaga keuangan. Selain itu DSN juga dapat
memberikan teguran dan mengusulkan kepada otoritas yang berwenang untuk
memberikan sanksi kepada bank yang melakukan dan mengembangkan tidak sesuai
syari’ah.

4. Bisnis dan usaha
yang dibiayai

Dalam bank syari’ah, bisnis dan usaha yang dilaksanakan harus sesuai
dengan syari’ah. Karena itu, bank syari’ah tidak akan mungkin membiayai usaha
yang terkandung dalam hal-hal yang diharamkan.

5. Lingkungan kerja
dan corporate culture

Dalam bank syari’ah
haruslah memiliki lingkungan kerja yang sejalan dengan syar’ah. Dalam hal etika
misalnya sifat amanah, shiddiq harus melandasi setiap karyawan, sehingga
tercermin integritas eksekutif muslim yang baik. Begitu pula karyawan bank
harus skillful dan profesional (fathanah) dan mampu melakukan
tugas secara teamwork dimana informasi merata di semua fungsional
organisasi (tabligh) begitu pula dalam hal reward dan punishment
diperlukan prinsip keadilan yang sesuai dengan syari’ah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab VII

Sistem
Operasional Bank Syariah

 

Sebagaimana diuraikan di bab-bab sebelumnya
bahwa prinsip-prinsip dasar sistem ekonomi Islam akan menjadi dasar
beroperasinya bank Islam yaitu yang paling menonjol adalah tidak mengenal
konsep bunga uang dan yang tidak kalah pentingnya adalah untuk tujuan komersial
Islam tidak mengenal peminjaman uang tetapi adalah kemitraan / kerjasama (mudharabah
dan musyarakah) dengan prinsip bagi hasil, sedang peminjaman uang hanya
dimungkinkan untuk tujuan sosial tanpa adanya imbalan apapun.

 

Didalam menjalankan operasinya fungsi bank Islam akan terdiri dari:

1.      Sebagai penerima amanah untuk melakukan investasi atas dana-dana yang
dipercayakan oleh pemegang rekening investasi / deposan atas dasar prinsip bagi
hasil sesuai dengan kebijakan investasi bank.

2.      Sebagai pengelola investasi atas dana yang dimiliki oleh pemilik dana /
sahibul mal sesuai dengan arahan investasi yang dikehendaki oleh pemilik dana
(dalam hal ini bank bertindak sebagai manajer investasi)

3.      Sebagai penyedia jasa lalu lintas pembayaran dan jasa-jasa lainnya
sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah

4.      Sebagai pengelola fungsi sosial seperti pengelolaan dana zakat dan
penerimaan serta penyaluran dana kebajikan ( fungsi optional )

 

Dari fungsi tsb maka produk bank Islam akan terdiri dari :

Prinsip mudharabah

yaitu perjanjian antara dua pihak dimana pihak
pertama sebagai pemilik dana / sahibul mal dan pihak kedua sebagai pengelola
dana / mudharib untuk mengelola suatu kegiatan ekonomi dengan menyepakati
nisbah bagi hasil atas keuntungan yang akan diperoleh sedangkan kerugian yang
timbul adalah resiko pemilik dana sepanjang tidak terdapat bukti bahwa mudharib
melakukan kecurangan atau tindakan yang tidak amanah (misconduct).

 

Pembiayaan

Ø  Berasal dari kata adharbu
fil al ardhi
(ulama Iraq), yaitu bepergian untuk urusan dagang.
Disebut juga qiradh yang berasal dari kata al qardhu (ulama hijaz) yang
berarti al qath’u (potongan), karena pemilik memotong sebagian hartanya
untuk diperdagangkan dan memperoleh sebagian keutungan

Ø  Merupakan bentuk
musyarakah yang paling populer dalam perbankan syariah

Ø  Bentuk kerjasama
antara minimal 2 pihak dimana pemilik modal (shahib al maal) mempercayakan
sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian
keuntungan

Ø  Kontribusi modal
100% dari shahibu al maal dan skill dari mudharib

Ø  Tidak mensyaratkan
adanya wakil shahib al maal dalam manajemen proyek sebagai org kepercayaan

Ø  Mudharib harus
bertindak hati-hati karena harus bertanggung jawab atas kerugian akibat kelalaian
(PSAK 59)

Ø  Musyarakah dan
Mudharabah dalam fikih berbentuk uqud al amanah (perjanjian kepercayaan), yang
menuntut kejujuran yang tinggi dan menjunjung keadilan

Ø  Jumlah modal yang
diserahkan sebaiknya tunai, jika bertahap harus jelas tahapannya dan disepakati
bersama

Ø  Hasil pengelolaan
dapat diperhitungkan dengan 2 cara:

ü  Perhitungan dari
pendapatan proyek (revenue sharing)

ü  Perhitungan dari
keuntungan proyek (profit sharing)

Ø  Hasil usaha dibagi
sesuai akad.

Ø  Shahib al  maal menanggung seluruh kerugian kecuali
akibat kelalaian dan penyimpangan mudharib

Ø  Shahib al maal
dapat melakukan pengawasan  terhadap
pekerjaan namun tidak berhak campur tangan dalam urusan pekerjaan.

Ø  Nasabah/pengelola
yang wanprestasi dapat dikenakan sanksi administrasi

Ø  Landasan Hukum

Al Qur’an

            Dan
jika dari orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah
SWT
.(QS Al Muzzamil
(73):20)

            Apabila
telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah
karunia Allah SWT
.(QS Al Jumuah (63):10)         

Al Hadits

            Dari  Shalih bin Suaib ra bahwa Rasulullah SAW
bersabda,”Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh,
muqaradhah (mudharabah) dan mencampuradukkan gandum dengan tepung untuk
keperluan rumah bukan untuk dijual. (HR. Ibnu Majjah)

Al Hadits

            Diriwayatkan
dari Abbas bahwa Abbas bin Abdul Muthalib jika memberikan dana ke mitra
usahanya secara mudharabah ia mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi
lautan, menuruni lembah berbahaya atau membeli ternak, yang bersangkutan
bertanggung jawab atas dana tersebut. Disampaikannlah syarat-syarat tersebut
kepada Rasulullah SAW dan Rasulullah pun membolehkannya. (HR. Thabrani)

 

 

 

 

 

Skema
Pembiayaan Mudharabah

Rugi

Laba

60 %

40 %

0 %

100 %

Repayment of Capital

100 % modal

management

Bank

Skema Syrikah
Mudharabah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendanaan

Ø  Deposan bertindak
sebagai shahib al maal (pemilik modal) dan bank sebagai mudharib (pengelola)

Ø  Dana dapat
dipergunakan bank untuk melakukan pembiayaan murabahah, ijarah, mudharabah dsb

Ø  Dalam hal dana
dipergunakan untuk pembiayaan mudharabah, maka kerugian menjadi kewajiban bank

Ø  Produk mudharabah
diaplikasikan pada tabungan dan deposito berjangka

Ø  Bank wajib
memberitahukan nisbah & tata cara pemberian keuntungan dan/atau perhitungan
pembagian keuntungan serta risiko yg dpt timbul dr penyimpanan dana

Ø  Dana dpt ditarik
oleh pemilik dana sesuai perjanjian

 

Rukun Mudharabah

Ø  Shahib al maal
(pemilik modal / nasabah)

Ø  Mudharib (Bank)

Ø  Amal (pekerjaan)

Ø  Hasil (bagi hasil)

Ø  Aqad / Ijab qabul

Ø  Contoh Perhitungan
Bagi Hasil :

saldo rata-rata nasabah x keuntungan yang diperoleh produk
x Nisbah saldo rata-rata produk

Ø  Contoh :

Bapak Ahmad
memiliki Deposito Rp. 10.000.000,- Jangka waktu 1 bulan, Nisbah Deposan 57% dan
Bank 43 %, dgn asumsi rata-rata saldo deposito jangka waktu 1 bln Rp.
950.000.000,- dan keuntungan yang diperoleh u/ deposito 1 bln Rp.
30.000.000,-.  Keuntungan Bp Ahmad sbb:

(10.000.000 :
950.000.000) x 30.000.000 x 57 % = 180.000

(Sebelum Pajak)

Berdasarkan kewenangan yang diberikan kepada
mudharib maka mudharabah dibedakan menjadi mudharabah mutlaqah dimana
mudharib diberikan kewenangan sepenuhnya untuk menentukan pilihan investasi
yang dikehendaki, sedangkanjenis yang lain adalah mudharabah muqayyaddah dimana
arahan investasi ditentukan oleh pemilik dana sedangkan mudharib bertindak
sebagai pelaksana/pengelola.

 

1. Mudharabah
Muthlaqah

Ø  Tidak ada
pembatasan bagi bank mempergunakan dana yang dihimpun

Ø  Bank wajib
menginformasikan nisbah dan tata cara serta resiko &  keuntungan, kesepakatan tersebut harus
tercantum pada akad

Ø  Untuk bukti
penyimpanan dapat berupa buku (tabungan dan bilyet (deposito)

Ø  Tabungan dapat
diambil setiap saat, tetapi tidak boleh mengalami saldo negatif

Ø  Deposito hanya
dapat dicairkan sesuai dengan jangka waktu yang disepakati

Ø  Deposito yang
diperpanjang setelah jatuh tempo akan diperlakukan sama seperti deposito baru,
tetapi bila pada akad sudah dicantumkan ARO, maka tidak diperlukan akad baru

 

Skema
Mudharabah Muthlaqah

Penabung /

Deposan

Shahibul Maal

Bank :

-Mudharib

-Wkl Shahibul Maal

 

1. Titip dana

4.Bagi Hasil

2. Pemanfaatan

dana

3. Bagi Hasil

Skema mudharabah
Mutlaqah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Mudharabah
Muqayyadah On Balance Sheet

Ø  Merupakan simpanan
khusus (restricted investment)

Ø  Pemilik dana
menetapkan syarat tertentu yang harus dipatuhi bank (misalnya syarat untuk
bisnis, akad atau nasabah tertentu).

Ø  Bank wajib
menginformasikan nisbah dan tata cara serta resiko &  keuntungan, kesepakatan tersebut harus
tercantum pada akad

Ø  Bank wajib
menerbitkan bukti simpanan khusus dan wajib memisahkan dana dari rekening
lainnya

Ø  Penyaluran dana
mudharabah langsung kepada pelaksana usaha

Ø  Bank bertindak
sebagai perantara (arranger)

Ø  Pemilik dana dapat
menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi bank dalam mencari
kegiatan usaha yang akan dibiayai

Ø  Bukti penyimpanan
berupa bukti simpanan khusus

Ø  Bank wajib
memisahkan dana dari rekening lainnya

Ø  Dicatat pada pos
tersendiri dalam rekening administratif

Ø  Dana simpanan
khusus harus disalurkan secara langsung kepada pihak yang diamanatkan pemilik
dana

Ø  Bank menerima
komisi, sementara antara pemilik dana dan pelaksana usaha berlaku nisbah bagi
hasil

 

Pengusaha

Skema
Mudharabah Muqayyadah

Reksadana

Nasabah

Bank

Proyek

 

 

 

1. Proyek

2. dana

3. Paper

Bank

Reksadana

Manajer

Investasi

 

Investasi

Equity

Obligasi

Lain-Lain

Skema Syirkah Mudharabah
Muqayyadah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prisip Musyarakah

yaitu perjanjian antara pihak-pihak untuk
menyertakan modal dalam suatu kegiatan ekonomi dengan pembagian keuntungan atau
kerugian sesuai nisbah yang disepakati Musyarakah dapat bersifat tetap atau
bersifat temporer dengan penurunan secara periodik atau sekaligus diakhir masa
proyek.

Ø  Merupakan bentuk umum dari usaha bagi hasil

Ø  Sering disebut dengan syarikah, serikat atau kongsi

Ø  Dilandasi keinginan para pihak bekerjasama untuk meningkatkan nilai
assets yang dimiliki secara bersama-sama

Ø  Termasuk dalam golongan ini adalah semua bentuk usaha yang memadukan
seluruh bentuk sumber daya (tangible maupun intangible) serta melibatkan
minimal dua pihak

Ø  Kontribusi para pihak dapat berupa dana, trading assets,
enterpreneurship, skill, property, equipment, paten, goodwill, credit
worthiness dsb, yang dapat dinilai dengan uang

Ø  Bisa dengan batasan waktu maupun tanpa batasan waktu

Ø  Dengan menyatukan semua modal maka pemilik modal berhak turut serta
menentukan kebijakan usaha yang dijalankan pelaksana proyek

Ø  Biaya pelaksanaan dan jangka waktu proyek harus diketahui bersama

Ø  Keuntungan sesuai dengan kesepakatan dan kerugian hanya ditanggung oleh
pemodal yang dibagi secara proposional

Ø  Proyek yang dijalankan harus disebutkan dalam akad

Ø  Pemilik modal dan Pelaksana yang dipercaya tidak boleh :

Ø  Menggabungkan dana proyek dengan dana pribadi

Ø  Menjalankan proyek musyarakah dengan pihak lain tanpa izin pemilik modal
lainnya

Ø  Memberi pinjaman pada pihak lain

Ø  Setelah proyek selesai, modal dapat dikembalikan kepada pemilik modal
bersama bagi hasil, atau sesuai kesepakatan pada akad

Ø  Setiap pemilik modal dapat mengalihkan penyertaan atau digantikan pihak
lain

Ø  Setiap pemilik modal dianggap mengakhiri kerjasama jika :

Ø  Menarik diri dari perserikatan

Ø  Meninggal dunia

Ø  Menjadi tidak cakap hukum

Ø  Landasan Hukum

Al Qur’an

“Maka mereka berserikat pada sepertiga”. (QS
An Nisaa (4):12)

 

“Dan, sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu
sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain kecuali orang yang
beriman dan mengerjakan amal saleh”.(QS Shaad : 24)  

 

Al Hadits

Dari  Abu Hurairah,”Rasulullah SAW
bersabda,”sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman, ”Aku pihak ketiga dari
dua orang yang berserikat selama salah satunya tidak mengkhianati lainnya.(HR.
Abu Dawud)

 

 

 

 

 

 

Skema
Musyarakah

Skema Musyarakah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prinsip Wadiah

adalah titipan dimana pihak pertama menitipkan
dana atau benda kepada pihak kedua selaku penerima titipan dengan konsekuensi
titipan tersebut sewaktu-waktu dapat diambil kembali, dimana penitip dapat
dikenakan biaya penitipan.

Ø  Dari segi bahasa
diartikan sebagai meninggalkan, meletakkan atau meletakan sesuatu pada orang
lain untuk dipelihara dan dijaga

Ø  Secara teknis
berarti titipan murni, dari satu pihak ke pihak lain, baik individu maupun
badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip kehendaki

Ø  Landasan hukum

Al Qur’an

            Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
untuk menyampaikan amanat (titipan) kepada yang berhak menerimanya. (QS An
Nisaa (4) : 58)

           

            Jika sebagian kamu mempercayai
sebagian yang lain, hendaklah yang dipercaya itu menunaikan amanatnya
(utangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya. (QS Al Baqarah (2)
283)

           

Hadits

            Abu Hurairah meriwayatkan bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Sampaikanlah amanat (tunaikan) amanat kepada orang
yang berhak menerimanya dan jangan membalas khianat kepada orang yang telah
mengkhianati”(HR Abu Daud dan menurut Tirmidzi hadis ini Hasan sedangkan Imam
Hakim mengkatagorikan sahih)

            Ibnu Umar berkata bahwasannya Rasulullah SAW telah
bersabda, “tiada kesempurnaan Iman bagi setiap orang yang tidak beramanah,
tiada shalat bagi yang tidak bersuci”.(HR Thabrani)

 

Ø  Prinsip wadiah yang
diterapkan adalah wadiah yad dhamanah, yang diterapkan pada giro

Ø  Pihak yang dititipi
(bank) bertanggung jawab atas keutuhan harta titipian

Ø  Bank boleh
memanfaatkan harta titipan

Ø  Implikasi hukumnya
sama dengan qardh, atau sama dengan yang dilakukan Zubair Bin Awwam pada zaman
Rasulullah SAW

Ø  Prinsip wadiah yang
lain adalah wadiah yad amanah, yaitu harta titipan tidak boleh dimanfaatkan
oleh yang dititipi

Ø  Keuntungan dan
kerugian menjadi hak dan kewajiban bank (pemilik dana dapat diberi bonus tanpa
perjanjian)

Ø  Bank dapat
mengenakan biaya administrasi untuk menutupi biaya yang benar-benar terjadi

Ø  tidak boleh
overdraft

 

 

Skema mekanisme Wadiah

Nasabah

Asset Value

Bank

Pembiayaan

Proyek /

Usaha

Keuntungan / Kerugian

Bagi hasil keuntungan  sesuai kesepakatan dan kerugian

sesuai porsi kontribusi modal

Skema Wadiah
Yad adh-Dhamanah

Nasabah

(penitip)

Bank

(Penyimpan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rukun Wadiah

Ø  Penitip / pemilik
barang / harta (muwaddi’)

Ø  Penerima titipan /
orang yang menyimpan (mustawda’)

Ø  Barang / harta yang
dititipkan

Ø  Aqad / Ijab Qabul

 

Berdasarkan kewenangan yang diberikan maka
wadiah dibedakan menjadi wadiah ya dhamanah yang berarti penerima
titipan berhak mempergunakan dana/barang titipan untuk didayagunakan
tanpa ada kewajiban penerima titipan untuk memberikan imbalan kepada
penitip dengan tetap pada kesepakatan dapat diambil setiap saat
diperlukan, sedang disisi lain wadiah amanah tidak memberikan kewenangan
kepada penerima titipan untuk mendayagunakan barang/dana yang dititipkan.

 

Prinsip Jual Beli (Al Buyu’)

Al Bai’ (Jual-Beli)

Ø  Prinsip sehubungan
dengan adanya perpindahan kepemilikan barang atau benda (transfer of property)

Ø  Tingkat keuntungan
bank ditentukan di muka dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual

Ø  Jenis-jenis Al Bai’
adalah :

ü  Murabahah
(Angsuran/Bai’ Bi tsaman ajil dan Tangguh)

ü  Salam

ü  Istishna

 

 

 

 

Al Bai’ – Murabahah

Murabahah yaitu
akad jual beli antara dua belah pihak dimana pembeli dan penjual menyepakati
harga jual yang terdiri dari harga beli ditambah ongkos pembelian dan
keuntungan bagi penjual. Murabahah dapat dilakukan secara tunai bisa juga
secara bayar tangguh atau bayar dengan angsuran.

Ø  Berasal dari kata
Ribhu (keuntungan) yaitu jual beli dimana bank menyebut jumlah keuntungannya

Ø  Bank sebagai
penjual dan nasabah sebagai pembeli

Ø  Harga jual adalah
harga beli dari pemasok ditambah dengan biaya bank ditambah dengan marjin keuntungan
(cost plus profit). Biaya bank tersebut antara lain ekuivalen harapan bagi
hasil untuk deposan, overhead cost dan faktor resiko

Ø  Kedua belah pihak
wajib menyepakati akad yang berisikan harga jual dan jangka waktu pembayaran

Ø  Akad tidak dapat
diubah selama masa berlakunya

Ø  Lazimnya dilakukan
secara bi tsaman ajil atau cicilan

Ø  Landasan Hukum

Al Qur’an

      Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba (QS Al Baqarah (2) : 275)     

Al Hadits

      dari Suaib ar-Rumi ra bahwa Rasulullah
SAW bersabda,”Tiga hal yang di dalam terdapat keberkahan : jual beli secara
tangguh, muqaradhah (mudharabah) dan mencampur gandum dengan tepung untuk
keperluan rumah, bukan untuk dijual”(HR. Ibnu Majah)

 

Ø  Bank dan pembeli
melakukan negosiasi tentang :

ü  Jumlah

ü  Kualitas

ü  Harga

ü  Profit margin bank

ü  Cara pembayaran
nasabah

Ø  Jenis-jenis barang
yang dapat diperjualbelikan antara lain barang konsumsi, modal kerja dan
investasi

Ø  Nasabah yang lalai
dapat  dikenakan penalty

Ø  Discount dapat
diberikan kepada nasabah yang mempercepat pembayaran (tidak diperjanjikan pada
nasabah)

Ø  Nasabah dapat
diwajibkan menyediakan uang muka yang dihitung dari harga beli barang atau
sebesar minimal yang ditetapkan bank

Ø  Nasabah dapat
dikenakan biaya administrasi sesuai ketentuan Bank

 

 

 

 

Al Bai’ – Salam          

Salam yaitu
pembelian barang dengan pembayaran dimuka dan barang diserahkan kemudian

Ø  Dalam bahasa, salama
sama dengan salafa, yaitu pemesan barang menyerahkan uangnya di
tempat akad.

Ø  Menurut sayyid
sabiq dalam fiqqih sunnah, as-salam dinamai juga as-salaf (pendahuluan), yaitu
penjualan sesuatu dengan kriteria tertentu (yang masih berada) dalam tanggungan
dengan pembayaran disegerakan

Ø  Transaksi jual beli
dimana barang yang diperjualbelikan belum ada

Ø  Barang diserahkan
secara tangguh sedangkan pembayaran tunai

Ø  Bank sebagai
pembeli dan nasabah sebagai penjual

Ø  Sekilas transaksi
ini mirip ijon kecuali sudah adanya kepastian waktu penyerahan, kuantitas,
kualitas dan harga, misalnya 100 Kg mangga harumanis kualitas A dengan harga Rp
5.000/Kg dan diserahkan waktu panen 2 bulan mendatang

Ø  Prakteknya bank
akan menjual barang kepada rekanan nasabah atau ke nasabah itu sendiri, baik
tunai maupun cicilan

Ø  Jika bank menjual
tunai maka biasanya disebuat bridging financing dan Umumnya dilakukan pada
transaksi komoditi pertanian

Ø  Jika hasil produksi
tidak sesuai akad maka nasabah harus bertanggung jawab

Ø  Bank dimungkinkan
melakukan salam akad pararel dengan pihak lain.

Ø  Landasan Hukum

Al Qur’an

            hai
orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk
waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya (QS Al Baqarah (2) : 283)

Al Hadits

            dari
Suaib ar-Rumi ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Tiga hal yang di dalam terdapat
keberkahan : jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah) dan mencampur
gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.(HR. Ibnu Majah)

 

Nasabah

Pembiayaan

1.Titip dana

4. Beri bonus

3. Bagi hasil

2. Pemanfaatan

dana

Skema
Salam

Nasabah

Penjual

Pembeli

B a n k

Skema Al Bai’ – Salam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rukun Salam

Ø  Pembeli (Muslam /
salam)

Ø  Penjual (Muslam
ilaihi)

Ø  Barang (Muslam
fihi)

Ø  Harga (Tsaman)

Ø  Ijab-qabul

 

Al Bai’ – Istishna        

Ishtisna’ yaitu
pembelian barang melalui pesanan dan diperlukan proses untuk pembuatannya
sesuai dengan pesanan pembeli dan pembayaran dilakukan dimuka sekaligus atau
secara bertahap.

Ø  Menyerupai produk
salam, namun pembayarannya dapat dilakukan oleh bank beberapa termin

Ø  Menurut jumhur
ulama fuqaha, merupakan jenis khusus bai’ as-salam yang biasanya dipergunakan
untuk manufaktur dan konstruksi

Ø  Spesifikasi barang
harus jelas seperti jenis, macam ukuran, mutu dan jumlah. Jika terjadi
perubahan dari kriteria pada akad maka seluruh biaya tambahan ditanggung
nasabah

 

Rukun Istishna

Ø  Produsen (Shaani’)

Ø  Pemesan
(Mustashni’)

Ø  Barang (Mashnu)

Ø  Harga (Tsaman)

Ø  Sighat (Ijab-qabul)

 

Skema Istishna

1. Negosiasi

Pesanan

2. Pemesanan

Barang Nasabah

& Bayar Tunai

4. Kirim

Pesanan

5. Bayar tunai setelah pesanan

    
selesai dibuat

3. Kirim

dokumen

Skema Istishna’

Nasabah

Konsumen

(pembeli)

Produsen

Pembuat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Produk Jasa-Jasa lainnya :

1.      Al Ijarah

Ijarah yaitu
kegiatan penyewaan suatu barang dengan imbalan pendapatan sewa, bila terdapat
kesepakatan pengalihan pemilikan pada akhir masa sewa disebut Ijarah mumtahiya
bi tamlik(sama dengan operating lease)

Ø  Berasal dari kata
alajru yang berarti al ‘iwadhu (ganti)

Ø  Merupakan transaksi
perpindahan manfaat/hak guna, hampir sama dengan jual beli, perbedaannya hanya
pada obyek transaksi dimana tidak diikuti perpindahan kepemilikan (milkiyyah)

Ø  sewa dapat
dilakukan dengan operating lease (tidak terjadi perpindahan kepemilikan) atau
bank dapat menjual barang yang disewakannya kepada nasabah (ijarah muntahhiyah
bittamlik-IMBT/sewa yang diikuti dengan perpindahan kepemilikan/finance lease)

Ø  Dalam konteks
perbankan dan lembaga keuangan berrarti menyewakan suatu obyek kepada nasabah
berdasarkan pembebanan biaya yang sudah ditentukan sebelumnya (fixed charge)

Ø   Landasan Hukum

Al Qur’an

            Dan  jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang
lain, tidak dosa bagimu apabila kamu mmberikan pembayaran menurut yang patut.
Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah maha melihat apa yang
kamu kerjakan
.(QS Al Baqarah (2) : 233)

Al Hadits

            diriwayatkan
dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda,”berbekam kamu, kemudian
berikanlah olehmu upahnya kepada tukang bekam itu”.
(HR Bukhari &
Muslim)

            Dari
Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda,”berikanlah upah pekerja sebelum kering
keringatnya”
.(HR
Ibnu Majah)

 

Ø  Obyek sewa yang
ditransaksikan antara lain meliputi
barang konsumsi, properti, peralatan,
alat-alat transportasi, dan alat-alat berat

Ø  Pada IMBT harga
sewa dan harga jual ditetapkan di muka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Skema Ijarah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.      Wakalah

 yaitu pihak pertama
memberikan kuasa kepada pihak kedua (sebagai wakil) untuk urusan tertentu
dimana pihak kedua mendapat imbalan berupa fee atau komisi. Terdapat
point-point penting diantaranya:

Ø  Wakalah atau
wikalah berarti menyerahkan, pendelegasian atau pemberian mandat

Ø  Dalam bahasa Arab
dipahami sebagai at-tafwidh (penyerahan),

Ø  Secara teknis adalah akad
perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama (muwakkil) mewakilkan suatu
urusan (taukil) kepada pihak kedua (wakil) untuk bertindak atas nama dan untuk
kepentingan pihak pertama

Ø  terjadi apabila
nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan
atau jasa tertentu, seperti
kliring, pembukaan L/C (impor dan ekspor),
documentary collection, inkaso dan transfer uang.

Ø  Kelalaian dalam
kuasa menjadi tanggung jawab bank, namun sepanjang pihak bank telah menjalankan
sebatas kuasa dan wewenang yang diberikan, maka resiko dan tanggung jawab atas
dilaksanakannya perintah tersebut menjadi tanggung jawab pemberi kuasa
(termasuk force majeur)

Ø  Bank dan nasabah
yang dicantumkan dalam akad pemberian kuasa harus cakap hukum. Khusus untuk
akad LC, apabila dana nasabah tidak cukup maka penyelesainnya dapat dilakukan
dengan pembiayaan

Ø  Apabila wakil yang
ditunjuk lebih dari satu bank maka masing-masing bank tidak boleh bertindak
sendiri-sendiri tanpa musyawarah dengan bank lain kecuali dengan seizin
nasabah.

Ø  Tugas, wewenang dan
tanggung jawab bank harus jelas sesuai dengan kehendak nasabah bank. Setiap
tugas harus mengatasnamakan nasabah dan harus dilaksanakan oleh bank

Ø  Atas pelaksanaan
tugasnya, wakil mendapat pengganti biaya (fee) berdasarkan kesepakatan
bersama

 

Ø  Landasan Hukum

Al Qur’an

            Dan demikian kami bangkitkan mereka
agar saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkata salah seorang di antara
mereka,” sudah berapa lamakah kamu berada di sini?” mereka menjawab,”kita sudah
berada (di sini) satu atau setengah hari” berkata (yang lain lagi),”Tuhan kamu
lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah
seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini dan
hendaklah ia lihat manakah makan yang lebih baik dan hendaklah ia membawa makan
itu untukmu dan hendaklah ia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali
menceritakan halmu kepada seseorangpun
 (QS Al Kahfi (18) : 19)

     

Al Qur’an

jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah
orang yang pandai menjaga lagi berpengalaman (QS Yusuf (12) : 55)

 

Al Hadits

Bahwa Rasulullah SAW mewakilkan kepada Abu Rafi dan seorang Anshar untuk
mewakilkan mengawini Maimunah binti-Harist
(HR Malik)

 

Jenis Wakalah :

Ø  Wakalah Al
Muthlaqah                         

      Perwakilan diberikan secara mutlak, tanpa
batasan waktu maupun urusan

Ø  Wakalah Al
Muqayyadah                 

Perwakilan hanya
diberikan untuk urusan-urusan tertentu

Ø  Wakalah Al
Ammah                                  

Perwakilan yang
diberikan lebih luas dari pada Wakalah Al Muqayyadah, tetapi lebih sederhana
dibandingkan dengan Wakalah Al Muthlaqah

Skema Wakalah

Bank

Penjual

1.   Pesan

   
2. Pesan, bayar di muka, bayar sesuai termin

 

 

 

3.
Bank beli pesanan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kafalah

yaitu pihak pertama bersedia menjadi penanggung
atas kegiatan yang dilakukan oleh pihak kedua sepanjang sesuai dengan yang
diperjanjikan dimana pihak pertama menerima imbalan berupa fee atau komisi
(garansi).

Ø  Merupakan akad
jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga dalam rangka
menjamin kewajiban pihak yang ditanggung (makfulanhu), apabila pihak yang
ditanggung tersebut cedera janji atau wanprestasi.

Ø  Dalam arti lain
berarti juga mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang
pada tanggung jawab orang lain sebagai jaminan

Ø  Diberikan dengan
tujuan untuk menjamin pembayaran suatu kewajiban.

Ø  Bank dapat
mempersyaratkan nasabah untuk menyimpan dana dalam bentuk wadiah.

Ø  Masuk dalam
transaksi jenis ini adalah L/C dengan segala jenis dan variasinya

Ø  Landasan Hukum

Al Qur’an

            penyeru-penyeru
itu berseru,”kami kehilangan piala raja dan barang siapa yang dapat
mengembalikannya akan memperoleh makanan (seberat) beban unta dan aku menjamin
terhadapnya.(QS Yusuf (12) : 72)

 

Al Hadits

            Telah
dihadapkan kepada Rasulullah SAW (mayat seorang laki-laki untuk dishalatkan).
Rasulullah SAW bertanya,”apakah dia mempunyai warisan?” Para sahabat menjawab
tidak, Rasulullah SAW bertanya lagi,”apakah dia mempunyai hutang?” Sahabat
menjawab,”Ya, sejumlah tiga dinar”. Rasulullah pun menyuruh pada sahabat untuk
menshalatkan (tetapi beliau sendiri tidak). Abu Qatadah lalu bertanya,”saya
menjamin hutangnya, ya Rasulullah” Maka Rasulullah pun menshalatkan mayat
tersebut.
(HR Bukhari)

 

Jenis-Jenis Kafalah

Ø  Kafalah Bin
Nafs                                           

Jaminan dari diri seseorang yang memiliki reputasi,
kredibilitas dan bonafiditas yang dikenal baik (Personal Guarantee).

Ø  Kafalah Bil Maal

Jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang. Dalam
aplikasinya di perbankan dapat berupa jaminan uang muka (Advance Payment
Bond
) atau jaminan pembayaran (Payment Bond).

Ø  Kafalah Al
Muallaqah                            

            Jaminan
mutlak yang tidak dibatasi oleh suatu jangka waktu dan untuk kepentingan
tertentu. Dalam transaksi perbankan dapat berupa jaminan penawaran (Bid Bond)
atau jaminan pelaksanaan proyek (Performance Bond).

 

 

 

Skema Kafalah

 

 

4. Nasabah beli pesanan dan bayar cicil atau tunai

Skema Al Wakalah

Nasabah

(muwakil)

 

 

 

 

 

 

3.      Sharf

Sharf yaitu
pertukaran /jual beli mata uang yang berbeda dengan penyerahan segera /spot
berdasarkan kesepakatan harga sesuai dengan harga pasar pada saat pertukaran.

Ø  Sharf adalah transaksi pertukaran
emas dan perak atau pertukaran valuta asing
yang dilakukan sesuai syariah
yaitu penyerahannya harus dilakukan pada waktu yang sama (spot)

Ø  Dalam aplikasinya
di perbankan syariah, Sharf merupakan jasa / pelayanan bank kepada nasabahnya
untuk melakukan transaksi valuta asing menurut prinsip yang dibenarkan syariah.

Ø  Syarat Transaksi :

Ø  Harus dilakukan
secara tunai

Ø  Transaksi tidak
dimaksudkan untuk tujuan spekulatif, tetapi benar-benar untuk tujuan
operasional.

Ø  Bila yang
dipertukarkan adalah mata uang yang sama, maka jumlah / nilainya harus sama
pula.

 

4.      Hiwalah

Berasal dari kata tahwil yang berarti intiqal (perpindahan), yaitu
memindahkan hutang dari tanggungan orang yang berhutang (muhil) menjadi
tanggungan orang yang berkewajiban membayar hutang (muhal ’alaih)

Ø  Dalam konsep hukum
perdata, adalah serupa dengan lembaga pengambialihan utang (schuldoverneming)
atau lembaga pelepasan/penjualan utang atau lembaga penggantian kreditor atau
penggantian debitor.

Ø  Prakteknya
dipergunakan kepada supplier untuk mendapatkan modal tunai untuk kelanjutan
produksi

Ø  Bank mendapat biaya
jasa atas pemindahan piutang

Ø  Bank perlu
berhati-hati karena resikonya cukup besar, dimungkinkan adanya buy back
guarantee

 

 

 

 

Ø  Dasar Hukum

            Al
Hadits

            Imam
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW
bersabda,”menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah suatu kezaliman. Dan
jika salah seorang dari kamu diikuti 
(di-hawalah-kan) kepada orang yang mampu/kaya, terimalah hawalah itu”

Skema Hiwalah

Investor

(muwakil)

Bank

(wakil)

       
Agency

       
Administration

       
Collection

       
Payment

       
Co Arranger

(taukil)

 

 

 

 

 

 

Kontrak + Fee

Kontrak + Fee

Skema Al Kafalah

Tertanggung

(Jasa/Obyek)

Penanggung

(Bank)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.      Qardh

Secara bahasa adalah pemberian
harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali atau dengan
kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan

Ø  Dalam literatur
fiqih klasik dikatagorikan sebagai akad tathawwu’ atau saling membantu dan
bukan transaksi komersial

Ø  Dalam aplikasi
biasanya dilakukan dalam 4 hal :

§  Talangan haji

§  Cash advanced

§  Pinjaman kepada
pengusaha kecil terutama yang tidak mampu diberikan dengan pinjaman komersial

§  Pinjaman kepada
pengurus bank

Ø  Landasan Hukum

            Al
Qur’an

            Siapa
yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, Allah akan
melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala
yang banyak.(QS Al Hadiid (57) : 11)

            Al
Hadits

            Ibnu
Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi SAW berkata,”bukan seorang muslim (mereka) yang
meinjam muslim (lainnya) dua kali kecuali yang satunya adalah (senilai)
sedekah.
(HR Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Baihaqi)

Skema Qardh

Ditanggung

(Nasabah)

 

 

Skema Hiwalah dalam Anjak Piutang

Muhal ’alaih Factor/Bank

Muhil

Supplier

Muhal

Pembeli

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.      Rahn

Secara bahasa berarti tetap
dan lestari. Sering disebut Al Habsu artinya penahan. Ni’matun rahinah artinya
karunia yang tetap dan lestari

Ø  Secara teknis
menahan salah satu harta peminjam yang memiliki nilai ekonomis sebagai jaminan
barang yang diterimanya. Sering disebut gadai

Ø  Tujuan akad rahn
adalah untuk memberikan jaminan pembayaran kembali pada bank dalam memberikan
pembiayaan

Ø  Barang yang
digadaikan harus barang milik nasabah sendiri, jelas ukuran/sifat/nilai – nilai
ditentukan berdasarkan nilai riil pasar

Ø  Barang yang
digadaikan dikuasai bank namun tidak boleh dimanfaatkan bank

Ø  Nasabah dapat
menggunakan barang yang digadaikan atas izin bank. Apabila rusak nasabah harus
bertanggung jawab

Ø  Bank dapat
melakukan penjualan barang gadai nasabah wanprestasi. Untuk mendapatkan hasil
optimal penjualan, nasabah dengan seizin bank dapat juga melakukan penjualan

Ø  Biasanya dilakukan
dalam 2 akad, yaitu akad penitipan barang dan qardh

Ø  Bank mendapatkan
keuntungan dari biaya penitipan.

Ø  Barang yang
digadaikan harus memiliki nilai jaminan dan tidak boleh merupakan barang
rampasan, barang pinjaman atau barang yang dijaminkan kepada pihak lain

Ø  Akad tidak dapat
dibatalkan atau ditarik kembali. Jika bank melakukan perbuatan yang
menghilangkan status kepemilikan maka akad gadai batal

Ø  Pembayaran hutang
sebelum akad berakhir tidak termasuk pembatalan gadai

 

 

 

 

 

Ø  Landasan Hukum

Al Qur’an

            Jika
kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak
memperoleh seorang penulis, hendaklah ada barang tanggungan yang dipergang
(oleh yang berpiutang.(QS Al Baqarah (2) : 283)

 

Al Hadits

            Aisyah
ra berkata bahwa Rasulullah SAW membeli makan dari seorang Yahudi dan menjamin
kepadanya baju besi.
(HR Bukhari & Muslim)

            Anas
ra berkata,”Rasulullah SAW menggadaikan baju besinya kepada seorang yahudi di
Madinan dan mengambil darinya gandum untuk keluarga beliau”
.(HR Bukhari, Ahmad,
Nasa’I dan Ibnu Majah)

 

Rukun Gadai (rahn)

Ø  Ar Rahin (orang
yang menggadaikan)

Ø  Al Murtahin (yang
menerima gadai)

Ø  Al Marhun/rahn (barang
yang digadaikan)

Ø  Al marhun bih
(hutang)

Ø  Sighat, ijab dan
qabul

 

Skema Rahn

 

1. Supply Barang

 

 

2. Invoice

3. Bayar

 

 

4. Tagih

5. Bayar

Bank

Nasabah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prinsip Kebajikan

yaitu penerimaan dan penyaluran dana kebajikan
dalam bentuk zakat infaq shodaqah dan lainnya serta penyaluran alqardul hasan
yaitu penyaluran dan dalam bentuk pinjaman untuk tujuan menolong golongan
miskin dengan penggunaan produktif tanpa diminta imbalan kecuali pengembalian
pokok hutang.

Dari uraian diatas maka produk perbankan Islam
dalam prakteknya dapat diringkas

sebagai berikut :

 

Produk
/Jasa

Prinsip
Syariah

Giro

Wadiah yadhamanah

Tabungan

Wadiah
yadhamanah mudharabah

Deposito
/ rekening investasi bebas

Mudharabah

Rekening
investasi tidak bebas penggunaan

Mudharabah muqayyadah

Piutang
Murabahah

Murabahah tidak tunai

Investasi
Mudharabah

Mudharabah

Investasi
Musyarakah

Musyarakah

Investasi assets untuk disewakan

Ijarah

Pengadaan
barang untuk dijual atau dipakai sendiri

Salam
atau ishtisna’

Bank
garansi

Kafalah

Transfer,
inkaso, L/C, dll.

Wakalah

Safe
deposit box

Wadiah amanah

Surat
berharga

Mudharabah

Jual
beli valas (non speculative motive)

Sharf

 

Produk
Bank Syari’ah

Pada sistem operasi bank syari’ah, pemilik dana
menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam
rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian
disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan
perjanjian pem-bagian keuntungan sesuai kesepakatan.

Pembiayaan dalam
perbankan syari’ah tidak bersifat menjual uang yang mengandalkan pendapatan
bunga atas pokok pinjaman yang diinvestasikan, tapi dari pembagian laba yang
diperoleh pengusaha. Pendekatan bank syari’ah mirip dengan investment banking,
dimana secara garis besar produk mudarabah (trust financing) dan musyarakah
(partnership financing), sedangkan yang bersifat investasi diimplementasikan
dalam bentuk murabahah (jual-beli).

Pola konsumsi dan pola simpanan yang diajarkan oleh
Islam memungkin-kan umat Islam mempunyai kelebihan pendapatan yang harus
diproduktifkan dalam bentuk investasi, maka bank Islam menawarkan tabungan
investasi yang disebut simpanan mudarabah (simpanan bagi hasil atas usaha
bank). Untuk dapat membagihasilkan usaha bank kepada penyimpan mudarabah, maka
bank syari’ah menawarkan jasa-jasa perbankan kepada masyarakat dalam bentuk:

1. Pembiayaan untuk berbagai kegiatan investasi atas dasar bagi hasil
yang terdiri dari (a) pembiayaan investasi bagi hasil al mudarabah dan (b)
pembiayaan investasi bagi hasil al musyarakah. Dari pembiayaan investasi
tersebut bank akan memperoleh pendapatan berupa bagi hasil usaha.

2. Pembiayaan untuk berbagai kegiatan perdagangan yang terdiri dari (a)
pembiayaan perdagangan al-mudarabah dan (b) pembiayaan perdagangan al-baiu
bithaman ajil. Dari pembiayan perdagangan tersebut bank akan memperoleh
pendapatan berupa mark-up atau margin keuntungan.

3. Pembiayan pengadaan barang untuk disewakan atau untuk
disewabelikan dalam bentuk (a) sewa guna usaha atau disebut al-ijarah (b) sewa
beli atau disebut baiu takjiri. Di Indonesia, al ijaroh dan al baiu takjiri
tidak dapat dilakukan oleh bank.
Namun demikian penyewaan fasilitas tempat penyim-panan
harta dapat dikategorikan sebagai al-ijaroh. Dari kegiatan usaha al-ijaroh,
bank akan memperoleh pendapatan berupa sewa.

4. Pemberian pinjaman tunai untuk kebajikan (al-qardhul hasan) tanpa
dikenakan biaya apapun kecuali biaya administrasi berupa segala biaya yang
diperlukan untuk sahnya perjanjian hutang, seperti bea materai, bea akte
notaris, bea studi kelayakan, dan sebagainya. Dari pemberian pinjaman
al-qardhul hasan, bank akan menerima kembali biaya-biaya administrasi.

5. Fasilitas-fasilitas
perbankan umumnya yang tidak bertentangan dengan syari’ah seperti penitipan
dana dalam rekening lancar (current account), dalam bentuk giro wadi’ah yang
diberi bonus dan jasa lainnya untuk mem-peroleh balas jasa (fee) seperti:
pemberian jaminan (al-kafalah), pengalihan tagihan (al-hiwalah), pelayanan
khusus (al-jualah), pembukaan L/C (al-wakalah), dan lain-lain.
Dari pemakaian
fasilitas-fasilitas tersebut bank akan memperoleh pendapatan berupa fee.

Dalam bentuk
praktik di lapangan, di samping menyedikan modal yang dibutuhkan masyarakat
kecil untuk membeli barang-barang modal (alat kerja), modal kerja operasional
dan faktor lain yang dibutuhkan untuk membangun satu unit bisnis kecil. Bank
syari’ah idealnya juga harus memberikan pendampingan manajerial, seperti aspek
pemasaran keuangan dan produksi bahkan sampai mem-fasilitasi jaringan pemasaran
(tata niaga) yang lebih efisien yang menguntungkan usaha kecil dan menengah.
Dengan demikian, bank syari’ah menjadi partner usaha dalam lingkup yang lebih
luas dan terintegrasi.

Konsep ideal
perbankan yang sesuai dengan syari’ah Islam seperti yang diuraikan di atas pada
praktiknya belum diselenggarakan secara ideal pula oleh bank-bank Islam di
Indonesia. Menurut Zainul Arifin, beberapa praktik perbankan syari’ah yang
masih jauh dari konsep ideal bank syari’ah adalah sebagai berikut

1. Terlalu memusatkan pada mekanisme murabahah dan mengabaikan mekanisme
pembiayaan sah lainnya.

2. Menerapkan tingkat bunga untuk margin keuntungan tetap dalam mekanisme
murabahah.

3. Mengabaikan aspek-aspek sosial dalam pembiayaan.

4. Kurang memberi respons tambah pada kebutuhan-kebutuhan pembiayaan
pemerintah.

5. Kegagalan bank-bank Islam dalam menjalin kerjasama antara di mereka.

Bab VIII

Kendala-kendala yang Dihadapi
Perbankan Syariah di Indonesia

Adanya sistem dual
banking
di Indonesia saat ini merupakan suatu hal yang perlu
disyukuri bagi umat muslim di Indonesia. Adanya perbankan syariah di Indonesia
merupakan cita-cita luhur yang sejak lama diimpikan oleh penggagas adanya
ekonomi Islam secara kelembagaan. Beroperasionalnya Bank Muamalat Indonesia
(BMI) telah menandai babak baru dunia perbankan di Indonesia. Sebelum ada BMI,
sistem perbankan di Indonesia masih memakai single banking system yang
menempatkan instrumen bunga sebagai basis kekuatan dalam menjalankan segala
transaksi perbankan.

Single banking
system yang biasa kita sebut sebagai model perbankan konvensional nantinya
sebagai pembeda dengan model perbankan syariah. Setelah ada BMI, dunia
perbankan di Indonesia sudah tidak lagi dimonopoli oleh perbankan konvensional
yang umurnya diperkirakan telah mencapai puluhan tahun atau bahkan ratusan
tahun dan dianggap mempunyai andil dalam memperbesar kerugian negara di waktu
krisis ekonomi 1997.

Prinsip dasar
operasional bank islam/ bank syariah tidak mengenal adanya konsep bunga uang
dan yang tidak kalah pentingnya adalah untuk tujuan komersial, Islam tidak
mengenal peminjaman uang tetapi adalah kemitraan/ kerjasama (mudharabah dan
musyarakah) dengan prinsip bagi hasil, sedang peminjaman uang hanya
dimungkinkan untuk tujuan sosial tanpa adanya imbalan apapun.

Perkembangan
bank-bank syariah di dunia dan di Indonesia mengalami kendala karena bank
syariah hadir di tengah-tengah perkembangan dan praktik-praktik perbankan
konvensional yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat secara luas.
Kendala yang dihadapi oleh perbankan (lembaga keuangan) syariah tidak terlepas
dari belum tersedianya sumber daya manusia secara memadai dan peraturan
perundang-undangan. Hal ini mengingat bahwa di masing-masing negara, terutama
yang masyarakatnya mayoritas muslim, tidak mempunyai infrastruktur pendukung
dalam operasional perbankan syariah secara merata. Konskuensi perkembangan di
masing-masing negara tersebut tentunya akan berdampak baik secara langsung
maupun tidak langsung terhadap perkembangan perbankan syariah di dunia. Apalagi
pada saat ini produk-produk keuangan semakin cepat perkembangannya.

Pengembangan
produk dalam bank syariah seringkali terjebak diantara kedua aturan yang saling
tarik menarik, yaitu syariah dan hukum positif. Perlu ada upaya bersama untuk
mencari jalan keluar, misalnya menyusun undang-undang bank syariah tersendiri.
Hal ini amat penting agar bank syariah dapat menunjukkan ciri khas produknya
dari yang dimiliki bank konvensional.

Pengembangan
produk dalam perbankan syariah dapat mengikuti arah perbankan konvensional,
tetapi asas-asas produk syariah tidak boleh ditinggalkan. Semua produk syariah
dapat diterapkan untuk semua jenis kategori, tetapi harus mengikuti
konsekuensinya. Perlu adanya usaha terus menerus mengembangkan teknis keuangan
untuk memberikan alternatif bagi perbankan syariah terhadap produk keuangan di
dunia konvensional. Rujukan (benchmark) keuangan merupakan contoh yang paling
jelas dalam hal ini.

Pengembangan
produk bukan saja melibatkan sumber daya yang ada dalam penelitian dan
pengembangan, tetapi juga sumber daya yang mengerti dan mendalami syariah,
karena sumber daya manusia yang ada di bank syariah sekarang ini belum memiliki
pengetahuan di kedua bidang itu secara simultan. Untuk itu Perlu dikembangkan
sejak dini penggabungan pendidikan ilmu duniawi dan ilmu agama sejak dini
sekali dan ini harus dilanjutkan ke tingkat berikutnya bahkan sampai tingkat
perguruan tinggi, sehingga dikotomi pengetahuan agama dan pengetahuan dunia
lama-kelamaan akan menipis. Ini bukan tugas perbankan syariah semata, tapi
tugas ummat Islam secara nasional.

Pesatnya
pertumbuhan bank syariah di Indonesia juga belum seiring dengan pemahaman dan
pengetahuan masyarakat tentang sistem operasional perbankan syariah.
Meski bank syariah terus berkembang setiap
tahunnya, banyak masyarakat Indonesia yang masih belum mengenal apa dan
bagaimana bank syariah menjalankan kegiatan bisnisnya.

Pendapat mereka
produk-produk yang ditawarkan oleh bank syariah hanyalah produk-produk bank
konvensional yang dipoles dengan penerapan akad-akad yang berkaitan dengan
syariah. Sehingga hal ini justru memunculkan anggapan negatif masyarakat bahwa
kata syariah hanya sekedar lipstik dalam perbankan syariah.

Masih terdapat
kebingungan pada karakteristik dasar yang melandasi sistem operasional
perbankan syariah, yakni sistem bagi hasil. Sistem bagi hasil dalam prakteknya
dipandang masih menyerupai sistem bunga bagi bank konvensional. Penyaluran dana
bank syariah lebih banyak bertumpu pada pembiayaan murabahah, yang mengambil
keuntungan berdasarkan margin, yang masih dianggap oleh masyarakat hanyalah
sekedar polesan dari cara pengambilan bunga pada bank konvensional.

Mereka masih
sangat sulit untuk membedakan antara bagi hasil, margin dan bunga bank
konvensional. Kalaupun bisa hanyalah pada tataran teorinya saja, sedang
prakteknya masih terlihat rancu untuk membedakan bagi hasil, margin dan bunga.
Meski secara teoritis sistem bagi hasil dengan akad mudharabah dan musyarakah
sangat baik, namun yang terjadi pembiayaan perbankan syariah dengan pola
tersebut menurut mereka belum menjadi barometer bank syariah dan masih sangat
kecil.

Bank Syariah
mempunyai nasabah potensial yang kurang lebih mencapai 78%, bank-bank syariah
seharusnya mulai berbenah diri. Tingginya potensi nasabah dengan rendahnya
persepsi masyarakat terhadap syariah menunjukkan minimnya informasi syariah di
masyarakat. Strategi pertama yang harus ditempuh bank syariah adalah komunikasi
eksternal baik dalam rangka edukasi prinsip syariah maupun produk produk yang
ditawarkan.
Strategi kedua
adalah menciptakan efisiensi melalui inovasi produk dan inovasi proses.
Strategi berikutnya adalah megembangkan budaya syariah sebagai salah satu usaha
menuju good
corporate governance
.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 9

Manajemen
Risiko Perbankan Syariah

I.    Pendahuluan

         
Sepanjang tiga dekade terakhir, pertumbuhan dan perkembangan lembaga perbankan
syariah mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik di dunia internasional
maupun di Indonesia. Konsep perbankan dan keuangan Islam yang pada mulanya di
tahun 1970-an hanya merupakan diskusi teoritis, kini telah menjadi realitas
faktual yang mencengangkan banyak kalangan.
          Pada era modern ini,
perbankan syariah telah menjadi fenomena global, termasuk di negara-negara yang
tidak berpenduduk mayoritas muslim. Berdasarkan prediksi McKinsey tahun
2008[2],
total aset pasar perbankan syariah global pada tahun 2006 mencapai 0,75 miliar
dolar AS. Diperkirakan pada tahun 2010 total aset mencapai satu miliar dolar
AS. Tingkat pertumbuhan 100 bank syariah terbesar di dunia mencapai 27 persen
per tahun dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan 100 bank konvensional
terbesar yang hanya mencapai 19 persen per tahun.

         
Di Indonesia, pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah juga tumbuh makin
pesat. Krisis keuangan global di satu sisi telah membawa hikmah bagi
perkembangan perbankan syariah. Masyarakat dunia, para pakar dan pengambil
kebijakan ekonomi, tidak saja melirik tetapi lebih dari itu mereka ingin
menerapkan konsep syariah secara serius.

         
 Selain itu prospek perbankan syariah makin cerah dan menjanjikan. Bank
syariah di Indonesia, diyakini akan terus tumbuh dan berkembang. Perkembangan
industri lembaga keuangan syariah ini diharapkan mampu memperkuat stabilitas
sistem keuangan nasional. Harapan tersebut memberikan suatu optimisme melihat
penyebaran jaringan kantor perbankan syariah saat ini megalami pertumbuhan yang
sangat pesat.[3]

         
Namun demikian masa depan dari industri perbankan syariah, akan sangat
bergantung pada kemampuannya untuk merespons perubahan dalam dunia keuangan.
Fenomena globalisasi dan revolusi teknologi informasi, menjadikan ruang lingkup
perbankan syariah sebagai lembaga keuangan telah melampaui batas
perundang-undangan suatu negara. Implikasinya adalah, sektor keuanganpun
menjadi semakin dinamis, kompetitif dan kompleks. Terlebih lagi adanya tren
pertumbuhan merger lintas segmen, akuisisi, dan konsolidasi keuangan, yang
membaurkan risiko unik tiap segmen dari industri keuangan tersebut.

         
Lebih lanjut terdapat kecenderungan perkembangan sistem pencatatan, matematika
keuangan dan inovasi teknik manajemen risiko yang tidak dapat diprediksi.
Perkembangan tersebut disinyalir akan semakin menambah tantangan yang dihadapi
oleh perbankan syariah, terutama dengan masuknya lembaga keuangan konvensional
yang juga menawarkan produk-produk keuangan syariah.

         
Selain itu risiko menghadapi system keuangan global bukanlah kesalahan tentang
kemampuan menciptakan laba, tetapi yang lebih penting adalah kehilangan
kepercayaan dan kredibiliatas tentang bagaimana operasional kerjanya. Oleh
karena itu perbankan syariah perlu membekali diri dengan kemampuan manajemen
sistem operasi yang mutakhir untuk menyikapi perubahan lingkungan tersebut.
Salah satu faktor utama yang dapat menentukan kesinambungan dan pertumbuhan
industri perbankan syariah adalah, seberapa intens lembaga ini dapat mengelola
risiko yang muncul dari layanan keuangan syariah yang diberikan.

         
Dalam kerangka itu, tulisan ini mencoba mendiskusikan beberapa isu yang berkaitan
dengan manajemen risiko perbankan syariah, baik profil risiko maupun
optimalisasi peran DPS (Dewan Pengawas Syari’ah).

II.  Profil
Risiko Perbankan Syariah

           
Kajian
 manajemen risiko memang tengah naik daun. Lembaga keuangan termasuk bank
syariah, setidaknya telah mengakui bahwa mereka harus memperhatikan cara-cara
untuk memitigasi risiko agar bisa tetap mempertahankan daya saing,
profitabilitas, dan loyalitas nasabah. Oleh karena itu bank-bank tengah
berselancar pada penerapan manajemen risiko yang merupakan proses
berkesinambungan serta memakan banyak pikiran, tenaga, dan uang.

         
Dalam konteks penerapan manajemen risiko, pedoman yang dijalankan selama ini,
dibuat hanya untuk bank-bank konvensional. Padahal pemain dalam bisnis perbankan
dunia dan nasional tidak hanya bank konvensional, tetapi juga telah diramaikan
oleh bank dengan prinsip syariah yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke
tahun. Maka  bagaimana penerapan manajemen risiko pada bank-bank syariah?
       

         
Secara historis penerapan manajemen risiko pada bank, dalam hal ini BI sendiri
baru mulai menerapkan aturan perhitungan capital adequacy ratio (CAR)
pada bank sejak 1992.
[4] Sementara itu, bank dengan
prinsip syariah lahir pertama kali di Indonesia pada tahun yang sama. Jadi jika
dilihat dari usia sistem perbankan syariah, hal ini merupakan tantangan yang
berat. Bank syariahpun akan sangat sulit mengikuti konsep yang telah dijalankan
perbankan konvensional dalam hal manajemen risiko, mengingat perbankan
konvensional membutuhkan waktu yang panjang untuk membangun sistem dan
mengembangkan teknik manajemen risiko .

         
Di Lain pihak, operasi bank syariah memiliki karakteristik dengan perbedaan
yang sangat mendasar jika dibandingkan dengan bank konvensional, sementara
manajemen risiko juga harus diimplementasikan oleh bank syariah agar tidak
hancur dihantam risiko. Oleh karena itu, apa yang dapat dilakukan? Cara yang
paling cepat dan efektif adalah mengadopsi sistem manajemen risiko bank
konvesional yang disesuaikan dengan karakteristik perbankan syariah. Inilah
yang dilakukan BI sebagai regulator perbankan nasional yang akan menerapkan juga
bagi perbankan syariah.

         
Dalam hal ini Islamic Financial Services Board (IFSB), telah merumuskan
prinsip-prinsip manajemen risiko bagi bank dan lembaga keuangan dengan prinsip
syariah. Pada 15 Maret 2005 yang lalu, exposure draft yang pertama telah
dipublikasikan. Dalam executive summary draft tersebut dengan jelas
disebutkan bahwa kerangka manajemen risiko lembaga keuangan syariah mengacu
pada Basel Accord II (yang juga diterapkan perbankan konvensional) dan
disesuaikan dengan karakteristik lembaga keuangan dengan prinsip syariah.
[5]
          Secara umum, risiko yang
dihadapi perbankan syariah bisa diklasifikasikan menjadi dua bagian besar.
Yakni risiko yang sama dengan yang dihadapi bank konvensional dan risiko yang
memiliki keunikan tersendiri karena harus mengikuti prinsip-prinsip syariah.
Risiko kredit, risiko pasar, risiko benchmark, risiko operasional,
risiko likuiditas, dan risiko hukum, harus dihadapi bank syariah. Tetapi,
karena harus mematuhi aturan syariah, risiko-risiko yang dihadapi bank syariah
pun menjadi berbeda.

         
Bank syariah juga harus menghadapi risiko-risiko lain yang unik (khas). Risiko
unik ini muncul karena isi neraca bank syariah yang berbeda dengan bank
konvensional. Dalam hal ini pola bagi hasil (profit and loss sharing)
[6] yang dilakukan bank syari’ah
menambah kemungkinan munculnya risiko-risiko lain. Seperti withdrawal risk,
fiduciary risk,
dan displaced commercial risk
[7] merupakan contoh risiko unik
yang harus dihadapi bank syariah. Karakteristik ini bersama-sama dengan variasi
model pembiayaan dan kepatuhan pada prinsip-prinsip syariah.

         
Konsekuensinya, teknik-teknik yang digunakan untuk melakukan identifikasi,
pengukuran, dan pengelolaan risiko pada bank syariah dibedakan menjadi dua
jenis. Teknik-teknik standar yang digunakan bank konvesional, asalkan tidak
bertentangan dengan prinsip syariah, bisa diterapkan pada bank syariah.
Beberapa di antaranya, GAP analysis, maturity matching, internal rating
system, dan risk adjusted return on capital (RAROC).
[8]

         
Di sisi lain bank syariah bisa mengembangkan teknik baru yang harus konsisten
dengan prinsip-prinsip syariah. Ini semua dilakukan dengan harapan bisa
mengantisipasi risiko-risiko lain yang sifatnya unik tersebut. Survei yang
dilakukan Islamic Development Bank (2001) terhadap 17 lembaga keuangan
syariah dari 10 negara mengimplikasikan, risiko-risiko unik yang harus dihadapi
bank syariah lebih serius mengancam kelangsungan usaha bank syariah
dibandingkan dengan risiko yang dihadapi bank konvesional. Survei tersebut juga
mengimplikasikan bahwa para nasabah bank syariah berpotensi menarik simpanan
mereka jika bank syariah memberikan hasil yang lebih rendah daripada bunga bank
konvesional.[9]
Lebih jauh survei tersebut menyatakan, model pembiayaaan bagi hasil, seperti diminishing
musyarakah, musyarakah, mudharabah
, dan model jual-beli, seperti salam dan
istishna’, lebih berisiko ketimbang murabahah dan ijarah.

         
Dalam pengembangannya ke depan, perbankan syariah menghadapi tantangan yang
tidak ringan sehubungan dengan penerapan manajemen risiko ini seperti,
pemilihan instrumen finansial yang sesuai dengan prinsip syariah termasuk juga
instrumen pasar uang yang bisa digunakan untuk melakukan hedging
(lindung nilai ) terhadap risiko. Oleh karena BI dan IFSB mengacu pada aturan Basel
Accord
II, maka pemahaman yang matang mengenai manajemen risiko bank
konvensional akan sangat membantu penerapan manajemen risiko di bank syariah.

III.       
Optimalisasi Peran Dewan Pengawas Syari’ah

           
Dewan
Pengawas Syari’ah (DPS) memiliki peran penting dan strategis dalam penerapan
prinsip syariah di perbankan syari’ah. DPS bertanggung jawab untuk memastikan
semua produk dan prosedur bank syariah sesuai dengan prinsip syariah. Karena
pentingnya peran DPS tersebut, maka dua Undang-Undang di Indonesia mencantumkan
keharusan adanya DPS tersebut di perusahaan syariah dan lembaga perbankan
syariah, yaitu Undang-Undang UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
dan UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Dengan demikian secara
yuridis, DPS di lembaga perbankan menduduki posisi yang kuat, karena
keberadaannya sangat penting dan strategis.[10]

         
Berdasarkan Undang-Undang tersebut, setiap perusahaan yang berbadan hukum
Perseroan Terbatas wajib mempunyai Dewan Pengawas Syariah. Sejalan dengan
itu,  Undang-Undang No 21 Tahun 2008 tentang perbankan syari’ah, pasal 32
menegaskan hal yang sama.[11]

         
Berdasarkan kedua Undang-Undang tersebut kedudukan DPS sudah jelas dan mantap
serta sangat menentukan pengembangan bank syariah dan perusahaan syariah di
masa kini dan masa mendatang.

         
Tetapi peran DPS tersebut belum optimal dalam menjalankan pengawasan syari’ah
terhadap operasional perbankan syariah. sehingga berakibat pada
pelanggaran  syariah complience, maka citra dan kredibilitas bank
syariah di mata masyarakat bisa menjadi negatif, sehingga dapat menurunkan
kepercayaan masyarakat kepada bank syariah bersangkutan.

         
Menurut hasil penelitian Bank Indonesia (2008) kerjasama dengan Ernst dan
Young yang dibahas dalam seminar akhir tahun 2008 di Bank Indonesia,
salah satu masalah utama dalam implementasi manajemen risiko di perbankan
syariah adalah peran DPS yang belum optimal.[12]
Pernyataan itu disimpulkan para peneliti sebagai kesenjangan utama manajemen risiko
yang harus diperbaiki di masa depan.

         
Jenis manajemen risiko yang terkait erat dengan peran DPS adalah risiko
reputasi yang selanjutnya berdampak pada displaced commercial risk,
seperti risiko likuiditas dan risiko lainnya. Shanin A.Shayan  CEO
and Board Member of Barakat Foundation menyatakan bahwa, risiko terbesar
menghadapi system keuangan global bukanlah kesalahan tentang kemampuan
menciptakan laba, tetapi yang lebih penting adalah kehilangan kepercayaan dan
kredibiliatas tentang bagaimana operasional kerjanya.[13]

         
Oleh karena itu peran DPS perlu dioptimalkan, agar mereka bisa memastikan
segala produk dan sistem operasinal bank syariah benar-benar sesuai syariah.
Untuk memastikan setiap transaksi sesuai dengan syari’ah, anggota DPS harus
memahami ilmu ekonomi dan perbankan dan berpengalaman luas di bidang hukum
Islam. Dengan demikian kualifikasi menjadi anggota DPS harus memahami ilmu
ekonomi dan keuangan serta perbankan serta expert di bidang syariah.

         
Namun sangat disayangkan, masih terdapat DPS yang belum memahami ilmu ekonomi
keuangan dan perbankan. Selain itu mereka juga masih banyak yang tidak
melakukan supervisi dan pemeriksaan akad-akad yang ada di perbankan syariah.
Padahal menurut ketentuannya, DPS bekerja secara independen dan bebas untuk
meninjau dan menganalisa pada semua kontrak dan transaksi.[14]

         
Mengacu pada kualifikasi DPS tersebut di atas, maka bank-bank syariah di
Indonesia perlu melakukan restrukturisasi, perbaikan dan perubahan ke arah yang
lebih baik dan mengangkat DPS dari kalangan ilmuwan ekonomi Islam yang
berkompeten di bidangnya. Hal ini mutlak perlu dilakukan agar perannya bisa
optimal dan menimbulkan citra positif bagi pengembangan bank syariah di
Indonesia

         
Pengalaman selama ini, bank-bank syariah di Indonesia mengangkat DPS, yakni
orang yang sangat terkenal di ormas Islam atau terkenal dalam ilmu keislaman
(bukan syariah), tetapi tidak berkompeten dalam bidang perbankan dan keuangan
syariah. Realitas ini di satu sisi  menguntungkan bagi manajemen perbankan
syariah, karena mereka lebih bebas berbuat apa saja, karena pengawasannya
sangat longgar.

         
Tetapi dalam jangka panjang hal ini justru merugikan gerakan ekonomi syariah,
tidak saja bagi bank syariah bersangkutan tetapi juga bagi gerakan ekonomi dan
bank syariah secara keseluruhan dan kemajuan bank syariah di masa depan. Karena
itu, tidak aneh jika banyak masyarakat yang memandang bahwa bank syariah sama
dengan bank konvensional.

         
Tetapi harus diakui, bahwa sebagian DPS bank syariah  sudah berperan
secara optimal, meskipun masih lebih banyak yang belum optimal. Inilah yang
harus ditangani Bank Indonesia, DSN MUI dan bank-bank syariah sendiri. Oleh
karena itu, UU yang memposisikan DPS yang demikian strategis, harus
diimplementasikan dengan tepat dan cepat. Untuk itu setiap manajemen bank
syariah harus melakukan  formalisasi peran dan keterlibatan DPS dalam
memastikan pengelolaan risiko ketidakpatuhan atas peraturan dan prinsip
syariah.

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi:

1.      [1] Dosen tetap
program studi Ekonomi Islam FIAI dan MSI UII Yogyakarta, peserta Program Doktor
Ekonomi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, email:
rahmani_ty@yahoo.com , makalah
disampaikan pada Studium Generale MSI UII Yogyakarta, 14 Maret 2009

2.      [2] Agustianto, Evaluasi
Bank Syari’ah 2008 dan Outlook Bank Syari’ah 2009.
Dikutip dari
http://www.kamusmalesbanget.com/content/EVALUASI-BANK-SYARIAH-2008-DAN-OUTLOOK-BANK-SYARIAH-2009. accsessed 16 Feb
2009 15:06:59 GMT

3.      [3] Jika pada tahun
2006 jumlah jaringan kantor hanya 456 kantor, sekarang ini jumlah tersebut menjadi
1440 (Data BI Okt 2008). Dengan demikian jaringan kantor tumbuh lebih dari 200
%. Jaringan kantor tersebut telah menjangkau masyarakat di 33 propinsi dan di
banyak kabupaten/kota. Sementara itu Jumlah BUS (Bank Umum Syariah) juga
bertambah 2 buah lagi, sehingga sampai Oktober 2008 menjadi berjumlah lima Bank
Umum Syariah. Pada tahun 2009, akan hadir 8 Bank Umum Syariah lagi, sehingga
total Bank Umum Syariah menjadi 12 buah. Lihat Direktorat Perbankan Syari’ah,
Statistik Perbankan Syari’ah, per Oktober 2008  

4.      [4]Tedy Fardiansyah
Idris, Tantangan Manajemen Risiko Bank Syari’ah, dikutip dari
InfoBankNews.com

5.      [5]Ibid.

6.      [6] Tariqullah Khan
dan Habib Ahmed, Manajemen Risiko Lembaga Keuangan Syariah, penerjemah
dan pengantar Ikhwan Abidin Basri, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 3.

7.      [7] Withdrawal
risk
merupakan bagian dari spektrum risiko bisnis. Risiko ini sebagian
besar dihasilkan dari tekanan kompetitif yang dihadapi bank syariah dari
nak  konvesional sebagai counterpart-nya. Bank syariah dapat
terkena withdrawal risk (risiko penarikan dana) disebabkan oleh deposan
bila keuntungan yang mereka terima lebih rendah dari tingkat return yang
diberikan oleh rival kompetitornya. Fiduciary risk sebagai risiko yang
secara hukum bertanggung jawab atas pelanggaran kontrak investasi baik
ketidaksesuaiannya dengan ketentuan syariah atau salah kelola (mismanagement)
terhadap dana investor. Displaced commercial risk adalah transfer risiko
yang berhubungan dengan simpanan kepada pemegang ekuitas. Risiko ini bisa
muncul ketika bank berada di bawah tekanan untuk mendapatkan profit, namun bank
justru harus memberikan sebagian profitnya kepada deposan akibat rendahnya
tingkat return. Selanjutnya lihat Khan & Ahmed (2001), “Risk
Management: An Analysis of Issues in Islamic Financial Industry”.
Occasional
Paper no. 5. Islamic Research and Training Institute: Islamic Development Bank,
Lihat juga Greuning, H. and S. Bratanovic (2003), “Analyzing and Managing
Banking Risk: A Framework for Assessing Corporate Governance and Financial
Risk”
, (2nd edition). World Bank Publication.

8.      8.[8]Tariqullah
Khan dan Habib Ahmed, Manajemen Risiko…hlm.194.

9.      [9] Ibid.hlm.195.

10.  [10] Lihat
Undang-undang Nomer 40 tahun 2007 pasal 109 tentang Perseroan Terbatas:

Perseroan yang
menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah selain mempunyai Dewan
Komisaris wajib mempunyai Dewan Pengawas Syariah.

Dewan Pengawas
Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas seorang ahli syariah
atau lebih yang diangkat oleh RUPS atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.

Dewan Pengawas
Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas memberikan nasihat dan
saran kepada Direksi serta mengawasi kegiatan Perseroan agar sesuai dengan
prinsip syariah.

11.  [11] Lihat
Undang-undang Nomer 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah:

·        
Dewan Pengawas Syariah wajib dibentuk di Bank Syariah
dan Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS.

·        
Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham atas rekomendasi Majelis Ulama
Indonesia.

·        
Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) bertugas memberikan nasihat dan saran kepada direksi serta mengawasi
kegiatan  Bank agar sesuai dengan Prinsip Syariah.

·        
Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan Dewan
Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Bank Indonesia.

12.  [12]Agustianto, DPS
dan Manajemen Risiko Perbankan Syari’ah
,  Dikutip dari
http://agustianto.niriah.com/2008/12/21/dps-dan-manajemen-risiko-bank-syariah/. Accsessed 4 Mar
2009 19:09:10 GMT.

13.  [13]Lihat majalah
ekonomi dan bisnis syari’ah SHARING,Edisi 26 thn.III-Februari
2009.hlm.44.  

14.  [14] Menurut Dubai
Islamic Banking
, tugas penting anggota DPS ialah: 1) DPS adalah
seorang ahli (pakar) yang menjadi sumber dan rujukan dalam penerapan
prinsip-prinsip syariah termasuk sumber rujukan fatwa. 2) DPS mengawasi
pengembangan semua produk untuk memastikan tidak adanya fitur yang melangar
syariah. 3) DPS menganalisa segala situasi yang  belum pernah terjadi
sebelumnya yang tidak didasari fatwa di   transaksi perbankan untuk
memastikan kepatuhan dan kesesuaiannya kepada syariah. 4) DPS 
menganalisis segala kontrak dan perjanjian mengenai transaksi-transaksi di bank
syariah  untuk memastikan kepatuhan kepada syariah. 5) DPS 
memastikan  koreksi  pelanggaran dengan segera (jika ada) untuk
mematuhi Syariah. Jika ada pelanggaran, anggota DPS harus mengkoreksi penyimpangan
itu dengan segera agar disesuaikan dengan prinsip syariah. 6) DPS 
memberikan supervise untuk program pelatihan syariah bagi staf Bank Islam.
7) DPS  menyusun sebuah laporan tahunan tentang  neraca bank
syariah  tentang kepatuhannya kepada syariah.. Dengan pernyataan ini
seorang DPS memastikan kesyariahan laporan keuangan perbankan syariah.
8) DPS melakukan supervisi dalam pengembangan dan penciptaan 
investasi yang sesuai syariah dan produk pembiayaan yang inovatif. Lihat
majalah ekonomi dan bisnis syari’ah SHARING, edisi 26 thn.III-Pebruari
2009.hlm. 45. Bandingkan dengan Fungsi dan Tugas DPS dalam Keputusan DSN No.2
Tahun 2000 tentang Pedoman Rumah Tangga Dewan Syari’ah Nasional  MUI Pasal
4.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar
Pustaka

Achmad
B.
prinsip dasar operasional
perbankan syariah

Ali mutasowifin menggagas strategi pengembangan perbankan Syariah di
pasar non muslim

Bank
Indonesia. 2010. Statistik Perbankan Syariah September 2010. Jakarta.
bank Indonesia.

Dianita kristanti, abdul rosyid, ali sadikin prinsip operasional bank
syari’ah

Ferial. 2006 .Kendala-kendala yang Dihadapi
Perbankan Syariah di Indonesia
.

Harun al-rasyid ramadhana. Riba dalam perspektif  agama

Lembaga perbankan syariah di indonesia

Modul mentorng ekonomi syariah.2010. Pkpei upi bandung 

Muhammad.2005.
Manejemn Bank Syariah. (UPP) AMP YKPN. Yogyakarta.
Rahmani.2009. Manajemen risiko
perbankan syariah

Sasli
rais.
sejarah
dan prospek perkembangan

 

RESUME SISTEM OPERASIONAL PERBANKAN SYARIAH PROFIT SHARING SEBAGAI KARAKTERISTIK DASAR BANK SYARIAH

Tag

,

a. Kontrak Al-Mudharabah Prinsip bagi hasil merupakan karakteristik umum dan landasan dasar bagi operasional bank islam secara keseluruhan. Berdasarkan prinsip ini, bank islam akan berfungsi sebagai mitra, baik dengan penabung maupun dengan pengusaha yang meminjam dana. b. Faktor yang Mempengaruhi Bagi Hasil 1. Faktor Langsung Diantara faktor-faktor langsung (direct factors) yang mempengaruhi perhitungan bagi hasil adalah investment rate, jumlah dana yang tersedia, dan nisbah bagi hasil (profit sharing ratio). 2. Faktor Tidak Langsung – Penentuan butir-butir pendapatan dan biaya mudharabah – Kebijakan akunting (prinsip dan metode akunting) c. Studi Kasus – Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB): Dalam strategi investasinya, Bank Islam Malaysia Berhad mencampurkan semua dana yang tersedia dalam satu pul. Meskipun demikian, BIMB tidak memberlakukan sharing, baik dalam pendapatan maupun biaya. Nisbah antara bank (mudharib), dan deposan (shahibul maal) untuk saving accounts adalah 50%:50%, sedangkan untuk investment accounts adalah 30%. – PT Bank Muamalat Indonesia Bank Muamalat Indonesia mencampurkan semua dana yang tersedia dalam satu pul. Meskipun demikian, BMI tidak memberlakukan sharing, baik dalam pendapatan maupun biaya. Nisbah yang berlaku sekarang antara bank dan pemegang rekening adalah sebagai berikut: Deposito: 1 bulan 65:35 3 bulan 66:34 6 bulan 66:34 12 bulan 63:37 Rekening Tabungan 45:55 Rekening Koran Bonus d. Contoh Kasus 1. Perbedaan Antara Bank Syariah dan Bank Konvensional BANK SYARIAH BANK KONVENSIONAL Bapak A memiliki deposito nominal Rp10.000.000,00 Jangka waktu 1 bulan Nisbah Deposan 57%:Bank 43% Bapak B memiliki deposito nominal Rp10.000.000,00 Jangka waktu 1 bulan Bunga 20% p.a Jika keuntungan yang diperoleh untuk deposito dalam 1 bulan sebesar Rp30.000.000,00 dan rata-rata saldo deposito jangka waktu satu bulan adalah Rp950.000.000,00 Pertanyaan: Berapa keuntungan yang diperoleh Bapak A? Pertanyaan: Berapa bunga yang diperoleh Bapak B? Jawab: Rp(10.000.000 : 950.000.000) X Rp30.000.000 X 57% =Rp180.000,00 Jawab: Rp10.000.000 X (31: 365 hari) X 20% =Rp169.863,00 2. Kesimpulan a. Kesimpulan I BANK SYARIAH BANK KONVENSIONAL Besar kecilnya bagi hasil yang diperoleh deposan bergantung pada: – pendapatan bank; – nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank; – nominal deposan nasabah; – rata-rata saldo deposito untuk jangka waktu tertentu yang ada pada bank; – jangka waktu deposito karena berpengaruh pada lamanya investasi. Besar kecilnya bunga yang diperoleh deposan bergantung pada: – tingkat bunga yang berlaku; – nominal deposito; – jangka waktu deposito. b. Kesimpulan II BANK SYARIAH BANK KONVENSIONAL – Bank memberikan keuntungan kepada deposan dengan pendekatan LDR (Load to Deposit Ratio), yaitu mepertimbangkan rasio antara dana pihak ketiga dan pembiayaan yang diberikan. -Dalam perbankan syariah, LDR bukan saja mencerminkan keseimbangan, tetapi juga keadilan karena bank benar-benar membagikan hasil riil dari dunia usaha (loan) kepada penabung (deposit). – Semua bunga yang diberikan kepada deposan menjadi beban biaya langsung. -Tanpa memperhitungkan berapa pendapatan yang dapat dihasilkan dari dana yang dihimpun. -Konsekuensinya, bank harus menambahi bila bunga dari peminjam ternyata lebih kecil dibandingkan dengan kewajiban bunga deposan. Hal ini terkenal dengan istilah negative spread atau keuntungan negatif alias rugi. SISTEM PENGHIMPUNAN DANA BANK SYARIAH a. Pendahuluan Produk penghimpunan dana pada bank konvensional disesuaikan dengan tiga fungsi yaitu berupa giro, tabungan dan deposito. Bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Misalnya, pada tabungan, beberapa bank memperlakukannya seperti giro, sementara itu ada pula yang memperlakukannya seperti deposito, bahkan ada yang tidak menyediakan produk tabungan sama sekali. b. Modal Modal adalah dana yang diserahkan oleh pemilik (owner). Pada akhir periode tahun buku, setelah dihitung keuntungan yang didapat pada tahun tersebut, pemilik modal akan memperoleh bagian dari hasil usaha yang biasa dikenal dengan deviden. Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara langsung tidak menghasilkan. Selain itu juga bisa digunakan untuk hal-hal yang produktif , yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. c. Titipan Salahsatu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Adapun akad yang sesuai denan prinsip ini adalah al-wadi’ah. Al-wadi’ah merupakan titipan murni yang setiap saat dapat diambil jika pemiliknya menghendaki. 1. Wadi’ah Yad al-Amanah Dengan konsep al-wadi’ah yad al-amanah, pihak yang menerima titipan tidak boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. Pihak penerima titipan dapat membebankan biaya kepada penitip sebagai biaya penitipan. 2. Wadi’ah Yad adh-Dhamanah Dengan konsep al- wadi’ah yad adh-dhamanah, pihak yang menerima titipan boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. Tentu, pihak bank dalam hal ini mendapatkan hasil dari pengguna dana. Bank memberikan insentif kepada penitip dalam bentuk bonus. Perbedaan Antara Jasa Giro dan Bonus No. JASA GIRO BONUS (ATHAYA) 1 Diperjanjikan Tidak diperjanjikan 2 Disebutkan dalam akad Benar-benar merupakan budi baik bank 3 Ditentukan dalam presentase yang tetap Ditentukan sesuai dengan keuntungan riil bank d. Investasi Prinsip lain yang digunakan adalah prinsip investasi. Akad yang sesuai dengan prinsip ini adalah mudharabah . Tujuan dari mudharabah adalah kerja sama antara pemilik dana dan pengelola dana. 1. Mudharabah Muthlaqah Shahibul maal tidak memberikan batasan-batasan (restriction) atas dana yang diinvestasikannya. Mudharib diberi wewenang penuh mengelola dana tersebut tanpa terikat waktu, tempat, jenis usaha, dan jenis pelayanannya. Aplikasi perbankan yang sesuai dengan akad ini ialah time deposit biasa. 2. Mudharabah Muqayyadah Shahibul maal memberikan batasan atas dana yang diinvestsikannya. Mudharib hanya bisa mengelola dana tersebut sesuai dengan batasan yang diberikan oleh shahibul maal. Misalnya, hanya untuk jenis usaha tertentu saja, tempat tertentu, waktu tertentu, dan lain-lain. MENABUNG DI BANK SYARIAH a. Pendahuluan Menabung adalah tindakan yang dianjurkan oleh islam, karena dengan menabung berarti seorang muslim mempersiapkan diri untuk pelaksanaan perencanaan masa yang akan datang sekaligus untuk mengahadapi hal-hal yang tidak diinginkan. b. Beberapa Jenis Tabungan di Bank Syariah 1. Memilih antara wadi’ah dan mudharabah – Giro Nasabah yang membuka rekening giro berarti melakukan akad wadi’ah ‘titipan’. Akad wadi’ah yad al-amanah adalah akad titipan yang dilakukan dengan kondisi penerima titpan tidak wajib mengganti jika terjadi kerusakan. Bank syariah menggunakan akad wadi’ah yad adh-dhamanah untuk rekening giro. Yaitu titipan yang dilakukan dengan kondisi penerima titipan bertanggung jawab atas nilai (bukan fisik) dari uang yang dititipkan. Karena sifatnya sebagai titipan yang bisa diambil sewaktu-waktu sehingga secara asasi bank tidak bisa menggunakannya, pada prinsipnya giro berdasarkan wadi’ah ini tidak mendapatkan keuntungan, bahkan seharusnya nasabah membayar kepada bank karena ia telah menugskannya untuk menyimpan supaya aman. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bank dapat memberikan semacam bonus/hadiah kepada para pemegang giro. Bonus ini tidak boleh diperjanjikan dimuka karena jika dilakukan akan sama dengan bunga. – Tabungan Tabungan yang menerapkan akad wadi’ah mengikuti prinsip-prinsip wadiah yad adh-dhamanah berarti tabungan ini tidak mendapatkan keuntungan karena ia titipan dan dapat diambil sewaktu-waktu. Akan tetapi bank tidak dilarang jika ingin memberikan semacam bonus/hadiah. Tabungan yang menerapkan akad mudharabah mengikuti prinsip-prinsip akad mudharabah. Maka keuntungan dari dana yang digunakan harus dibagi antara shahibul maal dan mudharib. Juga adanya tenggang waktu antara dana yang diberikan dan pembagian keuntungan, karena untuk melakukan investasi dengan memutarkan dana itu diperlukan waktu yang cukup. – Deposito Bank syariah menerapkan akad mudharabah untuk deposito. Seperti dalam tabungan, dalam hal ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal dan bank selaku mudharib. Penerapan mudharabah terhadap deposito dikarenakan kesesuaian yang terdapat diantara keduanya. 2. Perbedaan antara menabung di bank syariah dan di bank konvensional Perbedaan Pertama, pada akad. Pada bank syariah, semua transaksi harus berdasarkan akad yang dibenarkan oleh syariah. Pada bank konvensional, transaksi pembukaan baik giro, maupun deposito, berdasarkan perjanjian titipan, namun perjanjian titipan ini tidak mengikuti prinsip manapun dalam muamalah syariah. Misalnya wadi’ah, karena slahsatu penyimpangannya diantaranya menjanjikan imbalan dengan tingkat bunga tetap terhadap uang yang disetor. Perbedaan kedua, terdapat pada imbalan yang diberikan. Bank konvensional menggunakan konsep biayauntuk menghitung keuntungannya, artinya, bunga yang dijanjikan dimuka kepada nasabah penabung merupakan ongkos yang harus dibayar oleh bank. Jika bunga yang dibebankan lebih tinggi kepada peminjam daripada bunga yang harus dibayar kepada nasabah penabung, bank akan mendapatkan spread positif. Jika bunga yang diterima si peminjam lebih rendah, terjadi spread negatif bagi bank. Bank harus menutupnya dengan keuntungan yang dimiliki sebelumnya. Jika tidak ada, ia harus menanggulanginya dengan modal. Bank syariah menggunakan pendekatan profit sharing, artinya dana yang diterima bank disalurkan kepada pembiayaan. Keuntungan yang didapatkan dari pembiayaan tersebut dibagi dua, untuk bank dan untuk nasabah, berdasarkan perjanjian pembagian keuntungan di muka. Perbedaan ketiga, adalah sasaran kredit/pembiayaan Para penabung di bank konvensional tidak sadar bahwa uang yang ditabungkannya diputarkan kapada semua bisnis, tanpa memandang alal-haram bisnis tersebut. Bahkan sering terjadi dana tersebut digunakan untuk membiayai proyek-proyek milik grup perusahaan bank tersebut. Celakanya kredit itu diberikan tanpa memandang apakah jumlahnya melebihi batas maksimum pemberian kredit ataukah tidak. Akibatnya, ketika krisis datang dan kredit-kredit itu bermasalah, bank sulit mendapatkan pengembalian dana darinya. Adapun dalam bank syariah, penyaluran dana simpanan di masyarakat dibatasi oleh dua prinsip dasar yaitu prinsip syariah dan prinsip keuntungan. Artinya, pembiayaan yang akan diberikan harus mengikuti kriteria-kriteria syariah, disamping pertimbangan-pertimbangan keuntungan. Misalnya pemberian pembiayaan harus kepada bisnis yang halal, tidak boleh kepada perusahaan atau bisnis yang memproduksi makanan dan minuman yang diharamkan, perjudian, pornigrafi, dan bisnis lain yang tidak sesuai dengan syariah. Karena itu, menabung di bank syariah relatif lebih aman ditinjau dari perspektif islam karena akan mendapatkan keuntungan yang didapat dari bisnis yang halal. c. Contoh Perhitungan Tabungan dan Deposito di Bank Syariah 1. Conto Kasus BANK SYARIAH BANK KONVENSIONAL Bapak A memiliki deposito nominal Rp10.000.000,00 Jangka waktu 1 bulan Nisbah Deposan 57%:Bank 43% Bapak B memiliki deposito nominal Rp10.000.000,00 Jangka waktu 1 bulan Bunga 20% p.a Jika keuntungan yang diperoleh untuk deposito dalam 1 bulan sebesar Rp30.000.000,00 dan rata-rata saldo deposito jangka waktu satu bulan adalah Rp950.000.000,00 Pertanyaan: Berapa keuntungan yang diperoleh Bapak A? Pertanyaan: Berapa bunga yang diperoleh Bapak B? Jawab: Rp(10.000.000 : 950.000.000) X Rp30.000.000 X 57% =Rp180.000,00 Jawab: Rp10.000.000 X (31: 365 hari) X 20% =Rp169.863,00 2. Kesimpulan BANK SYARIAH BANK KONVENSIONAL Besar kecilnya bagi hasil yang diperoleh deposan bergantung pada: – pendapatan bank; – nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank; – nominal deposan nasabah; – rata-rata saldo deposito untuk jangka waktu tertentu yang ada pada bank; – jangka waktu deposito karena berpengaruh pada lamanya investasi. Besar kecilnya bunga yang diperoleh deposan bergantung pada: – tingkat bunga yang berlaku; – nominal deposito; – jangka waktu deposito. SISTEM PEMBIAYAAN BANK SYARIAH a. Pendahuluan Pembiayaan merupakan salahsatu tugas pokok bank, yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan defisit unit. Menurut sifat penggunaannya, pembiayaan dapat dibagi menjadi dua hal berikut. 1. Pembiayaan produktif, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha, baik usaha produksi, perdagangan, maupun investasi. 2. Pembiayaan konsumtif, yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Menurut keperluannya, pembiayaan produktif dapat dibagi menjadi dua hal berikut. 1. Pembiayaan modal kerja, yaitu pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan: – Peningkatan produksi, baik secara kuantitatif, yaitu jumlah hasil produksi, maupun secara kualitatif, yaitu peningkatan kualitas atau mutu; – Untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility af place dari suatu barang. 2. Pembiayaan investasi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan barang-barang modal serta fasilitas-fasilitas yang erat kaitannya dengan itu. Secara umum, jenis-jenis pembiayaan dapat digambarkan sebagai berikut. b. Pembiayaan Modal Kerja Bank konvensional memberikan kredit modal kerja dengan cara memberika pinjaman sejumlah uang yang dibutuhkan untuk mendanai seluruh kebutuhan yang merupakan kombinasi dari komponen-komponen modal kerja tersebut, baik untuk keperluan produksi maupaun perdagangan untuk jangka waktu tertentu, dengan imbalan berupa bunga. Bank syariah dapat membantu memenuhi seluruh kebutuhan modal kerja tersebut bukan dengan meminjamkan uang, melainkan dengan menjalin hubungan partnership dengan nasabah, dimana bank bertindak sebagai penyandang dana, sedangkan nasabah sebagai pengusaha. Skema pembiayaan ini disebut dengan mudharabah. Fasilitas ini dapat diberikan untuk jangka waktu tertentu, sedangkan bagi hasil dibagi secara periodik dengan nisbah yang disepakati. Setelah jatuh tempo, nasabah mengembalikan jumlah dana tersebt beserta porsi bagi hasil yang menjadi bagian bank. c. Pembiayaan Investasi Pembiayaan investasi diberikan kepada para nasabah untuk keperluan investasi, yaitu keperluan penambahan modal guna mengadakan rehabilitasi, perluasan usaha, ataupun pendirian proyek baru. Ciri-ciri pembiayaan investasi adalah: 1. Untuk mengadakan barang-barang modal 2. Mempunyai perencanaan alokasi dana yang matang dan terarah 3. Berjangka waktu menengah dan panjang Pada umumnya, pembiayaan investasi diberikan dalam jumlah besar dan pengendapannya cukup lama. Oleh karena itu, perlu disusun proyeksi arus kas yang mencakup semua komponen biaya dan pendapatan sehingga akan dapat diketahui berapa dana yang tersedia setelah semua kewajiban terpenuhi. Setelah itu, barulah disusun jadwal amortisasi yang merupakan angsuran pembiayaan. d. Pembiayaan Konsumtif Pembiayaan konsumtif diperlukan oleh pengguna dana untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan akan habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan tesebut. Pada umumnya, bank konvensional membatasi pemberian kredit untuk pemenuhan barang tertentu yang dapat disertai dengan bukti kepemilikan yang sah, seperti rumah dan kendaraan bermotor, yang kemudian menjadi barang jaminan utama. Adapun untuk pemenuhan kebutuhan jasa, bank meminta jaminan berupa barang lain yang dapat diikat sebagai collateral. Sumber pembayaran kembali atas pembiayaan tersebut berasal dari sumber pendapatan lain dan bukan eksploitasi barang yang dibiayai dari fasilitas ini. Bank syariah dapat menyediakan pembiayaan komersil utnuk pemenuhan kebutuhan barang konsumsi dengan menggunkan skema berikut ini. 1. Al-ba’ibi tsaman ajil atau jual beli dengan angsuran. 2. Al-ijarah al-muntahia bit-tamlik atau sewa beli. 3. Al-musyarakah mutanaqhishah atau descreasing participation, dimana secara bertahap bank menurunkan jumlah partisipasinya. 4. Ar-Rahn untuk memenuhi kebutuhan jasa. Kebutuhan konsumsi diatas lazim digunakan untuk pemenuhan kebutuhan sekunder. Adapun kebutuhan primer pada umumnya tidak dapat dipenuhi dengan pembiayaan komersil. Seseorang yang belum mampu memenuhi kebutuhan pokoknya tergolong fakir atau miskin. Oleh karena itu, ia wajib diberi zakat atau sedekah, atau maksimal diberika pinjaman kebijakan, yaitu pinjaman dengan kewajiban pengembalian pinjaman pokoknya saja, tanpa imbalan apapun. MEMPEROLEH PEMBIAYAAN DARI BANK SYARIAH a. Urgensi Meminjam Dana untuk Usaha Untuk memulai usaha diperlukan modal, seberapapun kecilnya. Adakalanya orang mendapatkan modal dari simpanannya atau dari keluarganya. Adapula yang meminjam kepada rekan-rekannya. Jika tidak tersedia, peran institusi keuangan menjadi sangat penting karena dapat menyediakan modal bagi orang yang ingin berusaha. b. Etika Meminjam Secara Islami Dalam perbankan syariah, sebenarnya penggunaan kata pinjam meminjam kurang tepat digunakan sebab dua hal. Pertama, pinjaman merupakan salah satu metode hubungan finansial dalam islam. Masih banyak metode yang diajarkan oleh syariah selain pinjaman, seperti jual beli, bagi hasil, sewa dan sebagainya. Kedua, dalam islam pinjam meminjam adalah akad sosial, bukan komersial. Artinya bila seseorang meminjam sesuatu, ia tidak boleh disyaratkan untuk memberikan tambahan atas pokok pinjamannya. c. Syarat Administratif Seperti juga dalam perbankan konvensional, perbankan syariah menetapkan syarat-syarat umum untuk sebuah pembiayaan, seperti hal-hal berikut. 1. Surat permohonan tertulis, dengan dilampiri proposal. 2. Legalitas usaha 3. Laporan keuangan

Makalah Observasi Bank BRI

Tag

, , ,

KATA PENGANTAR Dengan mengucap puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta memberikan kekuatan dan kemampuan kepada penyusun sehingga dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Sistem Operasional Perbankan Syariah (Studi Kasus pada BRI Syariah). Tugas makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perbankan Syariah yang di ampu Bapak Drs. Umar Faruk, M.Si. Maka dari itu, pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak dosen Drs. Umar Faruk, M.Si selaku dosen mata kuliah Perbankan Syariah yang telah membimbing penyusun dalam penyusunan makalah ini. Dalam penyusunan makalah ini tidak menutup kemungkinan masih banyak terdapat kekurangan yang disebabkan keterbatasan ilmu pengetahuan penyusun, dimana penyusun telah berusaha semaksimal mungkin dengan bekal pengetahuan yang penyusun miliki untuk mencapai hasil yang terbaik. Maka demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini, kami terbuka untuk menerima kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca. Semoga karya kecil ini dapat menjadi bekal ilmu pengetahuan bagi pembaca dan menjadikan rahmat yang tak putus bagi penyusun. Amin. Bandung, April 2012 Penyusun DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan perbankan di Indonesia sejak adanya revisi UU No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan syariah telah memberikan andil besar dalam perkembangan perbankan syariah sampai sekarang ini. Menjamurnya bank syariah banyak menimbulkan kekhawatiran bank-bank konvesional sehingga banyak bank-bank konvensional membuka unit syariah. Kehadiran bank syariah di tengah-tengah perbankan konvensional adalah untuk menawarkan sistem perbankan alternatif berbasis syariah, yang diharapkan dapat memecahkan permasalahan-permasalahan ekonomi. Namun dewasa ini, banyaknya bank-bank yang mengatasnamakan bank syariah membuat masyarakat bingung dalam memilih bank mana yang harus mereka percayai. Dari masalah di ataslah, yang melatar belakangi penyusun untuk menyusun makalah ini, yaitu untuk lebih memperdalam lagi pengetahuan penyusun mengenai sistem operasional dan produk perbankan syariah. Pada kesempatan ini penyusun melakukan observasi pada Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana sistem operasional yang diterapkan pada BRI Syariah? 2. Apa saja produk penghimpunan dana pada BRI Syariah? 3. Apa saja produk penyaluran dana pada BRI Syariah? 4. Apa saja produk jasa berprofit pada BRI Syariah? 5. Bagaimana perhitungan teknis nisbah (porsi bagi hasil) dari BRI Syariah? 1.3 Tujuan Penyusunan 1. Untuk mengetahui sistem operasional yang diterapkan pada BRI Syariah. 2. Untuk mengetahui produk penghimpunan dana pada BRI Syariah. 3. Untuk mengetahui produk penyaluran dana pada BRI Syariah. 4. Untuk mengetahui produk jasa berprofit pada BRI Syariah. 5. Untuk mengetahui perhitungan teknis nisbah (porsi bagi hasil) dari BRI Syariah. BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Pengertian Bank Secara umum, bank adalah lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama, yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan memberikan jasa pengiriman uang. Berdasarkan undang-undang perbankan No. 10 tahun 1998: “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”. Sedangkan bank syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank syariah atau biasa disebut dengan bank tanpa bunga adalah lembaga keuangan / perbankan yang opersional dan produknya dikembangkan berlandaskan pada Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Atau dengan kata lain, bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariat Islam (Muhammad, 2000:62). 2.2 Sejarah dan Perkembangan Bank Syariah Beroperasinya Mit Ghamr Local Saving Bank di Mesir pada tahun 1963 merupakan tonggak sejarah perkembangkan sistem perbankan Syariah. Mit Ghamr menyediakan pelayanan dasar perbankan seperti simpanan, pinjaman, penyertaan modal, investasi langsung dan pelayanan sosial. Pada tahun 1967 pengoperasian Mit Ghamr diambil alih oleh National Bank of Egypt dan Bank Sentral Mesir disebabkan adanya kekacauan politik. Walaupun Mit Ghamr sudah berhenti beroperasi sebelum mencapai kematangan dan menyentuh semua profesi bisnis, keberadaannya telah memberikan pertanda bagi masyarakat muslim bahwa prinsip-prinsip Islam sangat applicable dalam dunia bisnis modern. Perkembangan selanjutnya adalah berdirinya Islamic Develoment Bank (IDB), yang berdiri atas prakarsa dari sidang menteri luar negeri Negara-negara OKI di Pakistan (1970), Libiya (1973), dan Jeddah (1975). Dalam sidang tersebut diusulkan penghapusan sistem keuangan berdasarkan bunga dan menggantinya dengan sistem bagi hasil. Berdirinya IDB telah memotivasi banyak negeri Islam untuk mendirikan untuk mendirikan lembaga keuangan syari’ah. Pada akhir priode 1970-an dan awal periode 1980-an bank-bank syari’ah bermunculan di Mesir, Sudan, negara-negara Teluk, Pakistan, Iran, Malaysia, Bangladesh, dan Turki. Dari berbagai laporan tentang bank Syariah, ternyata bahwa operasi perbankan Syariah dikendalikan oleh tiga prinsip dasar, yaitu (a) dihapuskannya bunga dalam segala bentuk transaksi, (b) dilakukannya segala bisnis yang sah, berdasarkan hukum serta perdagangan komersial dan perusahaan industri, dan (c) memberikan pelayanan sosial yang tercermin dalam penggunaan dana-dana zakat untuk kesejahteraan fakir miskin. Berkembangnya bank-bank syari’ah di negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Pada awal periode 1980-an telah banyak diskusi mengenai bank syari’ah sebagai pilar ekonomi Islam, akan tetapi prakarsa untuk mendirikan bank Syariah baru dimulai pada tahun 1990. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan lokakarya tentang bunga bank dan perbankan menghasilkan terbentuknya sebuah tim perbankan yang bertugas melakukan pendekatan dan konsultasi. Pada tahun 1991 berdiri PT. BMI (Bank Muamalat Indonesia). Pada awal pendirian BMI keberadaan bank syari’ah belum mendapat perhatian yang optimal dalam tatanan industri perbankan nasional, disebabkan landasan hukum operasional bank yang menggunakan sistem syari’ah ini hanya dikategorikan sebagai bank dengan sistem bagi hasil, dan tidak terdapat rincian landasan hukum syari’ah serta jenis-jenis usaha yang diperbolehkan. Pada era reformasi perkembangan perbankan syari’ah ditandai dengan disetujuinya Undang-Undang No.10 tahun 1998, yang mengatur dengan rinci landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplemen-tasikan oleh bank syari’ah. Undang-Undang tersebut juga memberikan arahan bagi bank konvensional untuk membuka cabang syari’ah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi bank syari’ah. 2.3 Tujuan Bank Syariah Menurut Sumitro (1996:17), tujuan dibentuknya bank syariah adalah mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk bermuamalah secara Islam, khususnya muamalah yang berhubungan dengan perbankan agar terhindar dari praktek-praktek riba atau jenis-jenis usaha atau perdagangan lain yang mengandung unsur gharar (tipuan). Dimana jenis jenis usaha tesebut selain dilarang dalam Islam juga telah menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan ekonomi umat. Dan menurut Arifin (2002:12) tujuan pendirian bank syariah pada umumnya adalah untuk mempromosikan dan mengembangkan penerapan prinsip-prinsip syariah Islam dan tradisinya kedalam transaksi keuangan dan perbankan serta bisnis lain yang terkait. 2.4 Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank Konvensional Dalam beberapa hal, bank syari’ah dan bank konvensional memiliki persamaan terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pem-biayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan, dan lain-lain. Akan tetapi terdapat banyak perbedaan mendasar di antara keduanya yaitu menyangkut aspek legal, stuktur organisasi, usaha yang dibiayai, dan lingkungan kerja. Penjelasan mengenai perbedaan-perbedaan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Akad dan aspek legalitas Dalam bank syari’ah, akad yang dilakukan memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi, karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum Islam. Sehingga pelanggaran kesepakatan dapat diminimalisir. Selain itu akad dalam perbankan syari’ah baik dalam hal barang, pelaku transaksi, maupun ketentuan lainnya harus memenuhi ketentuan akad, baik rukun maupun syaratnya. 2. Lembaga penyelesaian sengketa Dalam perbankan syari’ah, apabila terdapat perbedaan atau perselisihan antara bank dan nasabah, kedua belah pihak tidak menyelesaikannya di pengadilan negeri, tetapi menyelesaikannya sesuai dengan tatacara dan hukum materi syari’ah. Hukum yang mengatur ini disebut BAMUI yang didirikan bersama antara MUI dan Kejaksaan Agung. 3. Stuktur organisasi Dalam stuktur organisasi bank syari’ah memiliki kesamaan dengan bank konvensional, seperti komisaris maupun direksi. Tetapi unsur yang dapat membedakan antara bank syari’ah dan konvensional adalah adanya pengawas syari’ah (DPS) yang bertugas mengawasi operasional bank dan produk-produk agar sesuai dengan garis-garis syari’ah dan DPS biasanya diletakkan pada posisi setingkat dewan komisaris pada setiap bank. Banyaknya DPS pada bank perlu disyukuri, akan tetapi perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya fatwa yang berbeda di masing-masing DPS, maka MUI sebagai payung dari lembaga organisasi keislaman di Indonesia perlu membentuk dewan syari’ah secara nasional yang membawahi lembaga-lembaga keuangan termasuk di dalamnya bank-bank syari’ah. Lembaga ini biasa disebut Dewan Syari’ah Nasional (DSN), yang berfungsi mengawasi produk-produk keuangan syari’ah agar sesuai dengan syariat Islam (meneliti dan memberi fatwa bagi produk yang dikembangkan). DSN juga bertugas memberikan rekomendasi para ulama yang akan ditugaskan sebagai DSN pada satu lembaga keuangan. Selain itu DSN juga dapat memberikan teguran dan mengusulkan kepada otoritas yang berwenang untuk memberikan sanksi kepada bank yang melakukan dan mengembangkan tidak sesuai syari’ah. 4. Bisnis dan usaha yang dibiayai Dalam bank syari’ah, bisnis dan usaha yang dilaksanakan harus sesuai dengan syari’ah. Karena itu, bank syari’ah tidak akan mungkin membiayai usaha yang terkandung dalam hal-hal yang diharamkan. 5. Lingkungan kerja dan corporate culture Dalam bank syari’ah haruslah memiliki lingkungan kerja yang sejalan dengan syari’ah. Dalam hal etika misalnya sifat amanah, shiddiq harus melandasi setiap karyawan, sehingga tercermin integritas eksekutif muslim yang baik. Begitu pula karyawan bank harus skillful dan profesional (fathanah) dan mampu melakukan tugas secara teamwork dimana informasi merata di semua fungsional organisasi (tabligh) begitu pula dalam halreward dan punishment diperlukan prinsip keadilan yang sesuai dengan syari’ah. 2.5 Konsep dan Sistem Operasional Bank syari’ah 2.5.1 Sumber Dana Bank Syari’ah Bank sebagai suatu lembaga keuangan yang salah satu fungsinya adalah menghimpun dana masyarakat, harus memiliki suatu sumber penghimpunan dana sebelum disalurkan ke masyarakat kembali. Dalam bank syari’ah, sumber dana berasal dari modal inti (core capital) dan dana pihak ketiga, yang terdiri dari dana titipan (wadi’ah) dan kuasi ekuitas (mudarabah account). Modal inti adalah modal yang berasal dari para pemilik bank, yang terdiri dari modal yang disetor oleh para pemegang saham, cadangan dan laba ditahan. Modal yang disetor hanya akan ada apabila pemilik menyertakan dananya pada bank melalui pembelian saham, dan untuk penambahan dana berikutnya dapat dilakukan oleh bank dengan mengeluarkan dan menjual tambahan saham baru. Cadangan adalah sebagian laba bank yang tidak dibagi, yang disisihkan untuk menutup timbulnya risiko kerugian di kemudian hari. Sedangkan laba ditahan adalah sebagian laba yang seharusnya dibagikan kepada para pemegang saham, tetapi oleh para pemegang saham sendiri (melalui RUPS) diputuskan untuk ditanam kembali dalam bank. Modal inti inilah yang berfungsi sebagai penyangga dan penyerap kegagalan atau kerugian bank dan melindungi kepen-tingan para pemegang rekening titipan (wadi’ah) atau pinjaman (qard). Sebagaimana halnya dengan bank konvensional, bank syari’ah juga mempunyai peran sebagai lembaga perantara (intermediary) antara satuan-satuan kelompok masyarakat atau unit-unit ekonomi yang mengalami kelebihan dana (surplus unit) dengan unit-unit lain yang mengalami kekurangan dana (deficit unit). Melalui bank, kelebihan dana-dana tersebut akan disalurkan kepada pihak-pihak yang memerlukan dan memberikan manfaat kepada kedua belah pihak. Dana pihak ketiga tersebut terdiri dari : a. Titipan/wadi’ah, yaitu dana titipan masyarakat yang dikelola oleh bank. b. Investasi/mudarabah, adalah dana masyarakat yang diinvestasikan. 2.5.2 Aqad-aqad Bank Syari’ah Bank syari’ah dengan sistem bagi hasil dirancang untuk terbinanya kebersamaan dan menanggung risiko usaha dan berbagi hasil usaha antara pemilik dana (shahibul mal) yang menyimpan uangnya di lembaga, lembaga selaku pengelola dana (mudarib), dan masyarakat yang membutuhkan dana yang bisa berstatus peminjam dana atau pengelola usaha. Pengelolaan dana tersebut didasarkan pada aqad-aqad yang disesuaikan dengan kaidah muamalat. Dari segi ada atau tidaknya kompensasi, fiqh muamalat membagi aqad menjadi dua bagian, yaitu: a. Aqad tabarru’, yaitu segala macam perjanjian yang menyangkut not-for profit transaction (transaksi nirlaba). Transaksi ini pada hakikatnya bukan transaksi bisnis untuk mencari keuntungan komersil. Aqad tabarru’ dilakukan dengan tujuan tolong menolong dalam rangka berbuat kebaikan. Namun demikian, pihak yang berbuat kebaikan tersebut boleh meminta kepada counter part-nya untuk sekedar menutup biaya (cover the cost) yang dikeluarkannya untuk dapat melakukan aqad tabarru’ tersebut. Tetapi ia tidak boleh sedikitpun mengambil laba dari aqad tabarru’ itu. Contoh aqad tabarru’ adalah: 1. Qard, pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali. 2. Wadi’ah, mewakilkan orang lain untuk memelihara harta tertentu dengan cara tertentu. 3. Wakalah, aqad pemberian kuasa (muwakkil) kepada penerima kuasa (wakil) untuk melaksanakan suatu tugas (taukil) atas nama pemberi kuasa. 4. Kafalah, jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafl) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. 5. Rahn, menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara, sebagai jaminan hutang, hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil atau ia bisa mengambil sebagian manfaat barang itu. 6. Dhaman, menggabungkan dua beban (tanggungan) untuk membayar hutang, menggadaikan barang atau menghadirkan orang pada tempat yang telah ditentukan. 7. Hiwalah, aqad yang mengharuskan pemindahan hutang dari yang ber-tanggung jawab kepada penanggung jawab yang lain. b. Aqad tijaroh (compensational contract) adalah segala macam perjanjian yang menyangkut profit transaction. Aqad-aqad ini dilakukan dengan tujuan mencari keuntungan, karena itu bersifat komersil. Contoh aqad tijaroh antara lain: 1. Murabahah, adalah jual-beli barang dengan harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Penjual harus memberitahu harga produk yang dia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. 2. Salam, pembelian barang yang diserahkan kemudian hari, sementara pembayaran dilakukan di muka. 3. Istisna, kontrak penjualan antara mustashni (pembeli akhir) dan shani (supplier). Pembelian dengan pesanan. 4. Ijaroh, aqad pemindahan hak guna atas barang atau jasa melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership/ milkiyyah) atas barang itu sendiri. 5. Musyarakah, aqad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. 6. Muzara’ah, adalah bentuk kontrak bagi hasil yang diterapkan pada tanaman pertanian setahun. 7. Musaqah, adalah bentuk kontrak bagi hasil yang diterapkan pada tanaman pertanian tahunan. 8. Mukhabarah, adalah muzara’ah tetapi bibitnya berasal dari pemilik tanah. 2.5.3 Prinsip-prinsip Operasional Bank Syari’ah a. Prinsip simpanan giro, merupakan fasilitas yang diberikan oleh bank untuk memberikan kesempatan kepada pihak yang kelebihan dana untuk menyimpan dananya dalam bentuk al wadiah, yang diberikan untuk tujuan keamanan dan pemindahbukuan, bukan untuk tujuan investasi guna mendapatkan keuntungan seperti halnya tabungan atau deposito. b. Prinsip bagi hasil, meliputi tatacara pembagian hasil usaha antara pemilik dana (shahibul mal) dan pengelola dana (mudarib). Pembagian hasil usaha ini dapat terjadi antara bank dengan penyimpan dana maupun antara bank dengan nasabah penerima dana. Prinsip ini dapat digunakan sebagai dasar untuk produksi pendanaan (tabungan dan deposito) maupun pembiayaan. c. Prinsip jual-beli dan mark-up, merupakan pembiayaan bank yang diperhitungkan secara lump-sum dalam bentuk nominal di atas nilai kredit yang diterima nasabah penerima kredit dari bank. Biaya bank tersebut ditetapkan sesuai dengan kesepakatan antara bank dengan nasabah. d. Prinsip sewa, terdiri dari dua macam, yaitu sewa murni (operating lease/ijaroh) dan sewa beli (financial lease/bai’ al ta’jir). e. Prinsip jasa (fee), meliputi seluruh kekayaan non-pembiayaan yang diberikan bank, seperti kliring, inkaso, transfer dan sebagainya. 2.5.4 Produk dan Jasa Perbankan Syari’ah Pada dasarnya, produk yang ditawarkan oleh perbankan syariah dapat dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu: A. Produk Penyaluran Dana (Financing) B. Produk Penghimpunan Dana (Funding) C. Produk Jasa (Service) Penjelasan mengenai produk perbankan syariah tersebut adalah sebagai berikut : A. Produk Penyaluran Dana (Financing) Dalam menyalurkan dananya pada nasabah, secara garis besar produk pembiayaan syariah terbagi ke dalam empat kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu: 1. Pembiayaan dengan prinsip jual-beli 2. Pembiayaan dengan prinsip sewa 3. Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil 4. Pembiayaan dengan akad pelengkap Uraian lebih rinci mengenai mengenai masing-masing produk tersebut adalah sebagai berikut : I. Prinsip Jual Beli (Ba’i) Prinsip jual beli dilaksanakan sehubungan dengan adanya perpindahan kepemilikan barang/benda (transfer of property). Tingkat keuntungan bank ditentukan di depan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual. Transaksi jual beli dapat dibedakan berdasarkan bentuk pembayarannya dan waktu penyerahan barangnya, yakni sebgai berikut: 1) Pembiayaan Murabahah Adalah transaksi jual beli dimana bank menyebut jumlah keuntungannya. Bank bertindak sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Harga jual adalah harga beli bank dari pemasok ditambah keuntungan (marjin). Kedua belah pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran. Harga jual dicantumkan dalam akad jual beli dan jika telah disepakati tidak dapat berubah selama berlakunya akad. Dalam perbankan murabahah selalu dilakukan dengan cara pembayaran cicilan. Dalam transaksi ini barang diserahkan segera setelah akad, sementara pembayaran dilakukan secra tangguh/ciclan. 2) Pembiayaan Salam Salam adalah transaksi jual beli dimana barang yang diperjualbelikan belum ada. Oleh karena itu, barang diserahkan secara tangguh sementara pembayaran dilakukan tunai. Bank bertindak sebagai pembeli, sementara nasabah sebagai penjual. Dalam transaksi ini kuantitas, kualitas, harga dan waktu penyerahan barang harus ditentukan dengan pasti. Ketentuan umum pembiayaan salam adalah sebagai berikut : a. Pembelian hasil produksi harus diketahui spesifikasinya secara jelas seperti jenis, macam, ukuran, mutu dan jumlahnya. b. Apabila hasil produksi yang diterima cacat/tidak sesuai dengan akad maka nasabah (produsen) harus bertanggung jawab dengan cara antara lain mengembalikan dana yang telah diterimanya/mengganti barang yang sesuai dengan pesanan. c. Mengingat bank tidak menjadikan barang yang dibeli/dipesannya sebagai persediaan (inventory), maka dimungkinkan bagi bank untuk melakukan akad salam kepada pihak ketiga (pembeli kedua) seperti BULOG, pedagang pasar induk/rekanan. 3) Pembiayaaan Istishna’ Produk istishna’ menyerupai produk salam, tetapi pembayarannya dapat dilakukan oleh bank dalam beberapa kali (termin) pembayaran. Skim istishna’ dalam bank syariah umumnya diaplikasikan pada pembiayaan manufaktur dan konstruksi. Ketentuan umum pembiayaan istishna’ adalah spesifikasi barang pesanan harus jelas seperti jenis, macam ukukran, mutu dan jumlahnya. II. Prinsip Sewa (Ijarah) Transaksi ijarah dilandasi adanya peerpindahan manfaat. Bila pada jual-beli objek transaksinya adalah barang, pada ijarah objek transaksinya adalah jasa. Pada akhir masa sewa, bank dapat saja menjual barang yang disewakannya kepada nasabah. Karena itu dalam perbankan syariah dikenal ijarah muntahhiyah bittamlik (sewa yang didikuti dengan berpindahnya kepemilikan). Harga sewa dan harga jual disepakati pada awal perjanjian. III. Prinsip Bagi Hasil (Syirkah) Produk pembiayaan syariah yang didasarkan atas prinsip bagi hasil adalah sebagai berikut : a. Pembiayaan Musyarakah Bentuk umum dari usaha bagi hasil adalah musyarakah (syirkah atau syarikah). Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerja sama untuk meningkatkan nilai asset yang mereka miliki secra bersama-sama. Semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak/lebih dimana mereka secra bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud. b. Pembiayaan Mudharabah Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua/lebih pihak dimana pemilik modal (shahib al-maal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan. Bentuk ini menegaskan kerja sama dalam paduan kontribusi 100% modal kas dari shahib al-maal dan keahlian dari mudharib. IV. Akad Pelengkap Akad pelengkap ini tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, tetapi ditujukan untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan. Uraian berikut ini akan membahas akad-akad pelengkap ini 1) Hiwalah (Alih Utang-Piutang) Tujuan fasilitas hiwalah adalah membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan produksinya. Bank mendapat ganti-biaya atas jasa pemindahan piutang. 2) Rahn (Gadai) Tujuan akad rahn adalah untuk memberikan jaminan pembayaran kembali kepada bank dalam memberikan pembiayaan. Brang yang digadaikan wajib memenuhi kriteria: milik nasabah sendiri, jelas ukuran, sifat dan nilainya ditentukan berdasarkan nilai riilpasar, dapat dikuasai namun tidak boleh dimanfaatkan oleh bank. 3) Qardh Adalah pinjaman uang. Aplikasi qardh dalam perbankan biasanya dalam empat hal, yaitu: a. Sebagai pinjaman talangan haji b. Sebagai pinjaman tunai (cash advanced) dari produk kartu kredit syariah c. Sebagai pinjaman kepada pengusaha kecil d. Sebagai pinjaman kepada pengurus bank 4) Wakalah (Perwakilan) Wakalah dalam aplikasi perbankan terjadi apabila nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan jasa tertentu, seperti pembukuan L/C, inkaso dan transfer uang. 5) Kafalah (Garansi Bank) Garansi bank dapat diberikan dengan tujuan untuk menjamin pembayran suatu kewajiban pembayran. Bank dapat mensyaratkan nasabah untuk menempatkan sejumlah dana untuk fasilitas ini sebagai rahn. Bank dapat pula menerima dana tersebut dengan prinsip wadiah. Untuk jasa-jasa ini bank mendapatkan pengganti biaya atas jasa yang diberikan. B. Produk Penghimpunan Dana (Funding) Penghimpunan dana di bank syariah dapat berbentuk giro, tabungan dan deposito. Prinsip operasional syariah yang diterapkan dalam penghimpunan dana masyarakat adalah prinsip Wadi’ah dan Mudharabah. I. Prinsip Wadi’ah Prinsip wadi’ah yang diterapkan adalah wadi’ah yad dhamanah yang diterapkan pada produk rekening giro. Wadiah dhamanah berbeda dengan wadi’ah amanah. Dalam wadi’ah amanah, pada prinsipnya harta titipan tidak boleh dimanfaatkan oleh yang dititipi. Sementara itu, dalam hal wadi’ah dhamanah, pihak yang dititipi (bank) bertanggung jawab atas keutuhan harta titipan yang sehingga ia boleh memanfaatkan harta titipan tersebut. Karena wadi’ah yang diterapkan dalam produk giro perbankan ini juga disifati dengan yad dhamanah, implikasi hukumnya sama dengan qardh, dimana nasabah bertindak sebgai yang meminjamkan uang, dan bank bertindak sebgai yang dipinjami. II. Prinsip Mudharabah Dalam mengaplikasikan prinsip mudharabah, penyimpan/deposan bertindak sebagai shahibul maal (pemilik modal) dan bank sebgai mudharib (pengelola). Berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh pihak penyimpan dana, prinsip mudharabah terbagi 2 yaitu: a. Mudharabah mutlaqah / URIA (Unrestricted Investment Account) b. Mudharabah muqayyadah / RIA (Restricted Invesment Account) a. Mudharabah Mutlaqah / URIA (Unrestricted Investment Account) Dalam mudharabah mutlaqah, tidak ada pembatasan bagi bank dalam menggunakan dana yang dihimpun. Bank memiliki kebebasan penuh untuk menyalurkan dana URIA ini ke bisnis manapun yang diperkirakan menguntungkan. Dari penerapan mudharabah mutlaqah ini dikembangkan produk tabungan dan deposito, sehingga terdapat dua jenis penghimpunan dana, yaitu tabungan mudharabah dan deposito mudharabah. b. Mudharabah Muqayyadah / RIA (Restricted Invesment Account) Terbagi menjadi dua jenis, yaitu : 1. Mudharabah Muqayyadah on Balance Sheet Merupakan simpanan khusus (restricted investment) diman pemilik dan adapat menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh bank. 2. Mudharabah Muqayyadah of Balance Sheet Merupakan penyaluran dana mudharabah langsung kepada pelaksanausahanya, dimana bank bertindak sebgai perantara (arranger) yang mempertemukan antara pemilik dana dengan pelaksana usaha. Pemilik dana dapat menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh bank dalam mencari bisnis (pelaksana usaha). III. Akad Pelengkap Akad pelengkap ini tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, tetapi ditujukan untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan. Salah satu akad pelengkap yang dapat dipakai untuk penghimpunan dana adalah akad wakalah, misalnya dalam aplikasinya terjadi apabila nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan jasa tertentu, seperti inkaso dan transfer uang. C. Produk Jasa (Service) Jasa perbankan tersebut antara lain berupa ; 1. Sharf (Jual Beli Valuta Asing) Pada prinsipnya jual beli valuta asing sejalan dengan prinsip sharf. Jual beli mata uang yang tidak sejenis ini, penyerahannya harus dilakukan pada waktu yang sam (spot). Bank mengambil keuntungan dari jual beli valuta asing ini. 2. Ijarah (Sewa) Jenis kegiatan ijarah antara lain penyewaan kotak simpanan (safe deposit box) dan jasa tata laksana administrasi dokumen (custodian). Bank mendapat imbalan sewa dari jasa tersebut. BAB III PEMBAHASAN 3.1 Profil BRI Syariah Berawal dari akuisisi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk., terhadap Bank Jasa Arta pada 19 Desember 2007 dan setelah mendapatkan izin dari Bank Indonesia pada 16 Oktober 2008 melalui suratnya 0.10/67/KEP.GBI/DpG/2008, maka pada tanggal 17 November 2008 PT. Bank BRI Syariah secara resmi beroperasi. Kemudian PT. Bank BRISyariah merubah kegiatan usaha yang semula beroperasional secara konvensional, kemudian diubah menjadi kegiatan perbankan berdasarkan prinsip syariah Islam. Dua tahun lebih PT. Bank BRI Syariah hadir mempersembahkan sebuah bank ritel modern terkemuka dengan layanan fi¬nansial sesuai kebutuhan nasabah dengan jangkauan termudah untuk kehidupan lebih bermakna. Melayani nasabah dengan pelayanan prima (service excellence) dan menawarkan beragam produk yang sesuai harapan nasabah dengan prinsip syariah. Kehadiran PT. Bank BRI Syariah di tengah-tengah industri perbankan nasional dipertegas oleh makna pendar cahaya yang mengikuti logo perusahaan. Logo ini menggambarkan keinginan dan tuntutan masyarakat terhadap sebuah bank modern sekelas PT. Bank BRI Syariah yang mampu melayani masyarakat dalam kehidupan modern. Kombinasi warna yang digunakan merupakan turunan dari warna biru dan putih sebagai benang merah dengan brand PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk., Aktivitas PT. Bank BRI Syariah semakin kokoh setelah pada 19 Desember 2008 ditandatangani akta pemisahan Unit Usaha Syariah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk., untuk melebur ke dalam PT. Bank BRI Syariah (proses spin off ) yang berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2009. Penandatanganan dilakukan oleh Bapak Sofyan Basir selaku Direktur Utama PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk., dan Bapak Ventje Rahardjo selaku Direktur Utama PT. Bank BRISyariah. Saat ini PT. Bank BRI Syariah menjadi bank syariah ketiga terbesar berdasarkan aset. PT. Bank BRI Syariah tumbuh dengan pesat baik dari sisi aset, jumlah pembiayaan dan perolehan dana pihak ketiga. Dengan berfokus pada segmen menengah bawah, PT. Bank BRI Syariah menargetkan menjadi bank ritel modern terkemuka dengan berbagai ragam produk dan layanan perbankan. Sesuai dengan visinya, saat ini PT. Bank BRI Syariah merintis sinergi dengan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk., dengan memanfaatkan jaringan kerja PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk., sebagai Kantor Layanan Syariah dalam mengembangkan bisnis yang berfokus kepada kegiatan penghimpunan dana masyarakat dan kegiatan konsumer berdasarkan prinsip Syariah. Visi & Misi BRI Syariah Visi Menjadi bank ritel modern terkemuka dengan ragam layanan ¬finansial sesuai kebutuhan nasabah dengan jangkauan termudah untuk kehidupan lebih bermakna. Misi 1. Memahami keragaman individu dan mengakomodasi beragam kebutuhan fi¬nansial nasabah. 2. Menyediakan produk dan layanan yang mengedepankan etika sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. 3. Menyediakan akses ternyaman melalui berbagai sarana kapan pun dan dimana pun. 4. Memungkinkan setiap individu untuk meningkatkan kualitas hidup dan menghadirkan ketenteraman pikiran. 3.2 Struktur Organisasi BRI Syariah a. Dewan Komisaris Bank BRI Syariah Komisaris Utama (President Commisioner) : Bambang Soepeno Komisaris Independen (Independent Commissioner) : Sunarsip Komisaris Independen (Independent Commissioner) : Nasrah Mawardi Komisaris Independen (Independent Commissioner) : Musthafa Zuhad Mughni b. Dewan Direksi Bank BRI Syariah Direktur Utama (President Director) : Ventje Rahardjo Direktur (Director) : Ari Purwandono Direktur (Director) : Eko B. Suharno Direktur (Director) : Budi Wisakseno Ketua Dewan Pengawas Syariah : Prof. Dr. H. Didin Hafidhuddin, MSc. Anggota Dewan Pengawas Syariah : Muhammad Gunawan Yasni, SE, MM, CIFA. 3.3 Sistem Operasional BRI Syariah 3.3.1 Sumber Dana Bank Syari’ah Dalam BRI Syari’ah, sumber dana berasal dari modal inti (core capital) dan dana pihak ketiga, yang terdiri dari dana titipan (wadi’ah) dan kuasi ekuitas (mudarabah account). Modal inti adalah modal yang berasal dari para pemilik bank, yang terdiri dari modal yang disetor oleh para pemegang saham, cadangan dan laba ditahan. Modal yang disetor hanya akan ada apabila pemilik menyertakan dananya pada bank melalui pembelian saham, dan untuk penambahan dana berikutnya dapat dilakukan oleh bank dengan mengeluarkan dan menjual tambahan saham baru. Cadangan adalah sebagian laba bank yang tidak dibagi, yang disisihkan untuk menutup timbulnya risiko kerugian di kemudian hari. Sedangkan laba ditahan adalah sebagian laba yang seharusnya dibagikan kepada para pemegang saham, tetapi oleh para pemegang saham sendiri (melalui RUPS) diputuskan untuk ditanam kembali dalam bank. Modal inti inilah yang berfungsi sebagai penyangga dan penyerap kegagalan atau kerugian bank dan melindungi kepen-tingan para pemegang rekening titipan (wadi’ah) atau pinjaman (qard). Sebagaimana halnya dengan bank konvensional, BRI Syariah juga berperan sebagai lembaga perantara (intermediary) antara satuan-satuan kelompok masyarakat atau unit-unit ekonomi yang mengalami kelebihan dana (surplus unit) dengan unit-unit lain yang mengalami kekurangan dana (deficit unit). Melalui BRI Syariah, kelebihan dana-dana tersebut akan disalurkan kepada pihak-pihak yang memerlukan dan memberikan manfaat kepada kedua belah pihak. Dana pihak ketiga tersebut terdiri dari : c. Titipan/wadi’ah, yaitu dana titipan masyarakat yang dikelola oleh bank. d. Investasi/mudarabah, adalah dana masyarakat yang diinvestasikan. 3.3.2 Aqad-aqad dalam Sistem Operasional BRI Syariah Bank syari’ah dengan sistem bagi hasil dirancang untuk terbinanya kebersamaan dan menanggung risiko usaha dan berbagi hasil usaha antara pemilik dana (shahibul mal) yang menyimpan uangnya di lembaga, lembaga selaku pengelola dana (mudarib), dan masyarakat yang membutuhkan dana yang bisa berstatus peminjam dana atau pengelola usaha. Pengelolaan dana tersebut didasarkan pada aqad-aqad yang disesuaikan dengan kaidah muamalat. Dalam sistem operasional BRI Syariah, aqad-aqad yang digunakan yaitu: a. Aqad tabarru’, yaitu segala macam perjanjian yang menyangkut not-for profit transaction (transaksi nirlaba). Transaksi ini pada hakikatnya bukan transaksi bisnis untuk mencari keuntungan komersil. Aqad tabarru’ dilakukan dengan tujuan tolong menolong dalam rangka berbuat kebaikan. Namun demikian, pihak yang berbuat kebaikan tersebut boleh meminta kepada counter part-nya untuk sekedar menutup biaya (cover the cost) yang dikeluarkannya untuk dapat melakukan aqad tabarru’ tersebut. Tetapi ia tidak boleh sedikitpun mengambil laba dari aqad tabarru’ itu. b. Aqad tijaroh (compensational contract) adalah segala macam perjanjian yang menyangkut profit transaction. Aqad-aqad ini dilakukan dengan tujuan mencari keuntungan, karena itu bersifat komersil. 3.3.3 Prinsip-prinsip Operasional BRI Syariah a. Prinsip simpanan giro, merupakan fasilitas yang diberikan oleh bank untuk memberikan kesempatan kepada pihak yang kelebihan dana untuk menyimpan dananya dalam bentuk al wadiah, yang diberikan untuk tujuan keamanan dan pemindahbukuan, bukan untuk tujuan investasi guna mendapatkan keuntungan seperti halnya tabungan atau deposito. b. Prinsip bagi hasil, meliputi tatacara pembagian hasil usaha antara pemilik dana (shahibul mal) dan pengelola dana (mudarib). Pembagian hasil usaha ini dapat terjadi antara bank dengan penyimpan dana maupun antara bank dengan nasabah penerima dana. Prinsip ini dapat digunakan sebagai dasar untuk produksi pendanaan (tabungan dan deposito) maupun pembiayaan. c. Prinsip jual-beli dan mark-up, merupakan pembiayaan bank yang diperhitungkan secara lump-sum dalam bentuk nominal di atas nilai kredit yang diterima nasabah penerima kredit dari bank. Biaya bank tersebut ditetapkan sesuai dengan kesepakatan antara bank dengan nasabah. d. Prinsip jasa (fee), meliputi seluruh kekayaan non-pembiayaan yang diberikan bank, seperti kliring, inkaso, transfer dan sebagainya 3.4 Produk Penghimpunan Dana BRI Syariah A. Produk Prinsip Wadiah 1. Tabungan BRI Syariah iB Tabungan BRI Syariah iB merupakan tabungan dari BRI Syariah bagi nasabah perorangan yang menggunakan prinsip titipan, dipersembahkan untuk nasabah yang menginginkan kemudahan dalam transaksi keuangan. Program Hujan Emas Tabungan BRI Syariah iB merupakan program yang memberikan kesempatan kepada nasabah pemilik Tabungan BRI Syariah iB untuk memperoleh hadiah emas murni. Sehingga total hadiah yang diberikan selama Program Hujan Emas Tabungan BRI Syariah iB lebih dari 9 kg untuk 218 orang pemenang selama 2 periode. Manfaat: Ketenangan serta kenyamanan yang penuh nilai kebaikan serta lebih berkah karena pengelolaan dana sesuai syariah Fasilitas: Program ini didukung dengan FAEDAH (Fasilitas Serba Mudah), merupakan fasilitas-fasilitas menarik yang diberikan kepada nasabah Tabungan BRI Syariah iB berupa: a. Ringan, Setoran Awal Minimal Rp50.000 b. Gratis Biaya Administrasi Bulanan Tabungan c. Gratis Biaya Bulanan Kartu ATM d. Gratis Biaya Tarik Tunai di ATM BRI e. Jaringan ATM Bersama & PRIMA f. Gratis Biaya Cek Saldo di ATM BRI g. Jaringan ATM Bersama & PRIMA h. Gratis Biaya Transfer di ATM BRI, Jaringan ATM Bersama & PRIMA i. Gratis Biaya Debit PRIMA 2. Tabungan Haji BRI Syariah iB Merupakan tabungan dari BRI Syariah bagi nasabah perorangan yang menggunakan prinsip titipan, dipersembahkan untuk nasabah yang menabung untuk pembiayaan ibadah haji. Manfaat: Ketenangan, kenyamanan serta lebih berkah dalam penyempurnaan ibadah karena pengelolaan dana sesuai syariah. Fasilitas: a. Aman, karena diikutsertakan dalam program penjaminan pemerintah. b. Dapat bertransaksi di seluruh jaringan kantor cabang BRI Syariah secara online dengan SISKOHAT (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu). c. Gratis asuransi jiwa dan kecelakaan. d. Gratis biaya administrasi bulanan. e. Bagi hasil yang kompetitif. f. Pemotongan zakat secara otomatis dari bagi hasil yang Anda dapatkan. g. Dana tidak dapat ditarik sewaktu-waktu, tidak diberikan Kartu ATM. h. Kemudahan dalam merencanakan persiapan ibadah haji. i. Tersedia Fasilitas Dana Talangan Haji BRISyariah iB yang merupakan solusi terbaik mempercepat ke Baitullah dengan persyaratan dan ketentuan mudah serta cepat. 3. Giro BRI Syariah iB Merupakan simpanan untuk kemudahan berbisnis dengan pengelolaan dana berdasarkan prinsip titipan (wadi’ah yad dhamanah) yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan cek/bilyet giro. Keuntungan & Fasilitas: a. Online real time di seluruh kantor BRI Syariah. b. Laporan dana berupa rekening koran setiap bulannya. Persyaratan: a. Setoran awal Rp. 2.500.000,- (Perorangan) dan Rp. 5.000.000,- (Perusahaan) b. Biaya saldo minimal Rp. 20.000,- c. Saldo mengendap minimal Rp. 500.000,- B. Produk Prinsip Mudharabah 1. Deposito BRI Syariah iB (Consumer Banking) Deposito BRI Syariah iB adalah produk investasi berjangka kepada deposan dalam mata uang tertentu. Keuntungan: Dana dikelola dengan prinsip syariah sehingga shahibul maal tidak perlu kuatir akan pengelolaan dana Fasilitas: 1. ARO (Automatic Roll Over) 2. Bilyet Deposito Persyaratan: 1. Rekening atas nama perorangan : a. Minimal saldo pembukaan Rp.2.500.000,- b. Menyerahkan fotokopi identitas diri atau kuasanya (KTP/SIM/Paspor) yang masih berlaku. c. Dalam hal pembukaan dan/atau klausul pembukaan rekening lainnya dikuasakan maka harus disertakan surat kuasa asli yang ditandatangani oleh pemberi kuasa dan pemegang kuasa di atas meterai yang cukup. d. Dokumen atau persyaratan lain sesuai yang diatur dalam Kebijakan Umum Operasi maupun Syarat dan Ketentuan Umum Pembukaan Rekening. 2. Rekening atas nama perusahaan : a. Minimal saldo pembukaan Rp.2.500.000,- b. Menyerahkan fotokopi identitas diri (KTP/SIM/Paspor) yang masih berlaku dari pengurus badan usaha atau kuasanya. c. Dalam hal pembukaan dan/atau klausul pembukaan rekening lainnya dikuasakan oleh pengurus maka harus disertakan surat kuasa asli yang ditandatangani oleh pemberi kuasa dan pemegang kuasa diatas meterai yang cukup. d. Menyerahkan persetujuan para pengurus berwenang sesuai Anggaran Dasar bahwa penabung dapat bertindak untuk dan atas nama perusahaan dalam melakukan transaksi keuangan. Dengan demikian, tanda tangan pengurus yang mewakili harus dicantumkan dalam Kartu Contoh Tanda Tangan (KCTT). e. Menyerahkan fotokopi Akta Pendirian/Anggaran Dasar Perusahaan beserta perubahannya (jika ada), berta pengesahan Departemen Kehakiman. f. Menyerahkan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) dan sejenisnya. g. Menyerahkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). h. Dokumen atau persyaratan lain sesuai yang diatur dalam Kebijakan Umum Operasi maupun Syarat dan Ketentuan Umum Pembukaan Rekening. 2. Deposito (Business Banking) Merupakan pilihan investasi dengan prinsip bagi hasil (Mudharabah al-Muthlaqoh) bagi nasabah perorangan atau perusahaan yang dananya dapat ditarik pada saat jatuh tempo. Keuntungan dan Fasilitas : a. Memperoleh bagi hasil yang kompetitif setiap bulan b. Investasi disalurkan untuk pembiayaan usaha produktif yang halal c. Dapat dilakukan potongan zakat atas bagi hasil yang diterima d. Bukti kepemilikan berupa bilyet deposito e. Jangka waktu 1, 3, 6 dan 12 bulan f. Dapat diperpanjang secara otomatis (Automatic Roll Over) pada saat jatuh tempo g. Dapat digunakan sebagai jaminan pembiayaan atau untuk referensi BRI Syariah Persyaratan : 1. Nasabah Perorangan a. Jumlah deposito minimal Rp. 2.500.000,- b. Mengisi formulir pembukaan deposito c. Melampirkan identitas diri 2. Nasabah Perusahaan a. Jumlah deposito minimal Rp. 2.500.000,- b. Mengisi formulir pembukaan deposito c. Melampirkan kopi NPWP, TDP dan SIUP Nisbah (Bagi Hasil) nasabah (Agustus 2011) : a. Rp. 1 – 5 Miliar : 60% b. Rp. 5 – 10 Miliar : 61% c. > Rp. 10 Miliar : 62% d. Online real time di seluruh kantor BRISyariah e. Laporan dana berupa rekening Koran setiap bulannya f. Setoran awal Rp. 2.500.000,- (Perorangan) dan Rp. 5.000.000,- (Perusahaan) g. Biaya saldo minimal Rp. 20.000,- h. Saldo mengendap minimal Rp. 500.000,- 3.5 Produk Penyaluran Dana A. Prinsip Jual Beli 1. Murabahah 1.1 KKB (Kredit Kendaraan Bermotor) BRI Syariah iB Deskripsi Manfaat: a. Skim pembiayaan adalah jual beli (murabahah), adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh bank dan nasabah (fixed margin). b. Jangka waktu maksimal 5 tahun. c. Cicilan tetap dan meringankan selama jangka waktu. d. Bebas pinalti untuk pelunasan sebelum jatuh tempo. Tujuan: a. Pembelian Mobil Baru b. Pembelian Mobil Second c. Take Over/Pengalihan Pembiayaan KKB dari lembaga pembiayaan lain. Syarat dan Ketentuan: a. Persyaratan Umum Nasabah: 1. WNI 2. Karyawan tetap dengan pengalaman kerja minimal 2 tahun 3. Profesional dengan pengalaman praktek minimal 2 tahun 4. Usia minimal pada saat pembiayaan diberikan adalah 21 tahun dan maksimal usia pensiun untuk karyawan atau 65 tahun untuk profesional 5. Tidak termasuk dalam Daftar Pembiayaan Bermasalah 6. Memenuhi persyaratan sebagai pemegang polis Asuransi Jiwa 7. Memiliki atau bersedia membuka rekening tabungan pada Bank BRI Syariah b. Persyaratan Dokumen Nasabah: 1. Karyawan dengan penghasilan tetap a. Kartu Tanda Pengenal (KTP) b. Kartu Keluarga dan Surat Nikah c. Slip Gaji terakhir atau Surat Keterangan Gaji d. Rekening koran/tabungan 3 bulan terakhir e. NPWP pribadi untuk pembiayaan diatas Rp.50 juta 2. Profesional a. Profesional b. Kartu Tanda Pengenal (KTP) c. Kartu Keluarga dan Surat Nikah d. Rekening koran/tabungan 3 bulan terakhir e. Izin praktek yang masih berlaku f. NPWP pribadi untuk pembiayaan diatas Rp.50 juta Fitur: a. Plafon Pembiayaan 1. Minimal Rp.25.000.000,- 2. Maksimal Rp.1.000.000.000,- b. Bank Finance (Pembiayaan Bank) 1. Pembelian Mobil a. Baru, maksimum 80% dari harga On The Road yang dikeluarkan Dealer b. Bekas, maksimum 80% dari nilai pasar wajar (ditetapkan penilai jaminan Bank) 2. Take Over / alih Pembiayaan KKB 100% dari outstanding lembaga pembiayaan lain dan/atau 80% dari nilai pasar wajar yang ditetapkan penilai jaminan Bank (mana yang terendah) c. Jangka Waktu 1. Pembelian mobil baru : a. Minimum 1 tahun b. Maksimum 5 tahun 2. Pembelian mobil bekas/second a. Minimum 1 tahun b. Maksimum 5 tahun c. Ketentuan usia kendaraan pada saat jatuh tempo adalah maksimum 8 tahun dari bulan penerbitan BPKB 3. Take Over/alih Pembiayaan a. Minimum 1 tahun b. Maksimum 5 tahun c. Ketentuan usia kendaraan pada saat jatuh tempo adalah maksimum 8 tahun dari bulan penerbitan BPKB 1.2 KPR (Kredit Pembiayaan Rumah) BRI Syariah iB Deskripsi Pembiayaan Kepemilikan Rumah kepada perorangan untuk memenuhi sebagian atau keseluruhan kebutuhan akan hunian dengan mengunakan prinsip jual beli (Murabahah) dimana pembayarannya secara angsuran dengan jumlah angsuran yang telah ditetapkan di muka dan dibayar setiap bulan. Manfaat: a. Skim pembiayaan adalah jual beli (Murabahah), adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh Bank dan Nasabah (fixed margin) b. Uang muka ringan c. Jangka waktu maksimal 15 tahun d. Cicilan tetap dan meringankan selama jangka waktu e. Bebas pinalti untuk pelunasan sebelum jatuh tempo Tujuan: 2. Pembelian Property, terdiri dari pembelian sbb : a. Rumah ready stock atau dalam proses pembangunan oleh developer (indent) b. Rumah Bekas/Second c. Rumah Toko (Ruko) dengan syarat tertentu d. Rumah kantor (Rukan) dengan syarat tertentu e. Apartemen strata title dengan syarat tertentu f. Tanah dengan luas tertentu dan status tanah milik developer atau non developer 3. Pembangunan/Renovasi Rumah a. Bahan bangunan untuk pembangunan b. Bahan bangunan untuk perbaikan/renovasi 4. Take Over/Pengalihan Pembiayaan KPR, terdiri dari : a. Take Over dari Lembaga Keuangan Konvensional Syarat dan Ketentuan: A. Persyaratan Umum Nasabah a. WNI b. Karyawan tetap dengan pengalaman kerja minimal 2 tahun c. Wiraswasta dengan pengalaman usaha minimal 3 tahun d. Profesional dengan pengalaman praktek minimal 2 tahun e. Usia minimal pada saat pembiayaan diberikan adalah 21 tahun dan maksimal usia pensiun untuk karyawan atau 65 tahun untuk wiraswasta dab profesional f. Tidak termasuk dalam Daftar Pembiayaan Bermasalah g. Memenuhi persyaratan sebagai pemegang polis Asuransi Jiwa h. Memiliki atau bersedia membuka rekening tabungan pada Bank BRI Syariah B. Persyaratan Dokumen Nasabah 1. Karyawan dengan penghasilan tetap a. Kartu Tanda Pengenal (KTP) b. Kartu Keluarga dan Surat Nikah c. Slip Gaji terakhir atau Surat Keterangan Gaji d. Rekening koran/tabungan 3 bulan terakhir e. NPWP pribadi untuk pembiayaan diatas Rp.50 juta 2. Wiraswasta a. Kartu Tanda Pengenal (KTP) b. Kartu Keluarga dan Surat Nikah c. Rekening koran/tabungan 3 bulan terakhir d. Laporan Keuangan 2 tahun terakhir e. Legalitas Usaha (Akte pendirian berikut perubahan terakhir, TDP, SIUP, NPWP) f. NPWP pribadi untuk pembiayaan diatas Rp.50 juta 3. Profesional a. Kartu Tanda Pengenal (KTP) b. Kartu Keluarga dan Surat Nikah c. Rekening koran/tabungan 3 bulan terakhir d. Izin praktek yang masih berlaku e. NPWP pribadi untuk pembiayaan diatas Rp.50 juta C. Persyaratan Jaminan 1. Sertifikat Tanah (SHGB dan SHM) 2. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) 3. PBB terakhir A. Plafon Pembiayaan a. Minimal Rp.25.000.000,- b. Maksimal Rp.3.500.000.000,- B. Bank Finance (Pembiayaan Bank) 1. Pembelian Rumah Baru, maksimum 90% dari penawaran developer atau nilai pasar yang ditetapkan penilai jaminan Bank atau Harga Jual Rumah, mana yang lebih rendah 2. Pembelian Rumah Bekas, maksimum 80% dari nilai pasar (ditetapkan penilai jaminan Bank) 3. Pembangunan Rumah 1. Maksimum 80% dari Rencana Anggaran Biaya, selama tidak lebih besar dari nilai tanah yang dijaminkan 2. Penarikan secara bertahap sesuai progres, maksimal selama 6 bulan 4. Renovasi Rumah 1. Maksimum 100% dari Rencana Anggaran Biaya selama tidak lebih besar dari nilai tanah yang dijaminkan 2. Penarikan secara bertahap berdasarkan progress, maksimal 6 bulan 5. Take Over Pembiayaan Rumah 100% dari Outstanding pembiayaan Bank Konventional/Bank Syariah dan/atau 80% dari nilai pasar yang ditetapkan penilai jaminan Bank (mana yang terendah) 6. Pembiayaan Tanah 1. maksimum 70% dari harga penawaran pengembang (developer) atau nilai pasar yang ditetapkan penilai jaminan Bank dengan pembatasan bahwa untuk tanah real estate, harus dengan developer yang sudah bekerjasama dengan Bank 2. maksimum 50% dari nilai pasar yang ditetapkan penilai jaminan Bank untuk tanah yang di luar perumahan/RE 7. Pembiayaan Apartemen 1. maksimum 70% dari harga penawaran pengembang (developer) yang sudah bekerjasama dengan Bank 2. maksimum 80% nilai pasar yang ditetapkan penilai jaminan Bank 8. Pembelian Ruko/Rukan 1. maksimum 70% dari harga penawaran pengembang (developer) yang sudah bekerjasama dengan Bank 2. maksimum 80% nilai pasar yang ditetapkan penilai jaminan Bank C. Jangka Waktu 1. Minimum 12 bulan 2. Maksimum 15 tahun untuk KPR iB yang bertujuan : 1. Pembelian Rumah baik dalam kondisi baru (rumah jadi atau indent) dan rumah bekas pakai (second) 2. Pembelian bahan bangunan untuk Pembangunan Rumah Baru 3. Maksimum 10 tahun untuk 1. Pembelian Apartemen 2. Pembelian Rumah Toko dan Rumah Kantor 3. Pembelian bahan bangunan untuk Renovasi Rumah 4. Take Over Pembiayaan Rumah 4. Maksimum 5 tahun D. Biaya yang dibebankan kepada Nasabah 1. Biaya Administrasi 2. Biaya Notaris 3. Biaya Asuransi a. Asuransi Jiwa Pembiayaan, premi asuransi di bayar di muka, sesuai jangka waktu pembiayaan b. Asuransi Kebakaran, , premi asuransi di bayar di muka, sesuai jangka waktu pembiayaan c. Biaya Appraisal d. Biaya Materai 1.3 Pembiayaan Investasi Manfaat Memenuhi kebutuhan investasi. Keuntungan Pembelian investasi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan cashflow perusahaan. Persyaratan 1. Data legalitas perusahaan a. Akta pendirian dan perubahan b. SIUP, NPWP, TDP c. Perijinan dan data lain yang diperlukan 2. Data keuangan a. Laporan keuangan b. Rekening Koran c. Data keuangan lain 3. Data investasi yang diperlukan a. Barang yang dibeli b. Feasibility study 4. Data lain bila diperlukan B. Prinsip Bagi Hasil 1. Mudharabah dan Musyarakah 1.1 Pembiayaan Modal Kerja Manfaat Memenuhi kebutuhan modal kerja perusahaan, baik modal kerja regular maupun musiman Keuntungan a. Struktur pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan jadwal b. Pembayaran berdasarkan cashflow yang disepakati bersama Persyaratan 1. Data legalitas perusahaan a. Akta pendirian dan perubahan b. SIUP, NPWP, TDP c. Perijinan dan data lain yang diperlukan 2. Data keuangan a. Laporan keuangan b. Rekening Koran 3. Data keuangan lain a. Informasi kebutuhan modal kerja b. Data lain bila diperlukan 1.2 Pembiayaan Koperasi Pembiayaan yang diberikan melalui Koperasi Karyawan atau Koperasi Pegawai RI dengan mekanisme executing, yang ditujukan kepada karyawan suatu perusahaan atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) suatu instansi yang memiliki pendapatan tetap bulanan berupa gaji dan menjadi anggota koperasi. Fitur : a. Target market : Koperasi Karyawan / Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) b. Akad Mudharabah c. Jangka waktu pembiayaan s.d 60 bulan d. Dilindungi oleh asuransi jiwa kredit Kriteria Koperasi : 1. Koperasi berasal dari Perusahaan BUMN/BUMD, Perusahaan Multinasional, Lembaga Pemerintahan, 2. Koperasi memenuhi persyaratan keabsahan badan hukum dari Dinas/Departemen Koperasi wilayah kerjanya maupun persyaratan perijinan usaha (NPWP, TDP, SIUP, Keterangan Domisili) 3. Telah beroperasi minimal 3 tahun 4. Membukukan laba / keuntungan bersih dalam 2 tahun terakhir 5. Wajib memberikan laporan keuangan yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) bagi Koperasi yang memiliki total asset diatas Rp 20 miliar 6. Melaksanakan RAT minimal 3 tahun berturut-turut ditandai dengan buku Laporan RAT 7. Tidak termasuk dalam Daftar Hitam Bank Indonesia dan tidak memiliki kredit macet di perbankan Kriteria Anggota Koperasi yang memperoleh pembiayaan : 1. WNI 2. Karyawan / pegawai tetap 3. Telah menjadi anggota Kopkar / KPRI minimal 1 tahun 4. Usia maksimal pada saat jatuh tempo pembiayaan adalah 54 tahun atau 1 tahun sebelum usia pensiun 5. Jumlah kewajiban angsuran pembiayaan (pokok & marjin) per bulan tidak melebihi 40% dari Take Home Pay *Syarat dan ketentuan berlaku Pembiayaan BPRS Pembiayaan yang diberikan kepada BPRS dengan tujuan untuk disalurkan lebih lanjut kepada para nasabahnya dengan mekanisme executing. Fitur : a. Akad Mudharabah b. Jangka waktu pembiayaan s.d 36 bulan c. Dilindungi oleh asuransi jiwa kredit Kriteria BPRS : 1. Hasil penilaian TKS 3 tahun terakhir ”SEHAT” 2. Penilaian Manajemen 3 tahun terakhir ”SEHAT” 3. Telah beroperasi minimal 3 tahun 4. Salah satu key person memiliki pengalaman perbankan minimal 5 tahun 5. BPRS, Pengurus, dan Pemegang Saham tidak memiliki kredit bermasalah di bank lain. 6. Membukukan laba 3 tahun terakhir 7. Wajib memberikan laporan keuangan yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) bagi BPRS yang memiliki total asset diatas Rp 10 miliar 8. Mampu menjaga NPF ≤3 % *Syarat dan ketentuan berlaku 1.3 Auto Pembiayaan diberikan kepada sektor yang terkait dengan otomotif dalam 2 (dua) pola, yaitu pembiayaan secara kemitraan (linkage) dan pembiayaan secara langsung (direct). Pembiayaan secara kemitraan (linkage), pembiayaan diberikan bekerjasama dengan perusahaan pembiayaan (multifinance company) untuk meyalurkan pembiayaan kepemilikan kendaraan dan/atau alat berat kepada nasabah (end-user). Pembiayaan kemitraan dengan multifinance ini dapat bersifat Executing maupun Channeling/Joint Financing. Pembiayaan secara langsung (direct), menyalurkan pembiayaan kepada pengusaha-pengusaha yang terkait pada dunia otomotif, seperti pembiayaan kepada pengusaha jual-beli kendaraan (showroom/dealer) dan pembiayaan kepada pengusaha rental kendaraan. Pembiayaan yang diberikan dapat berupa pembiayaan modal kerja dan/atau investasi. C. Prinsip Akad Tabarru’/Tolong Menolong 1. Talangan Haji BRI Syariah iB Talangan Haji BRISyariah iB adalah salah satu produk pembiayaan untuk kepergian Ibadah Haji yang mengalami peningkatan cukup besar dibandingkan tahun sebelumnya di mana naik Rp78,31 miliar dari Rp1,67 miliar pada posisi 2009 menjadi Rp79,98 miliar di posisi 2010, adapun strategi pemasaran Talangan Haji BRI Syariah iB adalah dengan diadakannya sosialisasi dan gathering dengan KBIH di seluruh Indonesia dalam upaya menjaring nasabah yang memiliki rencana untuk melaksanakan Ibadah Haji. Selain itu dalam upaya meningkatkan servis terhadap nasabah, PT. Bank BRIS yariah telah menyediakan fasilitas SISKOHAT (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu) sehingga untuk pemesanan porsi Haji bisa dilakukan pemesanan secara online. 2. Gadai BRI Syariah iB Produk Pembiayaan Gadai BRI Syariah iB memasuki tahun ke 2, telah berhasil membuka 60 Layanan Gadai di seluruh Cabang PT. Bank BRI Syariah. Produk ini menjadi produk unggulan di PT. Bank BRI Syariah karena peningkatan outstanding cukup signi¬kan dimana meningkat drastis sebesar Rp626,67 miliar dari Rp19,41 miliar menjadi Rp646,08 miliar di tahun 2010. Gadai BRI Syariah iB selain untuk kebutuhan dana mendesak juga mendidik masyarakat untuk melindungi nilai assetnya melalui emas dengan memanfaatkan produk Gadai BRISyariah iB. 3. KLM BRI Syariah iB Persaingan antar Bank Syariah menuntut bank selaku pelaku bisnis untuk lebih kreatif dan inovatif menciptakan produk yang dapat memenuhi kebutuhan trend nasabah. Permintaan nasabah terhadap emas untuk kebutuhan lindung nilai cukup tinggi, motif ini disebabkan karena keinginan keuntungan dalam lindung nilai terhadap aset karena kontinuitas kenaikan harga emas untuk jangka panjang. BRIS menangkap peluang bisnis ini dengan meluncurkan produk KLM (Kepemilikan Logam Mulia, dengan memfasilitasi kebutuhan nasabah akan Emas melalui skema pinjaman Qardh dengan pembayaran secara angsuran sekaligus jasa pemeliharaan emas akibat emas yang dijaminkan Diharapkan pada saat pinjamannya lunas , maka harga emas secara jangka panjang akan naik. Akad Produk Akad pembiayaan yang digunakan : a. Akad Qardh : untuk pinjaman yang diberikan kepada Nasabah untuk tujuan pemilikan emas, tanpa adanya tambahan margin. Adapun pengembalian pinjamannya adalah dengan cara angsuran per bulan b. Akad Ijarah : merupakan pendapatan Ujroh sebagai pendapatan pemeliharaan dari penyimpanan emas yang dijaminkan secara gadai karena adanya pinjaman Qardh yang diberikan. Objek Pembiayaan a. Gold Bar ANTAM dengan berat : 5 gram; 10 gram; 25 gram; 50 gram; 100 gram; 250 gram; 1000 gram b. Bentuk emas lainnya : Emas Batangan NON ANTAM Nilai Pembiayaan a. Minimal : 10 gram b. Maksimal : 5 Milyar Jangka Waktu Pinjaman a. Minimal : 6 bulan b. Maksimal : 180 bulan Uang Muka a. Minimal 10% dari Harga Beli Emas (untuk produk emas Antam) b. Minimal 15% dari Harga Beli Emas (untuk produk dari toko emas lokal) BERAT EMAS BIAYA ADMINISTRASI s/d 20 gram (sekitar 20 juta) Rp 50.000 > 50 gram s/d 100 gram (40 juta) Rp 100.000 > 100 gram s/d 250 gram (100 juta) Rp 250.000 > 250 gram Rp 1.000.000 Jaminan Logam Mulia Emas (Objek produk Kepemilikan Emas) Biaya yang dibebankan 1. Biaya Administrasi a. Tiering berdasarkan berat emas yang akan dibeli b. Dibayar di muka, dan dikenakan sekali untuk setiap pinjaman Qardh yang disetujui 2. Ujroh/Biaya Pemeliharaan a. Merupakan biaya pemeliharaan untuk penyimpanan jaminan emas b. Perhitungan berdasarkan berat emas yang dijaminkan dan disepakati di awal akad untuk jangka waktu tertentu c. Pembayaran secara mengangsur setiap bulan selama jangka waktu yang sama dengan jangka waktu pinjaman Qardh. 3. Jaminan emas diasuransikan Dokumen Fixed Income (Karyawan Swasta/PNS) Non-Fixed Income (Wiraswasta/Profesi) Fotocopy KTP V V NPWP (pembiayaan > 100 juta) V V Slip Gaji V – Fotocopy Rekening Bank 3 bulan terakhir – V Surat Pernyataan Penghasilan V V Dapat Joint Income V V – Fotocopy KTP Suami/isteri V V – Persetujuan Suami Istri (jika joint income) V V – Fotocopy Kartu Keluarga V V 4. KMG BRI Syariah iB Salah satu produk untuk memenuhi kebutuhan karyawan khususnya karyawan dari perusahaan yang bekerjasama dengan PT. Bank BRISyariah dalam Program Kesejahteraan Karyawan (EmBP), dimana produk ini dipergunakan untuk berbagai keperluan karyawan dan bertujuan untuk meningkatkan loyalitas karyawan Program Kesejahteraan Karyawan (EmBP). KMG & KMJ selama tahun 2010 berhasil membukukan Rp257,75 miliar pada tahun 2010. Peningkatan tersebut dikontribusi dari kerjasama dengan berbagai perusahaan dan juga pembiayaan karyawan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. 3.6 Produk Jasa Berprofit 1. Kartu ATM dan Kartu Debit BRIS Kartu ATM dan kartu Debit BRIS adalah kartu khusus yang diberikan oleh BRIS kepada pemilik rekening yang dapat digunakan untuk bertransaksi secara elektronis atas rekening tersebut. Pada saat kartu digunakan bertransaksi akan langsung mengurangi dana yang tersedia pada rekening. Apabila digunakan untuk bertransaksi di mesin ATM, maka disbut sebagai kartu ATM. Sedangkan apabila digunakan untuk transaksi pembayaran dan pembelanjaan non tunai dengan menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture) maka kartu tersebut dikenal sebagai kartu debit. Kartu ATM BRIS dapat digunakan di seluruh jaringan ATM BRIS, ATM BRI, ATM Prima dan ATM Bersama, untuk jenis transaksi sbb : 1. Penarikan tunai 2. Transfer dana 3. Informasi saldo dan mutasi rekening 4. Pembayaran PLN, Telkom, Zakat, Infak 5. Pembelian pulsa isi ulang 2. Kartu Co-Branding BRIS Adalah kartu ATM yang diterbitkan oleh BRIS bekerjasama dengan nasabah institusi untuk para anggota atau konsumennya. Kartu co-branding mempunyai manfaat yang sama dengan kartu ATM atau kartu Debit BRIS, dengan keunggulannya adalah desain kartu yang sepenuhnya ditentukan oleh nasabah institusi. Manfaat kartu Co-Branding BRIS adalah : 1. Sebagai kartu identitas yang dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari 2. Meningkatkan loyalitas anggota / konsumen kepada institusi yang bekerjasama dengan BRIS untuk menerbitkan kartu, karena kartu anggotanya prestisius 3. Meningkatkan corporate image institusi 3. Cash Manajemen Sistem Nasabah perusahaan saat ini telah dapat melakukan transaksi perbankan baik financial maupun non financial melalui komputer yang terhubung dengan jaringan system BRIS. Jenis Transaksi yang dapat dilakukan : a. Informasi Saldo Rekening b. Informasi Mutasi Rekening c. Transfer dana ke rekening BRIS d. E-Payroll e. Pembayaran tagihan, misalnya PLN, Telkom dan lainnya. 4. University / School Payment System (SPP) Adalah system pembayaran (bill payment) sekolah atau universitas yang dibuatkan BRIS untuk memudahkan para siswa / mahasiswa untuk melakukan pembayaran biaya pendidikannya melalui layanan perbankan secara online. Manfaat produk ini : a. Bagi Siswa / Mahasiswa 1. Dapat melakukan pembayaran pendidikan kapan saja dan dimana saja 2. Melakukan pembayaran pendidikan secara mudah, aman, nyaman dan akurat. b. Bagi Sekolah / Perguruan Tinggi 1. Memudahkan dalam mengadministrasikan pembayaran siswa / mahasiswa 2. Mendapatkan laporan pembayaran yang akurat dan tepat waktu 3. Aplikasi SPP BRIS dapat dengan mudah diintegrasikan dengan system yang sudah ada di sekolah / perguruan tinggi 4. Dapat mengakomodir berbagai jenis pembayaran pendidikan di sekolah / perguruan tinggi. 5. SMS Banking Adalah layanan informasi perbankan yang dapat diakses langsung melalui telepon selular/handphone dengan menggunakan media SMS (short message services). Jenis Transaksi yang dapat dilakukan : a. Informasi saldo b. Transfer dana ke rekening BRIS c. Pembayaran PLN dan Telkom d. Pembelian pulsa isi ulang Cara mendapatkan layanan SMS Banking BRIS : a. Melakukan registrasi melalui ATM BRIS b. Mendatangi kantor cabang BRIS terdekat 6. BRIS Remittance Adalah layanan pengiriman/penerimaan uang dengan metode notifikasi melalui telepon seluler/handphone (Short Message Service, SMS) dimana penerima dapat mencairkan uang tersebut dengan menunjukkan notifikasi SMS yang diterima di telepon selular yang didaftarkannya. BRIS remittance member kemudahan pengirim dan penerima uang untuk mengirimkan uangnya tanpa harus membuka rekening di Bank. BRIS Remittance melayani pengiriman uang secara domestic dan dari luar negeri, khususnya dari Malaysia, Hongkong dan segera menyusul dari Jepang. Pengambilan uang dapat dilakukan di seluruh Kantor BRIS. Untuk pengiriman dari Luar Negeri, BRIS bekerjasama dengan mitra. Biaya pengiriman sangat terjangkau yaitu : a. Dalam Negeri : Rp. 10.000,- / transaksi b. Malaysia : RM 10 / transaksi c. Hongkong : HD 30 / transaksi Batasan transaksi pengiriman : a. Maksimal pengiriman uang Rp. 5.000.000.-/transaksi. b. Maksimal pengiriman uang Rp. 10.000.000,-/hari. c. Maksimal pengiriman uang Rp 30.000.000,-/bulan. 7. Electronic Data Capture (EDC) Mini ATM BRIS EDC Mini ATM Adalah alat transaksi berbentuk Electronic Data Capture untuk menerima transaksi baik berbasis tunai maupun berbasis kartu. Transaksi yang dapat dilakukan di EDC Mini ATM BRIS : a. Informasi Saldo b. Transfer dana ke rekening BRIS c. Pembayaran : PLN, Telkom, Zakat, Infak d. Pembelian pulsa isi ulang e. Penyetoran angsuran pembiayaan UMS BRIS 8. e-BRISyariah iB About e-Banking Sebagai Bank yang bervisi menjadi Bank Retail Modern, BRIS menyediakan layanan Electronic Banking atau E-Banking untuk memenuhi kebutuhan nasabah akan layanan melalui media elektronik untuk melakukan transaksi perbankan, selain yang tersedia di kantor cabang dan ATM. Dengan Electronic Banking BRIS, Anda tidak perlu lagi membuang waktu untuk antri di kantor–kantor bank atau ATM, karena saat ini banyak transaksi perbankan dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun dengan mudah dan praktis melalui jaringan elektronik seperti internet dan telepon genggam dan telepon. Contohnya adalah transfer dana antar rekening maupun antar bank, pembayaran tagihan, pembelian pulsa isi ulang atau pengecekan saldo dan mutasi rekening. Keuntungan layanan Electronic Banking : 1. Mudah 2. Dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. 3. Hanya dengan menggunakan perintah melalui kompter dan atau alat komunikasi yang anda gunakan dapat langsung melakukan transaksi perbankan tanpa datang ke kantor BRIS. a. Aman b. Produk Electronic Banking BRIS dilengkapi dengan security user ID dan PIN untuk menjamin keamanan atas transaksi yang Anda lakukan c. Transaksi financial melalui CMS dilengkapi dengan key token untuk mengamankan transaksi nasabah. Cara mendapatkan layanan Electronic Banking BRIS Nasabah yang telah memiliki rekening Tabungan BRIS iB atau Giro BRIS iB dapat mengajukan layanan E-Banking Group yang meliputi Cash Management System, E –payroll dan SMS Banking dengan menghubungi kantor cabang BRIS terdekat. 3.7 Pemegang Saham BRI Syariah Daftar Pemegang Saham PT. Bank BRISyariah Per 31 Desember 2010 No Nama & Alamat Jumlah Saham (Lembar) Jumlah yang Disetor (Rupiah) 01 PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk., Jl. Jend. Sudirman Kav. 44-45 Kel. Bendungan Hilir, Kec. Tanah Abang Jakarta Pusat 10210 1.957.999.000 978.999.500.000 02 Yayasan Kesejahteraan Pekerja (YKP) BRI Jl. Sultan Iskandar Muda No. F. 25 (Arteri Pondok Indah) Jakarta 1.000 500.000 Total 1.958.000.000 979.000.000.000 3.8 Manajemen Resiko BRI Syariah Kegiatan usaha Bank senantiasa dihadapkan pada risiko-risiko yang berkaitan erat dengan fungsinya sebagai lembaga intermediasi keuangan. Perkembangan bisnis yang pesat pada lingkungan eksternaldan internal perbankan juga menyebabkan risiko kegiatan usaha bank semakin kompleks. Bank dituntut untuk menerapkan manajemen risiko yang handal agar mampu beradaptasi dalam lingkungan bisnis perbankan. Dalam hal ini, prinsip-prinsip manajemen risiko yang diterapkan akan sangat mendukung Bank untuk dapat beroperasi secara lebih berhati-hati dalam ruang lingkup perkembangan kegiatan usaha dan operasional perbankan yang sangat pesat. Prinsip-prinsip manajemen risiko tersebut pada dasarnya telah menjadi standar bagi dunia perbankan yang penerapannya diarahkan oleh regulator perbankan Indonesia sehingga selaras dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlements melalui Basel Committee on Banking Supervision. Manajemen Resiko yang diterapakan pada BRI Syariah yaitu dengan memasarkan sukuk neraga ritel. Pengertian Sukuk Negara Ritel Surat Berharga Negara yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Prinsip Syariah sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset Surat Berharga Syariah Negara, dijual khusus kepada individu atau perseorangan Warga Negara Indonesia melalui Agen Penjual di Pasar Perdana dalam negeri. Tujuan Penerbitan Sukuk Negara Ritel Sukuk Negara Ritel diterbitkan untuk membiayai sebagian Anggaran Negara, diversifikasi sumber pembiayaan, memperluas basis investor, mengelola portofolio pembiayaan Negara dan menjamin tertib administrasi pengelolaan Barang Milik Negara (BMN). Bentuk Sukuk Negara Ritel Sukuk Negara Ritel diterbitkan dalam bentuk tanpa warkat (scriptless) yang dapat diperdagangkan di Pasar Sekunder, sehingga investor nantinya hanya akan memperoleh Konfirmasi Kepemilikan Surat Utang Negara yang diterbitkan oleh Sub Registry. Manfaat Keuntungan a. Aman, pembayaran pokok dan imbalan dijamin Undang-undang, sehingga tidak ada risiko gagal bayar. b. Imbalan Kompetitif, lebih tinggi dari rata-rata tingkat bunga deposito Bank BUMN. c. Ringan, investasi mulai dari Rp 5 juta dan kelipatannya. d. Nyaman, pokok dan imbalan bulanan dibayarkan otomatis ke rekening tabungan. e. Profit, berpotensi memperoleh keuntungan atas kenaikan harga (capital gain) bila dijual pada harga yang lebih tinggi di Pasar Sekunder. f. Likuid, dapat dijual sebelum jatuh tempo (sesuai harga berlaku). g. Stabil, imbalan tetap dan dibayarkan bulanan. h. Partisipasi Membangun Bangsa, berperan aktif secara langsung dalam pembangunan nasional, khususnya dalam bidang pendidikan bangsa. i. Sesuai Syariah, penerbitan sesuai Prinsip Syariah berdasarkan atas Fatwa dan telah mendapatkan Opini Syariah yang diterbitkan oleh Dewan Syariah Nasional -MUI . Resiko Investasi 1. Risiko Pasar (Market Risk), yaitu potensi kerugian apabila terjadi penurunan harga SR. Risiko ini dapat dihindari dengan cara memegang SR sampai jatuh tempo. 2. Risiko Likuiditas (Liquidity Risk) yaitu potensi kerugian jika investor kesulitan melakukan penjualan di Pasar Sekunder. Risiko ini dapat dimitigasi karena Bank BRIS sekaligus sebagai standy buyer (pembeli siaga) di Pasar Sekunder. Ketentuan Pemesanan a. Individu atau perseorangan WNI yang dibuktikan dengan KTP b. Memiliki/membuka rekening tabungan di BRIS c. Mengisi Formulir Pemesanan d. Setiap pemesanan pembelian bersifat mengikat, tidak dapat dibatalkan dan ditarik kembali Prosedur Pemesanan Sukuk Ritel di Pasar Perdana 1. Mengisi formulir pemesanan dengan melampirkan fotokopi KTP yang masih berlaku. 2. Menyetorkan dana ke rekening tabungan BRISyariah sesuai jumlah pemesanan. 3. Bank BRI Syariah akan mengumumkan perolehan hasil penjatahan Pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku. 4. Menerima konfirmasi kepemilikan SR dari Kustodian Bank BRI 5. Menerima pengembalian sisa dana dalam hal jumlah pemesanan tidak seluruhnya memperoleh penjatahan dari Pemerintah. BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan a. BRISyariah merupakan bank yang muncul akibat akusisi BRI kepada Bank Jasa Arta. Dimana mendapat izin dari Bank Indonesia pada 16 Oktober 2008 melalui suratnya 0.10/67/KEP.GBI/DpG/2008, maka pada tanggal 17 November 2008 PT. Bank BRI Syariah secara resmi beroperasi. Yang kemudian di tanggal 19 Desember 2008 ditandatangani akta pemisahan Unit Usaha Syariah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk., untuk melebur ke dalam PT. Bank BRI Syariah (proses spin off ) yang berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2009. b. Bank BRI syariah memberikan pelayan penghimpunan dana sesuai syariah, yaitu yang pertama berprinsip wadiah meliputi : Tabungan BRI Syariah iB, Tabungan Haji BRI Syariah iB, dan Giro BRI Syariah iB. Dan yang kedua, berprinsip mudharabah yang meliputi : Deposito BRI Syariah iB (Consumer Banking) dan Deposito (Business Banking). c. Selain pelayanan penghimpunan dana, pelayanan penyaluran dana pun dilakukan sesusai dengan syariah, yaitu yang pertama berprinsip jual beli (murabahah) meliputi : KKB (Kredit Kendaraan Bermotor) BRI Syariah iB, KPR (Kredit Pembiayaan Rumah) BRISyariah iB, dan Pembiayaan Investasi. Yang kedua berprinsip bagi hasil (mudharabah dan musyarakah) meliputi : Pembiayaan Modal Kerja, Pembiayaan Koperasi, Auto. Yang ketiga berprinsip pembiayaan berbasis sewa. Yang ke empat berprinsip Akad Tabarru’ / Tolong Menolong meliputi : Talangan Haji BRISyariah iB, Gadai BRI Syariah iB, KLM BRISyariah iB dan KMG BRISyariah iB. d. Pelayanan lain yang diberikan selain penghimpunan dana dan penyaluran dana yang notabene berprinsip bagi hasil ialah berupa produk layanan jasa berprofit meliputi Kartu ATM dan kartu Debit BRIS, Kartu Co-Branding BRIS, Cash Management System, University / School Payment System (SPP), SMS Banking, BRIS Remittance, dan Electronic Data Capture (EDC) Mini ATM BRIS. 4.2 Saran Setelah kita mendapatkan banyak informasi dari makalah ini, hendaklah kita tidak ragu lagi untuk memilih lagi bank berbasis atau bersistem syariah dibandingkan konvensional karena perbankan syariah menjalankan sistem operasionalnya menggunakan prinsip syariah berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah yang tidak menerapkan sistem ribawi. DAFTAR PUSTAKA Antonio, Muhammad Syafi’i. 2001. Bank Syariah dari Teori ke Praktek. Jakarta: Gema Insani Press. Karim, Adiwarman. 2004. Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. http://www.brisyariah.co.id LAMPIRAN

MASALAH-MASALAH SISWA DI SEKOLAH SERTA PENDEKATAN-PENDEKATAN UMUM DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING (STRATEGI BIMBINGAN DAN KONSELING)

Tag

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta memberikan kekuatan dan kemampuan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Prinsip-Prinsip Pembelajaran ini.

Tugas makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Suherman. M.Pd. selaku dosen mata kuliah Bimbingan dan Konseling yang telah membimbing penulis dalam penyusunan makalah ini.

Tidak menutup kemungkinan bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan yang disebabkan keterbatasan ilmu pengetahuan penulis, dimana penulis telah berusaha semaksimal mungkin dengan bekal pengetahuan yang penulis miliki untuk mencapai hasil yang terbaik. Maka demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini, kami terbuka untuk menerima kritik-kritik yang konstruktif dari pembaca.

Semoga karya kecil ini dapat menjadi bekal ilmu pengetahuan bagi pembaca dan menjadikan rahmat yang tak putus bagi penulis. Amin.

 

Bandung, Maret 2012

Penyusun

 

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………… ii

BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………………………………….. 1

1.1  Latar belakang……………………………………………………………………….. 1

1.2  Rumusan masalah…………………………………………………………………… 1

1.3  Tujuan penyusunan………………………………………………………………… 2

BAB II. MASALAH-MASALAH SISWA DI SEKOLAH SERTA PENDEKATAN-PENDEKATAN UMUM DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING (STRATEGI BIMBINGAN DAN KONSELING)………….…                                                                                                                             3

2.1 Masalah-masalah Siswa di Sekolah…………………………………………… 3

2.2 Pendekatan-pendekatan Umum dalam Bimbingan & Konseling…… 9

2.3 Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling……………. 13

BAB III. PENUTUP……………………………………………………………………………… 36

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………. 18

3.2 Saran…………………………………………………………………………………….. 18

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………. 19

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang bersumber pada kehidupan manusia. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia di dalam kehidupannya menghadapi persoalan-persoalan atau masalah yang silih berganti.. Manusia tidak sama satu dengan yang lain, baik dalam sifat maupun kemampuannya. Ada manusia yang sanggup mengatasi persoalan tanpa bantuan pihak lain, tetapi tidak sedikit manusia yang tidak mampu mengatasi persoalan bila tidak dibantu orang lain.

Manusia adalah sasaran pendidikan. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya.peserta didik merupakan pribadi-pribadi yang sedang berada dalam proses berkembang kearah kematangan. Masing-masing peserta didik memiliki karakteristik pribadi yang unik. Dalam arti terdapat perbedaan individual diantara mereka, seperti menyangkut aspek kecerdasan, emosi, sosiabilitas, sikap, kebiasaan, dan kemampuan penyesuaian diri. Dalam dunia pendidikan, peserta didikpun tidak jarang mengalami masalah-masalah, sehingga tidak jarang dari peserta didik yang menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat.

Berkenaan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta didik, maka perlu adanya pendekatan-pendekatan melalui pelaksanaan bimbingan dan konseling. Disini, guru memiliki perananan yang sangat penting karena guru merupakan sumber yang sangat menguasai informasi tentang keadaan siswa atau pesrta didik. Di dalam melakukan bimbingan dan konseling, kerja sama konselor dengan personel lain di sekolah merupakan suatu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Kerja sama ini akan menjamin tersusunnya program bimbingan dan konseling yang komprehensif, memenuhi sasaran, serta realistik.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apa masalah-masalah yang dihadapi siswa di sekolah?
  2. Apa pendekatan-pendekatan umum dalam Bimbingan & Konseling?
  3. Bagaimana strategi pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling?

1.3  Tujuan Penyusunan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penyusunan makalah adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui masalah-masalah yang dihadapi siswa di sekolah.
  2. Mengetahui pendekatan-pendekatan umum dalam Bimbingan & Konseling.
  3. Mengetahui strategi pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

MASALAH-MASALAH SISWA DI SEKOLAH SERTA PENDEKATAN-PENDEKATAN UMUM DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING (STRATEGI BIMBINGAN DAN KONSELING)

                                                                           

2.1         Masalah-masalah Siswa di Sekolah

Apakah yang dimaksud “masalah” (persoalan, problema)? Masalah ialah suatu yang menghambat, merintangi, mempersulit bagi orang dalam usahanya mencapai sesuatu. Bentuk konkrit dari hambatan/rintangan itu dapat bermacam-macam, misalnya godaan, gangguan dari dalam atau dari luar, tantangan yang ditimbulkan oleh situasi hidup. Masalah yang timbul dalam kehidupan siswa di sekolah beraneka ragam, diantaranya sebagai berikut:

  1. 1.             Masalah Perkembangan Individu

Setiap individu dilahirkan ke dunia dengan membawa hereditas tertentu. Hal ini berarti bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan dari pihak orang tuanya. Karakteristik tersebut menyangkut fisik dan psikis atau sifat-sifat mental.

Hereditas merupakan aspek bawaan dan memiliki potensi untuk berkembang. Seberapa jauh perkembangan individu itu terjadi dan bagaimana kualitas perkembangannya, bergantung kepada kualitas hereditas dan lingkungan yang mempengaruhinya. Lingkungan merupakan factor penting disamping hereditas yang menentukan perkembangan individu.

Perkembangan dapat berhasil dengan baik, jika factor-faktor tersebut bisa saling melengkapi. Untuk mencapai perkembangan yang baik harus ada asuhan terarah. Asuhan dalam perkambangan dengan melalui proses belajar sering disebut pendidikan.

Tugas-tugas perkembangan ini berkaitan dengan sikap, perilaku atau keterampilan yang seyogianya dimiliki oleh individu, sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Hurlock (1982) mengemukakan bahwa tugas-tugas perkembangan merupakan social expectations (harapan-harapan sosial masyarakat). Dalam arti setiap kelompok budaya mengharapkan para anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui bagi berbagai usia sepanjang rentang kehidupan.

Munculnya tugas-tugas perkembangan bersumber pada faktor-faktor berikut.

  1. Kematangan Fisik, misalnya (1) belajar berjalan karena kematangan otot-otot kaki, dan (2) belajar bergaul dengan lawan jenis kelamin yang berbeda pada masa remaja, karena kematangan hormone seksual.
  2. Tuntutan Masyarakat secara Kultural, misalnya (1) belajar membaca, (2) belajar menulis, (3) belajar berhitung, dan (4) belajar berorganisasi.
  3. Tuntutan dari Dorongan dan Cita-cita Individu itu sendiri, misalnya (1) memilih pekerjaan, dan (2) memilih teman hidup.
  4. Tuntutan Norma Agama, misalnya (1) taat beribadah kepada Allah, dan (2) berbuat baik kepada sesama manusia.

Tugas-tugas perkembangan bagi setiap fase perkembangan dalam rentang kehidupan individu dapat diuraikan sebagai berikut.

  1. Tugas Perkembangan Usia Bayi dan Kanak-kanak (0,0-6,0 tahun)

1)        Belajar berjalan.

2)        Belajar Memakan makanan padat.

3)        Belajar berbicara.

4)        Belajar buang air kecil dan buang air besar (toilet training).

5)        Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.

6)        Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis.

7)        Belajar memahami konsep-konsep sederhana tentang kehidupan sosial dan alam.

8)        Belajar melakukan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain.

9)        Belajar mengenal konsep baik dan buruk (mengembangkan kata hati).

10)    Mengenal konsep, norma atau ajaran agama secara sederhana.

 

  1. Tugas Perkembangan Usia Sekolah Dasar (7,0-12 tahun)

1)        Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.

2)        Belajar membentuk sikap positif, yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis (dapat merawat kebersihan dan kesehatan diri).

3)        Belajar bergaul dengan teman sebaya.

4)        Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.

5)        Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung.

6)        Belajar mengembangkan konsep (agama, ilmu pengetahuan, adat istiadat) sehari-hari.

7)        Belajar mengembangkan kata hati (pemahaman tentang benar-salah, baik-buruk).

8)        Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi (bersikap mandiri).

9)        Belajar mengembangkan sikap postif terhadap kehidupan sosial.

10)    Mengenal dan mengamalkan ajaran agama sehari-hari.

 

  1. Tugas Perkembangan Usia Remaja (13-19 tahun)

1)        Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.

2)        Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figure-figur yang mempunyai otoritas (mengembangkan sikap respek terhadap orangtua dan orang lain tanpa tergantung kepadanya.

3)        Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal.

4)        Mampu bergaul dengan teman sebaya atau orang lain secara wajar.

5)        Menemukan manusia model yang dijadikan pusat identifikasinya.

6)        Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.

7)        Memperoleh  self-control  (kemampuan mengendalikan sendiri) atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip atau falsafah hidup.

8)        Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap dan perilaku) yang kekanak-kanakan.

9)        Bertingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.

10)    Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga Negara.

11)    Memilih dan mempersiapkan karir (pekerjaan).

12)    Memiliki sikap positif terhadap pernikahan dan hidup berkeluarga.

13)    Mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

 

  1. Tugas Perkembangan Usia Dewasa Awal (20-40 tahun)

1)        Mengembangkan sikap, wawasan dan pengamalan nilai-nilai (ajaran) agama.

2)        Memperoleh atau mulai memasuki pekerjaan.

3)        Memilih pasangan hidup.

4)        Mulai memasuki pernikahan dan hidup berkeluarga.

5)        Mengasuh, merawat dan mendidik anak.

6)        Mengelola hidup rumah tangga.

7)        Memperoleh kemampuan dan kemantapan karir.

8)        Mengambil tanggung jawab atau peran sebagai warga masyarakat.

9)        Mencari kelompok sosial (kolega) yang menyenangkan.

 

  1. Tugas Perkembangan Usia Dewasa Madya (40-60 tahun)

1)        Memantapkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama.

2)        Mencapai tanggung jawab sosial sebagai warga Negara.

3)        Membantu anak yang sudah remaja untuk belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia.

4)        Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada aspek fisik (penurunan kemampuan dan fungsi).

5)        Memantapkan keharmonisan hidup berkeluarga.

6)        Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir.

7)        Memantapkan peran-perannya sebagai orang dewasa, baik di lingkungan kerja maupun masyarakat.

 

  1. Tugas Perkembangan Usia Dewasa Tua (Lansia: 60 tahun-mati)

1)        Lebih memantapkan diri dalam mengamalkan ajaran agama.

2)        Mampu menyesuaikan diri dengan menurunnya kemampuan dan kesehatan fisik.

3)        Dapat menyesuaikan diri dengan masa pensiunan (jiak pegawai negeri) dan berkurangnya “income”, penghasilan keluarga.

4)        Dapat menyesuaikan diri dengan kematian pasangannya.

5)        Membentuk hubungan dengan orang lain yang seusia.

6)        Memantapkan hubungan yang lebih harmonis dengan anggota keluarga (istri, anak, menantu, cucu, dan saudara).

Dalam mencapai  tugas-tugas perkembangan ini, tidak sedikit yang mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor (1) tidak atau kurang adanya bimbingan untuk memahami dan menguasai tugas-tugas perkembangan, (2) kurang memiliki motivasi untuk berkembang ke arah kedewasaan, (3) mengalami kesehatan yang buruk (sakit-sakitan), (4) cacat tubuh, (5) tingkat kecerdasan yang rendah, dan (6) iklim lingkungan yang kurang baik.

Kegagalan mencapai tugas-tugas perkembangan ini akan melahirkan perilaku yang menyimpang (delinquency) atau situasi kehidupan yang tidak bahagia, penyimpangan perilaku yang dialami individu, sebagai dampak dari tidak tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan akan bervariasi sesuai dengan fase perkembangannya.

Penyimpangan perilaku yang dialami anak berusia sekolah dasar diantaranya adalah (1) suka membolos dari sekolah, (2) malas belajar, dan (3) keras kepala. Pada usia remaja, penyimpangan perilaku yang dialaminya seperti (1) suka mengisolir diri, (2) meminum-minuman keras keras, (3) mengkonsumsi obat-obat terlarang atau narkoba, (4) tawuran, (5) malas belajar, (6) kurang bersikap hormat kepada orangtua dan orang dewasa lainnya. Sementara penyimpangan perilaku orang dewasa, diantaranya adalah (1) berselingkuh dengan istri/suami orang, (2) menelantarkan kehidupan keluarga (istri dan anak), (3) menjadi biang keladi kerusuhan (provokator) dalam masyarakat, (4) melakukan tindak criminal, dan (5) tidak melaksanakan perintah agama.

Masa belajar disekolah atau perguruan tinggi merupakan masa transisi, sebagai proses untuk mencapai kematangan, dan masa persiapan untuk mencapai kehidupan dewasa yang berarti. Dalam hubungan ini sekolah atau perguruan tinggi mempunyai peranan yang penting dalam membantu siswa (mahasiswa) untuk mencapai taraf perkembangan, melalui penuntasan atau pencapaian tugas-tugas perkembangannya secara optimal.

Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan komponen pendidikan yang dapat membantu para siswa atau mahasiswa dalam proses perkembangannya. Demikianlah, pemahaman terhadap masalah perkembangan dengan prinsip-prinsipnya akan merupakan kebutuhan yang mendasar bagi pelaksana pelayanan bimbingan dan konseling.

  1. 2.             Masalah Perbedaan Individu

Keunikan Individu mengandung arti bahwa tidak ada 2 orang individu yang sama persis dalam aspek pribadinya,baik aspek jasmani maupun rohaniah. Induvidu yang satu berbeda dengan individu lainya. Timbulnya perbedaan individu ini dapat dikembalikan Kepada factor pembawaan dan lingkungan sebagai komponen utamabagi terbentuknya kmeunikan individu. Perbedaan pembawaan akan memungkinkan perbedaan individu, meskipun dengan lingkungan yang sama, sebaliknya lingkungan yang berbeda akan memungkinkan timbulnya perbedaan individu, meskipun pembawaannya sama.

Di sekolah sering kali tampak masalah perbedaan individu ini, misalnya ada siswa yang sangat cepat dan ada yang sangat lambat belajar. Ada yang menonjol dalam kecerdasan tertentu tapi kurang cerdas pada bidang yang lain.Kenyataan ini akan membawa konsekuensi bagi pelayanan pendidikan, khususnya yang menyangkut bahan pelajaran, metode mengajar,alat alat pelajaran, pelayanan lainnya. Siswa akan menghadapi kesulitan dalam penyesuaian diri antara keunikan dirinya dengan dengan tuntutan dalam lingkungannya. Hal ini di sebabkan karena pelayanan pada pada umumnya program pendidikan memberikan pelayanan atas dasar ukuran pada umumnya atau rata-rata.

Mengingat bahwa yang menjadi tujuan  pendidikan adalah perkembangan yang optimal dari setiap individu, maka masalah perbedaan individu ini perlu mendapat perhatian dalam pelayanan pendidikan. Dengan kata lain sekolah hendaknya memberikan pelayanan kepada para siswa secara individual sesuai dengan keaunikan masing-masing. Usaha melayani siswa secara individual ini dapat diselenggarakan melalui program bimbingan dan konseling.

Beberapa segi perbedaaan individual yang perlu mendapat perhatian diantaranya ialah perbedaan dalam :

-          Kecerdasan

-          Prestasi belajar

-          Sikap dan kebiasaan belajar

-          Motivasi belajar

-          Temperamen

-          Karakter

-          Minat

-          Ciri- ciri fisik

-          Cita- cita

-          Kemampuan dalam komunikasi atau berhubungan interpersonal

-          Kemandirian

-          Kedisiplinan, dan

-          Tangung jawab

 

Untuk memahami karakteristik diatas, dapat dilakukan melalui teknik tes dan non tes. Teknik tes meliputi psikotes dan tes prestasi belajar. Sementara teknik non-tes meliputi angket, wawancara, observasi, sosiometri, autobiografi dan catatan anekdot. Data tentang keragaman atau perbedaan tersebut akan besar sekali manfaatnya bagi usaha layanan bimbingan dan konseling.

 

  1. 3.             Masalah Kebutuhan Individu

Kebutuhan merupakan dasar timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan ini sifatnya mendasar bagi kelangsungan hidup individu itu sendiri. Jika individu berhasil dalam memenuhi kebutuhannya, maka dia akan merasa puas, dan sebaliknya kegagalan dalam memenuhi kebutuhan ini akan banyak menimbulkan masalah baik bagi dirinya maupun bagi lingkungan.

Dengan berpegang kepada prinsip bahwa tingkah laku individu merupakan cara dalam memenuhi kebutuhannya, maka kegiatan belajar pada hakikatnya merupakan perwujudan usaha pemenuhan kebutuhan tersebut. Sekolah hendaknya menyadari hal tersebut, baik dalam mengenal kebutuhan-kebutuhan pada diri siswa, maupun dalam memberikan bantuan yang sebaik-baiknya dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut. Seperti telah dikatakan di atas, kegagalan dalam memenuhi kebutuhan ini akan banyak menimbulkan masalah-masalah bagi dirinya.

Pada umumnya secara psikologis dikenal ada dua jenis kebutuhan dalam diri individu yaitu kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial/psikologis. Beberapa diantara kebutuhan-kebutuhan yang harus kita perhatikan ialah kebutuhan:

  1. memperoleh kasih sayang;
  2. memperoleh harga diri;
  3. untuk memperoleh pengharapan yang sama;
  4. ingin dikenal;
  5. memperoleh prestasi dan posisi;
  6. untuk dibutuhkan orang lain;
  7. merasa bagian dari kelompok;
  8. rasa aman dan perlindungan diri;
  9. untuk memperoleh kemerdekaan diri.

Pengenalan terhadap jenis dan tingkat kebutuhan siswa sangat diperlukan bagi usaha membantu mereka. Program bimbingan dan konseling merupakan salah satu usaha kearah itu.

Menurut Maslow, setiap individu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tersusun secara hirarki dari tingkat yang paling mendasar sampai pada tingkat yang paling tinggi. Setiap kali kebutuhan pada tingkatan paling bawah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan lain yang lebih tinggi.

Hirarki kebutuhan itu meliputi  fisiologis (biologis), rasa aman, pengakuan, penghagaan, kognitif, estetika dan aktualisasi diri. Hirarki kebutuhan itu dapat digambarkan dala bentuk piramida sebagai berikut.

 

 

 

 

 

Estetika

Kognitif

Penghargaan

Pengakuan dan Kasih Sayang

Rasa Aman

Kebutuhan Biologis

Aktualisasi diri

 

 

 

 

 

  1. Kebutuhan Biologis

Kebutuhan ini  merupakan kebutuhan  yang paling dasar. Kebutuhan ini berfungsi mempertahankan hidupnya secara fisik yaitu kebutuhan akan makan,minuman, seks, istirahat dan oksigen. Tidak terpenuhinya kebutuhan ini akan menyebabkan kematian.

  1. Kebutuhan Rasa Aman

Kebutuhan ini sangat penting bagi setiap orang, baik anak remaja maupun dewasa. Pada anak kebutuhan akan rasa aman ini Nampak dengan jelas, sebab mereka suka mereaksi secara langsung sesuatu yang mengancam dirinya. Agar kebutuhan anak akan rasa aman ini terpenuhi, maka perlu diciptakan iklim kehidupan yang memberikan kebebasan (freedom) untuk berekspresi. Pada orang dewasa kebutuhan akan rasa aman ini memotivasinya untuk mencari keraja, menbung uang, atau menjadi peserta asuransi. Orang dewasa yang sehat mentalnya ditandai dengan perasaan aman, bebas dari rasa takut, dan cemas. Sedangkan yang tidak sehat, ditandai dengan perasaan seolah-olah selalu  dalam keadaan terancam bencana besar.

  1. Kebutuhan akan Pengakuan dan Kasih Sayang

Kebutuhan ini dapat diekspresikan dalam berbagai cara seperti persaudaraan, persahabatan, atau pergaulan yang lebih luas. Melalui kebutuhan ini seseorang mencari pengakuan dan curahan kasih saying dari orang lain, baik dari orangtua, saudara, guru, pimpinan, teman, atau orang dewasa lainnya. Kebutuhan untuk diakui sulit dipuaskan pada suasana masyarakat yang mobilisasinya sangat cepat terutama di kota-koa besar yang gaya hidupnya sudah bersifat individualistic. Sebaliknya kebutuhan ini akan mudah terpuaskan dalam suasana masyarakat yang akrab, penuh persahabatan atau persaudaraan. Kebutuhan akan kasih sayang atau mencintai-dicintai dapat dipuaskan melalui hubungan yang akrab dengan lain (persahabatan dan persaudaraan).

Dalam hal ini maslow membedakan antara cinta (love) dengan sex (kebutuhan biologis), meskipun diakuinya bahwa seks merupakan salah satu cara pernyatan kebutuhan cinta. Dia sependapat dengan rumusan cinta dari Rogers yaitu bahwa cinta merupakan “Keadaan dimengerti secara mendalam dan diterima dengan sepenuh hati.” Maslow berpendapat bahwa kegagalan mencapai kepuasan kebutuhan cinta atau kasih sayang merupakan penyebab utama dari gangguan emosional atau maladjustment.

  1. Kebutuhan akan Penghargaan

Jika seseorang telah merasa diakui, maka dia akan mengembangkan kebutuhan akan perasaan berharga. Kebutuhan ini meliputi dua kategori yaitu:

1)   Harga diri (self esteem) yang meliputi: kepercayaan diri, kompetensi, kecukupan, prestasi dan kebebasan

2)   Penghargaan dari orang lain(esteem  from oher people)  yang meliputi: pengakuan, perhatian, prestise, respek dan kedudukan (status)

Memperoleh kepuasan dari kebutuhan ini memungkinkan seseorang memiliki rasa percaya diri akan kemampuan dan penampilannya menjadi kompeten dan produktif dalam semua aspek kehidupan. Sebaliknya apabila seseorang mengalami kegagalan, atau mengalami “lack of self-esteem” maka dia akan mengalami perasaan rendah diri (inferior), tak berdaya, tak bersemangat, dan kurang percaya diri akan kemampuannya untuk mengatasi masalah kehidupan yang dihadapinya.

  1. Kebutuhan Kognitif

Secara alami manusia memiliki hasrat ingin memperoleh pemahaman tentang sesuatu. Hasrat ini mulai berkembang sejak akhir usia bayi dan awal masa kanak-kanak, yang diekspresikan sebagai rasa ingin tahunya (curiosity) dalam bentuk pengajuan pertanyaan-pertayaan tentang berbagai hal, baik terkait dengan dirinya sendiri maupun lingkungannya (sperti benda-benda, hewan, dan tumbuh-tumbuhan). Rasa ingin tahu ini biasanya terhambat perkembangannya oleh lingkungan yang terlalu membatasi atau otoriter, baik dilingkungan keluarga maupun sekolah. Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan ini akan menghambat pencapaian perkembangan kepribadian secara penuh. Menurut Maslow, rasa ingin tahu ini merupakan ciri mental yang sehat. Kebutuhan kognitif ini diekspresikan sebagai kebutuhan untuk memahami, menganalisis, mengevaluasi, menjelaskan, mencari sesuatu atau suasana baru, dan meneliti.

  1. Kebutuhan Estetik

Kebutuhan estetik (order & beauty) merupakan ciri orang yang sehat mentalnya. Melalui kebutuhan inilah, manusia dapat mengembangkan kreativitasnya dalam bidang seni (seperti lukis, rupa, patung, dan grafis), arsiektur, tata busana, tata boga, dan tata rias. Di samping itu orang yang sehat mentalnya ditandai dengan kebutuhan akan keteraturan, keserasian, atau keharmonisan dalam setiap aspek kehidupannya, seperti dalam cara berpakaian (rapi dengan keterpaduan warna yang serasi), penataan rumah (penempatan meubeler, vas bunga, dsb), dan pemeliharan ketertiban berlalu lintas. Orang yang kurang sehat mentalnya, mengalami gangguan emosional atau stress, biasanya kurang memperhatikan kebutuhan ini seperti: tidak rapi dalam berpakaian, kurang memperhatikan kebersihan, dan kurang apresiatif terhadap keteraturan dan kehidupan.

  1. Kebutuhan Aktualisasi Diri

Kebutuhan ini merupkan puncak dari hierarki kebutuhan manusia, yaitu perwujudan potensi dan kapabilitas secara penuh. Walaupun kebutuhan lainnya terpenuhi, namun apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, dalam arti seseorang itu tidak dapat mengembangkan kemampuan atau potensinya secara penuh, maka dia akan mengalami kegelisahan, ketidaknyamanan atau frustasi. Contoh: jika seseorang memiliki kemampuan potensial dalam bidang musik, tetapi dia disuruh bekerja sebagai akuntan maka dia akan mengalami kegagalan dalam mengaktualisasikan dirinya.

Maslow berpendapat bila seseorang telah mampu mengaktualisasikan dirinya secara penuh (self-actualizing person) berarti dia telah memiliki kepribadian yang sehat. Maslow mengemukakan teori motivasi bagi “self-actualizing person” dengan nama “Metamotivation, Meta-needs, B-Motivation, atau Being Values.” Seseorang yang telah mampu mengaktualisasikan dirinya tidak termotivasi dirinya untuk mengejar sesuatu yang khusus, mereduksi ketegangan, atau memuaskan suatu kebutuhan, etapi mencapai tujuan secara menyeluruh (tujuannya untuk memperkaya dan memperluas kehidupannya dan mengurangi keegangan melalui berbagai pengalaman yang menantang). Dia berusaha untuk mengembangkan potensinya secara maksimal, dengan memperhatikan lingkungannya. Dia juga berada dalam keadaan menjadi (becoming) yaitu spontan, alami, dan senang mengekspresikan potensinya secara penuh.

Sementara itu motivasi bagi mereka yang tidak mampu mengaktualisasikan dirinya, dia namai “D-motivation” atau “deficiency.” Tipe motivasi ini mengejar hal-hal yang khusus untuk memenuhi kekurangan atau kebutuhan dalam dirinya seperti mencari makanan untuk memenuhi rasa lapar. Ini berarti bahwa kebutuhan khusus (lapar) untuk tujuan yang khusus (kenyang, menyantap makanan) menghasilkan motivasi untuk memperoleh sesuatu yang dirasakannya kurang (mencari makanan). Motif ini tidak hanya berhubungan dengan kebutuhan fisologis tetapi juga rasa aman, cinta kasih, dan penghargaan.

Terkait dengan Meta-needs di atas, Maslow selanjutnya mengatakan bahwa kegagalan dalam memuaskannya akan berdampak kurang baik bagi individu, sebab dapat menggagalkan pemuasan kebutuhan yang lainnya, dan juga melahirkan metapatalogi yang dapat merintangi perkembangannya. Maslow mengemukakan ciri-ciri orang yang memiliki meta-needs dan patalogis seperti yang berada di bawah ini

Ciri-ciri Orang yang Memiliki Meta-Needs dan Patalogis

Meta-needs Metapatalogis
1)      Sikap Percaya

2)      Bijak, Baik

3)      Indah/Estetis

4)      Kesatuan atau Menyeluruh

5)      Enerjik/Optimis

6)      Pasti

7)      Lengkap

8)      Adil, Altruis

9)      Berani

10)  Sederhana/Simple

11)  Bertanggung Jawab

12)  Penuh makna

1. Tidak Percaya, Sinis, Skeptis

2. Benci dan Memuaskan

3. Vulgar, Mati Rasa

4. Disintegrasi

5. Kehilangan Semangat Hidup, Pasif, Pesimis

6. Chaos, tidak dapat diprediksi

7. Tidak lengkap, tidak tuntas

8. Suka marah-marah, sini, tak adil, egois

9. rasa tidak aman, memerlukan bantuan

10. Sangat kompleks, membingungkan

11. Tak bertanggung jawab

12. Tak tahu makna kehidupan, kehilangan, harapan, dan       putus asa

 

Pengenalan terhadap jenis dan tingkat kebutuhan seseorang (siswa/mahasiswa) sangat diperlukan bagi usaha membantu mereka. Program bimbingan dan konseling merupakan salah satu usaha untuk membantu para siswa untuk memenuhi kebutuhannya secara wajar dan sesuai norma yang berlaku.

 

  1. 4.             Masalah Penyesuaian Diri dan Kesehatan Mental

Kegiatan atau tingkah  merupakan laku individu pada hakikatnya merupakan cara pemenuhan kebutuhan. Banyak cara yang dapat ditempuh individu untuk memenuhi kebutuhannya, baik secara yang wajar maupun yang tidak wajar, cara yang disadari maupun cara yang tidak disadari. Yang penting untuk dapat memenuhi kebutuhan ini, indiviidu harus dapat menyesuaikan antar kebutuhan dengan segala kemungkinan yang ada dalam lingkungan, disebut sebagai proses penyesuaian diri. Individu harus dapat menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan baik lingkungan sekolah, rumah maupum masyararakat.

Proses penyesuaian diri ini menimbulkan berbagai masalah terutama bagi diri individu sendiri.terdapat 2 jenis proses penyesuain diri. Yaitu : (1) “Well adjusted” yaitu keadaan dimana individu dapat berhasil memenuhi kebutuhannya sesuai dengan kebutuhannya sesuai dengan lingkungannya dan tanpa menimbulkan gangguan atau kerugian bagi lingkungannya. (2) Maladjusted yaitu keadaan dimana individu gagal dalam proses penyesuaian tersebut.

  1. a.             Penyesuaian Normal

Schneiders (1964: 51) berpendapat adalah penyesuaian adalah proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan, dan mengatasi ketegangan, frustasi, dan konflik secara sukses, serta menghasilkan hubungan yang harmonis antara kebutuhan dirinya dengan norma atau tuntutan lingkungan dimana dia hidup.

Selanjutnya akan dijelaskan ciri-ciri orang well adjusted yaitu “ yang mampu merespon (kebutuhan, dan masalah) secara matang, efisien, puas, dan sehat (wholesome).” Yang dimaksud efisien adalah hasil yang diperolehnya tidak banyak membuang energi, waktu, dan kekeliruan. Sementara wholesome adalah respon individu itu sesuai dengan hakikat kemanusiaannya, hubungan dengan yang lain, dan hubungannya dengan Tuhan.

Orang yang memiliki kemampuan untuk mereaksi kebutuhan dirinya atau tuntutan lingkungannya secara matang, sehat dan efisien  sehingga dapat memecahkan konflik-konflik mental., frustasi, dan kesulitan-kesulitan pribadi dan sosialnya tanpa mengembangkan tingkah laku simtomatik (seperti rasa cemas, takut, khawatir, obsesi, pobia, atau psikosomatik). Dia adalah orang yang berupaya menciptakan hubungan interpersonal dan suasana yang saling menyenangkan yang berkotribusi kepada perkembangan kepribadian yang sehat.

Orang yang memiliki sikap iri hati, hasud, cemburu, atau, permusuhan merupakan respon yang “unwholesome” (tidak sehat), sedangkan sikap persahabatan , toleransi, dan pemberi pertolongan merupakan respon yang “wholesome”.

Berdasarkan pengertian diatas, maka seseorang itu dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang normal, yang baik (well adjustment) apabila dia mampu memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri-sendiri dan lingkungannya, serta sesuai dengan norma agama.

Menurut Schneiders (1964: 274-276) penyesuaian yang normal ini memiliki karakter sebagai berikut :

  1. Absence of excessive emotionality (Terhindar dari ekspresi emosi yang berlebih-lebihan, merugikan, atau kurang mampu engontrol diri).
  2. Absence of psychological machanisme (Terhindar dari mekanisme-mekanisme psikologis, seperti rasionalisasi, agresi, kompensasi dan sebagainya).
  3. Absence o the sense of personal frustration (Terhindar dari perasaan frustasi atau perasaan kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhannya).
  4. Rational deliberaton and self-direction (Memiliki pertimbangan dan pengarahan diri yang rasional, yaitu mmpu memecahkan masalah berdasarkan alternative-alternatif yang telah dipertimbangkan secara matang dan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang diambil).
  5. Ability to learn (Mampu belajar, mampu mengembangkan kualitas dirinya, khususnya yang berkaitan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan atau mengatasi masalah seari-hari).
  6. Utilization of past experience (Mampu memanfaatkan penglaman masa lalu, bercermin ke masa lalu bik yang berkaitan dengan keberhasiln maupun kegagalan untuk mengembangkan kualitas hidup yang lebih baik).
  7. Realistic, objective attitude (Bersikap objektif dan realistik; mampu menerima kenyataan hidup ang dihadap secara wajar; mampu menghindari, merespon situasi atau masalah secara rasional, tidak didasari oleh prasangka buruk atau negative).

 

 

 

  1. b.      Penyesuaian Menyimpang

Penyesuaian diri yang menyimpang atau tidak normal merupakan proses pemenuhan kebutuhan atau upaya pemecahan masalah dengan cara-cara yang tidak wajar atau bertentangan dengan norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Dapat juga dikatakan bahwa penyesuaian yang menyimpang ini adalah sebagai tingkah laku abnormal (abnormal behavior), terutama terkait dengan criteria sosiopsokologis dan agama. Penyesuaian yang menyimpang atau tingkah laku abnormal ini ditandai dengan respon-respon berikut.

1)        Reaksi Bertahan

Organisme atau individu dikepung oleh tuntutan dari dalam diri sendiri dan dari luar yang kadang-kadang mengancam rasa aman egonya. Untuk melindungi rasa aman organisasinya, individu mereaksi dengan mekanisme pertahan diri.

Mekanisme pertahanan dapat diartikan sebagai respon yag tidak disadari yang berkembang dalam kepribadian individu, dan menjadi menetap, sebab dapat menetap, sebab dapat mereduksi ketegangan dan frustasi, dan dapat memuaskan tuntutan-tuntutan penyesuaian diri.

Orang yang berusaha mempertahanan diri sendiri, seolah-olah tidak mengalami kegagalan, menutupi kegagalan, atau menutupi kelemahan dirinya sendiri dengan cara-cara atau alasan tertentu. Bentuk reaksi ini diantaranya:

  1. Konpensasi : menutupi kelemahan dalam satu hal, dengan cara mencari kepuasan pada bidang lain.
  2. Sublimasi : menutupi atau mengganti kelemahan atau kegagalan dengan cara atau kegiatan yang mendapatkan pengakuan (sesuai dengan nilai-nilai) masyarakat.
  3. Proyeksi : melemparkan sebab kegagalan dirinya kepada pihak lain.

Mekanisme pertahanan diri ini dilatarbelakangi oleh dasar-dasar psikologis, seperti: inferiority, inadequacy, failure, dan guilt. Masing-masing dasar-dasar psiklogis itu akan dibahas dalam uraian berikut.

a)   Perasaan Rendah Diri

Inferioritas ini dapat diartikan sebagai perasaan atau sikap yang pada umumnya tidak disadari yang berasal dari kekurangan diri, baik secara nyata maupun maya (imajinasi)

Inferioritas ini menimbulkan gejala-gejala sikap dan perilaku berikut.

  1. Peka (merasa tidak senang) terhadap kritikan orang lain.
  2. Sangat senang terhadap pujian atau penghargaan.
  3. Senang mengkritik atau mencela orang lain.
  4. Kurang senang untuk berkompetisi
  5. Cenderung senang menyendiri

 

Berkembangnya sikap inferioritas ini dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu sebagai berikut.

  1. Kondisi fisik: lemah, kerdil, cacat, tidak berfungsi, atau wajah yang tidak menarik.
  2. Psikologis : kecerdasan di bawah rata-rata, konsep diri yang negative sebagai dampak dari frustasi yang terus meneruskan dalam memenuhi kebutuhan dasar (seperti selalu gagal untuk memperoleh status, kasih sayang, prestasi, dan pengakuan).
  3. Kondisi lingkungan yang tidak kondusif : hubungan interpersonal dalam keluarga tidak harmonis, kemiskinan, dan perlakuan yang keras dari orang tua.

Proses perkembangan inferioritas dapat dijelaskan melalui gambar berikut :

 

Psikologis

Lingkungan

Kondisi Fisik

Frustasi dalam memenuhi kebutuhan

Konsep Diri

Inferioritas

 

 

 

 

b)   Perasaan Tidak Mampu

Inadequasi” merupakan ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi tuntutan-tuntutan dari lingkungan. Contoh: seorang ibu rumah tangga merasa tidak mampu mengelola urusan keluarga; dan seorang siswa mengeluh, karena tidak mampu memenuhi tuntutan akademik di sekolahnya. Sama halnya dengan inferioritas, factor penyebab perasaan tidak mampu ini adalah: frustasi dan konsep diri yang tidak sehat.

 

c)    Perasaan Gagal

Perasaan ini sangat dekat hubungannya dengan perasaan “inadequacy”, karena jika seseorang sudah merasa bahwa dirinya tidak mampu, maka dia cenderung mengalami kegagalan untuk melakukan sesuatu atau mengatasi masalah yang dihadapinya.

 

d)   Perasaan Bersalah

Perasaan bersalah ini muncul setelah seseorang melakukan perbuatan yang melanggar aturan moral, atau sesuatu yang dianggap berdosa.

 

Mekanisme pertahanan diri ini memiliki beberapa bentuk, yaitu sabagai berkut.

  1. 1.             Kompensasi

Kompensasi diarta sebagai usaha-usaha psikis yang biasanya tidak disadari untuk menutupi keterbatasan atau kelemahan diri dengan cara mengmbangkan respon-respon yang dapat mengurangi ketegangan dan frustasi sehingga dapat meningkatkan penyesuaian individu.

Kompensasi dilakukan dengan tujuan hal-hal berikut.

1)   Mensubstitusi pestasi nyata.

2)   Mengalihkan perhatian dari ketidakmampuan

3)   Memelihara status, harga diri dan interitas.

Untuk mengetahui wujud kompensasi dapat dilihat dari gejalanya yang nampak dalam bentuk-bentuk periaku sebagai berikut.

1)   Overreaction (Reaksi yang berlebihan)

2)   Identifikasi, seperti ada orangtua yang senang membicarakan keberhasilan anaknya, dalam rangka menutup kelemahan dirinya mencapai hal itu.

3)   Bermain dan berfantasi

Penjelasan diatas menunjukan bahwa kompensasi termasuk maladjustment. Walaupun begitu dalam kehidupan nyata sehari-hari, tidak sedikit bahwa proses kompensasi itu dapat membantu individu mencapai kepuasan. Contoh : Ada seorang anak yang mengkompensasi frustasinya (gagal dalam memenuhi kerinduannya untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya) dengan cara mekukn kegiatan bermain.

Contoh ini mengidentifikasikan bahwa kompensasi itu dapat mengatasi masalah tanpa menimbulkan gejala-gejala perilaku yang maladjustment. Agar reaksi kompensasi itu dapat mendukung penyesuaian yang sehat, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut.

1)   Dalam mereduksi ketegangan atau frustasi jangan menimbulkan kerusakan pada diri individu itu sendiri.

2)   Kembangkanlah kompensasi itu dengan penuh kesabaran dan pertimbangan.

3)   Landasilah kompensasi itu dengan kesadaran yang jelas tentang keterbatasan atau kelemahan diri sendiri.

4)   Jangan menghindar untuk mencapai prestasi, tetapi tingkatkanlah usaha untuk mencapainya.

5)   Jangan mengfungsikan kompensasi sebagai substitusi dari upaya yang baik (sehat).

6)   Tingkatkan kesejahteraan psikologis.

 

  1. 2.             Sublimasi

Sublimasi adalah pengerahan energy-energi drive atau motif secara tidak sadar ke dalam kegiatan-kegiatan yang dapat diterima secara social maupun moral.

Sublimasi ini bertujuan untuk mereduksi ketegangan, frustasi, konflik, dan memelihara integritas (keutuhan) ego. Dalam hal ini sublimasi mirip dengan kompensasi, namun begitu terdapat perbedaan diantara keduanya, yaitu kompensasi berkembang dari perasaan “inadequacy”, sedangkan sublimasi berkembang dari “guilty feeling” yang terkait dengan motif-motif agresi, curiocity, kekejaman, dan keibuan.

Beberapa contoh mekanisme sublimasi adalah sebagai berikut:

  1. Dorongan keibuan (maternal drive), atau dorongan cinta kasih disublimasikan kepada kegiatan-kegiatan mengajar, kerja social, dan kegiatan lain yang memberi peluang untuk mengekspresikan kecintaan kepada anak.
  2. Dorongan rasa ingin tahu (curiocity) yang seering diekspresikan ke dalam cara-cara yang tidak diinginkan, seperti: voyeurism, peeping (mengintip), percakapan seksual, dan gossip (gibah) yang mengakibatkan timbulnya perasaan bersalah atau berdosa dapat disublimasikan ke dalam kegiatan seni dan penelitian ilmiah.

 

  1. 3.             Rasionalisasi

Rasionalisasi dapat diartikan sebagai upaya mereka-reka alasan untuk menutupi suasana emosional yang tidak nyaman, tidak dapat diterima, atau merusak keutuhan (ego) atau status.

Dengan melakukan perbuatan atau tingkah laku yang nampaknya rasional, individu melindungi dirinya dari kritikan diri sendiri dan oranglain dalam upaya memelihara keutuhan ego. Perasaan tidak mampu, gagal, dan berdosa merupakan sumber penyebab psikologis rasionalisasi. Walaupun begitu, rasionalisasi digunakan juga dalam berbagai situasi pada saat tuntutan penyesuaian diri memerlukan pemecahannya.

Untuk mengetahui reaksi rasionalisasi ini pada uraian berikut akan diberikan contoh-contohnya:

1)        Seorang siswa tidak dapat melaksanakan tugas untuk bercerita, dengan alasan bukunya lupa tidak dibawa.

2)        Seorang pegawai terlambat datang bekerja, dengan alasan kendaraanya terjebak macet.

3)        Seorang siswa tidak lulus ujian, dengan alasan sakit.

Setiap kasus diatas mempunyai kesamaan sumber penyebab, yaitu ketidakmampuan menghadapi (1) kegagalan secara wajar, (2) menghadapi kelemahan, dan (3) menerima tanggung jawab.

Para ahli psikologi sepakat bahwa rasionalisasi dapapt merusak integritas pribadi dan penyesuaian diri yang sehat. Rasionalisasi tidak ada bedanya dengan berbohong, karena kedua-duanya menunujukkan gejala inkonsistensi, kontradiksi pribadi, dan inkoherensi. Hal ini terjadi karena kedua-duanya merupakan upaya untuk memelihara integritas pribadi yang fiktif dan menghindari situasi atau kondisi yang nyata.

 

  1. 4.             Sour Grape (Anggur Masam)

Istilah ini berasal dari suatu cerita, yaitu: ada seekor rubah yang sangat menyenangi buah anggur, tetapi dia gagal meraih buah anggur tersebut. [ada saat itu dia berbicara pada dirinya, buah angggur itu sangat masam rasanya.

Mekanisme pertahanan diri ini sama dengan rasionalisasi, yaitu sikap menipu diri sendiri (self deception). Sikap “sour grape” ini merupakan indikasi ketidakmampuan, dan kelemahan kepribadian, karena mendistorsi kenyataan. Oleh karena itu sikap ini merupakan penyesuaian diri yang tidak normal.

Contoh-contoh sikap “sour grape”: siswa yang gagal di sekolah, seorang pekerja yang kehilangan pekerjaannya, seorang suami mencerai istrinya, atau seorang penulis yang gagal mempublikasikan karyanya, masing-masing mereka mungkin akan menggunakan mekanisme “sour grape” ini dalam upaya menenangkan perasaan frustasinya.

 

  1. 5.             Egosentrisme dan Superioritas

Egosentrisme dan Superioritas merupakan sikap-sikap yang dipandang efektif untuk melindungi dampak-dampak buruk dari perasaan inferioritas dan perasaan gagal dalam mencapai sesuatu yang disenangi.

Egosentrisme dapat diartikan sebagai perbuatan pura-pura yang tidak disadari untuk mencapai kualitas superior, dan usaha untuk menyembunyikan inferioritasnya.

Factor-faktor yang menyebabkan berkembangnya sikap egosentris adalah

  1. Perasaan tidak aman (insecurity) yang pada umumnya berasal dari perasaan rendah diri (inferiority)
  2. Perlakuan orangtua yang sangat memanjakan, atau yang selalu memberikan pujian atau membangga-banggakannya.
  3. 6.             Introjeksi dan Identifikasi

Kedua mekanisme pertahanan diri ini sama-sama berusaha untuk memelihara atau melindungi ego dari kelemahannya. Introjeksi merupakan mekanisme dengan cara individu berusaha mengasimilasi kualitas-kualitas yang diingini atau disenangi dari orang lain atau kelompok.

Efisiensi asimilasi ini tergantung kepada tingkat kemampuan seseorang dalam mengidentifikasi dirinya dengan orang lain. Sementara identifikasi diartikan sebagai “suatu proses dimana seseorang membangun persamaan psikologis dengan orang lain, baik dalam aspek kapasitas maupun sifat-sifat”. Dapat juga diartikan sebagai “sikap menerima identitas orang lain atau kelompok secara tidak disadari untuk meningkatkan prestige atau harga diri” .

Contoh: anak laki-laki mengidentifikasi kekuatan ayahnya dan kemudian mengintrojeksi kualitas-kualitas pribadinya, seperti keberanian dan kematangan.

 

  1. 7.             Proyeksi dan Sikap Mencela (Blaming)

Proyeksi merupakan “mekanisme pertahanan diri dimana individu melepas dirinya sendiri dari kualitas atau keadaan yang tidak diinginkan dengan cara mengkambinghitamkan orang lain atau sesuatu sebagai penyebabnya ”.

Contoh:

  1. Seorang pekerja yang gagal dalam mengerjakan tugasnya memproyeksikan kegagalannya kepada mesin, bukan kepada dirinya yang tidak mampu menyelesaikan tugasnya.
  2. Seorang remaja yang nakal memproyeksikan penyebab kenakalannnya kepada orangtuanya, bukan kepada dirinya sendiri.

Proyeksi ini sering dihubungkan dengan reaksi “blamming” dan merefleksikan perasaan tidak mampu dan tidak bersalah yang mendalam,. Ketika seseorang mencela atau menyalahkan orang lain, karena ketidakmampuan dan kegagalannya merupakan indikasi yang baik bahwa dia merasa bersalah, dan secara tidak langsung dia telah mencela kelemahan dirinya sendiri.

  1. 8.             Represi

Represi merupakan proses penekanan pengalaman, dorongan, keinginan, atau pikiran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip moral dan social kea lam tak sadar, karena hal itu mengancam keamanan egonya.

Represi melindungi organisme dari ketegangan, frustasi, perusakan ego, dan juga dapat mengembangkan motif-motif yang tidak disadari yang mengraha kepada pembentukan gejala-gejala gangguan tingkah laku.

Semua bentuk mekanisme pertahanan diri tersebut di atas, sama-sama bertujuan untuk mereduksi ketegangan, konflik, frustasi, dalam upaya melindungi keamanan egonya. Mekanisme pertahanan diri ini bergerak di antara normal dan abnormal. Apabila mekanisme tersebut mendistorsi kenyataan dan melemahkan hubungan social, serta mengarah kepada kerusakan ego, maka mekanisme itu termasuk maladjusment (abnormal).

 

2)        Reaksi Menyerang

Agresi dapat diartikan sebagai sebuah bentuk respon untuk mereduksi ketegangan dan frustasi melalui media tingkah laku yang merusak, berkuasa, atau mendominasi.

Berbeda dengan mekanisme penyesuaian diri yang lainnya, reaksi agresi tidak berkontribusi bagi kesejahteraan rohaniah individu atau penyelesaian masalah yang dihadapinya.

Agresi ini terefleksi dalam tingkah laku verbal dan nonverbal. Contoh yang verbal: berkata kasar, bertengkar, panggilan nama yang jelek, jawaban yang kasar, sarkasme (perkataan yang menyakitkan hati), dan kritikan yang tajam. Sementara contoh yang nonverbal, di antaranya: menolak atau melanggar aturan (tidak disiplin), memberontak, berkelahi (tawuran), mendominasi orang lain, dan membunuh.

Agresi ini dipengaruhi beberapa factor, yaitu sebagai berikut:

  1. Fisik: sakit-sakitan atau mempunyai penyakit yang sulit disembuhkan.
  2. Psikis: ketidakmampuan atau ketidakpuasan dalam memenuhi Kebutuhan dasar, seperti rasa aman, kasih sayang, kebebasan, dan pengakuan social.
  3. Social: perhatian orangtua yang sangat membatasi atau sangat memanjakan, hubungan antar anggota keluarga yang tidak harmonis, hubungan guru siswa yang negative, kondisi sekolah yang tidak nyaman, kegagalan dalam pernikahan, kondisi pekerjaan yang tidak nyaman atau di-PHK (pemutusan hubungan kerja).

Lebih lanjut dikemukakan gejala-gejala perilaku sikap agresif, yaitu sebagai berikut (M. Surya, 1976).

  1. Selalu membenarkan diri sendiri.
  2. Mau berkuasa dalam setiap situasi.
  3. Mau memiliki segalanya.
  4. Bersikap senang mengganggu orang lain.
  5. Menggertak, baik dengan ucapan atau perbuatan.
  6. Menunujukkan sikap permusuhan secara terbuka.
  7. Menunjukkan sikap menyerang dan merusak.
  8. Keras kepala.
  9. Bersikap balas dendam.
  10. Memperkosa hak orang lain.
  11. Bertindak serampangan (impulsif)
  12. Marah secara sadis.

 

Bentuk mekanisme yang sangat dekat hubungannya dengan agresi adalah “delinquency”, karena kedua-duanya merupakan sikap perlawanan terhadap kondisi yang memfrustasikan pemenuhan Kebutuhan atau keinginannya. Delinquency dapat diartikan sebagai tingkah laku individu atau kelompok yang melanggar norma moral yang dijunjung tinggi masyarakat, yang menyebabkan terjadinya konflik antara individu dengan kelompok atau masyarakat.

Tingkah laku nakal (delinquency) dapat dipandang sebagai upaya untuk memenuhi Kebutuhan, dan mereduksi ketegangan, frustasi, dan konflik yang disebabkan oleh tuntutan tersebut.

Healy dan Bronner (Schneiders, 1964:354) mengemukakan tentang karakteristik “delinquency” itu sebagai berikut:

  1. Penolakan terhadap situasi yang tidak menyenangkan dengan cara “escape” atau “flight” (melarikan diri) dari situasi tersebut.
  2. Memperoleh kepuasan pengganti melalui “delinquency”.
  3. Upaya memperoleh kepuasan ego, melalui pernyataan sikap balas dendam secara langsung, baik disadari maupun tidak, sebagai ekspresi dari keinginannya yang tersembunyi untuk menghukum orangtua atau orang lain dengan melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan kesulitan hidup bagi dirinya.
  4. Upaya memperoleh kepuasan pribadi secara maksimum melalui perilaku agresif, sikap anti social , dan permusuhan terhadap orang-orang yang memiliki otoritas.

 

Berkembangnya perilaku “delinquency” disebabkan oleh beberapa factor, yaitu sebagai berikut:

  1. Factor Psikologis: inferioritas, perasaan tidak aman, tersisihkan dari kelompok (tidak mendapat pengakuan kelompok), kurang mendapat kasih sayang, dan gagal memperoleh prestasi.
  2. Factor Lingkungan: broken home, perlakuan orangtua yang sering menghukum, sikap penolakan orangtua, hubungan antar anggota keluarga yang tidak harmonis, iklim kehidupan (social, moral dan agama) masyarakat yang tidak kondusif, dan kondisi ekonomi yang morat-marit.

 

3)        Reaksi Melarikan Diri dari Kenyataan

Reaksi “escape'” dan “withdrawal” merupakan perlawanan pertahanan diri individu terhadap tuntutan, desakan, atau ancaman dari lingkungan dimana dia hidup. “Escape” merefleksikan perasaan jenuh, atau putus asa; sementara “withdrawal” mengindikasikan kecemasan, atau ketakutan. Bentuk-bentuk reaksi “escape” dan “withdrawal” ini diantaranya: (a) berfantasi – melamun, (b) banyak tidur, atau tidur yang patologis: narcolepcy, yaitu kebiasaan tidur yang tak terkontrol, (c) meminum-minuman keras, (d) bunuh diri, (e) menjadi pecandu ganja, narkotika, shabu-shabu atau ecstacy, dan (f) regresi.

Contoh: seorang siswa mengalami frustrasi, karena prestasi belajarnya di sekolah rendah. Akhirnya dia menjadi sering melamun (day dreaming). Dia melarikan diri dari dunia nyata dan mencari kepuasan di dunia tak nyata (melamun).

Reaksi “escape” dan “withdrawal” berkembang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut:

a. Psikologis: frustrasi, konflik, ketakutan, perasaan tertindas, dan kemiskinan emosional.

b. Lingkungan keluarga: orangtua terlalu memanjakan anak, orangtua bersikap menolak terhadap anak, dan orangtua menerapkan disiplin yang keras terhadap anak.

 

4)        Penyesuaian yang Patologis

Penyesuaian yang patologis ini berarti bahwa individu yang mengalaminya perlu mendapat perawatan khusus, dan bersifat klinis, bahkan perlu perawatan di rumah sakit (hospitalized). Yang terrnasuk penyesuaian yang patologis ini adalah “neurosis” dan “psikosis.”

Untuk membantu para siswa atau mahasiswa agar tercegah dari sikap dan perilaku salah suai di atas, maka pihak sekolah atau perguruan tinggi hendaknya memberikan bantuan agar setiap siswa (mahasiswa) mampu menyesuaikan diri dengan baik dan terhindar dari timbulnya gejala-gejala salah suai. Sekolah hendaknya menempatkan diri sebagai suatu lingkungan yang memberikan kemudahan-kemudahan untuk tercapainya penyesuaian yang baik.

Di atas dikatakan bahwa jika individu gagal dalam penyesuaian diri, maka ia akan sampai pada suatu situasi salah suai. Gejala-gejala salah suai ini akan dimanifestasikan dalam bentuk tingkah laku yang kurang wajar atau kelainan tingkah laku.

Gejala-gejala tingkah laku salah suai tersebut seringkali menimbulkan berbagai masalah. Hal tersebut tentu saja tidak dapat dibiarkan terus, karena akan mengganggu baik bagi individu itu sendiri maupun bagi lingkungan.

Mereka yang menunjukkan gejala-gejala kelainan tingkah laku mempunyai luvondenmgan gagal dalam proses pendidikannya. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu usaha nyata untuk menanggulangi grjala-gejala terscbut, dalam hubungan ini bimbingan dan konseling mempunyai peranan yang cukup penting.

 

  1. 5.             Masalah belajar

 

Dalam seluruh proses pendidikan, belajar merupakan kegiatan inti. Pendidikan itu sendiri dapat diartikan sebagai bantuan perkembang-an melalui kegiatan belajar. Secara psikologis belajar dapat diartikan sebagai proses memperoleh perubahan tingkah laku (baik dalam kognitif, af’ektif, maupun psikomotor) untuk memperoleh respons yang diperlukan dalam interaksi dengan lingkungan secara efisien.

Dalam kegitatan belajar dapat timbul berbagai masalah baik bagi pelajar itu sendiri maupun bagi pengajar. Misalnya bagaimana menciptakan knndisi yang baik agar berhasil, memilih metode dan alat-alat sesuai dengan jonis dan situasi belajar, membuat rencana belajar bagi siswa, menyesuaikan proses belajar dengan keunikan siswa, penilaian hasil belajar, diagnosis kesulitan belajar, dan sebagainya. Bagi siswa sendiri, masalah-masalah belajar yang mungkin timbul misalnya pengaturan waktu belajar, memilih cara belajar, menggunakan buku-buku pelajaran, belajar berkelompok, mempersiapkan ujian, memilih mata pelajaran yang cocok, dan sebagainya.

Keberhasilan belajar siswa/mahasiswa itu sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal (yang bersumber dari dalam diri sendiri) maupun eksternal (yang bersumber dari luar atau lingkungan).

a. Faktor Internal

Ada beberapa faktor yang harus dipenuhinya agar belajarnya berhasil. Syarat-syarat itu meliputi fisik dan psikis. Yang termasuk faktor fisik, di antaranya: nutrisi (gizi makanan), kesehatan dan keberfungsian fisik (terutama pancaindera). Kekurangan nutrisi dapat mengakibatkan kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah, dan kurang bisa konsentrasi. Penyakit juga dapat mempengaruhi keberhasilan belajar, apabila penyakit itu bersifat kronis atau terus menerus dan mengganggu kenyamanan. Pancaindera pun sangat berpengaruh terhadap belajar, ka-rena merupakan pintu gerbang masuknya informasi dari luar. Oleh karena itu, pemeliharaan yang intensif sangat penting bagi individu. Sementara yang masuk faktor psikis di antaranya adalah kecerdasan, motivasi, minat, sikap dan kebiasaan belajar, dan suasana emosi. Apabila kedua faktor tersebut tidak terpenuhi atau mengalami gangguan, maka kemungkinan besar individu akan mengalami kesulitan belajar.

Menurut W.H. Burton (Syamsu Yusuf LN dkk., 1992) faktor internal yang mengakibatkan kesulitan belajar adalah sebagai berikut.

Ketidakseimbangan mental atau gangguan fungsi mental: (a) kurangnya kemampuan mental yang bersifat potensial (kecer­dasan); (b) kurangnya kemampuan mental, seperti kurang perhatian, adanya kelainan, lemah dalam berusaha, menun-jukkan kegiatan yang berlawanan, kurangnya enerji untuk bekerja atau belajar karena kekurangan makanan yang bergizi, kurangnya penguasaan terhadap kebiasaan belajar dan hal-hal fundamental; dan (c) kesiapan diri yang kurang matang.

Gangguan fisik: (a) kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat-alat bicara; dan (b) gangguan kesehatan (sakit-sakitan).

Gangguan emosi: (a) merasa tidak aman, (b) kurang bisa menyesuaikan diri, baik dengan orang, situasi, maupun kebutuhan; (c) adanya perasaan yang kompleks (tidak karuan), perasaan takut yang berlebihan (phobi), perasaan ingin melarikan diri atau menghindar dari masalah yang dialami; dan (d) ketidakmatangan emosi.

b. Faktor Eksternal

Faktor ini meliputi aspek-aspek sosial dan nonsosial. Yang dimak-sud dengan faktor sosial adalah faktor manusia, baik yang hadir secara langsung (bertatap muka atau berkomunikasi langsung), maupun kehadirannya secara tidak langsung, seperti: berupa foto, suara (nyanyian, pembicaraan) dalam radio, TV, dan tape recorder. Sedangkan yang termasuk faktor nonsosial adalah: keadaan suhu udara (panas, dingin), waktu (pagi, siang, malam), suasana lingkungan (sepi, bising atau ramai), keadaan tempat (kualitas gedung, luas ruangan, kebersihan, ventilasi, dan kelengkapan mebeler), kelengkapan alat-alat atau fasilitas belajar (ATK, alat peraga, buku-buku sumber, dan media komunikasi belajar lainnya).

Jadi jelas bahwa dalam kegiatan belajar ini banyak masalah-masalah yang timbul terutama yang dirasakan oleh siswa sendiri. Sekolah mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membantu siswa agar mereka berhasil dalam belajar. Untuk itu hendaknya sekolah memberikan bantuan kepada siswa dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan belajar. Di sinilah penting dan perlunya program bimbingan dan konseling untuk membantu agar mereka berhasil dalam belajar.

Layanan bantuan yang seyogianya diberikan kepada para siswa adalah bimbingan belajar. Bimbingan belajar ini meliputi beberapa kegiatan layanan, baik yang bersifat preventif maupun kuratif. Layanan yang bersifat preventif di antaranya dengan pemberian layanan informasi sebagai berikut: (a) Sikap dan kebiasaan belajar yang positif; (b) Cara membaca buku yang efektif; (c) Cara membuat catatan pelajaran; (d) Cara mengikuti kegiatan belajar di dalam dan di luar kelas; (e) Cara belajar kelompok; dan (f) Teknik menyusun laporan.

Adapun bimbingan belajar yang bersifat kuratif adalah layanan bantuan bag! para siswa yang memiliki masalah atau kesulitan belajar. Untuk meinbantu mereka, maka dilakukan langkah-langkah sebagai brrikut.

Mengidentifikasi kasus, dengan cara (1) membandingkan nilai setiap siswa dengan nilai batas lulus kelompok, dan (2) menerima laporan dari sol.iap guru atau wali kelas tentang aktivitas belajar setiap siswa yang diduga bermasalah dalam belajar.

Mengidentifikasi. letaknya masalah, dengan cara (1) melihat kawasan tujtian belajar mana yang belum tercapai, dan (2) melihat ruang lingkup atau bahan ajar mana yang belum dikuasai.

Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kesulitan belajar (diagnosis). Faktor-faktor penyebab ini dapat diklasifikasikan ke dalam dua laktor, yaitu: internal (yang berasal atau bersumber dari diri siswa itu sendiri) dan eksternal (yang bersumber dari luar atau lingkungan).

Prognosis, mengambil kesimpulan dan keputusan serta meramalkan kemungkinan penyembuhannya.

Treatment, pemberian layanan bantuan sesuai dengan prognosis yang telah dilakukan.

2.2         Pendekatan-pendekatan Umum dalam Bimbingan & Konseling

Dilihat dari pendekatan bimbingan, bimbingan itu dibagi menjadi 4 pendekatan yaitu : (1) pendekatan krisis; (2) pendekatan remedial; (3) pendekatan preventif; (4) pendekatan perkembangan.

  1. a.         Pendekatan Krisis

Pendekatan krisis adalah upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisis atau masalah. Bimbingan bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami individu. Dalam pendekatan krisis ini, konselor menunggu klien yang datang, selanjutnya mereka memberikan bantuan sesuai dengan masalah yang dirasakan klien.

Pendekatan ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikoanalisis. Psikoanalisis terpusat pada pengaruh masa lampau sebagai suatu hal yang menentukan bagi fungsinya kepribadian pada masa kini. Pengalaman-pengalaman pada masa lima atau enam tahun pertama dari kehidupan individu dipandang sebagai akar dari krisis individu yang bersangkutan pada masa kini.

 

  1. b.             Pendekatan Remedial

Pendekatan remedial adalah upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kesulitan. Tujuan bimbingan adalah untuk memperbaiki kesulitan-kesulitan yang dialami individu. Dalam pendekatan ini konselor memfokuskan pada kelemahan-kelemahan individu yang selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya.

Pendekatan remedial ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi behavioristik. Pendekatan behavioristik ini menekankan pada perilaku klien di sini dan saat ini. Perilaku saat ini dari individu dipengaruhi oleh suasana lingkungan pada saat ini pula. Oleh sebab itu untuk memperbaiki perilaku individu perlu ditata lingkungan yang mendukung untuk perbaikan perilaku tersebut.

 

  1. c.              Pendekatan Preventif

Pendekatan preventif adalah upaya bimbingan yang diarahkan untuk mengantisipasi masalah-masalah umum individu dan mencoba mencegah jangan sampai terjadi masalah tersebut pada individu. Konselor berupaya untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencegah masalah tersebut.

Pendekatan kuratif ini tidak didasari oleh teori tertentu yang khusus. Pendekatannya dapat dikatakan mempunyai banyak teknik terapi, tetapi hanya sedikit konsep.

 

  1. d.             Pendekatan Perkembangan

Bimbingan dan konseling yang berkembang pada saat ini adalah bimbingan dan konseling perkembangan. Visi bimbingan dan konseling adalah edukatif, pengembangan, dan outreach. Edukatif karen titik berat kepedulian bimbingan dan konseling terletak pada pencegahan dan pengembangan, bukan pada korektif atau terapeutik, walaupun hal itu tetap ada dalam kepedulian bimbingan dan konseling perkembangan. Pengembangan, karena titik sentral tujuan bimbingan dan konseling adalh perkembangan optimal dan strategi upaya pokoknya adalah memberikan kemudahan perkembangan  bagi individu melalui perekayasaan lingkungan perkembangan. Outreach, karena target populasi layanan bimbingan dan konseling tidak terbatas kepada individu bermasalah dan dilakukan secara individual tetapi meliputiragam dimensi (masalah, target intervensi, setting, metode, lama waktu layanan) dalam rentang yang cukup lebar. Teknik yang digunakan dalam bimbingan dan konseling perkembangan adalah pembelajaran, pertukaran informasi, bermain peran, tutorial dan konseling. (Muro and Kottman, 199:5)

 

2.3         Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling

Strategi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling terkait dengan empat komponen program yaitu:  (1) layanan dasar;  (2)  layanan responsif; (3) perencanaan individual; dan  (4) dukungan sistem.

  1. 1.    Strategi untuk Layanan Dasar Bimbingan
  2. a.    Bimbingan Klasikal

Layanan dasar diperuntukkan bagi semua siswa. Hal ini berarti bahwa dalam peluncuran program yang telah dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan layanan bimbingan kepada para siswa. Kegiatan layanan dilaksanakan melalui pemberian layanan orientasi dan informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi siswa. Layanan orientasi pada umumnya dilaksanakan pada awal pelajaran, yang diperuntukan bagi para siswa baru, sehingga memiliki pengetahuan yang utuh tentang sekolah yang dimasukinya. Kepada siswa diperkenalkan tentang berbagai hal yang terkait dengan sekolah, seperti : kurikulum, personel (pimpinan, para guru, dan staf administrasi), jadwal pelajaran, perpustakaan, laboratorium, tata-tertib sekolah, jurusan (untuk SLTA), kegiatan ekstrakurikuler, dan fasilitas sekolah lainnya. Sementara layanan informasi merupakan proses bantuan yang diberikan kepada para siswa tentang berbagai aspek kehidupan yang dipandang penting bagi mereka, baik melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet). Layanan informasi untuk bimbingan klasikal dapat mempergunakan jam pengembangan diri. Agar semua siswa terlayani kegiatan bimbingan klasikal perlu terjadwalkan secara pasti untuk semua kelas.

  1. b.   Bimbingan Kelompok

Konselor memberikan layanan bimbingan kepada siswa melalui kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat para siswa. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress. Layanan bimbingan kelompok ditujukan untuk mengembangkan keterampilan atau perilaku baru yang lebih efektif dan produktif.

  1. c.    Berkolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas

Program bimbingan akan berjalan secara efektif apabila didukung oleh semua pihak, yang dalam hal ini khususnya para guru mata pelajaran atau wali kelas. Konselor berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka memperoleh informasi tentang siswa (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan pribadinya), membantu memecahkan masalah siswa, dan mengidentifikasi aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran. Aspek-aspek itu di antaranya :

1)      menciptakan sekolah dengan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif bagi belajar siswa;

2)      memahami karakteristik siswa yang unik dan beragam;

3)      menandai siswa yang diduga bermasalah;

4)      membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui program remedial teaching;

5)      mereferal (mengalihtangankan) siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing;

6)      memberikan informasi tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang diminati siswa;

7)      memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja (tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja);

8)      menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan “figur central” bagi siswa);

9)      memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang diberikannya secara efektif.

  1. d.   Berkolaborasi (Kerjasama) dengan Orang Tua

Dalam upaya meningkatkan kualitas peluncuran program bimbingan, konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi siswa atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa. Untuk melakukan kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti : (1) kepala sekolah atau komite sekolah mengundang para orang tua untuk datang ke sekolah (minimal satu semester satu kali), yang pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian rapor, (2) sekolah memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang kemajuan belajar atau masalah siswa, dan (3) orang tua diminta untuk melaporkan keadaan anaknya di rumah ke sekolah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan perilaku sehari-harinya.

  1. 2.    Strategi untuk Layanan Responsif
  2. a.     Konsultasi

Konselor memberikan layanan konsultasi kepada guru, orang tua, atau pihak pimpinan sekolah dalam rangka membangun kesamaan persepsi dalam memberikan bimbingan kepada para siswa.

  1. b.   Konseling Individual atau Kelompok

Pemberian layanan konseling ini ditujukan untuk membantu para siswa yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Melalui konseling, siswa (klien) dibantu untuk mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Konseling kelompok dilaksanakan untuk membantu siswa memecahkan masalahnya melalui kelompok. Dalam konseling kelompok ini, masing-masing siswa mengemukakan masalah yang dialaminya, kemudian satu sama lain saling memberikan masukan atau pendapat untuk memecahkan masalah tersebut.

  1. c.    Referal (Rujukan atau Alih Tangan)

Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah klien, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan klien kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Klien yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis.

  1. d.   Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)

Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa yang lainnya. Siswa yang menjadi pembimbing sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik. Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau masalah siswa yang perlu mendapat layanan bantuan bimbingan atau konseling.

  1. 3.    Strategi untuk Layanan Perencanaan Individual
  2. a.    Penilaian Individual atau Kelompok (Individual or small-group Appraisal)

Yang dimaksud dengan penilaian ini adalah konselor bersama siswa menganalisis dan menilai kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi belajar siswa. Dapat juga dikatakan bahwa konselor membantu siswa menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas perkembangannya, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Melalui kegiatan penilaian diri ini, siswa akan memiliki pemahaman, penerimaan, dan pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif.

  1. b.   Individual or Small-Group Advicement

Konselor memberikan nasihat kepada siswa untuk menggunakan atau memanfaatkan hasil penilaian tentang dirinya, atau informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan dan karir yang diperolehnya untuk (1) merumuskan tujuan, dan merencanakan kegiatan (alternatif kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya; (2) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3) mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya.

  1. 4.    Strategi untuk Dukungan Sistem
  2. a.    Pengembangan Professional

Konselor secara terus menerus berusaha untuk “meng-update” pengetahuan dan keterampilannya melalui (1) in-service training, (2) aktif dalam organisasi profesi, (3) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar dan workshop (lokakarya), atau (4) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi (Pascasarjana).

  1. b.   Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi

Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf sekolah lainnya, dan pihak institusi di luar sekolah (pemerintah, dan swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang layanan bantuan yang telah diberikannya kepada para siswa, menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa, melakukan referal, serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling. Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan upaya sekolah untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu layanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan orang tua siswa, (5) MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).

  1. c.    Manajemen Program

Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan tercisekolaha, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Mengenai arti manajemen itu sendiri Stoner (1981) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: “Management is the process of planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing members and of using all other organizational resources to achieve stated organizational goals”.

BAB III

PENUTUP

3.1              Kesimpulan

Perlunya layanan bimbingan di sekolah adalah berlatarbelakangkan tiga aspek. Pertama adalah aspek lingkungan, khususnya lingkungan. sosial kultural, yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi individu siswa sebagai subjek didik, dan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Sebagai akibat dari lingkungan pengaruh sosial-kultural ini, maka individu memerlukan adanya bantuan dalam perkembangannya, dan sekolahpun memerlukan pendekatan khusus. Bantuan dan pendekatan yang diperlukan adalah layanan bimbingan dan konseling.

Aspek yang kedua adalah lembaganya itu sendiri yaitu pendidikan yang mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan kepribadian subjek didik. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dilaksanakan secara tuntas baik dalam proses kegiatannya maupun tindak dan para pelaksana nya yaitu guru sebagai pendidik. Untuk menuntaskan pendidikan, diperlu kan adanya layanan bimbingan dan konseling.

Aspek ketiga adalah yang menyangkut segi subjek didik sebagai pribadi yang unik, dinamik dan berkembang, memerlukan pendekatan dan bantuan yang khusus melalui layanan bimbingan dan konseling.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aspek lingkungan (sosial  kultural) pendidikan, dan siswa (psikologis) merupakan latar belakang perlunya layanan bimbingan dan konseling di sekolah.

 

 

3.2              Saran

Untuk menciptakan pelayanan bimbingan secara bermutu, maka para pembimbing, guru, dan personel sekolah lainnya perlu mendapatkan penambahan, perluasan, atau pendalaman tentang konsep-konsep atau keterampilan-keterampilan tertentu tentang bimbingan, sesuai dengan deskripsi pekerjaan  (kinerja) masing-masing. Bentuk pengembangan staf ini bisa dilaksanakan melalui seminar atau lokakarya. Melalui kegiatan pengembangan ini diharapkan personel sekolah memiliki kompetensi atau kemampuan sesuai dengan deskripsi kerja
(kinerja) masing-masing.

Selain itu, konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf sekolah lainnya, dan pihak instansi di luar sekolah (pemerintah dan swasta) untuk memberikan layanan bimbingan dan konseling secara akurat dan bijaksana, dalam upaya memfasilitasi individu atau peserta didik mengembangkan npotensi dirinya secara optimal, untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang layanan bantuan yang telah diberikannya kepada para siswa, menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa, melakukan referal, serta meningkatkan kualitas program layanan bimbingan dan konseling.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Yusuf, Syamsu., dan A. Juntika Nurihsan. 2008. Landasan Bimbingan & Konseling. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Winkel, W.S. 1982. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah. Jakarta: PT Gramedia

Sudrajat, Akhmad. (2010). Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling. [Online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/02/03/strategi-pelaksanaan-layanan-bimbingan-dan-konseling/. [4 Maret 2012]

 

Teknik-teknik Dasar Dalam Pemahaman Individu

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah mahluk filosofis, artinya manusia mempunyai pengetahuan dan berpikir, manusia juga memiliki sifat yang unik, berbeda dengan mahluk lain dalam perkembanganya. Implikasi dari keragaman ini ialah bahwa individu memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih dan mengembangkan diri sesuai dengan keunikan dari tiap–tiap potensi tanpa menimbulkan konflik dengan lingkungannya. Dari sisi keunikan dan keragaman idividu, maka diperlukanlah bimbingan untuk membantu setiap individu mencapai perkembangan yang sehat didalam lingkungannya ( Nur Ihsan, 2006 : 1)

Pada dasarnya bimbingan dan konseling juga merupakan upaya bantuan untuk menunjukan perkembangan manusia secara optimal baik secara kelompok maupun idividu sesuia dengan hakekat kemanusiannya dengan berbagai potensi, kelebihan dan kekurangan, kelemhan serta permaslahanya.

Adapun dalam dunia pendidikan, bimbingan dan konseling juga sangat dipelukan karena dengan adanya bimbingan dan konseling dapat mengantarkan peserta didik pada pencapai Standar dan kemampuan profesional dan akademis, serta perkembangan dini yang sehat dan produktif didalam bimbinganya dan konseling.

Dalam melaksanakan bimbingan, masalah dalam memahami peserta didik merupakan sikap yang harus dimiliki dan dilakukan oleh guru, sehingga guru dapat mengetahui aspirasi/tuntutan peserta didik yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan program yang tepat bagi peserta didik, sehingga kegiatan pembelajaran pun akan dapat memenuhi kebutuhan, minat peserta didik dan tepat berdasarkan dengan perkembangan peserta didik. Beberapa dasar pertimbangan perlunya ”Memahami dasar–dasar pemahaman  Peserta Didik” yaitu sebagai berikut :

1.      Dasar pertimbangan psikologis bahwa suatu kegiatan akan menarik dan berhasil apabila sesuai dengan minat, bakat, kemampuan, keinginan, dan tuntutan peserta didik.

2.      Dasar pertimbangan sosiologi bahwa secara naluri manusia akan merasa ikut serta memiliki dan aktif mengikuti kegiatan yang ada.

1.2 Rumusan Masalah

Yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini diantaranya, yaitu :

1         Apa konsep Pengertian Bimbingan dan Konseling ?

2         Bagaimana Posisi Bimbingan dan Konseling ?

3         Apa yang dimaksud Peserta didik ?

4         Apa Manfaat dari mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik ?

5         Faktor – faktor apakah yang harus diketahui dalam dasar – dasar pemahaman peserta didik ?

1.3 Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan dan manfaat pembuatan dari makalah ini yaitu :

  1. Pengertian dari Peserta didik.
  2. Memahami konsep pengertian bimbingan dan konseling.
  3. Memahami posisi bimbingan dan konseling.
  4. Mengerti manfaat dari mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik.
  5. Mengetahui faktor – faktor yang harus diketahui dalam dasar – dasar pemahaman peserta didik.
  6. Memenuhi salah satu sarat tugas dari Bimbingan dan Konseling.
  7. Menambah Pengetahuan dan wawasan mengenai bimbingan dan konseling.

 


BAB 2

TEKNIK-TEKNIK DASAR DALAM PEMAHAMAN PESERTA DIDIK

 

2.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada peserta didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif, dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan tugas-tugas perkembangan. Upaya bantuan ini dilakukan secara terencana dan sistematis untuk semua peserta didik berdasarkan identifikasi kebutuhan mereka, pendidik, institusi dan harapan orang tua dan dilakukan oleh seorang tenaga profesional bimbingan dan konseling yaitu konselor.

Adapun tugas-tugas perkembangan peserta didik tingkat remaja (siswa SMP/MTs. dan SMA/MA/SMK) adalah:

1.    Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2.    Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat.

3.    Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita.

4.    Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas.

5.    Mengenal kemampuan, bakat, minat, serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni.

6.    Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan/atau mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan masyarakat.

7.    Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi.

8.    Mengenal sistem etika dan nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sebagai  pribadi, anggota masyarakat, maupun makhluk Tuhan.

9.    Mencapai kematangan dalam pilihan karir.

10.   Mencapai kematangan dalam kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga.

 

 

2.2 Posisi Bimbingan Konseling

The Guidance Service is the Heart of Educational Process. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan. Layanan bimbingan dan konseling merupakan layanan terhadap peserta didik yang tidak terpisahkan dari layanan manajemen dan supervisi maupun kurikulum dan pembelajaran serta bukan merupakan bagian dari bidang yang lain. Bimbingan dan konseling juga tidak direduksi sebagai pengembangan diri atau bagian dari pengembangan diri karena pengembangan diri merupakan tanggung jawab semua sub sistem pendidikan, sehingga tidak bisa dipisahkan dari mata pelajaran, kurikulum muatan lokal, dukungan managerial dan layanan bimbingan dan konseling.

Pengembangan diri sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri No.23 Tahun 2006 Tentang Standar Isi, Bab II, tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum pada semua jenjang pendidikan, SD, SMP dan SM menyatakan bahwa kurikulum berisi: mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri. Dinyatakan pula: “Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru.

Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.”

Posisi pengembangkan diri dan bimbingan berdasarkan perspektif Bimbingan dan Konseling Perkembangan adalah pengembangan diri secara utuh merupakan layanan dasar bimbingan (guidance curriculum), Selain itu dalam bimbingan dan konseling masih terdapat tiga layanan lainnya, yaitu: layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan layanan dukungan sistem. Jadi pengembangan diri hanya bagian dari layanan bimbingan dan konseling.

Implementasi layanan bimbingan dan konseling tidak hanya untuk peserta didik yang bermasalah saja tetapi untuk seluruh peserta didik karena bertumpu pada kebutuhan dan tuntutan lingkungan individu. Layanan bimbingan dan konseling adalah layanan psikologis dalam suasana pedagogis. Layanan psiko-pedagogis dalam seting persekolahan maupun luar sekolah dalam koteks kultur, nilai dan religi yang diyakini konseli dan konselor. Orientasi bimbingan dan konseling adalah perkembangan perilaku yang seharusnya dikuasai oleh individu untuk jangka panjang tertentu menyangkut ragam proses pendidikan, karir, pribadi, sosial, keluarga dan pengambilan keputusan.

2.3 Peserta Didik

Dalam perspektif pedagogis, peserta didik diartikan sebagai sejenis makhluk ‘Homo Educantum’, makhluk yang menghajatkan pendidikan. Dalam pengertian ini, peserta didik dipandang sebagai manusia yang memiliki potensi yang bersifat laten, sehingga dibutuhkan binaan dan bimbingan untuk mengatualisasikannya agar ia dapat menjadi manusia susila yang cakap.

Dalam perspektif psikologis, peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikis menurut fitrahnya masing-masing. Sebagai individu yang tengah tumbuh dan berkembang, peserta didik memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju ke arah titk optimal kemampuan fitrahnya.

Dalam perspektif Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 4, “peserta didik diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.”

Berdasarkan beberapa definisi tentang peserta didik yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik individu yang memiliki sejumlah karakteristik, diantaranya:

  1. Peserta didik adalah individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga ia merupakan insan yang unik.
  2. Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang. Artinya peserta didik tengah mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya secara wajar, baik yang ditujukan kepada diri sendiri maupun yang diarahkan pada penyesuaian dengan lingkungannya.
  3. Peserta didik adalah individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
  4. Peserta didik adalah individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.

2.3.1          Mengenal Murid (Apa dan Siapa Murid ?)

Murid adalah salah satu komponen dalam pengajaran. Sebagai salah satu komponen maka dapat dikatakan murid adalah komponen yang terpenting diantara komponen lain. Murid adalah unsure penentu dalam proses belajar mengajar . Tanpa adanya murid, sesungguhnya tidak akan terjadi proses pengajara. Tanpa adanya murid, guru tak akan mungkin mengajar. Sehingga murid adalah komponen yang terpenting. Dalam hubungan proses belajar mengajar.

 

 

2.3.2      Pandangan Tentang Murid sebagai Anak

Setidak-tidaknya terdapat tiga jenis pandangan tentang anak, yaitu:

a)                  Pandangan lama, menyebutkan anak adalah orang dewasa yang kecil. KArena itu segala sesuatunya perlu disamakan seperti halnya orang dewasa. Anak perlu diberi pakaian orang dewasa dalam bentuk yang kecil. Sebagai anak ia dipandang masih bersih dan orang dewasa lah yang menetukan akan dijadikan apakah anak itu.

Anak adalah sebagai anak. Anak tidak bisa dan tidak mungkin disamakan dengan orang dewasa. Ya memiliki ciri-cirinya sendiri. Perlakuan terhadapa anak tidak boleh dipersamakan dengan perlakuan seperti orang dewasa. Setiap anak berada dalam tahap sedang dalam berkembang, ia memiliki banyak potensi-potensi yang dimiliki, oleh anak itulah perbuatan pendidikan dilakukan.

Anak adalah hidup dimasyarakat dan dipersiapkan unuk hidup didalam masyarakatnya. Sebagai calon anggota masyarakat maka ia harus dipersiapkan sesuai dengan masyarakat setempat. Pandangan ini dikenal dengan istilah child in society.

b)                 Murid sebagai Pribadi yang Kompleks. Dalam hal ini, J. Looke berpandangan bahwa jiwa anak bagaikan tabula rasa, sebuah meja lilin yang dapat ditulis dengan apa saja bagaimana keinginan si pendidik. Tidak ada bedanya dengan sehelai kertas putih yang dapat ditulis dengan tinta warna apa saja. J.J. Rousseau memandang anak  memiliki jiwa yang bersih dan karena lingkungan ia menjadi kotor.

c)                  Berbeda dengan pandangan diatas maka menurut psikologi modern, anak adalah organism yang hidup, yang mereaksi, berbuat, dan sebagainya. Organisme yang hidup memiliki suatu kebutuhan, minat, kemampuan, intelek, dan masalah-masalah tertentu. Dia tidak tinggal diam, melainkan bersifat aktif, bersifat unik, memiliki bakat dan kematangan berkat adanya pengaruh dari luar seperti : Seperti keluarga, masyarakat, status sosial ekonomi keluarga, tingkat dan jenis pekerjaan orang tua, pengaruh-pengaruh dari kebudayaan dan sebagainya, sehingga membentuk pribadi anak menjadi kompleks.

2.3.1.1         Tujuan Mengenal Murid

Guru mengenal murid-muridnya dengan maksud agar guru dapat membantu pertumbuhan dan perkembangnnya secara efektif. Mengenal murid sangat penting agar guru dapat menentukan bahan-bahan yang akan diberikan, menggunakan prosedur mengajar yang serasi, mengadakan diagnosis atas kesulitan.

2.3.1.2         Hal-hal yang Perlu dikenal dari Pribadi Murid

Banyak aspek dari pribadi murid yang perlu dikenal, aspek-aspek tersebut diklasifikasikan sebagai berikut :

 

a)         Latar Belakang Masyarakat

Kultur masyarakat dimana siswa tinggal, besar pengaruhnya terhadap sikap siswa. Latar belakang cultural ini menyebabkan para siswa memiliki sikap yang berbeda-beda tentang agama, politik, masyarakat lain, dan cara bertingkah laku. Pengalaman anak-anak diluar sekolah yang hidup di dalam masyarakat kota sangat berbeda dengan pengalaman para siswa yang tinggal di pedesaan.

b)         Latar Belakang Keluarga

Situasi di dalam keluarga besar pengaruhnya terhadap emosi, penyesuaian social, minat, sikap, tujuan, displin, dan perbuatan siswa disekolah. Apabila di rumah siswa msering mengalami tekanan, merasa tak aman, frustasi maka dia juga akan mengalami perasaan asing di Sekolah. Apa yang menarik minatnya di Rumah akan keliatan pula apa yang menjadi minatnya disekolah. Guru perlu mengenal situasi dan kondisi dalam keluarga siswa, agar dapat merencanakan kegiatan-kegiatan yang serasi, kendatipun pengaruh keluarga ini tidak mutlak menetukan berhasilnya seorang siswa, karena pada kenyataannya sering juga terjadi dimana anak mengalami maladjustment ( gejala-gejala merasa tidak diterima ) sebagai akibat lingkungan sekolah.

c)          Tingkat Intelegensi

Hasil test intelegensi juga menjadi sumber yang menggambarkan abilisitas belajar siswa. Bahkan menurut Wechsler, bahwa intelegensi seseorang dipengaruhi oleh perasaan cemas, dorongan, rasa aman, dan sebagainya. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kemantapan daripada IQ. Tingkat intelegensi dapat digunakan untuk memperkirakan keberhasilan seorang siswa.

d)         Hasil Belajar

Guru perlu mengenal hasil belajar dan kemajuan belajar siswa yang telah diperoleh sebelumnya. Hal-hal yang perlu diketahui itu, ialah penguasaan pelajaran, keterampilan-keterampilan belajar dan bekerja. Hal tersebut penting bagi guru karena dapat membantu guru mendiagnosis kesulitan belajar siswa, dapat memperkirakan hasil dan kemajuan belajar selanjutnya, hasil-hasil tersebut dapat saja berbeda dan bervariasi sehubungan dengan kedaan motivasi, kematangan, dan penyesuaian social.

e)         Kesehatan Badan

Guru perlu secara berkala mengetahui tentang keadaan kesehatan dan pertumbuhan siswa. Keadaan kesehatan dan pertumbuhan ini besar pengaruhnya terhadap hasil pendidikan dan penyesuaian social mereka. Siswa yang kurang sehat badannya mungkin mengalami kurang vitamin sehingga kurang energy untuk belajar.

 

 

f)          Hubungan antar Pribadi

Perkembangan social menunjukan keseluruhan pola pertumbuhan. Hubungan pribadi saling aksi dan mereaksi, peneriamaan oleh anggota kelompok, kerjasama dengan teman sekelompok akan menentukan perasaan puas dan rasa aman di sekolah, sehingga berpengaruh pada kelakuan dan motivasi belajarnya.

g)         Kebutuhan-kebutuhan Emosional

Diantara kebutuhan emosional yang penting dikalangan para siswa pada umumnya ialah ingin diterima, berteman, dan rasa aman. Kebutuhan ini perlu mendapat kepuasan dan jika tidak berhasil memberikan kepuasan atas kebutuhan tersebut maka akan menimbulkan frustasi dan gangguan mental lainnya. Gangguan mental tersebut dapat dilihat dari tingkah lakunya sebagai berikut:

Tingkah Laku Pemalu, Kelakuannya sangat agresif, Tingkah laku submissive ( terlalu bergantung pada orang lain ), Gejala sakit somatis ( sakit badan yang sebenarnya disebabkan oleh gangguan mental ).

h)         Sifat-sifat Kepribadian

Guru perlu mengenal sifat-sifat kepribadian murid agar guru mudah mengadakan pendekatan pribadi dengan mereka, sehingga hubungan pribadi menjadi lebih dekat dan pengajaran lebih efektif.

i)           Bermacam-macam Minat Bakat

Guru perlu sekali minat muridnya karena penting bagi guru untuk memilih bahan pelajaran, merencanakan pengalaman belajar, menuntun kearah pengetahuan, dan mendorong motivasi belajar.

 

2.3.1         Cara dan Alat untuk Mengenal Murid

Dalam mengenal murid guru dapat menggunakan bermacam-macam alat, pengenalan terhadap suatu aspek  dapat digunakan lebih dari satu macam alat, dalam  uraian berikut dapat kita tinjau alat itu satu demi satu dalam garis besarnya saja.

a)         Cumulative Record

Sistem cumulative record berisikan banyak macam keterangan tentang murid. Catatan itu ada bermacam-macam. Ada yang menggunakan kartu berukuran 3 X 5 dengan sebanyak 8 pertanyaan, ada juga yang menggunakan folder 10 X 6 didalamnya terdapat sejumlah kartu dan sejumlah pertanyaan. Setiap kartu memuat 117 jenis keterangan. Cumulative record umumnya berisikan keterangan tentang berikut ini:

Keadaan masyarakat, Latar belakang keluarga, Skor tes hasil pendidikan, Skor tes inteligensi, Catatan pemeriksaan kesehatan badan, Catatan kehadiran disekolah, Percakapan dan wawancara informal dengan murid, Catatan tentang pertemuan dengan orangtua dan kunjungan ke rumah, Contoh pekerjaan murid, Hasil-hasil sosiometri, Catatan-catatan tentang permainan dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, Minat-minat khusus.

b)                 Anecdotal records

Anecdotal Records adalah catatan tertulis tentang satu atau lebih observasi-observasi guru terhadap kelakuan dan reaksi-reaksi murid dalam berbagai situasi. Catatan ini dibuat sekali atau dua kali dalam seminggu selama setahun, baru dapat menggambarkan perkembangannya selama waktu itu. Catatan tersebut meliputi keterangan yang diperoleh melalui:

-          Percakapan informal antara guru dan murid

-          Laporan tentang siswa menggunakan waktu bebas

-          komentar tentang orangtuannya

-          contoh-contoh hasil kerja kreatif murid

-          kegiatan-kegiatan murid, dsb.

c)                  Percakapan-percakapan dan Wawancara Informal

Dalam percakap-percakapan informal dengan murid, sebelum masuk sekolah, dalam waktu istirahat dan waktu-waktu lainnya, guru dapat mengarahkan pokok pembicaraan untuk mengungkapkan minat, reaksinya terhadap sekolah, pengalam-pengalam yang didapat di luar sekolah, motivasi, dan aspirasi mereka. Guru juga dapat mengetahui segala sesuatu tentang pribadi murid dari wawancara informal. Dalam situasi-situasi ini anak-anak memungkinkan berbicara secara bebas dan bersikap akrab serta adnya kepercayaan murid terhadap guru.

d)                 Observasi

Melaui observasi yang terus menerus guru dapat memperoleh tentang abilitas. Sikapnya terhadap kegiatan-kegiatan sekolah, partisipasi terhadap berbagai kegiatan, hubungan antar siswa dalamberbagai kelompok. Observasi dapat juga berfungsi sebagai alat penilai.

e)                 Angket

Angket terdiri dari sejumlah pertanyaan tertulis yang disampaikan kepada murid-murid untuk mendapatkan jawaban yang tertulis. Melalui angket, guru dapat mengenal tentang minat, masalah kebutuhan, kecemasan, ambisi anak, dsb.

f)                   Diskusi Informal

Dalam diskusi ini, setiap murid bebas mengemukakan pengalaman pengalaman dan hal-hal yang diamatinya. Diskusi dilaksanakan secara informal penuh persahabatan, saling member dan menerima.

 

 

g)                  Tes

Tes tertulis dapat mengetahui tentang hasil pendidikan para siswa, tingkat intelegensi, sifat-sifat kepribadian, sikap, dan abilitas setiap murid. Macam-macam tes yakni:

h)                 Standarited test, untuk mengetahui hasil belajar murid

i)                    Thurthone primary mental test, untuk mengetahui untuk mengetahui tingkat intelegensi siswa

j)                   California test of personality, suatu tes kepribadian yang digunakan baik untuk siswa maupun untuk orang dewasa

k)                  tes sikap

l)                    tes bakat

m)               the ‘guess who test’, disebut juga tes reputasi, identifikasi, atau pendapat.

n)                 Projective techniques

Teknik ini menyebabkan murid-murid mengekspresikan atau memproyeksikan minat, keinginan, sikap atau pendapat. Teknik ini menggunakan beberapa alat antara lain: autobiography siswa komposisi bebas, menggambar, mengecat, membacakan cerita atu sajak, menggunakan gambar-gambar, bermain boneka, fantasi, bermain drama, rolle playing, Rorschach Technique, tematik dan tes apresiasi.

  • o)                 Sosiometri

Tes sosiometri digunakan untuk memperoleh gambaran tentang hubungan antara pribadi siswa atau hubungan social diantara murid-murid di dalam kelas. Hasil dari sosiometri disebut sosiogram. Sosiogram dibuat dengan menugaskan kepada setiap murid dalam satu kelas untuk memilih dan menuliskannya pada selembar kertas tiga orang nama temannya ( sekelas ), dengan kategori : Yang paling disegani, yang paling disenangi, yang paling tidak disenangi. Kemudian, kertas itu dikumpulkan dan dibuatkankan suatu sosiogram.Contoh sosiogram dari suatu kelas :

 

O

J

N

M

A

L

R

I

H

G

F

E

D

C

B

Q

P

 

 

 

 

 

 

 

= Memilih

= Saling memilih

Dari gambar tersebut dapat dilihat, bahwa ada seorang murid yang paling popular, yang terisolasi, sejumlah siswa memilih teman-temannya dalam satu kelompok kecil, adapula diluar kelompok kecil yang memilih anggota didalam kelompok kecil sedangkan dia sendiri tidak terpilih oleh anggota kelompok kecil tersebut.

p)                 Konferensi antar orang tua dan guru

Dalam kesempatan mengunjungi orang tua murid dan mengadakan pertemuan dengan orang tua murid tersebut untuk melaporkan kemajuan belajar murid maka guru sebaiknya menggunakan kesempatan itu untuk mempelajari situasi keluarga. Dalam melaksanakan konferensi ini hendaknya guru bekerja sama dengan teliti. Buchler dan kawan-kawan memberikan saran-saran sebagai berikut:

1                    Mulailah dengan suatu pernyataan yang positif tentang kemampuan dan minat siswa, sehingga orang tua tersebut terangsang untuk berbicara lebih lanjut.

2                    Terimalah tujuan-tujuan dan keinginan-keinginan orang tua kendatipun mungkin berbeda dengan sekolah. Kemudian perluas tujuan-tujuan belajar yang sempit itu menjadi tujuan-tujuan yang lebih luas, perkembangan pribadi dan penyesuaian sosial.

3                    Doronglah orang tua agar menyatakan keinginannya tentang kebutuhan anaknya dan carilah alasan-alasan yang tepat untuk itu.

4                    Lakukan observasi terhadap para siswa itu dan bandingkan respon-responnya antara sekolah dengan rumah, buatlah interpretasinya.

5                    Ingat bahwa kritik atau evaluasi dari para siswa ditanggapi secara emosional, demikian pula halnya oleh orang tua.

6                    Dengarkan tuntutan atau kritik orang tua terhadap sekolah dan terimalah sebagai tanda bukti adanya minat atau saran-saran yang perlu dipertimbangkan.

7                    Apabila terjadi diskusi tentang suatu masalah, bersiap-siaplah menerima bermacam-macam saran sesuai dengan kemampuan orang tua.

q)                 Studi Kasus (Case Study)

Dengan studi kasus, guru dapat menghimpun banyak informasi tentang seorang murid dari berbagai sumber di dalam satu-kesatuan pola. Manfaatnya ialah guru dapat memahami murid secara menyeluruh dari individu siswa sehingga pola perkembangan siswa dapat diamati secara kontinu. Selain itu guru mempelajari setiap individu siswa dan mempelajari sekelompok anak yang maladjusted dan well-adjusted. Semua teknik yang telah diuraikan dapat digunakan dalam studi kasus. Langkah-langkah membuat studi kasus adalah sebagai berikut:

1            Melakukan studi yang teliti terhadap cumulative record murid di sekolah

2            Mangamati kegiatan-kegiatannya di dalam kelas dan di luar lapangan

3            Mengamati reaksi teman-temannya terhadapnya dan reaksi terhadap mereka

4            Memperbincangkannya dengan guru lain yang mengenal murid tersebut

5            Mengadakan serangkaian pertemuan dengan individu murid tersebut

6            Mengadakan analisis terhadap pekerjaan tertulis dan skor-skor tes intelegensi hasil belajar, apabila khusus dan minat

7            Melakukan kunjungan ke rumah dan melakukan pertemuan dengan orang tuanya

8            Merangkum keterangan teentang murid itu

9            Menafsirkan data

10        Merencanakan suatu program untuk membantu murid itu

Pencatatan informasi

Informasi yang diperoleh diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Informasi umum (Nama dan alamat, nama orang tua, umur kronologis, masuk sekolah, kelas, situasi masyarakat khususnya faktor-faktor yang mempengaruhi anak secara langsung)
  2. Latar belakang keluarga (Pendidikan formal orang tua, jabatan orang tua, kakak dan adik (pendidikan dan jabatan), status dalam keluarga (diterima, ditolak, favorit), status sosial dan ekonomi keluarga, mobilitas keluarga)
  3. Catatan sekolah (Hasil belajar dan kehadiran di sekolah, catatan sebagai warga Negara, hasil belajar dalam setiap mata pelajaran, perubahan-perubahan yang signifikan dalam kemajuan di sekolah, kegiatan-kegiatan di sekolah, hubungan-hubungan sosial dengan murid lain
  4. Mental abilitas (abilitas umum (MA, IQ) dan abilitas khusus dan bakat)
  5. Kondisi jasmani (vitalitas jasmani, bentuk badan (struktur), berat badan (lebih atau kurang), penglihatan dan pendengaran, kebiasaan-kebiasaan sehat (makan, tidur, dan mandi), keterampilan-keterampilan jasmani)
  6. Pengalaman-pengalaman di luar sekolah (Kegiatan-kegiatan waktu senggang, jenis dan banyaknya waktu yang digunakan untuk itu, teman bermain (umur), pekerjaan atau tugas sehari-hari di luar rumah)

Menafsirkan informasi (Informasi yang telah dihimpun tentang seorang murid perlu ditafsirkan, dianalisis, dan ditarik kesimpulan guna mengetahui tingkat perkembangan, kematangan, masalah, dan pemahaman lebih baik.)

 

2.4 Pentingnya Memahami Peserta Didik

Pentingnya Pemahaman Guru/Konselor Mengenai Peserta Didik diantaranya adalah :

1.    Dengan mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konselor  akan dapat memberikan harapan yang realistis terhadap anak dan remaja. Ini adalah penting, karena jika terlalu banyak yang diharapkan pada anak usia tertentu, anak mungkin akan mengembangkan perasaan tidak mampu jika ia tidak mencapai standar yang ditetapkan orangtua dan guru. Sebaliknya, jika terlalu sedikit yang diharapkan dari mereka, mereka akan kehilangan rangsangan untuk lebih mengembangkan kemampuannya.

2.    Dengan mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konselor akan lebih mudah dalam memberikan respons yang tepat terhadap perilaku tertentu seorang peserta didik (konseli).

3.    Dengan mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konselor akan lebih mudah dalam mengenali kapan perkembangan normal yang sesungguhnya dimulai, sehingga guru dapat mempersiapkan anak menghadapi perubahan yang akan terjadi pada tubuh, perhatian dan perilakunya.

4.      Dengan mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konseli akan lebih mudah dalam memberikan bimbingan yang tepat pada peserta didik.

 

2.5  Faktor – faktor yang harus diketahui dalam mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik

Dalam memahami dasar – dasar pemahaman peserta didik hal – hal yang perlu diperhatikan antara lain :

1.    Kompetensi guru pembimbing/konselor

2.    Mengetahui Klasifikasi Layanan

3.    Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling

4.    Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik

5.    Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia Remaja SMA)

 

 

 

2.5.1 Kompetensi Guru Pembimbing (Konselor) di Sekolah

Konselor adalah pelaksana utama yang mengkoordinasi semua kegiatan yang terkait dalam pelaksana bimbingan dan koseling di sekolah. Konselor dituntut untuk bertindak secara bijaksana, ramah, bisa menghargai, dan memeriksa keadaan orang lain, serta berkepribadian baik, karena konselor itu nantinya akan berhubungan dengan siswa khususnya dan juga pihak lain yang sekiranya bermasalah. Konselor juga mengadakan kerja sama dengan guru-guru lain, sehingga guru-guru dapat meningkatkan mutu pelayanan dan pengetahuannya demi suksesnya program bimbingan dan konseling. (Umar, 2001: 118)

Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. Demikian pula, masalah-masalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya.

Sebagai pelaksana utama, tenaga inti, dan ahli, konselor (guru pembimbing) bertugas:

  1. Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling
  2. Merencanakan program bimbingan dan konseling
  3. Melaksanakan segenap pelayanan bimbingan dan konseling
  4. Melakaksanakan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling
  5. Menilai proses dan hasil layanan bimbingan dan konseling
  6. Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian
  7. Mengadministrasikan layanan program bimbingan dan konseling
  8. Mempertanggung jawabkan tugas dan kegiatan bimbingan dan konseling tersebut. (Sukardi, 2002: 56)

Konselor disamping bertugas memberikan layanan kepada siswa, juga sebagai sumber data yang meliputi: kartu akademis, catatan konseling, data psikotes dan catatan konperensi kasus.

Pengawas melakukan pembinaan dan pengawasan apakah konselor yang ada disekolah memiliki kompetensi sebagai konselor. Perlu dukungan sehingga layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh seorang konselor (berlatar pendidikan bimbingan dan konseling yang idealnya memiliki sertifikasi konselor). Paling tidak layanan diberikan oleh guru pembimbing yang telah memperoleh pelatihan bimbingan dan konseling yang diselenggarakan oleh ABKIN maupun Depdiknas yang ditugaskan oleh kepala sekolah untuk melakukan layanan bimbingan dan konseling dengan dukungan penuh wali kelas, guru dan pimpinan sekolah yang melaksanakan fungsi dan peran bimbingan dalam kapasitas dan kewenangannya masing-masing. Pada kondisi paling darurat para tenaga pendidik di sekolah yaitu guru, wali kelas dan pimpinan sekolah dalam peran dan tugasnya maing-masing melaksanakan layanan bimbingan sesuai dengan kapasitas.

Para konselor perlu dukungan agar termotivasi mengembangkan diri sebagai tenaga yang profesional dengan melanjutkan pendidikan untuk memperoleh sertifikasi konselor dan melengkapi dengan berbagai aktivitas profesi. Para guru pembimbing yang tidak berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling, pimpinan sekolah, wali kelas dan guru perlu dukungan agar termotivasi untuk belajar melakukan layanan bimbingan dan konseling secara benar. Upaya pengembangan diri dapat dilakukan melalui kegiatan pengembangan staf secara internal di sekolah, pertemuan pada MGBK di sanggar BK, mengikuti seminar, workshop maupun pelatihan BK, terlibat dalam organisasi profesi dan melanjutkan pendidikan.

2.5.2 Mengetahui Klasifikasi Layanan

Seorang konselor dalam memahami peserta didik harus mengetahui Klasifikasi layanan, dimana struktur program bimbingan diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan, yaitu:

 

1.     Layanan Dasar Bimbingan

Layanan dasar bimbingan diartikan sebagai “proses pemberian bantuan kepada semua siswa (for all) melalui kegiatan-kegiatan secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka membantu perkembangan dirinya secara optimal”. Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu siswa agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan layanan dirumuskan sebagai upaya untuk membantu siswa agar:

1)      Memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama).

2)      Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya.

3)      Mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan

4)      Mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

 

 

2.    Layanan Responsif

Layanan responsif merupakan “pemberian bantuan kepada siswa yang memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera”. Tujuan layanan responsif adalah membantu siswa agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu siswa yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.

Tujuan layanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi siswa yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan atau masalah pengembangan pendidikan.

3.    Layanan Perencanaan Individual

Layanan ini diartikan “proses bantuan kepada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depannya berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya”.

Tujuan layanan perencanaan individual bertujuan untuk membantu siswa agar:

1)      Memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya.

2)      Mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik  menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir, dan

3)      Dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya.

Tujuan layanan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya memfasilitasi siswa untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri.

4.    Layanan Dukungan Sistem

Ketiga komponen program, merupakan pemberian layanan BK kepada siswa secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada siswa atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa. Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan profesinal; hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasehat, masyarakat yang lebih luas; manajemen program; penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990).

Program ini memberikan dukungan kepada guru pembimbing dalam memperlancar penyelenggaraan layanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah. Dukungan sistem ini meliputi dua aspek, yaitu:

1) Pemberian Layanan Konsultasi/Kolaborasi

Pemberian layanan menyangkut kegiatan guru pembimbing (konselor) yang meliputi (1) konsultasi dengan guru-guru, (2) menyelenggarakan program kerjasama dengan orang tua atau masyarakat, (3) berpartisipasi dalam merencanakan kegiatan-kegiatan sekolah, (4) bekerjasama dengan personel sekolah lainnya dalam rangka mencisekolahakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa, (5) melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling.

2) Kegiatan Manajemen

Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan (1) pengembangan program, (2) pengembangan staf, (3) pemanfaatan sumber daya, dan (4) pengembangan penataan kebijakan.

Secara operasional program disusun secara sistematis sebagai berikut :

(1)          Rasional berisi latar belakang penyusunan pogram bimbingan didasarkan atas landasan konseptual, hukum maupun empirik

(2)          Visi dan misi, berisi harapan yang diinginkan dari layanan Bk yang mendukung visi , misi dan tujuan sekolah

(3)          Kebutuhan layanan bimbingan, berisi data kebutuhan siswa, pendidik dan isntitusi terhadap layanan bimbingan. Data diperoleh dengan mempergunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan

(4)          Tujuan, berdasarkan kebutuhan ditetapkan kompetensi yang dicapai siswa berdasarkan perkembangan

(5)          Komponen program : (1) Layanan dasar, program yang secara umum dibutuhkan oleh seluruh siswa pertingkatan kelas. (2) Layanan responsif, program yang secara khusus dibutuhakn untuk membatu para siswa yang memerlukan layanan bantuan khusus. (3) Layanan perencanaan individual, program yang mefasilitasi seluruh siswa memiliki kemampuan mengelola diri dan merancang masa depan. (4) Dukungan sistem, kebijakan yang mendukung keterlaksanaan program, program jejaring baik internal sekolah maupun eksternal

(6)     Rencana operasional kegiatan

(7)     Pengembagan tema atau topik (silabus layanan)

(8)     Pengembangan satuan layanan bimbingan

(9)     Evaluasi

(10) Anggaran

Program disusun bersama oleh personil bimbingan dan konseling dengan memperhatikan kebutuhan siswa, mendukung kebutuhan pendidik untuk memfasilitasi pelayanan perkembangan siswa secara optimal dalam pembelajaran dan mendukung pencapaian tujuan, misi dan visi sekolah. Program yang telah disusun disampaikan pada semua pendidik di sekolah pada rapat dinas agar terkembang jejaring layanan yang optimal.

 

2.5.3 Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling

Strategi pelaksanaan layanan bimbingan dan kosneling terkait dengan keempat komponen program yang telah dijelaskan di atas. Strategi pelasanaan bagi masing-masing komponen tersebut adalah sebagai berikut.

2.5.3.1 Strategi untuk Layanan Dasar Bimbingan

1. Bimbingan Klasikal

Sebagaimana telah dikemukakan pada paparan di atas, bahwa layanan dasar diperuntukkan bagi semua siswa. Hal ini berarti bahwa dalam peluncuran program yang telah dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan layanan bimbingan kepada para siswa. Kegiatan layanan dilaksanakan melalui pemberian layanan orientasi dan informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi siswa. Layanan orientasi pada umumnya dilaksanakan pada awal pelajaran, yang diperuntukan bagi para siswa baru, sehingga memiliki pengetahuan yang utuh tentang sekolah yang dimasukinya.

Kepada siswa diperkenalkan tentang berbagai hal yang terkait dengan sekolah, seperti: kurikulum, personel (pimpinan, para guru, dan staf administrasi), jadwal pelajaran, perpustakaan, laboratorium, tata-tertib sekolah, jurusan (untuk SLTA), kegiatan ekstrakurikuler, dan fasilitas sekolah lainnya. Sementara layanan informasi merupakan proses bantuan yang diberikan kepada para siswa tentang berbagai aspek kehidupan yang dipandang penting bagi mereka, baik melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet). Layanan informasi untuk bimbingan klasikal dapat mempergunakan jam pengembangan diri. Agar semua siswa terlayani kegiatan bimbingan klasikal perlu terjadwalkan secara pasti untuk semua kelas.

2. Bimbingan Kelompok

Konselor memberikan layanan bimbingan kepada siswa melalui kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat para siswa. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress. Layanan bimbingan kelompok ditujukan untuk mengembangkan keterampilan atau perilaku baru yang lebih efektif dan produktif.

3. Berkolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas

Guru adalah pelaksana pengajaran serta bertanggung jawab memberikan informasi tentang siswa untuk kepentingan bimbingan dan konseling. Di sekolah salah satu tugas utama guru adalah mengajar. Dalam kesempatan mengjar siswa, guru mengenal tingkah laku, sifat-sifat, kelebihan dan kelemahan tiap-tiap siswa. Dengan demikian, disamping bertugas sebagai pengajar, guru juga dapat bertugas dan berperan dalam bimbingan antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, maupun guru dengan orang tua. Sebagai pembimbing, guru merupakan tangan pertama dalam usaha membantu memecahkan kesulitan-kesulitan siswa. (Umar, 2001: 117)

Sebagai tenaga ahli pengajaran dalam mata pelajaran atau program pelatihan tertentu, dan sebagai personel yang sehari-hari langsung berhubungan dengan siswa, peranan guru dalam layanan bimbingan adalah:

  1. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa
  2. Membantu koselor mengidentifikasikan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling
  3. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada konselor
  4. Membantu mengembangkan suasana kelas
  5. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling
  6. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa
  7. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian bimbingan dan konseling dalam upaya tindak lanjut

Guru juga membantu memberikan informasi tentang data siswa yang meliputi:

  1. Daftar nilai siswa
  2. Observasi
  3. Catatan anekdot (Sukardi, 2002: 52-58)

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan dan konseling di sekolah akan lebih efektif bila guru dapat bekerja sama dengan konselor dalam proses pembelajaran. Adanya keterbatasan-keterbatasan dari kedua belah pihak (guru dan konselor) menuntut adanya kerja sama tersebut.

4. Berkolaborasi (Kerjasama) dengan Orang Tua

Dalam upaya meningkatkan kualitas peluncuran program bimbingan, konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi siswa atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa. Untuk melakukan kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti: (1) kepala sekolah atau komite sekolah mengundang para orang tua untuk datang ke sekolah (minimal satu semester satu kali), yang pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian rapor, (2) sekolah memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang kemajuan belajar atau masalah siswa, dan (3) orang tua diminta untuk melaporkan keadaan anaknya di rumah ke sekolah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan perilaku sehari – harinya.

2.5.3.2 Strategi untuk Layanan Responsif

1. Konsultasi

Konselor memberikan layanan konsultasi kepada guru, orang tua, atau pihak pimpinan sekolah dalam rangka membangun kesamaan persepsi dalam memberikan bimbingan kepada para siswa.

2. Konseling Individual atau Kelompok

Pemberian layanan konseling ini ditujukan untuk membantu para siswa yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Melalui konseling, siswa (klien) dibantu untuk mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Konseling kelompok dilaksanakan untuk membantu siswa memecahkan masalahnya melalui kelompok. Dalam konseling kelompok ini, masing-masing siswa mengemukakan masalah yang dialaminya, kemudian satu sama lain saling memberikan masukan atau pendapat untuk memecahkan masalah tersebut.

3. Referal (Rujukan atau Alih Tangan)

Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah klien, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan klien kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Klien yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis.

4. Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)

Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa yang lainnya. Siswa yang menjadi pembimbing sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik. Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau masalah siswa yang perlu mendapat layanan bantuan bimbingan atau konseling.

 

2.5.3.3. Strategi untuk Layanan Perencanaan Individual

1. Penilaian Individual atau Kelompok (Individual or small-group Appraisal)

Yang dimaksud dengan penilaian ini adalah konselor bersama siswa menganalisis dan menilai kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi belajar siswa. Dapat juga dikatakan bahwa konselor membantu siswa menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas perkembangannya, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Melalui kegiatan penilaian diri ini, siswa akan memiliki pemahaman, penerimaan, dan pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif.

2. Individual or Small-Group Advicement

Konselor memberikan nasihat kepada siswa untuk menggunakan atau memanfaatkan hasil penilaian tentang dirinya, atau informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan dan karir yang diperolehnya untuk (1) merumuskan tujuan, dan merencanakan kegiatan (alternatif kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya; (2) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3) mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya.

2.5.3.4. Strategi untuk Dukungan Sistem

1. Pengembangan Professional

Konselor secara terus menerus berusaha untuk “meng-update” pengetahuan dan keterampilannya melalui (1) in-service training, (2) aktif dalam organisasi profesi, (3) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar dan workshop (lokakarya), atau (4) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi (Pascasarjana).

 

2.  Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi

Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf sekolah lainnya, dan pihak institusi di luar sekolah (pemerintah, dan swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang layanan bantuan yang telah diberikannya kepada para siswa, menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa, melakukan referal, serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling.

Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan upaya sekolah untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu layanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan orang tua siswa, (5) MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).

3. Manajemen Program

Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan tercisekolaha, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Mengenai arti manajemen itu sendiri Stoner (1981) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: “Management is the process of planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing members and of using all other organizational resources to achieve stated organizational goals”.

Berikut diuraikan aspek-aspek sistem manajemen program layanan bimbingan dan konseling.

1)      Kesepakatan Manajemen

2)      Keterlibatan Stakeholder

3)      Manajemen dan Penggunaan Data

4)      Rencana Kegiatan

5)      Pengaturan Waktu

6)      Kalender Kegiatan

7)      Jadwal Kegiatan

8)      Anggaran

9)      Penyiapan Fasilitas

Agar layanan dasar bimbingan dan konseling, renponsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem berfungsi efektif diperlukan cara baru dalam mengatur fasilitas-fasilitas program bimbingan dan konseling. (Nurihsan, 2006: 63)

Sarana dan prasarana yang diperlukan antara lain sebagai berikut:

2.2.1. Sarana

  1. Alat pengumpul data, Alat pengumpul data berupa tes yaitu: tes inteligensi, tes bakat khusus, tes bakat sekolah, tes/inventori kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi belajar. Alat pengumpul data yang berupa non-tes yaitu: pedoman observasi, catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, alat-alat mekanis, pedoman wawancara, angket, biografi dan autobiografi, dan sosiometri.
  2. Alat penyimpanan data, seperti kartu pribadi, buku pribadi, map, dan sebagainya. Bentuk kartu ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuran-ukuran serta warna tertentu, sehingga mudah untuk disimpan dalam filling cabinet. Untuk menyimpan berbagai keterangan, informasi atau pun data untuk masing-masing siswa, maka perlu disediakan map pribadi. Mengingat banyak sekali aspek-aspek data siswa yang perlu dan harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat menghimpun data secara keseluruhan yaitu buku pribadi.
  3. Perlengkapan teknis, seperti buku pedoman, buku informasi, paket bimbingan, blongko surat, alat-alat tulis, dan sebagainya. Perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, format rencana satuan layanan dan kegiatan pendukung serta blanko laporan kegiatan, blanko surat, kartu konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat.

 

2.2.2. Prasarana

  1. Ruangan bimbingan dan konseling, seperti ruang tamu, ruang konsultasi, ruang diskusi, ruang dokumentasi dan sebainya.
  2. Anggaran biaya untuk menunjang kegiatan layanan, seperti anggaran untuk surat manyurat, transportasi, penataran, pembelian alat-alat, dan sebagainnya. (Sukardi, 2002: 63)

Fasilitas dan pembiayaan merupakan aspek yang sangat penting yang harus diperhatikan dalam suatu program bimbingan dan konseling. Adapun aspek pembiayaan memerlukan perhatian yang lebih serius karena dalam kenyataannya aspek tersebut merupakan salah satu factor penghambat proses pelaksanaan bimbingan dan konseling. (Nurihsan, 2006: 59).

10) Pengendalian

Pengendalian adalah salah satu aspek penting dalam manajemen program layanan bimbingan dan konseling. Dalam pengendalian program, koordinator sebagai pemimpin lembaga atau unit bimbingan dan konseling hendaknya memiliki sifat sifat kepemimpinan yang baik yang dapat memungkinkan terciptanya sekolah suatu komunikasi yang baik dengan seluruh staf yang ada. Personel-personel yang terlibat di dalam program, hendaknya benar-benar memiliki tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya maupun tanggung jawab terhadap yang lain, serta memiliki moral yang stabil.

Pengendalian program bimbingan ialah : (a) untuk menciptakan suatu koordinasi dan komunikasi dengan seluruh staf bimbingan yang ada, (b) untuk mendorong staf bimbingan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dan (c) memungkinkan kelancaran dan efektivitas pelaksanaan program yang telah direncanakan.

Dalam hal ini dibutuhkan pula seorang supervisi. Supervisi adalah pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik. (Burhanuddin, 2005: 99).

Supervisi adalah bantuan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang baik. (Sukardi, 2002: 240).

Untuk menjamin terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat diperlukan kegiatan pengawasan bimbingan dan konseling baik secara teknik maupun secara administrasi. Fungsi kepengawasan layangan bimbingan dan konseling antara lain memantau, menilai, memperbaiki, meningkatkan dan mengembangkan kegiatan layanan bimbingan dan konseling. Pengawasan tersebut ada pada setiap Kanwil. (Sukardi, 2002:65).

Selain mengawasi perkembangan dan pelaksanaan pendidikan di sekolah, pengawas juga melihat perkembangan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah tersebut. Pengawas sekolah juga berfungsi sebagai konsultan bagi kepala sekolah, guru, maupun konselor untuk membicarakan upaya-upaya lain dalam rangka memajukan bimbingan dan konseling.

Pengawas juga harus dapat mengupayakan langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk memajukan dan menambah pengetahuan kepala sekolah, guru, dan konselor, misalnya melalui penataran, seminar, latihan-latihan demi memajukan program bimbingan dan konseling. (Umar, 2001: 119).

Adapun manfaat supervisi dalam program bimbingan dan konseling adalah:

  1. Mengontrol kegiatan-kegiatan dari para personel bimbingan dan konseling, yaitu bagaimana pelaksanaan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing
  2. Mengontrol adanya kemungkinan hambatan-hambatan yang ditemui oleh para personel bimbingan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing
  3. Memungkinkan dicarinya jalan keluar terhadap hambatan-hambatan yang ditemui
  4. Memungkinkan terlaksananya program bimbingan secara lancar kearah pencapaian tujuan sebagai mana yang telah ditetapkan. (Nurihsan, 2006: 68)

2.5.4 Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik

Perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. Setiap individu, demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya, akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. Dalam hal ini, Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-kebutuhan individu secara hierarkis:

  1. kebutuhan fisiologikal, seperti : sandang, pangan dan papan
  2. kebutuhan keamanan, tidak dalam arti fisik, akan tetapi juga mental psikologikal dan intelektual
    kebutuhan kasih sayang atau penerimaan
  3. kebutuhan prestise atau harga diri, yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status
  4. kebutuhan aktualisasi diri

Namun, jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya, maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment).
Bentuk perilaku salah suai (maldjustment), diantaranya : (1) agresi marah; (2) kecemasan tak berdaya; (3) regresi (kemunduran perilaku); (4) fiksasi; (5) represi (menekan perasaan); (6) rasionalisasi (mencari alasan); (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan); (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis); (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain); (10) berfantasi (dalam angan-angannya, seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya).

Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi.

 

2.5.5 Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia Remaja—SMA)

Masa remaja (12-21 tahun) merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang yang dewasa. Masa remaja sering dikenal denga masa pencarian jati diri (ego identity). Masa remaja ditandai dengan sejumlah karakteristik penting, yaitu:

1            Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya

2            Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagi pria atau wanita dewasa yang menjunjung tinggi oleh masyarakat

3            Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efaektif

4            Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya

5            Memilih dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan kemampuannya

6            Mengembangkan sikap positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga dan memiliki anak

7            Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagi warga Negara

8            Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara social

9            Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam bertingkah laku

10        Mengembangkan wawasan keagamaan dan meningkatkan religiusitas

Berbagai karakteristik perkembangan masa remaja tersebut menuntut adanya pelayanan pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat dilakukan guru, di antaranya:

1         Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, bahaya penyimpangan seksual dan penyalahgunaan narkotika

2         Membantu siswa mengembangkan sikap apresiatif terhadap postur tubuh atau kondidi dirinya

3         Menyediakan fasilitas yang memungkinkan siwa mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, seperti sarana olahraga, kesenian, dan sebagainya

4         Memberikan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah dan mengambil keputusan

5         Melatih siswa mengembangkan resiliensi, kemampuan bertahan dalam kondisi sulit dan penuh godaan

6         Menerapkan model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berpikir kritis, reflektif, dan positif

7         Membantu siswa mengembangkan etos kerja yang tinggi dan sikap wiraswasta

8         Memupuk semangat keberagaman siswa melalui pembelajaran agama terbuka dan lebih toleran

9         Menjalin hubungan yang harmonis dengan siswa, dan bersedia mendengarkan segala keluhan dan problem yang dihadapinya.

 


BAB 3

PENUTUP

3.1      Kesimpulan

3.1.1               The Guidance Service is the Heart of Educational Process. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan.

3.1.2               Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada peserta didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif, dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan tugas-tugas perkembangan.

3.1.3               Layanan bimbingan dan konseling adalah layanan psikologis dalam suasana pedagogis.

3.1.4               Orientasi bimbingan dan konseling adalah perkembangan perilaku yang seharusnya dikuasai oleh individu untuk jangka panjang tertentu menyangkut ragam proses pendidikan, karir, pribadi, sosial, keluarga dan pengambilan keputusan.

3.1.5               Dalam memahami dasar – dasar pemahaman peserta didik, hal – hal yang perlu diperhatikan antara lain :

1            Kompetensi guru pembimbing/konselor

2            Mengetahui Klasifikasi Layanan

3            Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling

4            Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik

5            Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia Remaja SMA)

3.1.6               Mengetahui tugas – tugas perkambangan peserta didik.

 

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS BIMBINGAN DAN KONSELING

KATA PENGANTAR

 

 

 

Puji serta syukur kami lantunkan kepada Dzat yang maha kuasa atas segala rahmat dan karunianya kepada kami, hamba-Nya yang penuh dengan ketidak sempurnaan ini, namun dengan rahmat-Nya kami yang tidak sempurna dapat menyeleseikan tugas ini dengan lancar dan tidak ada hambatan yang begitu berarti.

Sepatah kata ini merupakan sebuah pengantar dalam sistematika penyusunan makalah, walaupun isinya adalah ungkapan syukur kami sebagai kelompok penyusun. Tapi semoga saja ungkapan syukur kami juga bisa menjadi sebuah pengantar menuju kebarakahan dan ridho Allah sehingga makalah ini mempunyai nilai guna yang lebih dan bermanfaat bagi semuanya.

Kesadaran kami akan ketidak sempurnaan diri kami sehingga berdampak juga pada ketidak sempurnaan makalah ini, maka dari itu kata maaf juga sudah selayaknya menjadi pengantar dalam sistematika makalah ini dengan harapan pembaca dapat memaklumi atas ketidak sempurnaan ini.

Terimakasih juga tak lupa kami ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini. Ucapan terimakasih ini juga didasari atas ketidak sempurnaan kami sehingga kami harus dibantu oleh banyak pihak.

 

 

 

Bandung, maret 2012

penyusun

 

DAFTAR ISI

Contents

TOC \o “1-3″ \h \z \u KATA PENGANTAR.. PAGEREF _Toc318825523 \h 208D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500320033000000

DAFTAR ISI. PAGEREF _Toc318825524 \h 308D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500320034000000

BAB I. PAGEREF _Toc318825525 \h 408D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500320035000000

PENDAHULUAN.. PAGEREF _Toc318825526 \h 408D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500320036000000

1.1 Latar Belakang. PAGEREF _Toc318825527 \h 408D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500320037000000

1.2 Rumusan Masalah. PAGEREF _Toc318825528 \h 508D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500320038000000

1.3 Tujuan. PAGEREF _Toc318825529 \h 508D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500320039000000

1.4 Sistematika Makalah. PAGEREF _Toc318825530 \h 508D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500330030000000

BAB II. PAGEREF _Toc318825531 \h 708D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500330031000000

PEMBELAJARAN BERBASIS BIMBINGAN.. PAGEREF _Toc318825532 \h 708D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500330032000000

2.1        Konsep Dasar Pembelajaran Berbasis Bimbingan. PAGEREF _Toc318825533 \h 708D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500330033000000

2.1.1        Konsep Bimbingan. PAGEREF _Toc318825534 \h 708D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500330034000000

2.1.2        Konsep Pembelajaran. PAGEREF _Toc318825535 \h 908D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500330035000000

2.2        Model-model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan konseling. PAGEREF _Toc318825536 \h 1008D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500330036000000

2.3        Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan konseling. PAGEREF _Toc318825537 \h 14 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500330037000000

2.4        Teknik-Teknik Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan konseling. PAGEREF _Toc318825538 \h 1708D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500330038000000

2.5        Ciri-Ciri Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan konseling. PAGEREF _Toc318825539 \h 21 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500330039000000

BAB III. PAGEREF _Toc318825540 \h 23 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500340030000000

PENUTUP.. PAGEREF _Toc318825541 \h 23 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500340031000000

3.1 KESIMPULAN.. PAGEREF _Toc318825542 \h 23 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500340032000000

3.2 SARAN.. PAGEREF _Toc318825543 \h 24 08D0C9EA79F9BACE118C8200AA004BA90B02000000080000000E0000005F0054006F0063003300310038003800320035003500340033000000

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berangkat dari sebuah fenomena, fakta serta realita yang terjadi di dunia pendidikan. Fakta yang menyaratkan adanya sebuah kesenjangan antara system pembelajaran serta metode dengan pribadi seorang siswa secara psikologi.

Kondisi Psikologi siswa merupakan factor penting yang mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran sedangkan pada kenyataanya hal itu seringkali diabaikan karena terikat pada suatu kurikulim dan system yang berlaku.

System serta model pembelajaran seperti itulah yang sudah seharusnya kita kritisi, system serta model pembelajaran yang tidak mensyaratkan keberpihakannya terhadap kondisi psikologi siswa. Karena system itu sudah jelas-jelas tidak sesuai dengan kondisi kemanusian saat ini. Kondisi kemanusiaan yang saat ini menjadi lebih komplek dan dihadapakan pada permasalahan sosial yang begitu kompleks pula.

Permasalahan-permasalahan itu akan berdampak besar pada ketercapaian tujuan dari pendidikan, sehingga kita tidak bisa menunggu lama untuk dapat mengatasi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi sebagai dampak dari model pembelajaran yang saat ini dirasakan kurang tepat untuk digunakan.

Ini bukanlah tugas pemerintah, guru, atau lembaga-lembaga pendidikan saja. Ini merupakan tugas kita semua. Apalagi kita adalah mahasiswa Pendidikan Akuntansi UPI yang notabene disiapkan untuk menjadi pendidik. Maka dari itu jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama dengan menerapkan model pembelajaran seperti itu. Kita harus menjadi generasi pelurus memberikan kontribusi positif untuk dunia pendidikan

Dari latar belakang diatas muncul pertanyaan besar, “lalu bagaimana dan seperti apa model pembelajaran yang berpihak pada kondisi psikologi siswa?”. Sebuah pertanyaan itulah yang menjadi latar belakang kami membahas tentang “Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan Konseling” pada makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang mendasari adanya model pembelajaran berbasis bimbingan dan konseling?

2. Bagaimana konsep model pemebelajaran berbasis bimbingan dan konseling?

3.  Bagaimana Prinsip-prinsip umum model pembelajaran berbasis bimbingan dan konseling?

4. Seperti apa teknis model pembelajaran berbasis bimbingan dan konseling?

5. Apa cirri-ciri model pembelajaran berbasis bimbingan dan konseling?

 

1.3 Tujuan

1. mengetahui alasan kenapa diadakannya model pembelajaran berbasis bimbingan dan konseling

2.  mendeskripsikan konsep model pembelajaran berbasis bimbingan dan konseling.

3. mendeskripsikan prinsip-prinsip umum model pembelajaran berbasis bimbingan         konseling

4. menjelaskan secara teknis model pembelajaran berbasis bimbingan dan konseling

5. mendeskripsikan cirri-ciri model pembelajaran berbasis bimbingan dan konseling.

 

1.4 Sistematika Makalah

COVER

LATAR BELAKANG

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan masalah

1.3 Tujuan

1.4 Sistematika Makalah

 

BAB II MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS BIMBINGAN DAN KONSELING

2.1    Konsep Dasar Pembelajaran Berbasis Bimbingan

2.2    Model-model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan konseling.

2.3    Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan konseling.

2.4    Teknik-Teknik Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan konseling.

2.5    Ciri-Ciri Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan konseling.

 

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

 

BAB II

PEMBELAJARAN BERBASIS BIMBINGAN

2.1       Konsep Dasar Pembelajaran Berbasis Bimbingan

Untuk mengetahui definisi dari pembelajaran berbasis bimbingan, maka sebelumnya kita perlu mengetahui mengapa pembelajaran harus berbasis bimbingan dan mengetahui apa itu pembelajaran dan apa itu bimbingan.

Secara filosofis, manusia memiliki potensi untuk dikembangkan seoptimal mungkin. Potensi itu sendiri adalah laten power, yakni kekuatan, kemampuan, keunggulan, keunikan yang belum tampak, belum menjadi prestasi, belum mewujud dalam bentuk perilaku. Sedangkan perkembangan optimal adalah perkembangan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Prestasi (achievment) sesuai dengan yang diprediksikan.

Secara psikologis manusia itu bersifat unik, memiliki kebebasan, kemerdekaan untuk mengembangkan keunikannya. Dilihat dari segi manusia sebagai makhluk sosial, dalam kehidupan sosial budaya akan terjadi perubahan sistem nilai dalam kehidupan sosial budaya. Nilai menjadi hal yang penting, oleh karenanya bimbingan dan konseling membantu individu memelihara, menginternalisasikan, memperhalus, dan memaknai nilai sebagai landasan dan arah mengembangkan diri.

Hal lain yang menjadi alasan perlunya bimbingan adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peserta didik memerlukan bantuan dari pembimbing untuk menyesuaikan minat dan kemampuan mereka terhadap kesempatan dunia kerja yang cenderung semakin berubah dan meluas.

 

2.1.1    Konsep Bimbingan

Secara harfiah istilah “guidance” dari akar kata “guide” berarti : (1) mengarahkan (to direct), (2) memandu (to pilot), (3) mengelola (to manage), dan (4) menyetir (to steer). Banyak pengertian bimbingan dikemukakan oleh para ahli diataranya sebagai berikut.

Shertzer dan Stone (1971:40) mengartikan bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu memahami diri dan lingkungannya).”

Sunaryo Kartadinata (1998: 3) mengartikannya sebagai “proses membantu individu untuk mencapai perkembangan optimal”. Sementara Rochman Natawidjaja (1987: 37) mengartikan bimbingan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat dan kehidupan pada umumnya. Dengan demikian dia akan dapat menikmati kebahagiaan hidupnya, dan dapat memberi sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyarakat pada umumnya. Bimbingan membantu individu mencapai perkembangan optimal sebagai makhluk sosial.

Dari definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa  bimbingan adalah suatu proses berkesinambungan sebagai upaya membantu untuk memfasilitasi individu agar berkembang secara optimal.

Membantu merupakan sesuatu yang tidak dirasakan sebagai paksaan, dan makna bantuan dalam bimbingan menunjukan bahwa yang aktif dalam mengembangkan diri, mengatasi masalah, atau mengambil keputusan adalah individu atau peserta didik sendiri, pembimbing hanya sebagai fasilitator. Istilah bantuan dalam bimbingan juga dapat dimaknai sebagai upaya untuk :

a)      Menciptakan lingkungan (fisik, psikis, sosial dan spiritual) yang kondusif bagi perkembangan siswa

b)      Memberikan dorongan dan semangat

c)      Mengembangkan keberanian bertindak dan bertanggung jawab

d)     Mengembangkan kemampuan untuk memperbaiki dan mengubah perilakunya sendiri.

Perkembangan optimal adalah perkembangan yang sesuai dengan potensi individu dan sistem nilai tentang kehidupan yang baik dan benar. Perkembangan optimal merupakan kondisi dinamik, dimana individu mampu mengenal dan memahami diri, berani menerima kenyataan diri secara subyektif, mengarahkan diri sesuai dengan kemampuan, kesempatan dan sistem nilai dan melakukan pilihan dan mengambil keputusan atas tanggung jawab sendiri.

2.1.2    Konsep Pembelajaran

Pembelajaran adalah penyediaan sistem lingkungan yang mengakibatkan terjadinya proses belajar pada diri siswa. Sumber lain menyebutkan pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan pendidik agar peserta didik belajar atau membelajarkan diri. Belajar yang dimaksud adalah proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman. Perubahan disini sebagai hasil pembelajaran bersifat positif dan normatif.

 

Dari pernyataan diatas, maka pembelajaran berbasis bimbingan itu sangatlah penting untuk diterapkan karena pembelajaran yang baik, tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif saja akan tetapi dapat menghasilkan sebuah output berupa lahirnya perubahan perilaku siswa atau peserta didik yang positif dan normatif. Maka dari itu, pembelajaran seyogyanya berlandaskan pada prinsip-prinsip bimbingan yaitu yang didasarkan pada:

a)      Needs assesment (sesuai dengan kebutuhan)

b)      Dikembangkan dalam suasana membantu (helping relationship):

  1. Empati
  2. Keterbukaan
  3. Kehangatan Psikologis
  4. Realistis

c)      Bersifat memfasilitasi

d)     Berorientasi pada:

  1. Learning to be : belajar menjadi
  2. Learning to learn : belajar untuk belajar
  3. To work : belajar untuk bekerja dan berkarir
  4. And to live together : belajar untuk hidup bersama
  5. Tujuan utama perkembangan potensi secara optimal

 

2.2  Model-model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan konseling.

Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.

Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran, untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kondisi yang dihadapi. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip, modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian, penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi.

1.         Koperatif (CL, Cooperative Learning).

Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.

Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.

2.         Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.

Ada tujuh indikator pembelajaran kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan berbagai cara).

3.         Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)

Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada keterampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).

4.         Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)

Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal.

Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri

5.         Problem Solving

Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, .atau algoritma). Sintaknya adalah: sajikan permasalahan yang memenuhi kriteria di atas, siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau aturan yang disajikan, siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.

6.         Problem Posing

Bentuk lain dari problem posing adalah problem posing, yaitu pemecahan masalah dengan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.

7.         Problem Terbuka (OE, Open Ended)

Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntut untuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjutnya siswa juga diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Dengan demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentuk pola pikir, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.

Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan permasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitkan dengan materi selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).

Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat respon siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat kesimpulan.

8.         Probing-prompting

Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan setiap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa mengkonstruksi konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.

Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi suasana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi.

            2.3       Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan konseling.

Tugas guru di sekolah tidak hanya mengajar, banyak tugas yang yang harus dikerjakan, ia harus membuat perencanaan pengajaran yang sistematis untuk setiap pelajaran yang akan diberikan. Kemudian dari rencana itu ia melaksanakan pengajaran dan membuat evaluasi dari proses dan hasil pengajaran yang dilaksanakan. Didalam pelaksanannya itu, guru tidak hanya memberikan pengajaran, akan tetapi guru juga harus memberikan bimbingan kepada siswanya agar mereka mencapai perkembangan yang sesuai dengan kemampuannya.

Bimbingan ketika mengajar yang dapat dilakukan oleh guru berupa menjelaskan tujuan dan manfaat pelajaran, cara belajar, mata pelajaran yang diberikan, dorongan untuk berprestasi, membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi individu, penyelesaian tugas, memberikan fasilitas belajar, dan lain-lain.

Berikut ini ada bebrapa prinsip-prinsip bimbingan yang harus diketahui oleh guru sebagai pengajar sekaligus pembimbing.

1)        Proses membantu individu

2)        Bertitik tolak pada individu yang dibimbing

3)        Didasarkan pada pemahaman atas keragaman individu yang dibimbing

4)        Pada batas tertentu perlu ada referal

5)        Dimulai dengan identifikasi atas kebutuhan individu

6)        Diselenggarakan secara luwes dan fleksibel

7)        Sejalan dengan visi dan misi lembaga

8)        Dikelola oleh orang yang memiliki keahlian di bidang bimbingan

9)        Ada sistem evaluasi yang digunakan

Dalam memberikan bimbingan belajar, guru hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut ini:

  1. Bimbingan belajar diberikan kepada semua siswa. Semua siswa baik yang pandai, cukup, ataupun kurang membutuhkan bimbingan dari guru, sebab secara potensial semua siswa bisa mempunyai masalah.
  2. Sebelum memberikan bantuan, guru terlebih dahulu harus berusaha memahami kesulitan yang dihadapi siswa, meneliti faktor-faktor yang melatarbelakangi kesulitan tersebut.
  3. Bimbingan belajar yang diberikan guru hendaknya disesuaikan dengan masalah serta faktor-faktor yang melatarbelakanginya, bantuan hendaknya disesuaikan dengan jenis masalah serta tingkat kerumitan masalah.
  4. Bimbingan belajar hendaknya menggunakan teknik yang bervariasi. Karena perbedaan individual siswa, perbedaan jenis dan kerumitan masalah yang dihadapi siswa, perbedaan individual guru serta kondisi sesaat, maka dalam memberikan bimbingan belajar guru hendaknya menggunakan teknik bimbingan yang bervariasi.
  5. Dalam memberikan bimbingan belajar hendaknya guru bekerja sama dengan staf sekolah lain. Bimbingan belajar merupakan tanggung jawab semua guru serta staf sekolah lainnya. Agar bimbingan berjalan efektif dan efisien diperlukan kerjasama yang harmonis antara staf sekolah dalam membantu mengatasi kesulitan siswa.
  6. Orang tua adalah pembimbing belajar siswa dirumah. Penanggung jawab utama siswa adalah orang tuanya. Karena keterbatasan kemampuannya, orang tua melimpahkan sebagian dari tanggung jawabnya kepada sekolah, tetapi tidak berarti mereka lepas sama sekali dari tanggung jawab tersebut. Orang tua dituntut untuk memberikan bimbingan belajar di rumah. Agar ada keserasian antara bimbingan belajar yang diberikan guru disekolah dengan orang tua dirumah maka diperlukan kerjasama antara kedua belah pihak.
  7. Bimbingan belajar dapat diberikan dalam situasi belajar di kelas, di laboratorium, ataupun dalam situasi-situasi khusus (konsultasi) baik di sekolah ataupun di luar sekolah. Bimbingan belajar diberikan pada saat pelajaran berlangsung, yaitu saat mengerjakan tugas-tugas atau latihan, saat diskusi kelas, praktikum, dan lain-lain. Bimbingan juga dapat diberikan diluar jam pelajaran, sebelum pelajaran dimulai, setelah pelajaran selesai atau sore hari, disekolah ataupun di rumah.

Secara umum, bimbingan yang dapat diberikan oleh guru atau dosen dalam kegiatan mengajar di kelas adalah:

  1. mengenal dan memahami individu secara mendalam
  2. memberikan perlakuan dengan memerhatikan perbedaan individual
  3. memperlakukan individu secara manusiawi
  4. memberi kemudahan untuk mengembangkan diri secara optimal
  5. menciptakan suasana kelas yang menyenangkan

Seorang guru yang menerapkan prinsip-prinsip atau suasana bernuansa bimbingan di  kelas dalam proses belajar mengajar akan tampak kondisi sebagai berikut:

  1. Tercipta iklim kelas yang permisif, bebas dari ketegangan dan menempatkan  siswa sebagai subjek pengajaran
  2. Adanya arahan atau oientasi agar terselenggaranya belajar yang efektif, baik dalam bidang studi yang diajarkannya, maupun dalam keseluruhan pembelajaran
  3. Menerima dan memperlakukan siswa sebagai individu yang mempunyai harga diri dengan memahami kekurangan, kelebihan, dan masalah-masalahnya
  4. Mempersiapkan serta menyelenggarakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan individu
  5. Membina hubungan yang dekat dengan siswa, menerima siswa yang akan berkonsultasi dan meminta bantuan
  6. Guru berusaha mempelajari dan memahami siswa untuk menemukan kekuatan, kelemahan, kebiasaan, dan kesulitan yang dihadapinya, terutama dalam hubungannya dengan bidang studi yang diajarkannya
  7. Memberikan bantuan kepada siswa yang menghadapi kesulitan, terutama yang berhubungan dengan bidang studi yang diajarkannya
  8. Pemberian informasi tentang masalah pendidikan, pengajaran, dan jabatan atau karier
  9. Memberikan bimbingan kelompok di kelas
  10. Membimbing siswa agar mengembangkan kebiasaan belajar yang baik
  11. Memberikan layanan perbaikan bagi siswa yang memerlukannya
  12. Bekerja sama dengan guru, wali kelas, konselor, dan tenaga pendidik lainnya dalam memebrikan bantuan yang dibutuhkan oleh siswa
  13. Memberikan umpan balik atas hasil evaluasi
  14. Memberikan pelayanan rujukan (referal) bagi siswa yang memliki kesulitan yang tidak dapat diselesaikan oleh guru sendiri

 

            2.4       Teknik-Teknik Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan konseling

                   Ada beberapa macam teknik bimbingan yang dapat digunakan untuk membantu perkembangan individu, yaitu konseling, nasihat, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mengajar bernuansa bimbingan.

 

  1. Konseling

Konseling merupakan bantuan yang bersifat terapeutik yang diarahkan untuk mengubah sikap dan perilaku individu. Konseling dilaksanakan melalui wawancara (konseling) langsung dengan individu. Konseling ditujukan kepada individu yang normal, bukan yang mengalami kesulitan jiwa, melainkan hanya mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial.

Dalam konseling terdapat hubungan yang akrab dan dinamis. Individu merasa diterima dan dimengerti oleh konselor. Dalam hubungan tersebut, konselor menerima individu secara pribadi dan tidak memberikan penilaian. Individu (konseli) merasakan ada orang yang mengerti masalah pribadinya, mau mendengarkan keluhan dan curahan perasaannya.

Dalam konseling berisi proses belajar yang ditujukan agar konseli (individu) dapat mengenal diri, menerima, mengarahkan, dan menyesuaikan diri secara realistis dalam kehidupannya di kampus ataupun luar kampus. Dalam konseling tercipta hubungan pribadi yang unik dank has, dengan hubungan tersebut individu diarahkan agar dapat membuat keputusan, pemilhan, dan rencana yang bijaksana, serta dapat berkembang dan berperan lebih baik di lingkungannya. Konseling membantu individu agar lebih mengerti dirinya sendiri, mampu mengeksplorasi dan memimpin diri sendiri, serta menyelesaikan tugas-tugas kehidupannya. Proses konseling lebih bersifat emosional diarahkan pada perubahan sikap, perubahan pola-pola hidup sebab hanya dengan perubahan-perubahan tersebut memungkinkan terjadi perubahan perilaku dan penyelesaian masalah.

 

  1. Nasihat

Nasihat merupakan salah satu teknik bimbingan yang dapat diberikan oleh konselor ataupun pembimbing. Pemberian nasihat hendaknya memerhatikan hal-hal sebagai berikut.

1)   Berdasarkan masalah atau kesulitan yang dihadapi oleh klien (individu)

2)   Diawali dengan menghimpun data yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi

3)   Nasihat yang diberikan bersifat alternatif yang dapat dipilih oleh individu, disertai kemungkinan keberhasilan dan kegagalan

4)   Penentuan keputusan diserahkan kepada individu, alternatif mana yang akan diambil, serta

5)   Hendaknya, individu mau dan mampu mempertanggungjawabkan keputusan yang diambilnya

 

 

  1. Bimbingan Kelompok

Bimbingan kelompok merupakan bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok dapat beruapa penyampaian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan sosial.

Bimbingan kelompok dilaksanakan dalam tiga kelompok, yaitu kelompok kecil (2-6 orang), kelompok sedang (7-12 orang), dan kelompok besar (13-20 orang) ataupun kelas (20-40 orang). Pemberian informasi dalam bimbingan kelompok terutama dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang kenyataan, aturan-aturan dalam kehidupan, dan cara-cara yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan tugas , serta meraih masa depan dalam studi, karier, ataupun kehidupan. Aktivitas kelompok diarahkan untuk memperbaiki dan mengembangkan pemahaman diri dan pemahaman lingkungan, penyesuaian diri, serta pengembangan diri.

Pemberian informasi banyak menggunakan alat-alat dan media pendidikan seperti, OHP, kaset audio-video, film, bulletin, brosur, majalah, buku, dan lain-lain. Kadang-kadang konselor mendatangkan ahli tertentu untuk memberikan ceramah (informasi) tentang hal-hal tertentu.

Pada umumnya aktivutas kelompok menggunakan prinsip dan proses dinamika kelompok seperti dalam kegiatan diskusi, sosiodrama, bermain peran, simulasi dan lainnya. Bimbingan melalui aktivitas kelompok lebih efektif karena selain peran individu lebih aktif, juga memungkinkan terjadinya pertukaran pemikiran, pengalaman, rencana, dan penyelesaian masalah.

 

  1. Konseling Kelompok

Koseling kelompok merupakan bantuan kepada individu dalam situasi kelompok yang bersifat penvegahan dan penyembuhan, serta diarahkan pada pemberian kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Konseling kelompok merupakan bersifat pencegahan dalam arti, bahwa individu yang bersangkutan mempunyai kemampuan normal atau berfungsi secara wajar dalam masyarakat, tetapi, memiliki beberapa kelemahan dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Konseling kelompok bersifat memberi kemudahan bagi pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti memberikan kesempatan, dorongan, juga pengarahan kepada individu-individu yang bersangkutan untuk mengubah sikap dan perilakunya selaras dengan lingkungannya.

Konseling kelompok merupakan proses antarpribadi yang dinamis, terpusat pada pemikiran dan perilaku yang sadar, serta melibatkan fungsi-fungsi terapi, sperti permisif, orientasi pada kenyataan, katarsis, saling mempercayai, salingmemperlakukan dengan hangat, saling pengertian, saling menerima dan mendukung. Fungsi-fungsi terapi itu diciptakan dan dikembangkan dalam suatu kelompok kecil melalui cara saling mempedulikan diantara para peserta konseling kelompok. Individu dalam konseling kelompok pada dasarnya adalah individu normal yang memiliki berbagai kepedulian dan kemampuan, serta persoalan yang dihadapi bukanlah gangguan kejiwaan yang tergolong sakit, hanya kekeliruan dalam penyesuaian diri. Individu dalam konseling kelompok menggunakan interaksi kelompok untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan-tujuan tertentu untuk mempelajari atau menghilangkan sikap-sikap dan perilaku yang tidak tepat.

 

  1. Belajar Bernuansa Bimbingan

Individu akan lebih berhasil dalam belajar apabila guru/dosen menerapkan prinsip-prinsip dan memberikan bimbingan waktu belajar. Secara umum bimbingan yang dapat diberikan guru/dosen sambil mengajar adalah: (1) mengenal dan memahami individu secara mendalam, (2) memberikan perlakuan dengan memerhatikan perbedaan individual, (3) memperlakukan individu secara manusiawi, (4) member kemudahan untuk mengembangkan diri secara optimal, dan (5) menciptakan suasana kelasyang menyenangkan.

Suasana kelas dan proses belajar-mengajar yang menerapkan prinsip-prinsip bernuansa bernuansa bimbingan tampak sebagai berikut.

  1. Tercipta iklim kelas yang permisif, bebas dari ketegangan dan menempatkan individu sebagai subjek pengajaran.
  2. Adanya arahan/orientasi agar terselenggaranya belajar yang efektif, baik dalam bidang studi yang diajarkannya, maupun dalam keseluruhanperkuliahan.
  3. Menerima dan memperlakukan individu sebagai individu yang mempunyai harga diri dengan memahami kekurangan, kelebihan, dan masalah-masalahnya.
  4. Mempersiapkan serta menyelenggarakan perkuliahan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan individu.
  5. Membina hubungan yang dekat dengan individu, menerima individu yang akan berkonsultasi dan meminta bantuan
  6. Dosen/guru berusaha mempelajari dan memahami individu untuk menemukan kekuatan, kelamahan, kebiasaan, dan kesulitan yang dihadapinya, terutama dalam hubungannya dengan bidang studi yang diajarkannya.
  7. Memberikan bentuan kepada individu yang menghadapi kesulitan, terutama yang berhubungan dengan bidang studi yang diajarkannya.
  8. Pemberian informasi tentang masalah pendidikan, pengajaran, dan jabatan/karier
  9. Memberikan bimbingan kelompok di kelas
  10. Membimbing individu agar mengembangkan kebiasaan belajar yang baik
  11. Memberikan layanan perbaikan bagi individu yang memerlukannya
  12. Bekerja sama dengan dosen, wali kelas,konselor, dan tenaga pendidik lainnya dalam memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh individu.
  13. Memberikan umpan balik atas hasil evaluasi
  14. Memberikan pelayanan rujukan (referal)bagi individu yang memiliki kesulitan yang tidak dapat diselesaikan oleh dosen sendiri.

 

2.5          Ciri-Ciri Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan konseling.

Pembelajaran berbasis bimbingan memiliki ciri-ciri berikut:

  1. Diperuntukkan bagi semua peserta didik dalam arti kata merupakan suatu kinerja yang berorientasi sepenuhnya terhadap kebutuhan individual peserta didik
  2. Sangat memperhatikan keamanan psikologis peserta didik baik dalam proses pembelajaran atau disaat prosesi istrahat
  3. Memperlakukan peserta didik sebagai individu yang unik dan sedang berkembang;
  4. Mengakui murid sebagai individu yang bermartabat dan berkemampuan;
  5. Penuh penghargaan
  6. Pemberian reward untuk semua prestasi peserta didik baik itu prestasi yang besar ataupun yang kecil sekalipun. Contohnya disaat ada murid yang tiba- tiba bisa menjawab pertanyaan gurunya lalu disana diberilah reward ‘pujian’. Tujuannya agar murid mampu secara komprehensif mengendalikan emosi semangatnya agar tetap stabil dan tidak menurun. Karna terbukti disaat seseorang dipuji atas kebisaannya maka gelora semangat akan muncul secara menggebu. Maka dari itu hal inilah yang harus dimanfaatkan untuk pembimbingan anak.
  7. Menghindari hukuman fisik agar tidak terjadi kecacatan mental dini dalam dunia pendidikan. Disaat orang disentuh fisiknya tidak lebih baik dari pada disentuh secara psikologis atau mental.
  8. Demokratis bahwa disetiap pembelajaran yang berbau bimbingan pembimmbingan wajib mendengarkan suara peserta didik terlebih dahulu.agar terjadi komunikasi yang baik dan mendapat pemecahan masalah yang mendalam dan runut.
  9. Terarah ke pengembangan segenap aspek perkembangan anak secara menyeluruh dan optimal; dan

10. Disertai dengan berbagai sikap guru yang positif dan mendukung aktualisasi berbagai minat, potensi, dan kapabilitas murid sesuai dengan norma-norma kehidupan yang dianut.

 

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Secara filosofis, manusia memiliki potensi untuk dikembangkan seoptimal mungkin. Potensi itu sendiri adalah laten power, yakni kekuatan, kemampuan, keunggulan, keunikan yang belum tampak, belum menjadi prestasi, belum mewujud dalam bentuk perilaku. Sedangkan perkembangan optimal adalah perkembangan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Prestasi (achievment) sesuai dengan yang diprediksikan.

bimbingan adalah suatu proses berkesinambungan sebagai upaya membantu untuk memfasilitasi individu agar berkembang secara optimal. Perkembangan itu bisa meliputi kepribadian, akademik dan lain sebagainya yang selanjutnya akan disebut sebagai tugas perkembangan.

Dengan demikian pembelajaran berbasis bimbingan itu sangatlah penting untuk diterapkan karena pembelajaran yang baik, tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif saja akan tetapi dapat menghasilkan sebuah output berupa lahirnya perubahan perilaku siswa atau peserta didik yang positif dan normatif.

Adapun Bimbingan ketika mengajar yang dapat dilakukan oleh guru berupa menjelaskan tujuan dan manfaat pelajaran, cara belajar, mata pelajaran yang diberikan, dorongan untuk berprestasi, membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi individu, penyelesaian tugas, memberikan fasilitas belajar, dan lain-lain

Dengan demikian Individu akan lebih berhasil dalam belajar apabila guru/dosen menerapkan prinsip-prinsip dan memberikan bimbingan waktu belajar.


3.2 SARAN

         Dalam memilih dan menerapkan model pembelajaran haruslah memperhatikan kondisi siswa, lingkungan dan sebagainya. Karena hal tersebut merupakan factor-faktor yang penting dalam upaya tercapainya keoptimalan belajar.

Belajar bukan semata-mata dalam hal kognitif, tapi banyak hal yang harus dikembangkan melalui proses belajar tersebut seperti dalam hal kepribadian siswa.

Dengan model pembelajaran berbasis bimbingan dan konseling, akan membantu mengembangkan potensi-potensi siswa secara menyeluruh sehingga proses pembelajaran akan dirasakan optimal.

Mari bergerak menuju perubahan yang lebih baik lakukan yang terbaik dan berikan yang terbaik tidak usah menjadi yang terbaik.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.